
“Kak Reno gak ijinkan kami se kamar waktu tinggal di rumah kak Rima.”
“Kak Reno juga yang ngasih waktu tiga bulan, kalau aku gak hamil, kak Linggar harus ceraikan aku bu.” Rindi menutup mata, harus menguatkan diri dalam setiap kata yang terlontar.
Tak mau kakak kesayangannya dihakimi nanti oleh ibu, tapi tak tahanpun dirinya yang selalu dijadikan alasan perceraian mereka.
Linggar menghampiri Rindi, merangkul, membawa ke pelelukannya sebagai penguat diri dan sebagai ungkapan bahwa ia ada untuk mendukung Rindi.
“Benar begitu?” Pandangan mata ibu semakin tajam kini ke arah Linggar. Tak bisa dipungkiri ada rasa tak percaya saat itu.
Untuk apa Reno melakukan hal itu? Bukan itu menghancurkan kebahagiaan adik yang sangat disayanginya?
Linggar tak berkata, hanya mengangguk.
“Udah jangan nangis!” Ucapnya lirih sambil menunduk, menatap dan mengusap pelan pipi Rindi yang kembali lembab.
“Bu, jangan marahin kak Reno. Ini semua salah kita bu!” Dan tak mungkin ia menyebutkan kesalahan yang dimaksudnya itu.
Saat pandangan ibu terlihat lurus ke depan tak berujung, bibir terkatup rapat, menandakan amarah tertahan di sana.
Pernikahan dini yang terlaksana memang mudah di obok-obok, seperti yang terjadi antara Linggar-Rindi. Belum matangnya pemikiran menjadi salah satu pemicunya.
Terlebih saat Imam tersebut belum mampu mengambil keputusan bahkan meski itu untuk kebaikan pernikahan itu.
Dan orang yang diharapkan mampu mendampingi dan mengayomi, nyatanya justru menjadi alasan runtuhnya pilar-pilar rumah tangga itu.
Menarik napas kuat dan menghembuskan kembali dengan pelan. Ibu sedang mengontrol diri dari amarah yang sempat mengetuk.
“Jadi mau kalian sekarang gimana?"
" Gar?” Kali ini ibu harus tegas, tak ingin ada cela yang bisa meruntuhkan kedua muda-mudi yang tengah dilanda asmara itu.
Melihat anaknya dalam pelukan Linggarpun telah mampu menebak hubungan kedua insan itu telah sejauh mana. Tak
“Aku mau rujuk bu.” Masih memeluk Rindi yang masih tertunduk. “Kamu?”
Rindi mengangguk dalam pelukan Linggar.
__ADS_1
Betapa bahagianya Linggar saat menerima jawaban itu.
Menahan senyum agar tak terkembang di wajah. Mungkin belum saatnya menampakkan kebahagiaannya saat ini.
Tapi jujur hatinya terasa penuh dengan keriaan.
“Ok, ibu tunggu kelanjutannya. Jangan lama gar, ibu gak mau nanggung dosa kalian terlalu banyak.”
“Kamu sadar, Dira belum jadi istrimu tapi udah dipeluk-peluk kayak gitu. DI depan ibu lagi.” Semakin ke sini kedengarannya kok terasa nyindir banget yah.
Linggar meringis, lalu menyuguhkan senyum terpaksa. Mulai menjauh kembali mengambil jarak dari Rindi.
“Ya udah kalian bicarakan lagi! Ingat ibu gak mau kalian terlalu lama kayak gini!” Beranjak dari sana, meski dalam hati terasa masih ada yang mengganjal.
Tentang bagaimana kehidupan rumah tangga sang anak dulu.
Memilih berdiam diri sejenak di dalam kamar, tepekur.
"Ibu juga salah,"
Teringat saat dulu, Rindi pulang ke rumah saat malam dan itu bersama Reno.
Kenapa ia tak bertanya langsung pada putrinya yang justru telah menjadi korban keegoisan sang kakak.
Dan justru mengandalkan sang sulung yang dianggapnya mampu membantu menyelesaikan masalah sang adik, ternyata salah.
Apa yang Reno tidak sukai dari Linggar.
Memang ibu tak terlalu banyak tahu tentang Linggar.
Namun dari sudut pandang beliau, Linggar adalah sosok pria baik yang sangat mencintai putrinya, untuk selanjutnya beliau tak tahu lagi.
Dengan tangan yang memijit kepala yang justru menggeleng-geleng pelan, meringis.
Ah, hidup ini terlalu sempurna jika tak ada arang melintang dalam perjalan. Mungkin inilah salah satunya.
Berharap semoga dihari ke depan, anak-anaknya bisa hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
__ADS_1
“Benar kata ibu Rin, kita gak bisa terlalu lama gantung kayak gini. Aku mau rujuk sama kamu, biar kita gak kembali jatuh lagi ke lubang yang sama.” Genggaman tangan terasa semakin erat.
“Aku takut Rin. Aku takut, kehilangan kamu lagi, aku juga takut gak bisa ngontrol diri, jaga kamu lagi.” Dengan beberapa kali menggelengkan kepala dengan kening berkerut. Serius rasa takut itu sungguh terasa sangat besar dan berat menggerogoti dirinya.
"Aku bisa kebablsan nyentuh kamu. Apalagi kalau gemes-gemesnya."
"Tapi aku juga gak bisa terlalu lama jauh dari kamu. Kangen Rinnnn."
“Kalau kamu mau, kita kembali rujuk. Sekarangpun aku siap.”
“Jangan gila deh kak.” Satu hentakan memisahkan gengaman tangan mereka. Rindi menggeser lebih jauh lagi.
Apa Linggar sedang melamarnya?
Lamaran macam apa ini?
Ya elah Rindi, baru juga serius-serius dikit, ngambeknya langsung aja datang.
“Masa iya melamarnya kayak gini. Gak ada bunga, gak ada cincin. Pc, gak ada romantis-romantisnya.”
Melirik Linggar yang menurutnya kurang peka. Tidak romantis sama sekali.
Biar bagaimanapun ia juga wanita.
Ingin dapat perlakuan romantis dari pujaan hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To be Conrinued!
Jangan lupa like n komen.
Emmmuah!
Emmmuah!
Emmmuah!
__ADS_1