Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Menunggu Ternyata Melelahkan.


__ADS_3

Keyakinan Rima semakin menguat saat tak menemukan Rindi membantunya di dapur menyiapkan sarapan pagi seperti hari-hari sebelumnya.


Keyakinan jika telah terjadi sesuatu di kamar itu. Kejadian luar biasa yang mampu menyatukan dua orang dalam satu cinta.


"Maaf kak, gak bantuin siapin sarapan. Telat bangun, tadi malam kerjain tugas sampai tengah malam." Alasan Rindi yang baru saja menampakkan wujud saat menu sarapan telah siap.


Rima hanya tersenyum mengangguk. "Iya gak papa, kita ngerti kok. Kamu pasti capek banget yah?" Hanya berniat memancing saja. Jika umpan terpancing ya kita punya bahan ledekan lagi.


Tapi ia tahu, Rindi adalah wanita yang tak terlalu terbuka.


Bi Titin yang membantu di dapurpun hanya tersenyum memandangnya.


Mereka akhirnya bertemu di meja makan dengan sepasang suami istri yang terlebih dulu hadir di sana. Menatap


mereka secara bergantian. Entah mengapa hari ini terasa lebih indah namun canggung seolah membalut.


Dengan wajah yang berada diantara ingin tersenyum namun terus menunduk, seolah menghindari setiap tatapan.  Namun masih tetap saling mencuri lirik. Itulah yang dirasakan oleh Linggar dan Rindi.


Mengunyah cepat makanan karena segera ingin segera berlalu dari tempat itu. Karena tatapan mata kedua pemilik


rumah seperti sorotan lampu yang tengah bersinar ke arahnya saat semua lampu justru padam.


“Kenapa Gar?” Akhirnya tingkahnya terbaca.


Linggar menengadahkan kepala, memandang sosok pria yang menunjukkan wajah yang tersenyum tertahan.


“Gak ada mas, cuma ada janji dengan dosen pembimbing.” Ia tak bohong, namun janji itu beberapa jam lagi bukan pagi ini. Hanya ingin segera pergi dari sini saja.


 “Oh, makannya pelan-pelan aja, nanti keselek!” Rima.


Sang pak bos masih dengan senyuman yang tertahan. Melirik bergantian kedua pengantin baru yang terpisah kamar itu.


Barupun ia mendapat peringatan, namun sepertinya malaikat sedang lewat dan mengabulkan ucapan Rima hingga


membuatnya benar-benar tersedak. Uluran tangan dengan sebuah gelas berisikan air putih disambutnya dengan baik.


Merasakan pukulan ringan di punggungnya membuat keadaanya cepat membaik.


“Cie-cie yang sudah baikan!”


Linggar mangangkat kepalanya mencoba mencari tahu keadaan sebenarnya.


Mendapatkan tangan Rindi yang baru saja ditarik menjauh dari punggungnya. Dengan tatapan di sertai senyum


menggoda dari kedua pasangan di seberang meja.


Duuuh, pak bos gak usah digodain gitu. Gini aja sudah membuat mereka salah tingkah.


Ia hanya meringis sambil mengangaruk kening hanya untuk menyembunyikan raut wajah malu.


“Kayaknya ada sesuatu yang lain nih?” Dihyan yang masih memandangnya sambil tersenyum. Tapi entah mengapa senyuman itu seperti bukan senyuman ikhlas tapi justru mengejek.


"Ada apa kak?" Linggar yang pura-pura bodoh.


Dan benar saja ia memang bodoh. Memancing saja.


"Semalam ngapain aja?" Nah kan, kena sendiri.


"Gak ngapa-ngapain kak." Tak tahu lagi harus menjawab apa.


Ia takut satu jawaban saja bisa membuat Rindi malu dan tak mau lagi menerima kehadirannya di kamar istrinya.


"Yah, makan! Gak usah bahas yang lain, kasihan!" Teguran dari sang istri justru membuat pria satu anak itu tergelak. Tertawa hingga mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Keyakinan Linggar saat ini adalah Rima telah mengatakan pada suaminya bahwa mereka bertemu saat ia baru saja keluar dari kamar Rindi. Dengan rambut basah?


Sementara Rindi masih terus fokus dengan nasi goreng di hadapannya.


Berusaha menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja.


Meskipun dalam hati sebenarnya ada rasa malu. Bagaimana jika malam indah semalam terbaca oleh RIma dan suaminya.


Mengingat kembali keadaannya saat ini.


Rambutnya telah kering karena bantuan hairdryer.


Meskipun tadi tak membantu RIma menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya, namun wanita hamil itu masih memakluminya.


Jadi tak ada hal yang membuat curiga menurutnya. Tanpa ia tahu jika Rima mendapatkan Linggar keluar dari kamarnya fajar tadi.


 


Di otak Linggar harus segera meninggalkan ruangan itu.


“Rin, cepat rin. Aku buru-buru!”


Ucapanya setengah berbisik. Mereka semua terlalu dekat untuk tidak mendengarkan bisikannya.


“Kak, kita duluan.” Tak lupa meraih tangan kedua pemilik rumah sebelum melangkah meninggalkan ruang makan


itu. Meninggalkan Rindi yang masih menghayati kenikmatan nasi goreng berlauk ayam goreng.


Ia akan menunggu istrinya itu di mobil, atmosfer ruangan ini terlalu panas untuknya berlama-lama.


