
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Rindi, seolah mempersiapkan diri untuk mendapat tamparan.
“Tampar aja, aku gak bakalan marah kok!”
“Nih!” Kali ini menarik tangan Rindi dan meletakkan di pipinya sendiri.
“Gak usah kak.” Rindi yang tertunduk kebingungan.
“Jadi gak marah lagi kan?”
“Hemmm.”
“Buka blokirannya dong. Aku mau nelpon kamu gimana?” Pintanya dengan sedikit memelas.
Lagi-lagi Rindi hanya terdiam dan mulai merogoh tas selempang kain kanvasnya, menuruti pinta Linggar. Hanya bisa menuruti ingin Linggar, melihat kemarahan di mata Linggar membuatnya seolah tak bisa berbuat apa-apa.
“Ambil balik uang itu, toh nanti juga aku yang akan menafkahi kamu.”
Rindi hanya menunduk sambil meraih amplop yang telah diletakkan di atas pangkuannya.
What? Menafkahi? Maksudnya apa nih?
“Mau jajan?”
“Gak usah repot, makasih.” Rindi.
Mungkin Linggar harus sedikit menahan diri untuk tidak menikmati pandangan Rindi yang sedang menikmati
camilan pemberiannya. Hobi baru yang entah sejak kapan?
Menatap bibir mungkin yang sedang bercuap-cuap, lengkap dengan pipi chuby yang kembang-kempis saat menguyah berbagai macam kripik.
Berbicara tentang uang dan jajanan kali ini mungkin sedikit sensitif. Jangan sampai RIndi berpikiran lain lagi tentang dirinya.
Tak mengapa, asalkan kali ini ia merasa telah mendapatkan maaf dari Rindi. Sekaligus kembali menatap Rindi lewat layar ponselnya menjelang tidur.
Jika ia beruntung, mungkin ia dapat menatap titik hitam di pundak gadis itu.
“Kita pulang?” Tanyanya pada Rindi.
“Hemm.” Rindi yang masih tertunduk sambil memainkan amplop yang sejak tadi menjadi pembahasan mereka.
Dan malam tiba, Linggar kembali menghubungi Rindi. Kali ini jauh sebelum waktu tidur, hanya untuk mengobati rindu yang ia pendam hanya karena tidak bertelpon ria sebelum tidur.
Menggantikan malam-malam yang telah berlalu tanpa menatap pundak putih dengan titik hitam.
“Lagi ngapain?” Ucapnya semangat saat Rindi telah mengangkat telponnya.
“Belajar.” Rindi singkat, terlalu singkat untuk melepaskan rindu. hingga ia memutuskan untuk mengalihkan ke
panggilan vidio.
Kini ia telah melihat sosok Rindi yang tengkurap di atas tempat tidur, dengan dua buah buku di hadapannya sambil
memegang ballpoin.
Dan apa yang kini ia lihat ternyata tidak hanya mampu mengobati rindunya tapi mampu memanaskan jiwanya. Bahu putih dengan hiasan titik hitam di sebelah kanan.
Rindi yang sedang mencari posisi baik untuk ponselnya agar tetap berdiri tanpa harus ia pegang. Lalu kembali ke
posisi semula, dan apa itu?
Arrrhhhh.
__ADS_1
Rindi yang menindih sebuah bantal, dan apa yang di sana terlihat sangat empuk.
“Rin?”
“Hemmmm.”
Apakah gadis ini tidak sadar?
Bukan hanya penampilannya yang membuat Linggar sepeti cacing kepanasan, tapi juga posisi gadis itu.
Dan sangat betah dengan posisi itu, membuatnya seolah ingin mengambil sebuah jaket lalu menyampirkannya ke tubuh Rindi agar yang empuk-empuk itu tertutupi.
“Rindi.” Ucapnya sambil menahan diri. Mungkin ia hampir frustasi melihat keadaan Rindi saat ini.
“Kenapa sih kak? Ngomong aja aku dengar kok.” Tanpa menatap Linggar.
“Ngapain?”
Udah dibilangi lagi belajar juga.
“Gak ada kok. Ada apa?” Kali ini gadis itu menatap ke arah layar ponsel yang menampilkan Linggar yang sedang berbaring miring.
Lalu apa yang harus Linggar katakan?
“Gak papa, Cuma mau liat kamu.”
“Udah mau bobo lagi?”
Bobo? Kayak anak kecil aja.
