Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Ingin Mengulang Kembali


__ADS_3

"Rin, bangun!" Ucap Linggar sambil mengguncang pelan bahu sang istri.


Posisi mereka masih sama berbaring di ranjang pengantin kamar hotel semalam.


"Sayang bangun!" Lagi.


Sayang?


Ah, ia suka kata itu.


Kata yang dulu sering ia dengar dari teman-temannya untuk pasangan masing-masing, dianggapnya lebay.


Dan kini berbalik, ia menyukai kata itu. Tentunya panggilan untuk Rindi, sang istri tercinta.


Linggar tersenyum geli sendiri.


"Udah Subuh?" Rindi mengerjapkan mata, lalu menggosok dengan telunjuknya, kembali mengerjapkan mata.


"Udah dari tadi. Malaikat nya udah ngepakin koper mau siap-siap untuk pulang."


"Kamu bukannya kasih jatah Malah molor." Wajah dibuat cembert di depan Rindi.


Semalam, setelah mengantar keluarganya hingga ke lobi hotel, Linggar justru mendapati istrinya telah tertidur meringkuk di bawah selimut.


"Capek Kak. Memangnya Kakak enggak capek apa?" Rindi.


" Ya capek juga, tapi kan pengen."


Rindi hanya tersenyum mendengar ocehan suaminya di subuh hari, bergerak sedikit, menempelkan bibirnya di bibir Linggar, hanya sekejap berharap mampu mengurangi sedikit kekesalan suaminya.


Mendapat serangan tiba-tiba, Linggar membulatkan Matanya penuh.


" Kenapa? Wangi yah? Hihihihi." Rindi disertai kikikan di akhir kalimat.


Senyuman Linggar mengembang, istrinya terlihat semakin lepas saja.


"Aku dulu atau kamu dulu yang wudhu?" Bercanda berdua bisa kelupaan hingga habis waktu subuh.


"Kakak dulu aja aku masih mau rebahan bentar." Rindi.


Linggar mulai beranjak, "Awas jangan tidur lagi!"


"Iya-iya!" Menarik selimut naik ke pundaknya.


"Eh dibilang jangan tidur lagi."Linggar.


"Makanya cepetan!" Rindi.


Mereka kembali melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam kamar hotel itu.


Setelah seluruh ritual selesai, Linggar berbalik, mengeluarkan tangan di depan Rindi.

__ADS_1


Pun dengan Rindi, menyambut dengan senang hati. Menyalami sang suami, kemudian memberikan kecupan ringan di sana.


Setelah  turut menghadiahkan kecupan di kening san istri, Linggar menarik tangan Rindi dan menempatkan wanita itu ke dalam pangkuannya. Melilit tubuh Rindi dengan kedua tangannya, menenggelamkan wajah sang istri keceruk lehernya beserta elusan lembut dipunggung.


Ia ingin mengulang peristiwa semalam. Sepertinya Linggar merasa ketagihan akan hal itu.


Kembali membawa Rindi yang berada di gendongannya menuju ke ke ranjang.


kembali melafalkan doa seperti semalam. Kali ini lebih pelan dan lebih khusyuk.


Dalam hati berpikir, mungkin semalam ia terlalu tergesa-gesa jadi Tuhan mengirimkan pengganggu untuk mereka.


Linggar mencoba merapatkan bibir.


Bibir yang selalu menjadi destinasinya. Kini bibir ini menjadi miliknya seutuhnya. Terserah dia mau melakukan apapun di sana.


Tanpa takut ada yang akan menegurnya, atau ada yang memarahinya, atau ada yang aka menghentikannya.


Hingga beberapa kali tepukan di lengannya menghentikan aktifitasnya.


“Kenapa?” Ucapnya saat melepas bibir dengan sedikit tak rela, sambil menatap ke arah Rindi yang sedari tadi menepuknya.


“Kakak ih.” Rindi mendorongnya dengan keras hingga membuat tubuhnya harus tegap di samping tempat tidur.


“Ada apa?” Tanyanya lagi penasaran melihat Rindi dengan wajah cemberut.


“Aku gak bisa napas isshh.” Ia ingin tertawa tapi bisa saja Rindi tak memberinya jatah malam ini. “Di mana-mana orang bernapas dengan hidung bukan dengan mulut.”


"Ini udah pagi, gak boleh tidur lagi!"


Tuh kan Rindi mulai menutup tubuhnya dengan selimut.