Entah berapa lama ia menunggu, hingga Rindi ikut bergabung dengannya di mobil. Canggung yang belum hilang dari mereka, membuat perjalan serasa lebih lama dari biasanya. Lampu merah seolah membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk berganti menjadi hijau.


Peristiwa semalam masih membayang di benak masing-masing. Hingga mereka kembali bertemu di mobil setelah


“Mau makan dulu.” Entah ini ajakan yang pas atau tidak. Masih pukul 15 lebih sedikit. Perut masih menyisakan beberapa isian yang siang tadi telah si lahap. Sementara masih ada beberapa jam untuk menunggu jam makan malam.


Hanya ingin menghidupkan suasana dengan menghabiskan waktu berdua dengan berbicara apa saja.


“Emmm, gak usah kak.” Mungkin belum mengerti maksud dari sang suami.


“Ngafe aja. mau?”


“Boleh deh.” Tak enak kembali menolak ajakan sang suami, setidaknya sedikit menghargai mungkin.


Kini mereka berada di sebuah cafe, saling duduk bersebelahan. Dengan begitu Linggar kembali mendapatkan


kesempatan lebih untuk menggenggam tangan sang istri.


“Mau pesan apa?” Menatap Rindi dengan lekat.


Rasanya ia masih butuh waktu lebih untuk bersama Rindi. Rindunya belum hilang. Mungkin memang tak pernah cukup waktu jika bersama dengan Rindi.


“Kakak, mau pesan apa?” Sengaja mengamati buku menu hanya untuk mengalihkan pandangannya dari Linggar.


“Mau cake?” Ucapnya lagi.


“Bisa bikin di rumah juga.” Ternyata usulnya di tolak oleh Linggar.


“Cari yang lain, yang tidak bisa kamu buatlah! Sekali-kali menikmati makanan yang tidak bisa kamu buat sendiri.


Siapa tahu besok-besok aku mau makan itu.”


Rindi mengangkat kepala, menatap Linggar yang ternyata memandangnya lekat. Memperhatikan setiap sudut wajahnya. Mata itu sangat berbinar.

__ADS_1


“Kan bisa ke sini lagi!” Ucap Rindi sedikit ketus, hanya ingin menghilangkan debaran di dada.


“Pc, lebih enak kali di buatin istri.” Diiringi dengan senyum yang semakin berkibar, membuat Rindi membetahkan


diri dalam mengamati buku menu itu.


Hampir tiga tahun bersama, ternyata rasa mendebarkan itu masih sering muncul tenggelam. Terlalu banyak  kejadian diantara mereka yang mampu membuat keadaan canggung kembali membaik, lalu kembali canggung lagi.


Sedikit demi sedikit rasa canggung semakin terkikis.


Kini Linggar memilih beranjak dan beralih duduk tepat di samping sang istri.


Lebih dekat, lebih membuat dirinya leluasa menyentuh dan menggenggam tangan istrinya.


Malam telah beranjak larut. Di sebuah kamar dengan lampu temaram, Linggar terbaring sendiri.


Lelah rasanya membolak-balikkan badan mencari posisi nyaman untuk tidur. Namun kantuk belum menghampiri, bahkan terkesan masih jauh saja. Malam ini ia tak berkunjung ke kamar Rindi.


Sedikit ada rasa malu kedapatan ke luar dari kamar Rindi di pagi buta dengan rambut basahnya.


Ah, seandainya tak perlu ada aturan pisah kamar di antara mereka. Peraturan macam apa itu? Sengaja memisahakan dua insan yang halal dan saling mencintai.


Rindi juga, kenapa mesti mengikuti semua perintah kakaknya. Padahal setelah ijab kabul itu, harusnya Rindi lebih


mendengarkan Linggar dari pada Kak Reno.


Linggar adalah suaminya. Patuh pada suami adalah kewajiban istri. Dan Rindi bukan hanya harus patuh, tapi juga


melayani suami bukan?


Jauh berbeda dengan Rindi yang lebih memilih mengikuti kata-kata kakaknya dari pada suami.


“Pc, Aku doakan.....?”


Bingung ingin mendoakan apa pada kakak iparnya itu. Orang yang membuat pernikahannya seolah terasa sulit. Tapi orang itu adalah kakak dari orang yang ia cintai.


Keadaan ini hampir sama dengan keadaan penghuni kamar sebelah. Berbaring dan berguling-guling ke sana ke mari, lalu kembali mencoba untuk tidur.


Pintu telah terkunci, meskipun begitu tetap masih bisa terbuka dari luar.


Beberapa kali menarik napas lalu kembali menghembuskannya secara perlahan, mencoba mengusir segala rasa yang ada. Antara penasaran dan penantian mungkin melebur jadi satu.


Beberapa kali memandang ke arah pintu kalau saja kuncinya mulai berputar untuk membuka pintu itu.


Menanti seseorang yang selalu menyusup ke kamarnya saat ia tertidur, atau emmm pura-pura tidur. Hehehehe.


Sudah lewat dua jam dari biasanya Linggar masuk ke kamarnya.


Apakah malam ini Linggar tak datang?


Lalu bagaimana dengan dirinya?


Telah terbiasa tidur dengan dipeluk seseorang membuatnya kini tak bisa memejamkan mata saat harus tidur sendiri.


Mau menelpon, perasaan masih terlalu gengsi.


Heh, memang benar kata pepatah, menunggu ternyata melelahkan.


\=====


To Be Continued!


mohon sumbangan jempolnya?

__ADS_1


__ADS_2