Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Gadis Yang Tersisihkan


__ADS_3

Bibir itu kembali mendarat di pipinya meskipun hanya secepat kilat.


Tidak hanya menciptakan semburat merah di pipi  tapi juga getaran di dada.


Menahan tangan Linggar yang hampir saja berjalan meninggalkannya.


Selalu saja begitu!


Enak saja, Setelah mencium pipinya pria itu akan meninggalkannya berdiri mematung dengan ribuan pertanyaan di otaknya.


Rindi berbalik hanya untuk meletakkan berkas yang ada di tangannya ke meja dengan keras hingga menimbulkan bunyi.


“Mau apa hah?” Ucapnya sinis.


Satu tangan tengah bertolak pinggang menandakan sebuah perlawanan.


Nampak di sana pria itu sedang menahan senyumannya. Jangan sampai tawanya meledak saat ini juga.


“Kalau mau itu, kenapa gak minta baik-baik? Aku kasih nih!” Kini kedua tangannya telah di letakkan di rahang Linggar. Sedikit menjinjit, high heels di kakinya banyak membantu agar tubuhnya tak terlalu nampak mini jika di dekat Linggar.


Mencium kening Linggar, lalu berpindah ke mata kanan dan kiri kemudian turun ke pipi. Linggar Senyum mengembang mendapatkan perlakuan Rindi. Kini ia tak lagi bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


Entah bahagia karena Rindi menyambutnya.


Atau karena Rindi masuk ke dalam jebakannya. Entahlah!


Banyak bermain dengan RIndi ternyata mampu membawa hatinya turut serta.


Rindi, cinta yang terpendam kini kembali tumbuh berkembang seiring perhatian dan balasan dari Rindi.


Kini ia mulai ragu, masihkah harus melanjutkan permainan atau mengikuti hati nurani yang kembali ingin mendapatkan Rindi.


Linggarpun meletakkan berkas yang ada di tangan ke meja.


Rindi sedikit menjauh hendak beranjak mungkin urusannya telah usai atau menghindari serangan Linggar.


Belumpun sempat Rindi melangkahkan kaki, Linggar telah meraih pinggangnya mendekat tak berjarak.


“Masih ada yang belum.” Ucapan Linggar langsung membuat mata Rindi membulat penuh. Ia tahu maksudnya.


Tanpa kata-kata sambutan lagi Linggar telah merapatkan bibirnya dengan bibir Rindi. Membuat denyut jantung


bertalu-talu bagai genderang perang.


“Aku rindu,” ucapnya lirih di dekat telinga Rindi. Menyapukan bibir ke wajah Rindi menuju ke arah bibir.


Melanjutkan tadi yang dilakukan hanya sekejap, ingin merasakan sensasi yang lebih lama.


Rindi yang mencoba menjauh dengan tangannya menahan bibir yang kembali hendak meraup bibirnya.


Dengan jari-jarinya yang lembut dan Mengusap pelan bibir yang pernah ia miliki itu.

__ADS_1


"Jangan seperti ini!" Meskipun napaspun telah memburu. "Ini salah!"


Jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan Rindi saat ini. Bulu kuduk berdiri, seluruh tubuh terasa menegang.


Seperti tersihir.


Jika boleh ia berkata, iapun rindu. Namun sebisa mungkin di tahan. Banyak alasan mereka tak bisa bersama saat ini.


Linggar tak pernah mengucapkan ingin kembali padanya. Dan mereka berada dalam satu ruang kerja yang justru terlarang oleh peraturan perusahaan jika ada cinta di dalamnya. Terlebih lagi, ia menjadi perantara antara Linggar dengan Citra.


Iya, apa yang dikatakan Rindi memang salah.


Namun ia tak tahu pasti kata salah itu menjurus kemana.


Salah, karena hubungan mereka yang kini bukan sepasang suami-istri lagi. Hingga apa yang mereka lakukan ini termasuk sebuah dosa.


Yang mungkin akan mengantarkan mereka kembali ke liang dosa yang dalam lagi seperti waktu dulu.


