Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Permintaan Seorang Kakak


__ADS_3

Linggar hanya tersenyum sambil menstabilkan perasaan yang menjalar di tubuhnya. Sebagai seorang pria yang pernah merasakan, ini pasti sesuatu yang sulit.


“Aku sayang kamu.” Ucapnya dengan senyuman berharap mampu meredam rasa. Ah sulit mungkin. Wajah itu terlalu indah untuk diabaikan.


Menenggakkan tubuh agar lebih mendekat. Menekan kedua tangannya yang berada di punggung istrinya. Semakin


mengigis jarak antara mereka.


Rindipun tak menolak, toh mereka adalah sepasang suami istri. Lebih memilih memilih terlebih dahulu merapatkan


kening. Tangannya masih betah di rahang Linggar sambil mengelus pipi dengan ibu jarinya sambil menutup mata.


Hembusan napas yang saling bertukar terasa hangat, justru membuat rasa menggigil di seluruh tubuh.


Senyum masih betah di wajah kedua mempelai. Tinggal sekali gerakan saja, kedua bibir akan bertemu.


Hari-hari selanjutnya mungkin akan jadi indah.


Saat mereka yang saling mencintai telah berada dalam satu lingkaran kehidupan yang sama. Ikatan yang mereka jalin kini sesuci embun pagi.


Tak ada lagi yang perlu di khawatir.


Mereka hanya akan hidup bahagia dan mengembangkan kisah cinta mereka.


Berdua, bersama selalu dan selamanya.


“Ekhem,” Suara berat dari bekalang Linggar mampu menerbangkan segala angan dan khayalan.


Melepas, dan menjauhkan diri satu sama lain. Melihat ke arah sumber suara di dekat pintu yang masih terbuka oleh


sang pemilik suara.


Linggar berdiri, menempatkan diri di samping Rindi yang masih duduk di depan meja riasnya.


“Kak,” Rindi mencoba menyapa meskipun meragu.


Sementara Linggar mencoba tersenyum meskipun kaku. Ia tak boleh berharap jika kakak iparnya itu membalas senyumannya.


Harus sadar, karena tahu jika Reno belum memberikan restu padanya.


Tak apa.


Bahkan tanpa restu Renopun, Linggar kini telah menikah dengan Rindi. Dan rencananya ia akan membawa Rindi ke rumahnya. Lebih amankan?


Ah iya, bukankah Reno juga tidak tinggal di rumah ini? Jadi tak ada  masalah sama sekali, mereka tak kan selalu bertemu.


“Boleh aku bicara dengan adikku?" Reno meminta ijin.


Hahahaha, sopan sekali kini dia.


Apakah bendera perangnya mulai di tarik turun?


Linggar hanya mengangguk dan kembali tersenyum. Tangannya terulur ke bahu Rindi, sedikit mengelus lembut


sebelum berjalan ke arah pintu demi memberikan waktu untuk kedua bersaudara itu.


Pintu di tutup, meninggalkan suasana hening di kamar pengantin itu.


Reno mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah Rindi. Meraih tangan untuk berdiri dan mendekat ke arah ranjang.

__ADS_1


Kini mereka telah duduk berdampingan, dengan Reno yang meraih kepala Rindi untuk di sandarkan ke dadanya. Tangan terulur, melingkar di belakang sambil terus memberikan elusan di punggung.


“Maafkan kakak.” Ucapnya memulai percakapan.


Rindi hanya menganggukkan kepala di dalam rengukuhan kakaknya.


“Maafkan kakak!” Ulang Reno, seolah kata itu sangat ia harapkan dari sang adik.


Iya pasti, tanpa minta maafpun Rindi telah memaafkan kakaknya itu.


“Kamu maukan dengar kakak, kali ini saja, please!”


Rindi mengangkat kepalanya menjauh. Melihat wajah serius kakaknya. Sangat serius.


“Semua ini salah kakak.” Reno sambil kembali membawa Rindi ke dalam pelukannya.


“Mungkin kakak yang sudah terlalu menjauh darimu, hingga kamu mencari perhatian di luar sana.” Sambil terus


mengusap pelan rambut adiknya.


“Maaf.” Lanjutnya.


Entah mengapa rasa ini terasa memberatkan Rindi.


Penuturan maaf yang Reno ucapkan, pasti karena kesalahan yang ia buat.


Kakaknya itu merasa dengan semua yang menimpa Rindi.


Padahal itu sama sekali bukan kesalahan Reno.


Rasa bersalah justru hadir mengetuk pintu hati Rindi, saat Reno tak henti mengucapkan maaf padanya.


