
“Ayah belum pulang?” Linggar.
“Belum, ini juga baru ditungguin. Bentaran lagi kayaknya.” Senyuman bunda terlihat lebih manis. Mungkin senyuman orang yang sedang bahagia memang terlihat lain ya?
"Kalian ke atas aja dulu! Istirahat."
“Iya, kita naik dulu bun. Mau mandi juga, gerah.” Kini tanganya kembali meraih tangan Rindi untuk di tuntun ke arah kamarnya.
Tentu saja dengan senyuman yang sama sekali belum lepas dari bibisnya. Bayangan sekamar dengan Rindi mampu membuat dirinya seolah tak sabar melewati malam.
Tak ada pengganggu, tak perlu mengendap-endap di tengah kegelapan malam. Tak perlu berpikir seribu alasan saat tertangkap basah keluar dari kamar istri sendiri. Dan tak ada lagi kata-kata sindir-menyindir yang harus ia dengar di meja makan.
Malam ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Ingin bersorak tapi malu.
“Kamu mandi duluan!” Linggar sambil meletakkan tasnya di atas meja.
“Hemm,” Rindi menyiapkan baju dan perlengkapan mandinya untuk di bawa ke kamar mandi. Membayangkan diri berada di dalam kamar yang sama dengan Linggar membuatnya memutar otak lebih kencang.
Tetap menjaga image, tentu saja.
Demi meminimalisir rasa malu yang tercipta.
Ini bukan yang pertama bagi mereka, tapi belum terbiasa antara satu sama lain.
Sementara Linggar mencoba mengalihkan kecanggungan yang baru saja masuk seiring mereka menapaki kamar itu dengan kesibukannya.
Ia ingat tadi mendapat email dari Pak Mirza. File baru yang belum sempat ia kerjakan. Mungkin malam ini sedikit begadang sebelum menghabiskan malam bersama Rindi.
Laptop telah di nyalakan, laporan telah terpajang di layar, tapi pendengarannya seolah fokus pada gemercik air dari dalam kamar mandi.
“Pc,” Keluhnya saat mendapatkan diri tak mungkin bisa fokus pada apa yang ada dihapannya.
Bayangan Rindi yang sedang menikmati kucuran air di seluruh tubuh, tanpa apapun kini beterbangan di atas kepalanya. Rindi menggunakan air panas atau air dingin?
Apakah ia salah, membiarkan Rindi mandi sendiri? Tak apakah jika dirinya turut masuk ke dalam? Hanya untuk membantu Rindi menggosok punggung, pasti tangan istrinya tak mampu mencapai keseluruhan.
Hanya itu.
Yakin?
Ia tak yakin akan mampu menahan diri. Pasti akan meminta lebih, lagi dan lagi.
__ADS_1
“Aku sudah. Kakak juga mandi.” Suara itu membawa bayangannya terhempas ke dalam jurang.
Menutup mata, mengatur napas, sebelah tangan digenggam kuat hanya untuk mengendalikan rasa.
Bahkan suara kucuran air yang terhentipun tak ia simak karena pikiran yang tadinya melayang-layang.
“I-iya. Aku juga mau mandi.” Linggar membalikkan tubuh untuk melihat Rindi.
Terlihat lebih segar dan sepsi, meskipun telah tertutupi dengan piyama satin lengan pendek seperti orang yang telah bersiap untuk tidur padahal belum malampun. Menggosok-gosok rambutnya yang basah karena baru saja keramas.
Pc, lagi-lagi ingin melayangkan protes pada istrinya itu.
Kenapa juga Rindi memakai baju di kamar mandi. Padahalkan di kamar jauh lebih luas.
Tak usah malu lah, toh ia juga telah beberapa kali memandang tubuh polos itu.
Langkahnya mendekat pada sang istri. Tangan terangkat ke arah wajah membelai pipi chubby, mulus dan lembab. Kulitnya semakin terasa lebih lembut setelah mandi.
“Kamu wangi,” Saat Linggar mencium kening Rindi, dan kini beralih ke rambut, membuat rongga hidungnya penuh dengan aroma shampo dan sabun.
Gelenjar dalam tubuh sedang bekerja. Menghantarkan rasa yang lain ke seluruh tubuh.
Rasa yang selalu ada, setiap kali ia bersentuhan dengan Rindi. Rasa yang mampu membuat jantungnya berpacu lebih cepat.
