
Kedua tangan Linggar telah diletakkan di antara kepala Rindi, seolah ia sedang menahan pergerakan gadis itu. Sementara kedua tangan Rindi menahan tubuh Linggar agar tak semakin mendekat.
Harus tetap menjaga napas agar emosipun tetap stabil. Jangan sampai ada yang meledak. Tapi sepertinya sulit untuk tetap mempertahankan emosinya. Rindi sepertinya mempermainkan dirinya.
Dan kini ia mendapatkan apa yang selama ini ia cari, tidak mungkin untuk melepaskan Rindi begitu saja.
Ia harus bisa mempertahankan cintanya.
Linggar mulai mendekatkan diri secara paksa dan mendesak. Dengan cengkeraman di rahang, menahan pergerakan kepala Rindi. Mulai mendekatkan wajah dan menempel.
Secara kasar dan memaksa merasakan sesuatu yang beberapa kali ia minta secara baik-baik pada kekasihnya sebelum mereka berpisah dulu.
“Aku bisa melakukan hal lebih, jika kamu juga bertingkah lebih. Aku bisa membuatnya terluka jika kamu terus menghindariku.” Tepat di depan wajah Rindi dengan bibir yang masih basah.
Linggar mulai melepaskan semua yang menahan pergerakan Rindi. Namun kembali mendekatkan diri dan menempelkan wajah, kali ini terasa lebih lembut.
Menjejaki bib!r Rindi dengan pelan sebentar melepas dan sedikit menjauh, memandang mata yang turut
memandangnya, hanya untuk memberikan sebuah keyakinan bahwa kali ini ia melakukan karena cinta.
Kemudian kembali menempelkan bibir dengan pelan dan lembut. Memberikan sentuhan turut membalut hati yang menghangat.
Pertemuan b!b!r pertama untuk keduanya, membuat mereka terhanyut dengan aktifitas itu.
Dengan ibu jarinya mencoba mengeringkan basahannya itu dan menatap Rindi yang justru menundukkan pandangan seolah tak ingin menatapnya.
“Aku gak akan kayak gini kalau kamu gak bertingkah.” Sambil mengusap lembut pipi chubby Rindi.
Rindi hanya mampu mengganggukkan kepalanya, sebuah pergerakan yang lumayan untuk keadaannya yang baru saja menerima hukuman dari Linggar.
“Aku janji gak akan sakiti kamu kalau kamu juga mau janji untuk tetap setia sama aku.”
“I-iya, aku janji kak.” Rindi hampir menangis menatap mata Linggar yang seolah ingin menusuk jantungnya.
“Gak akan dekat lagi sama dia?”
“Iya janji.” Masih dengan kepala yang menunduk.
“Janji?” Linggar menyodorkan kelingkinnya pada Rindi seperti ritual janji anak kecil yang sedang berjanji.
Di sambut baik oleh Rindi, yang menautkan jari kelingking pada Linggar. Apa lagi yang bisa ia lakukan pada saat terpojok seperti ini selain mengikuti keinginan Linggar.
“Janji kamu gak akan mainin aku lagi?” Menambahkan poin janji.
“Iya, aku janji akan main-main lagi.” Dengan jari masih terpaut.
Sebuah janji kini telah terikrar.
Bukan! Tapi beberapa janji.
“Maaf.” Linggar sadar tingkahnya itu pasti membuat Rindi takut dengannya. Mungkin saja Rindi akan menghindarinya lagi.
Mungkin sebuah pelukan mampu menstabilkan hati yang sedang simpang siur. Disertai sentuhan ringan di kepala,
“Maaf,” ucapnya lagi dengan lirih.
Menenggelamkan kepala RIndi di dadanya. Memperdengarkan detak jantung yang sedang bekerja sangat keras.
Semoga dengan begini Rindi mampu mengerti perasaan Linggar yang begitu dalam padanya.
Pelukan hangat itu mampu menstabilkan diri. Menjauhkan segala ketakutan yang ada.
Linggar dengan ketakutannya akan kehilangan RIndi.
__ADS_1
RIndi dengan ketakutannya jika Linggar akan memakannya sekarang juga.
Rindi mengangguk seolah menerima permintaan maaf dari Linggar. Meskipun tidak dengan hatinya.
Mereka keluar dari ruangan itu dengan saling bergandengan tangan, namun dengan raut yang berbeda.
Linggar yang berupaya menjaga senyum meskipun sedikit terpaksa.
Terpaksa bahagia di tengah hatinya yang masih menyimpan seribu pertanyaan. Apakah Rindi akan berubah dan
kembali padanya setelah ini.
Atau tetap menjalankan permainan seperti sebelum-sebelumnya.
Sementara Rindi, hanya mampu tertunduk dengan pandangan di setiap lembar tehel lantai yang tertata rapi. Linggar kembali membuat jantungnya berdegup kencang.
