
Menempatkan satu tangan di leher Rindi, dan menempelkan tubuh. “Jangan menolak, atau aku cium di depan teman-temanmu.” Ucapnya pelan tepat di telinga Rindi.
Meski dari jauh terlihat sangat romantis ketika pria sedang memeluk kekasihnya dari belakang. Dengan Linggar yang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rindi, dan tubuh yang saling menempel antara dada bidang dengan punggung sang gadis.
Namun tidak bagi mereka yang melihat adegan itu dari dekat.
Nampak dengan sangat wajah gugup Rindi yang tak bisa ia sembunyikan. Terlebih lagi teman-temannya itu mulai menebak jika Linggar telah mengetahui kedekatan Rindi dengan seorang pria lain.
Namun siapa yang bisa membantunya kini? Jelas-jelas Rindi yang salah. Siapapun pasti akan marah ketika dihianati, atau setidaknya kecewa.
Mereka tak lagi bisa membantu, bahkan hanya terdiam melihat interaksi yang biasa namun sangat menegangkan hanya dengan melihat raut wajah Rindi.
“Kunci motor?” Masih dengan nada sangat pelan.
Segera memasukkan tangannya ke dalam tas kanvasnya, berusaha agar cepat menemukan sesuatu yang penting itu. Harus cepat, jika ia tak ingin terus berada dalam titik fokus penglihatan mahasiswa lain.
Linggar adalah kekasihnya selama hampir tiga tahun ini. namun orang yang berada di belakang dan sedang memeluknya saat ini seperti bukan Linggar yang selama ini ia kenal.
Linggar yang selalu berusaha sopan padanya, apalagi saat berada di tengah-tengah mahasiswa lain. Dan mencoba akrab dengan teman-temannya yang lain.
Entah mengapa semakin ia mencari bahkan setelah mengotak-atik seluruh sisi tasnya ia justru tak mampu menemukannya.
Bahkan saat ini terasa air matanya ingin sekali meluncur, tapi jangan sampai atau mungkin ia akan menjadi bahan perhatian. Bahkan yakinlah jika saat ini tangannya semakin gemetar karena tak bisa menemukan benda yang ia cari. Dengan pergerakan yang tertahan karena Linggar yang semakin erat memeluknya.
“Di saku celana.” Linggar masih dengan posisi belum berubah.
Astaga! Bahkan ia lupa telah menyimpan kuncinya di mana. Yakinilah kini bulu kuduknya telah tegak. Jantung memompa darah lebih kencang ke seluruh urat nadinya.
Napasnya mulai tersengal-sengal, padahal sedari tadi ia hanya berdiri di bawah rimbun pohon.
Otaknya seakan blank.
Linggar kenapa?
Iapun tak tahu.
Segera merogoh saku celana jeansnya, ketemu. Lalu menyerahkannya pada Linggar dengan tangan gemetar dan sedikit basah karena keringat dingin.
Tak lupa sebuah kecupan singkat mendarat di pipi, seolah memberi tahu pada mereka semua jika gadis ini adalah miliknya. Terutama pria yang sedang berdiri di sudut sana, yang sedari tadi turut menjadi penonton setia.
Barulah Linggar melepaskan pelukannya dan memberi kunci pada Lilis.
“Aku sama Rindi.” Ucapnya dingin tanpa senyum mampu membungkam semua teman yang menyaksikan tontonan romantis berbau horor.
Jangan mengaharapkan wajah yang penuh dengan cinta, kini wajah itu telah tertutupi dengan ekspresi dingin dan siap menelan siapapun yang menyenggolnya.
Menggenggam tangan Rindi, dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
“Maaf,” ucapnya saat mereka telah berada di dalam mobil, sambil mengelus pipi sang kekasih dengan ibu jarinya. Lalu berpindah mengelus rambut dengan lembut.
Rindi mulai mampu mengendalikan diri, mengatur napas agar lebih teratur. Meskipun masih berdiam diri tak berniat membalas ucapan Linggar.
“Sudah makan?” Linggar.
Rindi hanya menggeleng tanpa kata.
“Kita makan?” Tanyanya lagi.
__ADS_1
Dan Rindi masih menggeleng. Membuat Linggar kembali mengelus pipinya, “Maaf.”
“Masih marah?”
Yang ditanya masih diam. Dan di dalam dada berniat memberontak, tapi apa daya tenaga tak sampai.
“Kamu mau apa?” Tanyanya lagi, seolah tak pernah lelah untuk mengajak sang kekasih kembali berdamai. Meski segala sakit telah dipersembahkan, namun nyatanya tak mampu merubah cinta yang begitu dalam menjadi benci.
Cinta yang ada dalam hatinya telah tertanam begitu dalam, hingga mampu menutup semua kesalahan yang Rindi lakukan padanya.
“Pulang.” Satu jawaban dari sekian banyaknya pertanyaan.
“Kita makan dulu. Udah lama gak pernah makan bareng.” Linggar yang masih betah menatap wajah yang ia rindukan.
