
Riswan mulai mengetuk sebuah pintu, mungkin ini akan menjadi markas baru Rindi.
“Silahkan masuk!” Jawaban dari dalam.
“Selamat pagi menjelang siang!” Riswan sambil tersenyum dengan seluruh penghuni ruangan. Ada lima meja di sana, namun saat ini hanya menampilkan tiga orang.
“Atasan kalian mana?” Riswan.
“Masih di atas, ada apa?” Seorang wanita yang memilih berdiri dari kursinya dari pada menghampiri para tamu.
“Oh, ini kalian dapat tambahan tenaga baru, jadi saya limpahkan ke mbak Tia saja yah?”
“Ooohhh,” Suara itu dari seorang pria yang turut berjalan menghampiri. “Kamu di tempatkan di sini?”
“Iya, kaliankan kekurangan tenaga?” Suara Riswan masih mendominasi. Membantu Rindi dalam menjawab beberapa pertanyaan.
“Oh iya, makasih yah Ris.” Jawaban itu ternyata dari wanita tadi.
“Iya, sama-sama. Nah Rindiandira tugas saya sudah selesai. Silahkan kamu berinteraksi dengan mereka. Mereka adalah teman-teman baru kamu.” Ucap Riswan sambil menatap ke arahnya, lengkap dengan seyuman manis memikat.
“Terima kasih pak!” Ucap Rindi dengan sedikit membungkukkan kepala.
“Ok, saya balik dulu!” Tersenyum dan mulai membalikkan tubuh.
“Belum waktunya balik bro, waktu masih panjang.” Pria yang tadi.
“Iya tau, balik ke ruangan saya maksudnya.” Riswan yang kemudian berbalik, menekan handle pintu dan mulai meninggalkan ruangan.
“Jadi kita kasi kerjaan apa nih mbak?” Pria tadi yang masih setia menemani Rindi berdiri.
“Jangan dulu! Tunggu bos dulu.” Wanita yang dipanggil mbak itu.
Sementara di sana masih tersisa seorang gadis yang hanya menatapnya sambil tersenyum tanpa sebuah kata. Ia balas dengan senyuman pula.
Hari pertama disambut dengan sebuah senyuman merupakan suatu yang spesial, dan semoga saja oranga-orang di sini bisa menerima kehadiran dirinya dengan terbuka.
“Eh, kayaknya kita belum kenalan yah. Namaku Kamil.” Pria tadi sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Rindiandira Ningsih, panggil Rindi.” Yang turut mengulurkan tangan. Namanya harus diperjelas karena ini perkenalan awal meraka dilingkungan kerja.
“Oh Rindi. Yang sana mbak Tia, dia senior di sini, terus yang sana Rahayu adik paling bontot, tapi sekarang ada kamu jadi kamu yang paling bontot di sini.”
Jadi gadis ramah di sana namanya Ayu, terus mbak yang katanya senior itu namanya Mbak Tia, cowok ini namanya Kamil. Gak susah, nama mereka mudah untuk di ingat.
Note: Nama-nama teman satu devisi harus diingat mulai dari sekarang! Gak lucukan kalau ia minta bantuan salah satu dari mereka panggilnya anu!
Tinggal sang bos.
Yah penyambutan yang lumayan menenangkan diri.
Padahal telah terbayang wajah-wajah jutek plus sinis. Di tambah lagi bayangan tentang karyawan lama yang mengambil kesempatan dengan hadirnya karyawan baru dengan memberi segudang kerjaan yang kadang tak masuk akal.
Atau perkenalan diri dengan mengerjai karyawan baru dengan game-game yang bisa menjatuhkan pamor.
Semua bayangan tadi membuatnya tak bisa tidur semalam.
Ternyata semua itu tak terjadi. Mereka semua baik dan welcome.
__ADS_1
“Ya udah kamu duduk di sini dulu, sambil tunggu bos!” Pria itu menyodorkan kursi yang tadinya berada di sebuah meja tanpa penghuni, mungkin itu tempat orang yang mereka panggil bos.
Satu meja kerja di sisi kanan terlihat kosong melompong, mungkin ia akan menjadi penghuninya, karena hanya itu yang tersisa.
Ia hanya mampu menebak sendiri hanya menggunakan indera penglihatan dibantu dibantu insting.
“Pagi-siang!” Saat pintu terbuka dan memperdengarkan suara yang seolah sangat familiar bagi Rindi.
Membuat Rindi yang tadinya ingin duduk, membatalkan niat. Memilih terus berdiri, mundur beberapa langkah.
Kepala mulai menunduk dalam. Jantung mulai berdetak kencang. Doa-doa berkumandang meski hanya dalam hati.
Semoga saja ia salah mengira semuanya. Semoga saja otaknya salah dalam menebak orang.
Ia tak melihat orang itu karena berdiri membelakangi pintu. Dan jika boleh meminta mungkin ia tak ingin melihat sosok yang tadi menyapa.