Hingga di parkiran ia baru saja teringat dengan sahabat dan dewi penolongnya, Lilis.
Lilis kemana?
“Kak, Lilis?” Kini Rindi telah mampu memandang mata Linggar karena sedikit panik.
Linggar hanya membalas dengan senyuman dan membuka pintu mobilnya.
“Motorku?” Rindi yang tak menerima jawaban apapun dari Linggar hanya senyuman.
“Kuncinya?” Linggar menengadahkan tangan di hadapan Rindi yang telah duduk di dalam mobilnya dengan pintu yang masih terbuka karena Linggar masih berdiri di dekat Rindi.
Setelah menutup mobilnya, pria itu terlihat mendatangi beberapa orang yang masih berdiri di area parkir.
Tangannya menunjuk ke sebuah arah yang tadinya mereka lalui.
Rindi mengukuti arah telunjuk Linggar yang menunjukkan dua orang yang sedang berdiri dan betah memandang ke
Arman dan Lilis?
Kini hatinya mulai ragu dengan apa yang tadi ia rasakan.
Ketika tadi hatinya gelisah karena tak melihat Lilis yang harusnya tetap berada di dekatnya, namun kini berubah menjadi sebuah kemarahan.
Kemarahan pada sahabat yang harusnya berada di pihaknya, selalu mendukung dan membantunya. Bukannya berada dipihak Linggar, yang justru telah membuatnya terpojok tadi.
Dan hari selanjutnya merupakan hari-hari yang semakin berat bagi Linggar untuk bertemu dengan Rindi. Bahkan
setelah beberapakali menghubungi nomor telpon Rindi yang ia dengar hanyalah, “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda!”
Apa maksudnya ini?
Rindi ganti nomor atau memblokir nomornya.
Bahkan ke dua sahabatnya yang lain memberikan jawaban yang kurang memuaskan baginya. “Tidak tau kak.” Atau, “Kayaknya lagi ngurus sesuatu sama Lilis.” Pernah juga,“Kelihatannya sibuk kak.”
Seperti itu saat Linggar bertanya pada Tantri dan Andini.
Linggar harus menggunakan seluruh kekuatan dan pemikiran yang ia miliki hanya untuk bertemu dengan Rindi.
Kayak superheri aja yah?
Baru Tantri dan Andini.
Lilis yang ia jadikan sebagai orang kepercayaan juga tak jauh berbeda dengan Rindi yang sulir di temui.
Ya jelaslah. Liliskan memang selalu berada di dekat Rindi. Jarang banget pisah, kecuali saat dirinya mengambil alih Rindi hanya untuk pulang bersama.
__ADS_1
Oh, ya Lilis.
Ia melupakan satu ide yang harusnya sejak lama dilakukan.
Mendatangi Lilis langsung ke rumahnya. Pasti Lilis tak akan mengelak dan mudah ditemui. Linggar tersenyum
setelah beberapa kali mengetuk kepalanya sendiri.
Mengapa begitu lelet otaknya berpikir saat ini. Mungkin karena panik, atau esmosih yang seolah selalu
menguasai hati dan kepalanya.
Benar saja. Linggar begitu mudah menemukan Lilis saat berkunjung ke rumahnya dengan alasan minta soal tugas yang diberikan oleh dosen.
Hahahaha, mungkin hanya itu alasan yang paling masuk akal menurutnya. Toh orang tua Lilis tak tahu jika
mereka bukan dari tingkatan yang sama, meskipun memang benar jurusan mereka sama.
“Siapa?” Mama yang langsung menyergap Lilis saat hendak membuatkan minum pada Linggar. Padahal tadi mama
juga yang meminta Lilis untuk menyiapkan minum buat tamunya. Tak lupa menyumbangkan senyum manis saat berada di depan tamunya.
Dan kini wajah mama sudah terlihat tanpa senyuman, bahkan terlihat sangat menakutkan dengan mata yang
melotot tajam.
Bukan interogasi namanya kalau tidak memojokkan Lilis yang hanya mampu menggaruk keningnya.
“Teman ma.” Ya memang teman untuknya kan?
“Gak, bukan deh kayaknya.” Kini kedua tangan telah terlipat rapi di depan dada, menandakan keseriusan yang mama butuhkan.
“Beneran ma. Cuma teman, mau jawab apa lagi coba.”
“Gak, percaya. Udah berapa kali mama liat dia nganterin Rindi. Kalau bukan cowok kamu, pasti cowoknya Rindi
kan?”
“Tuh kan tau.” Senyum kini telah terlukis di wajahnya disertai jentikan jari di depan mama. Bukan bermaksud
mengadukan Rindi yang menjalin hubungan dekat dengan Linggar, tapi ia memang sudah tak punya alasan lagi.
“Bisa sajakan, itu cowok kamu. Rindi cuma buat alasan biar kamu gak ketahuan.”
Ya ampun. Jujur salah, bohong salah.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.
__ADS_1