Rindi terlalu meng0da.
Rasa gerah dan aroma yang sedikit asam yang masih melekat di tubuh membuatnya tak percaya diri untuk dipersembahkan pada sang istri.
Rindi telah wangi dan bersih, sementara dirinya? Tak adil rasanya bagi Rindi.
Linggar memilih berlalu meninggalkan Rindi yang sempat terlena hanya dengan kecupan di kening. Tak bisa disanggah lagi, jika gadis itupun mulai hanyut dengan sentuhan Linggar.
Rambut halus di lengan mulai berdiri. Kini tiba sang gadis yang mengeluh, karena Linggar langsung meninggalkan dirinya begitu saja.
Linggar telah masuk ke kamar mandi dengan handuk yang digantung dipundak.
Mandi. Pakai sabun, shampo dan gosok gigi biar harum. Dengan bersenandung kecil menandakan dirinya sedang bahagia.
Keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Sengaja agar tak perlu repot membuka pakaiannya.
Terlihat Rindi yang duduk di meja belajarnya sedang mengacak-acak tas kanvasnya, mungkin ada tugas yang ingin di kerjakan. Laptopnya telah bergeser lebih ke tepi meja.
__ADS_1
“Rin,” Linggar menarik tangan Rindi agar mengghadap ke arahnya yang telah berdiri tepat di samping kursi.
Wanita itu menengadah untuk melihat wajah Linggar. Mulut sedikit terbuka, mendapatkan pandangannya kini ebih menggoda iman.
Linggar meraih kedua tangan Rindi untuk dilingkarkan ke pinggangnya, menekan wajah Rindi agar bertemu dengan perut yang polos beraroma sabun mandi.
Emmm wangi lembut sabun mandi seolah memenuhi rongga penciuman. Membangkitkan sesuatu yang sempat terlelap.
Rindi menoleh ke kiri dan ke kanan, hidungnya masih menyentuh perut Linggar. Membuat sensasi lain dalam diri. Dengan kepala yang tertunduk dan mata tertutup menikmati sentuhan ringan istrinya namun mampu menghanyutkan.
Terlebih lagi saat Rindi mengecup lembut kulit perutnya. Hembusan hangat dari napas Rindi mampu meningkatkan rasa geli menjadi gair@h jiwa.
Di sini Linggar telah bisa menilai perasaan Rindi. Setidaknya ada cinta pada wanita itu meski hanya sedikit. Namun tak pernah mampu terucap, begitulah Rindi. Mencinta dalam diam.
Linggar meraih rahang Rindi untuk mempertemukan pandangan. Mata sayu menghiasi raut wajah masing-masing.
Jangan lagi tanyakan bagaimana keadaan jantung mereka.
Seluruh gejolak seolah tak bisa lagi disembunyikan. Saling mendamba, dan berharap suatu pergerakan lebih.
Sentuhan yang sama pernah mereka rasakan kembali diimpikan.
Ada rasa tak sabar yang menyelinap masuk ke dada. Linggar yakin, jika Rindi telah menyadari bahwa seluruh tubuhnya kini telah menegang.
“Rin,” Sambil menarik lengannya membuat Rindi berdiri dari duduknya.
Kini mereka saling berhadapan.
Tangan Rindi yang masih melingkar di tubuh Linggar membuat tubuh mereka saling menempel. Bahkan semakin menempel saat Linggar menekan erat punggung Rindi.
Dengan satu tangannya yang telah berada di belakang kepala Rindi dan turut menekannya. Mempertemukan bibir mereka.
Linggar memundurkan diri dengan tubuh yang masih melekat satu sama lain. Menggiring ke arah pembaringan. Rindi harus melangkahkan kaki maju mengikuti meskipun dengan kaki yang menjinjit.
Kaki terhenti tepat di samping tempat tidur. Linggar menjatuhkan diri berikut Rindi yang berada tepat di atasnya. Bibir tak lagi saling menempel.
Dengan tenaganya, Linggar membenarkan posisi Rindi yang menurutnya sedikit bergeser. Ia ingin Rindi tepat berada di atasnya.
“Rin, sentuh aku!” Pintanya dengan mata yang telah berkabut sejak tadi.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
To Be Continued!
Boleh minta dukungannya!