“Rin,” Kembali mengusap pipi, “Rindi.”
“Salah aku apa?” Linggar benar-benar tak tahu dimana letak kesalahannya.
“Bilang! Kamu mau apa?”
“Bilang salah aku apa? Aku gak tau kenapa kamu bersikap kayak gini ke aku Rindi.” Penuh tekanan dalam setiap kata. Seperti hatinya yang juga merasa tertekan.
“Kita berpisah tiga bulan Rindi. Cuma tiga bulan tapi rasanya seperti seribu tahun. Bukannya aku membual, tapi benar rasanya sangat lama. Apalagi saat kamu gak pernah lagi kasi kabar. Kirim vidionya juga kayak gitu. Yang kedengaran Cuma suara teman-teman kamu.”
“Kamu tahu gak sih rasanya rindu itu kayak gimana?” Kali ini berikut dengan penekanan di daerah dada dengan telunjuknya.
“Tersiksa Rindi, tersiksa!” Sangat menekan.
“Dan sekarang aku pulang, kamu malah kayak gini ke aku. Apa ini menyenangkan untukmu?”
“Apa kamu masih punya hati gak sih?” Kali ini nadanya sedikit ketus dengan mata melirik sinis.
Rindi kenapa?
Rindi masih diam dengan tatapan menunduk. Meskipun ada rasa sesal dan perasaan bersalah namun ia tak ingin menanggapi semua ucapan Linggar.
Benar Linggar telah mempertemukannya dengan bunda, bukankah itu telah menunjukkan sebuah keseriusan.
Ternyata sikap diam Rindi sedikit demi sedikit semakin memupuk rasa benci dan menuai dendam dihati Linggar. Benar-benar gadis ini perlu di beri perhitungan.
Mobil Linggar terhenti di depan restoran siap saji.
“Kita makan dulu!” Ucapnya lalu turun dan menghampiri Rindi di pintu sebelah.
Mengulurkan tangan pada insan yang seolah tak ingin berkutik dari tempatnya. Dengan sedikit tarikan akhirnya gadis itu keluar dari peraduan.
Rindi masih terdiam dalam duduknya meskipun sajian telah berada di hadapan mereka. Linggar harus memiliki stok kesabaran yang penuh dalam menghadapi Rindi kali ini. Bahkan ia dengan sabar menyuapi Rindi.
Tak apa, Linggar menyukai adegan ini sesekali tersenyum ke arah Rindi. Tak lupa menyapu bibir Rindi dengan tissu beberapa kali. Entah Rindi juga suka atau tidak yang jelas ia terus membuka mulut saat Linggar menyodorkan makanan ke arahnya hingga makanan mereka tandas.
Tepat saat mereka kembali berada di mobil ponsel Linggar bergetar dan menunjukkan nama Arman di sana.
“Apa?” Ucap Linggar membuka pembicaraan.
“.....”
“Lagi di mana?”
__ADS_1
“.....”
“Sama Rindi. Kenapa?”
“.....”
“Ok. Bentar!”
“.....”
"Ngapain?”
“Iya, tunggu aja bawel!” Kalimatnya sebelum menutup sambungan telpon dan menyimpannya di dashboard.
“Kita ketemu Arman dulu yah. Cuma bentaran kok!”
"Hemmm," Jawaban singkat RIndi hanya mendapat gelengan kepala dan senyum Linggar.
Akhirnya mobil melaju dengan manusia yang betah dalam diam mereka. Hingga akhirnya mobil
Linggar merapat ke gedung, mungkin tempat pertemuannya dengan Arman.
Rindi membulatkan matanya penuh saat membaca kalimat ucapan selamat datang beserta nama tempat yang mereka datangi.
Untuk apa Arman ke sini?
“Aku tunggu di mobil aja!” Rindi saat melihat Linggar telah membuka seatbeltnya.
“Gak, aku gak tenang tinggalin kamu sendiri di mobil. Kamu ikut ke dalam!”
Dengan terpaksa Rindi ikut turun dari mobil, dan tangannya langsung di genggam oleh Linggar. Berdua memasuki gedungl dan berhenti di sofa.
“Kamu tunggu sini yah!” Melepas genggamannya pada Rindi dan membiarkan gadis itu duduk. Dan dirinya yang mendekati meja di sana, berbicara sebentar dengan seorang gadis entah apa. Telinga Rindi tak terlalu tajam untuk mencuri dengar percakapan Linggar di sana.
“Ayo!” Mengulurkan tangan pada Rindi.
“Ke mana?”
“Ke dalam. Ayo ah, biar cepat pulang!”
Mendengar kata pulang entah mengapa memberikan semangat tersendiri bagi Rindi. Mungkin ia telah rindu dengan kamar dan bantalnya.
Mereka ke mana?
Mereka kenapa?
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Mumpung masih awal pekan, sumbangin votenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya buat camilan saat nulis.
__ADS_1