Atau salah karena peraturan perusahaan yang tak membolehkan adanya hubungan di dalam satu devisi.


Citra dan Kamil baru saja datang membawa bingkisan di tangan yang hendak diberikan langsung pada Linggar. Namun langkah mereka terhenti di depan pintu saat melihat adegan romantis nan terlarang itu.


Sebelum kedua orang di dalam menyadari keberadaan mereka, Kamil segera menarik Citra menjauh dari sana.


Bersembunyi di balik dinding seperti penjahat yang baru saja melarikan diri dari kejaran polisi.


Sebelum bawaan Citra terjatuh di lantai, Kamil telah mengambil alih.


Citra hanya mampu berdiam diri dengan pandangan kosong ke depan.


Ada rasa marah, sakit dan kecewa di sana. Merasa terhianati oleh orang kepercayaan sendiri.


Ingin memberontak tapi pada apa dan siapa?


Yang ada mungkin hanya akan mempermalukan diri sendiri.


Linggar-Rindi.


Seolah tak ingin percaya dengan pertunjukan yang baru saja ia lihat. Tapi itu sungguh nyata dan bukan mimpi.


“Cit, kamu gak papakan?” Pertanyaan bohdoh yang harusnya tak dilontarkan.


Sudah tau ada luka di sana, masih juga bertanya. Kenapa gak sekalian tanyakan nama saja, jawabnya pasti akan lebih mudah.


Citra hanya terdiam tanpa kata masih dengan tatapan kosong ke depan. Jemari menggenggam kuat, meskipun mata tak berair.


Kamil mungkin bisa mengerti keadaan Citra saat ini. Tapi ia tak tahu harus berbuat apa untuk menghibur temannya ini.


Memeluk? Ah tidak mungkin.


Ia adalah pria yang masih menghargai wanita. Belum tentu juga Citra mau dipeluk oleh pria lain selain keluarganya.

__ADS_1


Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?


“Kamu yang sabar yah?” Ucapnya pada Gadis yang masih terdiam di sampingnya ini. mungkin hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Sementara Citra yang mendengar kalimat itu, entah mengapa sepertinya Kamil sedang bercanda saat dirinya sedang merasakan sakit.


Mungkin saja, semua orang dalam ruangan itu telah mengetahui kedekatan antara Linggar dan Rindi. Tapi mencoba menutupi keadaan itu di depannya. Bukankah Rindi adalah teman mereka juga.


Bahkan saat ini Rindi lebih dekat dengan mereka dari pada dirinya. Rindikan teman seruang mereka. Sementara dirinya adalah karyawan yang sengaja disisihkan hanya untuk memberi tempat bagi Rindi.


Atau saja, mereka tetap membiarkan Citra dengan segala perhatian yang diberikan kepada Linggar yang pada akhirnya merekalah yang menikmati.


Mereka.


Teman-temannya yang dulu kini bukan teman-temannya yang sekarang.


Teman-temannya yang dulu sekarang adalah teman-teman Rindi. Pastinya mereka akan lebih memilih dan berpihak pada Rindi, bukan dirinya.


Lagi-lagi Rindi.


Dan kenapa harus Rindi?


Tempatnya yang dulu diruangan itupun diserahkan pada Rindi. Dan dirinya yang dimutasi. Padahal waktu itu, jelas-jelas mereka sama sekali tak pernah membicarakan tentang mutasinya.


Apakah semua ini hanya persekongkolan mereka?


Hah, dirinya seolah dibuat buta oleh sikap baik teman-temannya.


Dirinya tersisihkan.


Dan memang ingin disisihkan.


Hanya caranya saja yang halus.


Bohdoh! Hanya mampu mengumpat diri sendiri dalam hati.


Gigi bergemeretak, tangan semakin menggenggam keras, matapun ikut terpejam erat.


Akhirnya airmatanyapun luruh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil tungguin Up selanjutnya bisa ke sebelah dulu.


Novel pertamaku, udah TAMAT


Di sana selain mewek ada ngakaknya juga.


Antara Jarak Dan Waktu


__ADS_1


__ADS_2