Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Kompak Bersama


__ADS_3

Linggar berdiri di depan cermin yang ter tempel dilemari.


Berpakaian rapi siap untuk ke kantor setelah hampir dua minggu Linggar tak masuk kerja.


Kemeja berwarna coklat susu dengan lengan yang digulung hingga siku.


Kembali menarik ikat pinggangnya lebih dalam, rupanya bobot tubuh menurun drastis setelah demonya yang besar-besaran.


Bibir kembali tersenyum saat sebuah cincin yang melingkar di jari manis sempat menyilaukan pandangan. Menandakan sebuah ikatan telah terjalin.


Dan tak lama lagi ia akan membopong Rindi ke rumahnya.


Keluar dari mobil yang disopiri oleh Pak Bur dengan ransel di punggung dan goodie bag di tangan kanan. Linggar berhenti melangkah di depan meja resepsionis.


"Pagiiiii,..." Sapanya riang pada dua resepsionis wanita yang sedang membersihkan meja kerja sebelum memulai pekerjaan mereka.


Kedua wanita itupun membalas dengan sapa dan senyum yang juga ramah.


"Pagi juga pak Linggar," Hampir bersamaan.


"Bawa apaan tuh pak?"


"Camilan, tapi sory gak bagi yah!" Linggar.


Mulai obrolan ringan dan berbasa basi dengan Linggar yang menempatkan siku di atas meja mengkilap.


"Pamer nih, pamer,...." Ucap seorang diantara mereka saat melihat sesuatu yang berkilau di jari manis Linggar.


"Apa?" Linggar dengan  senyum tertahan, pura-pura tidak tau.


"Pak LInggar udah nikah?" Sambil menunjuk cincin Linggar dengan matanya.


"Emm, ngakunya sakit, eh ternyata cuma mau nikahan aja." Lanjutnya dengan mencibir.


"Eh gak, beneran sakit kemarin tuh. Masuk rumah sakit tau." Ucap Linggar tak terima.


"Bukan,.... Minta kawin dulu baru minum obat, hahahaha." Ucap teman yang satunya, kemudian tertawa bersama.


"Ada-ada saja kalian ini," Kilah Linggar, menunduk sambil tersenyum. Salah satu dari jawaban mereka itu hampir benar.


"Ini baru lamaran doang. Nanti nikahnya pasti undang kalian deh. Tapi jangan lupa kadonya harus yang mahal dan unik yah!" Ucapnya sambil tersenyum kembali.


Masuk kerja ternyata lebih mengasikkan di bandingkan harus tetap berada di rumah. Pekerjaannya hanya makan, tidur, nonton, trus apalagi yah?


Di kantor ini juga ia, bisa bertemu dengan RIndi saat jam makan siang.

__ADS_1


"Rin, pulang ke atas dulu yah!" Pesan terkirim sebelum jam kantor usai.


Rindipun menepati, menghampiri Linggar yang masih berkutat di depan komputer.


"Kakak belum mau pulang?" Tanyanya saat berada tepat di depan Linggar.


Linggar menengandah kepala, tersenyum kemudian menoleh ke samping kiri dan kanan.


"Cari apa?"


"Cari kursi buat kamu." Linggar mulai berdiri dan hendak meraih kursi lipat di sudut ruang.


"Biar aku saja." Menahan pergerakan Linggar.


"Sini Rin," Protes Linggar saat melihat Rindi justru menempatkan kursi itu di depan mejanya, bukan di sampingnya.


Menunggu linggar membuat tangannya tak berhenti menggeledah tempat kerja pria itu. Ini kali pertama Rindi berada di sini.


Memandang tempat kerja yang luas, tak berada dalam ruangan sendiri seperti divisinya.


Meja Linggar sedikit lebih besar dari karyawan lainnya. membentuk huruf L dan 2 buah lemari arsip besi di kanan belakang. Di sebelah kanan sana ruangan Pemimpin tertinggi perusahaan tempat mereka bekerja.


"Ini apa kak?" Rindi sembari menggeser sebuah goddiebag yang diletakkan di samping meja Linggar.