Rindi tak bisa membayangkan pria yang satu ini, apakah hari-harinya lebih banyak dihabiskan hanya untuk tidur?
Padahal ini saja baru jam berapa, masih jauh dari jam tidurnya. Lalu bagaimana dengan pria yang lebih sering begadang dibandingkan dengan para wanita.
Dan sepertinya ia mengambil keputusan yang tepat, masuk ke kamar untuk menghubungi Rindi. Bagaimana jika Arman langung merampas ponselnya dan melihat keadaan Rindi yang seperti ini.
Oh, tidak! Tidak boleh terjadi.
“Rin, kalau malam ada yang sering nelpon gak?”
“Ada.” Ucapannya singkat, namun mampu membuat mata Linggar membulat sempurna. Bagaimana jika pria? Lalu melihat Rindi dengan keadaan seperti itu.
“Cewek atau cowok.”
“Cowok.” Jawaban Rindi justru semakin membakar hatinya.
“Vidio call juga?” Jika hanya menelpon tak apa, asalkan jangan sampai vidio call.
“Iya.”
Ya ampun! Ia hampir terbakar emosi.
“Kamu angkat?”
“Ya, iyalah! Nama juga nelpon. Lagian kalau gak diangkat bisa telpon sampai pagi. Kan ribet. Bagus kalau hanya
nelpon, nah kalau sampai nyulik?”
“Kamu pernah di culik?”
“Iya, pernah sekali. Mudah-mudahan cuma sekali seumur hidup yah?”
Apa itu sebuah pertanyaan, atau sebuah permintaan.
__ADS_1
“Siapa yang nyulik?”
“Cowok gila, pemain basket kampus.”
“Buahahahah.” Tawanya langsung pecah, saat menyadari jika dirinyalah yang menjadi pembahasan Rindi sejak tadi. Terlebih lagi saat ia dikatai gila.
Setidaknya ia sedikit lebih lega, karena hanya dirinya yang menelpon Rindi.
“Rin, aku mau ngomong!”
“Ngomong aja, dari tadi juga emang ngapain?”
“Iya, tapi kamu jangan marah ya?”
Loh kok, hawanya langsung ga enak gini?
“Besok malam kalau aku nelpon kamu, jangan pakai baju kayak gitu lagi yah!" Pintanya.
"Aku tergoda liat kamu.”
Ah, ya ampun. Rindi baru tersadar dengan penampilannya dan posisi yang sedikit hot mungkin jika di lihat oleh mata lelaki. Gak percaya? Coba saja tanyakan pada Linggar.
“Kakak gila.” Rindi terlihat meraih ponsel dan mematikan panggilan dengan raut wajah memerah.
Membuat pria di sebelah sana hanya bisa melanjutkan tawanya menggelegar memenuhi kamar. Bisa dipastikan
gadis itu pasti malu setengah mati.
\=\=\=\=\=\=
Hampir setengah jam Linggar menunggu telpon Rindi di basecamp, hingga ia memutuskan untuk menelpon terlebih dahulu.
“Rin, selesai jam berapa?”
“Emmm kak, aku pulang sama Lilis sama Dini dulu yah!”
Namun Seseorang di sana sepertinya sedang berteriak. “Kita di klinik kak, kaki sama tangan Rindi terluka abis gulat.”
Apa gulat? Maksudnya.
“Kok bisa?” Tanyanya penasaran namun segera bangkit dari duduknya dan kemudian sedikit berlari ke arah klinik kampus. Ia sudah tak menghiraukan lagi kegaduhan yang terdengar di sana sepertinya sedang berdebat karena dirinya memilih menyimpan ponselnya di saku celana.
Sesampainya di klinik, ia mencoba menerobos kumpulan orang-orang yang ternyanya adalah teman-teman Rindi. Membuat jantungnya seolah berpacu lebih cepat, apalagi saat mendapat kekasihnya kini sedang terduduk di ranjang klinik.
“Ada apa?” Tanyanya saat telah berada tepat di samping Rindi.
“Udah dibilangin Rindi abis gulat.” Jawaban yang terdengar sedikit judes entah dari siapa, karena suara itu dari belakang Linggar.
To Be Continued!
Jangan lupa jempolnya kesayangan.
Maksudnya tuh, pencet like, komen n hadiahnya! Sekalian yang simbol hati itu yah!
AKu tunggu!
Emmmuah!
Emmmuah!
Emmmuah!
Emmmuah!
__ADS_1