
“Kenapa?” Citra saat melihat Rindi yang seperti sedang berpikir. Menelusuri pandangan temannya.
Pasti Rindi terkejut.
“Gak papa, ya udah abis ini.” Rindi melanjutkan laju tangannya terus hingga masuk ke dalam mulut. Berusaha menormalkan diri dan raut wajah.
Mengingat kedekatan yang terjadi antara dirinya dengan Linggar apakah tak masalah untuk Citra?
“Aku titip sama kamu aja lagi yah! Malas aku ke ruangan kalian.” Nasinya belum habis separuh. Rasanya bertambah rasa pahit di leher. Terus merasa biasa-biasa saja meskipun hati sedang ingin mengamuk.
“Hemm,” Tanggapan di tambah dengan senyuman manis dari Rindi.
Palsu, pasti hanya ingin bersandiwara lagi pikir Citra.
“Kamu bilang apa sama Pak Linggar kalau aku titip kayak gitu?” Dengan nada yang terdengar pelan namun dengan penekanan. Perlahan mulai ke inti acara.
“Ya, aku bilang, itu dari kamu.” Rindi sempat menghentikan aktifitas makannya, mengamati raut wajah Citra yang terlihat sendu.
“Benar?” Dengan sedikit senyuman mengejek seolah tak percaya.
“Kamu gak bilangkan kalau itu semua dari kamu?” Nada sedikit menanjak meskipun masih mencoba menahan diri.
Wanita yang berada di depannya ini, seperti insan munafik baginya.
“Aku bilang kok, dari kamu. Tanya aja sama mereka semua!” Rindi mulai membaca situasi yang tidak beres ini.
“Mereka semua teman-teman kamu. Bisa aja kalian sekongkol.” Semakin sinis saja.
Mengatakan seperti itu ternyata semakin menekan di dada. merasa diri tengah ditinggalkan seorang diri.
Semua yang berada di meja itu seketika menghentikan aktifitas makan mereka.
“Cit, gak gitu Citra.” Kamil menyela, mulai mengerti kemana arah pembicaraan Citra.
Padahal sebelumnya pria itu merasa kagum pada Citra yang mampu mengendalikan diri, namun hati yang tersakiti kini mulai berbicara.
“Kenapa Rin? Kenapa?” Citra yang ingin memulai tapi ia tak tahu harus dari mana. Nada semakin ditekan, dengan kepala yang menggeleng-geleng pelan.
Bodohnya ia yang terus mengharapkan Pak Linggar yang memang tak pernah tak pedulikan cintanya.
Belum pernah terasa olehnya cinta tak terbalaskan, dan kini dilengkapi dengan penghiatan seorang teman seperti
sekarang ini.
Terlebih lagi dari segi penampilan Rindi yang sedikit pendiam dan cenderung perhatian padanya. Bahkan pernah memberikan saran untuk langsung mengutarakan isi hatinya pada Pak Linggar.
Dan sekarang wanita itu justru merebut sesuatu yang bahkan belum ia miliki.
Sakit ternyata, sakitnya menembus jantung.
Jika itu bukan Rindi, orang yang ia percaya mungkin sakitnya tak seperti ini.
Hatinya mungkin lebih luas saat Linggar menolak atau bahkan mengacuhkannya. Tapi Rindi,....
Ya ampun, hatinya seperti sedang dihantam batu besar berulang-ulang kali.
“Kamu cantik Rin, kenapa harus Pak Linggar juga. Kenapa harus sekarang juga!” Menunduk dan menggenggam sendok di tangan dengan sangat keras. Matapun terpejam erat.
“Cit,” Kamil yang berusaha menenangkannya dengan elusan di lengan.
__ADS_1
Setidaknya lewatkan beberapa waktu dulu setelah Pak Linggar menolak perasaannya, pikirnya.
“Rindi,” Teriaknya disertai gerakan tangan menghentak membuat air kobokan dan beberapa bulir nasi tumpah di pakaian Rindi.
Byurrrr.......
Rindi hanya mampu menutup mata saat menyambut air kobokan itu.
Tak sampai di situ,nampan bekas kobokan menjadi alat pelampiasan untuk Citra.
Dilemparkannya, dan tepat mendarat di tubuh Rindi.
Citra tak mampu lagi menyembunyikan hati yang kecewa.
Sementara Rindi hanya mampu terdiam mematung di tempatnya. Menutup mata menyambut setiap apa saja yang menghampirinya. Mencari jawaban dari setiap pertanyaan di otaknya sendiri. Ingin menyangkal tapi tak ada celah.