"Oh, itu tinggal buah, buat camilan. Sama susu juga. " Linggar hanya sebentar melirik, kembali meluruskan kepala ke arah layar.


"Sekalian buatin susu yah!"


Beberapa menit kemudian Rindi kembali menghampiri Linggar dengan sebuah mangkuk berisi kolak pisang hangat, juga susu pesanan Linggar.


Tugasnya kali ini menyuapi Linggar yang masih sibuk dengan pekerjaannya namun masih sempat berbalik saat mulutnya telah kosong.


"Kakak lembur?"


Linggar mengangguk.


"Emang gak pa-pa?" Tanyanya lagi.


Linggar baru masuk kerja setelah beberapa hari di rawat, dan langsung mengambil lembur saat pertama kembali bekerja. "Pulang jam berapa?"


"Abis ini kita pulang. Gak enak sama Mirza, dia udah berapa hari kerjakan semua sendirian. Kamu tungguin aku yah! Kita pulang bareng." PintaLinggar.


"Aku bawa motor kak."


"Ck, itu terus yang jadi alasan kamu RIn, dari semalamkan udah dibilangin gak usah bawa motor, kita berangkat bareng, kamu masih ngeyel aja. GImana sih."

__ADS_1


"Hemm, berarti memang udah sembuh kayaknya. Udah bisa ngomel lagi."


Setelah omelan tersebut Linggar kembali menatap RIndi dengan dalam, dan diamnya itu membuat hati Rindi bergidik ngeri, Bagaimana jika pria itu kembali merajuk.


Masalahnya, merajuknya itu loh, Subhanallah!


Dalam kegamangan Rindi mencoba menampilkan senyum termanis, meraih lengan Linggar dan merangkulnya. Menunjukkan kemanjaan seperti kucing hanya untuk meluluhkan pria itu.


"Besok deh, besok yah!" Bujuk rayu dimulai.


"Tapi kakak jemput yah, biar motorku gak nginap lagi di sini." Kepala di sandarkan di lengan Linggar, bebebarapa kali uyel-uyel biar kesan manja semakin terlihat.


Linggar tersenyum, tak lupa memberikan sentuhan ringan di kepala Rindi dengan tangannya.


Yes, Linggar luluh dan tak merajuk lagi.


"Kamu udah dapat rekomendasi untuk pesta kita?" Tanya Linggar.


"Kak, boleh nggak kalau pernikahan kita nggak usah pakai pesta besar Segala!" Rindi masih menunjukkan sikap manis manja mengaduk-aduk kolak dalam mangkuk, lengkap dengan bibir maju ke depan.


Linggar menatap mata Rindi dengan dalam.


Permintaan itu terkesan janggal untuknya.


Apakah Rindi malu jika seluruh umat manusia mengetahui hubungan mereka?


"Kamu malu orang-orang tahu kita menikah?"Linggar dengan lirih, masih menatap Rindi yang justru tertunduk.


" Bukan, Bukan gitu. Kita menikah sekarang hanya sekedar rujuk jadi pestanya nggak usah terlalu rame."Rindi.


" Semua orang kantor tahu kita pacaran. Anak-anak kampus juga tahu kita pernah menikah, terus pernikahan ini di pamer sama siapa?"Rindi.


" Kita mau Nikah Rin, bukan sekedar pacaran seperti yang orang-orang kantor tahu." Linggar.


" Terus masalah anak-anak di kampus, mereka tahunya kita udah pisah."


Rindi diam, tak menggubris opini Linggar. Pun tak mencoba merayu pria itu lagi.


"Kamu hati-hati di jalan, kita ada di belakang!" Pesan Linggar sebelum masuk ke dalam mobil yang berisikan Pak Bur di belakang kemudi. "Besok pagi tungguin kita, jangan jalan duluan yah!"


Jam menunjukkan pukul delapan malam saat mereka keluar dari kantor.


Linggar benar mengikuti Rindi hingga ke lorong, dan terus memantau saat motor yang ditumpangi RIndi masuk ke dalam pekarangan.


Pufffft.

__ADS_1


Rindi menggeram kesal.


Porsi manja Linggar meningkat setelah sembuh dari sakitnya. Dan ini berimbas pula padanya.


__ADS_2