“Hei, kita belum selesai.” Menarik selimut Rindi, namun wanita itu turut mempertahankan diri. Jadilah kini acara tarik menarik selimut antara Linggar dan Rindi.


Tetap saja Linggar menjadi pemenangnya.


Linggar kini telah menempatkan diri diatas Rindi. Ini memang bukan yang pertama bagi mereka, tapi entah mengapa ini masih tetap membuat jantung seperti tengah berlomba.


Hingga Rindi merasa perlu untuk mengulur waktu.


Menempatkan tangannya dikedua rahang Linggar, menatap lekat wajah lelaki yang telah membuat hidupnya seolah terombang-ambing.


Kadang merasa bahagia, kadang merasa sangat dibutuhkan, dan kadang membuatnya sedih.


Tapi satu yang ia yakini, bahwa Linggar mencintainya dengan sangat dan begitu hebat.


Menatap dalam ke retina yang terlihat begitu jernih dan selalu saja membuatnya


Elusan dari telapak tangannya yang lembut, membuat Linggar terhanyut. Menutup mata, menikmati sentuhan yang telah lama ia impikan.


“Kakak tampan.” Ucap Rindi jujur melihat dari sudut pandangnya.

__ADS_1


“Baru sadar?”


Rindi cemberut, hati yang tadinya terasa menghangat kini terasa kesal dengan mendengar perkataan Linggar yang begitu ringan.


Inginnya RIndi, Linggar juga memberikan pujian dan sanjungan padanya dengan intonasi yang halus dan penuh kelembutan.


Tapi yang ia dapat, sikap datar cenderung sombong.


Ck, benar-benar tidak bisa romantis.


“Gak, udah dari dulu tau kalau kakak tampan.” Melanjutkan acara pujiannya.


Tak perlu malu lagi mengutarakan isi hati, toh Linggar sudah menjadi suaminya. Biarlah pria itu sedikit naik ke langit karena sanjungannya yang jujur.


“Tapi kenapa baru mengakui?” Satu kecupan Linggar hadiahkan di pipi kiri Rindi, membuat wanita itu sejenak terhenti untuk bernapas.


Kembali tersenyum saat telah mampu mengatur hatinya yang mungkin sedang kacau balau hanya karena kecupan Linggar.


“Aku malu, kalau jalan sama kakak?” Jemari masih bergerak menelusuri kening, melewati tulang hidung mancung dan kembali ke rahang.


“Kenapa?”


“Tau gak dulu,... waktu....pacaran.... issssssss....” Ia harus berusaha lebih hanya untuk mengucapkan kata demi kata karena Linggar mulai menjalankan aksinya.


Menenggelamkan wajah ke ceruk leher Rindi.


Sejenak RIndi merasa menyesal melepaskan wajah itu dari kedua tangannya tadi.


Tak tahan, wanita itu meringis saat merasakan sesuatu yang sedikit perih di kulit lehernya. Linggar membalas perbuatannya yang semalam.


Linggar mulai mengukur setiap sudut tubuhnya dengan bibir, tanganpun turut yang bergerak secara bersamaan.


“Kak, aku masih ngomong.” Sesaat Linggar menghentikan aksi hanya untuk menatap wajahnya. Meskipun ia juga harus berusaha mengatur napas sebelum Linggar kembali menyerangnya.


“Ngomong aja, aku dengar kok!”


“Dulu...., Waktu...., kuliahhhhhhhhh..., Ahhhh....” Ia tak lagi mampu melanjutkan ceritanya.


Kini ia mengalah membiarkan Linggar melakukan apa saja padanya. Memberikan kehangatan dalam setiap buliran darah.


Sementara ia hanya mampu memasrahkan diri saat Linggar seolah menariknya terbang ke angkasa dan seolah melayang tepat di atas taman bunga Keukenhof di Belanda.


Cantik, indah, nyaman, nikmat.


Entah kata apa lagi yang cocok disematkan pada perasaannya kali ini. Cinta yang selalu menyiraminya dengan sepenuh hati ternyata lebih indah jika diikuti dengan keihklasan saat menerima.


Berjanji untuk tak melepaskan lagi dan tetap bertahan dalam pelukan pria yang teramat sangat mencintainya ini.


Menikmati keindahan warna-warni dari puluhan ribu bunga dari udara. Terlukis betapa indahnya pemandangan itu


mampu memcuci otaknya dengan air marinasi tulip yang didiamkan selama semalaman. Lalu diguyurkan keseluruh tubuhnya.

__ADS_1


" Ya ampun Rin, ck enak bangeeeeeeet!"


__ADS_2