“Kamu bisa ngomong ke aku kalau kamu juga suka sama pak Linggar. Kita bisa bersaing secara sehat.”
“Kamu tau perasaanku."
“Atau memang kamu seperti ini? Merebut kekasih temanmu sendiri. Kamu bukan orang yang setia, makanya suami
ninggalin dan kamu jadi janda sekarang.”
“Kamu bukan tipe setia Rin,” Citra di sertai dengan gelengan kepala seolah menegaskan perkataannya barusan.
“Kamu penghianat!” Ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah Rindi.
“Penghianat!” Dengan lantang. Kini mereka telah menjadi objek utama seluruh masyarakat penghuni kantin.
Rindi harus menutup matanya saat segelas air kembali datang menyerbu wajah dan pakaiannya.
Basah!
“Cit, tenang! kita bisa bicarakan bersama nanti.” Mbak Tia yang berada tepat di samping Rindi ikut berdiri.
“Kenapa? Mau belain teman kalian?” Dirinya kini semakin putus asa.
“Gak gitu Cit, aku gak bakalan belain Rindi.” Kamil yang ikut berdiri hanya untuk menuntun Citra agar kembali duduk, namun sayang Citra memilih menepis tangannya.
"Kita bicarakan semua, tapi gak di sini. Kita diliatin orang-orang Cit." Pelan, tangan kembali terulur menarik lengan Citra berharap bisa sedikit tenang.
"Teman kamu,..." Tatapan Citra ke arah Kamil, namun telunjuk tangannya mengarah tepat ke hadapannya, Rindi.
"Teman kamu, jand@ kegatel@n."
"Citra!" Teguran Mbak Tiapun tak diidahkannya.
Memilih berlalu dari pada bersama dengan orang-orang yang kompak dengan sengaja menghianatinya.
Kamil yang memilih ikut berlalu demi mengejar Citra, sebagai simbol bahwa ia berada di kubu Citra.
Hening hanya untuk beberapa saat.
Rindi yang duduk terpaku di tempatnya. Tak ada pergerakan sedikitpun meski hanya sebuah kedipan mata.
Semua terjadi begitu saja. Meskipun diberi waktu untuk membela diri, iapun tak tahu harus mengatakan apa.
Yang pasti semuanya akan tetap menyakiti Citra.
__ADS_1
Mata terpejam sangat erat, saat menyadari Mbak Tia ikut berlalu, pun dengan Ayu. Meninggalkannya seorang diri menjadi tontonan mereka yang di sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sebenarnya Pak Linggar jadian sama Citra atau Rindi sih? Penasaran aku."
"Gak tahu lah. Kalau mau lebih jelasnya tanyakan langsung sama Pak Linggarnya. Dia mau akuin yang mana sebagai pacar!"
"Ck, emang kamu berani?"
"Ya, engga lah! Hahahaha."
"Eh, tapi minggu lalu aku sempat liat Pak Linggar boncengan sama si Rindi loh."
"Jadi pacar Pak Linggar ya si Rindi dong?"
"Gak taulah. Kan tadi denger sendiri Citra marah, mungkin karena tahu Rindi sama Pak Linggar abis jalan. Padahal mereka berduakan keliatan dekat banget. Eh, malah rebutan cowok."
"Teman sih teman. Tikung tetap jalan."
"Ihhh, jahat banget kamu. Jangan-jangan kamu juga lagi deketin Rendinya aku yah?"
"Eh, enak aja. Aku bukan Rindi yang tega nikung teman sendiri."
Suara henlde pintu terdengar, berikut dengan suara pintu bergerak terbuka. Setelah itu menampilkan sosok sang pemilik nama yang baru saja mereka ceritakan.
Rindi jalan menunduk, melewati ketiga orang wanita yang tiba-tiba diam membisu saat melihatnya keluar dari kamar kecil.
Serangkaian percakapan yang mampu menusuk jantungnya.
Sakit!
Malu!
Tapi tak berdaya.
Setelah shalat dhuhur, ia kembali berjalan menuju ke ruangannya. Masih berada di bawah tatapan sinis bercampur iba dari orang-orang.
Benar-benar tak mampu lagi mengangkat kepala hanya untuk melihat ada apa di depan sana.
Ia sendiri.
Tak ada teman.
Tak ada kawan.
Semuanya memandang dirinya bersalah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bagi jempolnya dong!
Sekalian sama komen n hadiahnya yah!
Promo lagi.
Sambil tungguin up bisa tengok ke sebelah juga yah.
Kisah antara Bos dengan Asissten sendiri dalam memperubtkan seorang gadis.
__ADS_1
Kutunggu di sana yah!