“Kamu ingat dulu pernah bilang, tak butuh pacar seperti teman-temanmu yang lain, karena ada kakak akan yang


terus menyayangi dan menjagamu.” Kalimat itu kembali terngiang persis dengan ucapan Reno.


“Tapi nyatanya kakak yang meninggalkan kamu. Kakak yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga baru


kakak, hingga mengacuhkanmu.” Kini satu tangannya turun menggengaam tangan adiknya.


“Maafkan kakak.” Ucapnya kembali.


“Kakak berjanji akan menebus selurus kesalahan kakak yang selama ini meninggalkanmu. Kakak janji akan selalu


ada setiap kamu membutuhkan."


"Apa perlu kakak tinggal kembali di sini, agar kita selalu bersama?”


“Jangan!” Rindi sontak melarang ide kakaknya itu. Kini tubuhnya kembali tegak demi melihat wajah kakaknya.


Kak Reno yang ingin kembali tinggal di sini, otomatis akan membawa serta istrinya juga kan? Sementara Rindi


dan iparnya itu tak terlalu akrab bahkan cenderung saling menghindar.


Memang tak selalu berselih, tapi tetap saja rasa tak nyaman jika harus bertemu. Dan jika Kak Reno tinggal di sini, itu artinya mereka akan sering bertemu bahkan mungkin setiap harinya.


Oh No!


“Gak usah, aku gak pa-pa kok. Aku kan sudah,....”

__ADS_1


“Sttt.” Reno segera memotong ucapan adiknya itu. Ia tahu kata apa yang akan terdengar setelah itu. Dan sungguh kata itu tak ingin ia dengarkan.


“Maafkan kakak.” Ucapnya sembari membawa tubuh Rindi kembali kedalam pelukannya.


“Kakak ingin menebus semua kesalahan kakak dulu, tapi kakak juga butuh bantuanmu.” Reno mendorong pelan


pundak adiknya sedikit menjauh, memegang kedua lengan atas.


Kini keduanya saling berhadapan dan saling memandang untuk beberapa lama waktunya.


Reno masih memikirkan kata-kata apa yang cocok agar adiknya itu mau mengerti dan mengikuti inginnya.


Sementara Rindipun sama, berpikir akan apa yang Reno ucapkan selanjutnya. Berharap semoga kata selamat atas


pernikahannya yang akan ia dengar.


“Kakak mohon!” Diam untuk beberapa waktu lamanya. Hanya mata yang terus menatap adiknya itu, menelisik


bagaimana perasaan Rindi saat ini.


“Jauhi Linggar!”


Dua kata yang mampu membulatkan mata Rindi saat ini.


Apa maksud kakaknya itu memintanya untuk menjauhi Linggar, suaminya sendiri.


“Linggar bukanlah pria yang baik untukmu.”


Tidak! Kak Reno salah. Hanya karena satu kesalahan Linggar yang menyentuhnya, kakaknya itu langsung menjatuhkan vonis seperti itu.


“Pria itu b3jat.” Lanjut Reno.


Iya, Rindi tahu jika pria itu b3jat karena telah menyentuhnya sebelum halal. Tapi b3jatnya itu hanya berlaku pada dirinya yang telah berbuat curang terlebih dahulu pada Linggar.


“Tak ada pria baik yang akan menyentuh dan menghancurkan wanita seperti itu.”


Iya, memang benar. Pria yang baik akan menjaga diri dan kehormatan wanita apapun alasannya.


“Sekarang kakak ingin," Kembali diam, "Agar kamu menjaga jarak dari pria itu. Bagaimanapun caranya, jangan biarkan dia menyentuhmu lagi!”


“Jangan biarkan kamu hamil anaknya! Itu akan menghancurkan rencana kakak ke depannya.”


“Dan kakak tidak akan bisa menolongmu lagi nantinya.”


Rindi hanya mampu terdiam menatap mata Reno yang juga menatapnya serius. Begitu dalam dan begitu  bermakna. Namun ia tak tahu makna dari setiap tatapan dan perkataan kakaknya itu.


Kata demi kata yang di ucapkan Reno nyatanya tertampung dalam benak Rindi, menciptakan ribuan pertanyaan baru.


Bagaimana caranya menghindar dari sentuhan Linggar sementara mereka kini adalah sepasang pasangan suami istri? Berada dalam satu atap, bahkan satu kamar, dan satu ranjang juga.


Lalu rencana apa yang disusun oleh kakaknya itu untuknya?


Apakah Reno belum merestui hubungannya dengan Linggar bahkan setelah ijab kabul telah terucap.


\======


Geser ke bawah lagi!


Masih ada up.

__ADS_1


Jangan lupa like!


__ADS_2