Sekiranya harus melihat, hanya bisa berdoa jika instingnya salah dalam mengenali orang ini.
derap langkah mulai terdengar. yang artinya pria itu mulai melangkahkan kaki.
Jangan mendekat!
Jangan mendekat!
Jangan mendekat!
Pintanya dalam hati.
Instingnya ternyata semakin kuat, bahkan semakin yakin.
Dan wangi parfum itu semakin jelas membuat tebakannya menjadi 95% benar.
“Pak, ada anak baru! Gantinya Citra mungkin.” Ucapan Kamil membuat pria itu membalikkan tubuh mencari sosok yang dimaksud.
“Wow,” ucap pria itu dengan wajah berbinar.
“Sudah kenalan semua?" Lanjutnya sambil mengendorkan lilitan dasi di leher.
“Setengah pak, baru diantar sama personalia,” Kamil yang mulai berjalan kembali ke meja kerjanya.
“Baiklah kita mulai dengan perkenalan. Silahkan!” Berjalan terus ke arah meja kerja, memilih bersandar di sana sambil terus menatap sang karyawan baru.
Lengan kemeja disingsingkan dan tangan bersedekap di depan dada.
Terlalu santai untuk ukuran orang kantoran.
Dan untuk mereka yang sedang saling berhadapan dengan Rindi yang justru hampir gemetar.
Rindi mulai menarik napas dalam, masih belum mengangkat pandangan.
“Perkenalkan nama saya Rindiandira Ningsih, Umur 24 tahun." Hembuskan sisa-sisa udara secara perlahan.
Kemudian kembali mengambil napas dalam, "Saya lulus dengan gelar Sarjana Ekonomi enam bulan lalu. Saya memilih bidang studi itu karena saya selalu tertarik pada bidang ekonomi dan keuangan.”
Memperkenalkan diri sudah, namun jantung masih melompat-lompat seperti hendak mencari jalan keluar dari dalam tubuh.
Meskipun sedikit kaget saat melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya namun ia masih mencoba tersenyum. Sedikit kaku, namun inilah yang bisa ia persembahkan saat hati sedanag tak karuan.
__ADS_1
Ini adalah hari pertamanya bekerja, namun jika saja ada kesempatan lain di luar, mungkin ia lebih memilih yang ada di sana.
“Status?”
“Emmm, I’m single.”
“Loh, tadi perkenalan awal pakai Bahasa Indonesia, sekarang English?”
"Kenapa?" Pria itu sedikit tersenyum.
Sementara Rindi hanya mampu memperdalam tundukan kepalanya.
“Emmmm, saya janda.” Rindi sambil tertunduk
malu. Orang yang ada dihadapannya mungkin memang ingin mempermalukannya.
“Oh, janda toh. Kirain?” Mungkin sengaja memperkeruh nada suaranya.
“Beh, sombong! Gak sadar diri.” Dengan ketusnya wanita yang bernama Tia itu.
“Nih cermin, liat siapa tuh yang di dalam!” Mbak Tia benar-benar menyodorkan sebuah cermin yang diambil dari dalam laci meja.
"DUDA." Suara mbak Tia sedikit keras dan menekan.
“Cowok sama cewek beda mak. Cowok
tuh, cuma tumpah air kembali botol. Nah, cewek?” Ucapnya sambil mengerling jijik ke arah Rindi.
“Awas, aku kamu jatuh cinta sama janda!” Mak Tia.
“Aamiin!” Ucap Kamil dengan segera, melihat sikap bosnya yang seolah merendahkan orang lain.
“Cih, aku mau cari gadis, cewek ting-ting. Beuh, lebih menggigit. Iya kan yu?” Seolah ingin mencari pendukung.
Mendapat serangan dari dua arah membuatnya tak terima.
“Makanya Yu, kamu harus bisa jaga diri dan jangan gampang percaya sama cowok sekalipun itu pacar kamu sendiri!"
"Terus ini nih yang paling penting. Kalau sudah dapat cowok yang setia itu jangan disia-siain, harus dijaga sebelum dia pergi ninggalin kamu!"
“Dan sebelum kamu jadi janda kayak dia tuh!”
“Bener-benernih cowok, aku doain jodohmu janda biar tau rasa!” Mbak Tia.
“AAAAMIIIIIIN." Suara Kamilpun dengan keras dan penuh tekanan.
Yang seolah tak enak hati melihat Rindi terus mendapat hinaan dari sang bos.
Seolah ingin menangis, Rindi hanya mampu menundukkan wajahnya menatap ke arah lantai.
Tidak! Jangan menangis, bukan saatnya menangis!
Ia ingin melompat menerkam pria
itu. Mencakar wajah, dan merobek mulut bocor itu dan berteriak di hadapannya, “kamu yang merebut kesucianku, dan kamu juga yang membuat aku jadi janda.”
Ya, pria itu adalah Linggar.
__ADS_1
Mantan suaminya dan juga atasannya sekarang.
To Be Continued!