
"Kamu bener-bener yah!" Ucapnya dengan sekali tekan di pundak Rindi membuat wanita kembali duduk di ranjang. Sekali lagi dengan sentuhannya, Linggar membuat Rindi telah berada di bawah kuasanya.
Tak perlu menunggu lama, menyambar bibir yang sedari tadi bicara semaunya itu, tanpa memperdulikan hatinya yang terluka.
Mungkin dengan begini mampu meluluh lantahkan semua emosinya.
Pun dengan Rindi, semoga sadar jika ia adalah perempuan satu-satunya yang dimiliki Linggar sejak dulu hingga sekarang.
"Anak kamu!" Lirih Rindi yang telah merasa kewalahan dengan serangan Linggar.
Karena emosi, pria itu mungkin lupa dengan keadaan Rindi yang kini tengah mengandung benihnya.
Linggar terkesiap sejenak, memandang ke arah Rindi yang telah sayu.
Beralih duduk sambil menstabilkan rasa yang tercipta.
"Kamu gak pa-pa?" Ucapnya, memandang Rindi yang masih terbaring, juga dengan napas yang sama memburunya.
RIndi mengangguk, namun masih enggan untuk menatapnya.
Ck, Linggar berdecak keras, dengan kasar mulai berdiri dari ranjang yang kini telah Aut-autan.
Menyambar dengan keras kemeja batik yang telah tergolong di lantai. Hanya menggunakan handuk, ia mulai berjalan keluar dari kamar menuruni anak tangga.
"RINDIIIIIII,..."
Teriak Linggar dengan sangat kerasnya, mungkin itu salah satu cara melampiaskan amarahnya.
Rindi terperangah, mencari sumber suara yang menyebut namanya. Menyambar pakaian secara sembarangan, takut jika Sesuatu terjadi pada Linggar.
Menoleh ke bawah, linggar telah berdiri di sana.
Hah, kembali berpengaruh saat melihat Linggar baru saja memantik korek tepat di sisi kain baju batik itu, lalu meninggalkan nya di sana dalam keadaan terbakar.
"Puas?" Kata pertama yang dengar ucapkan setelah kembali sampai di kamar. Rindi tidak menyahut, memang apalagi yang harus dia ucapkan saat ini.
"Apa kita masuk ke sana dalam keadaan marah seperti ini?" tanya Linggar yang baru saja memarkirkan mobil di parkiran gedung tempat Arman dan Lilis melangsungkan pernikahan.
Harusnya mereka berdua, berada di sana sejak tadi menjadi pendamping pengantin. Tapi karena sepotong kain, mereka harus datang sebagai tamu.
Mungkin amarah telah mereda, namun kebisuan masih saja
" Aku malu." Rindi yang masih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Malu kenapa lagi?"Linggar.
"Perempuan itu juga di undangkan?" Tanyanya setengah yakin. Linggar, Arman dan wanita itu dulu satu sekolah kan?
"Perempuan itu cantik." Inilah Rindi, yang masih setia dengan rasa insecure-nya.
"Biarpun seorang bidadari berdiri di hadapanku tak bisa mengubah kenyataan bahwa kamu adalah wanita yang aku cintai. Kamu adalah wanita yang Aku pilih menjadi pendampingku."
"Seharusnya, kamu juga bisa menunjukkan pada semua orang, termasuk wanita itu bahwa aku adalah suamimu. "Aku adalah milikmu seorang."
Linggar terus berbicara, memberikan keyakinan pada diri sang istri.
Dengan mengatupkan bibirnya rapat, Rindi mengangguk mantap.
Sepertinya sugesti telah diterima dengan baik. Bahkan mungkin telah merasuk ke alam bawah sadarnya.
Masuk ke dalam dengan saling bergandengan tangan dengan wajah yang terangkat seolah ingin berkata pada semua orang yang memandang mereka, "Lihatlah kami yang kini bahagia dengan memiliki satu sama lain!"
"Sayaaaangggg,...." Suara lembut dan Mendayu dari Rindi memanggil Linggar. Tak lupa bergelayut mesra pada lengan sang suami.
Rindi manja pada Linggar, pria itu suka.
Namun setelah mengingat kembali kepribadian Rindi yang pendiam sedikit cool justru membuat nya merinding ngeri. Wanita yang di sampingnya ini seperti bukan Rindi istrinya.
"kak." rindu yang telah berdiri tempat di hadapan sang suami yang duduk dengan menatap syarat televisi di hadapannya.
Kehamilan yang telah menginjak tujuh bulan ini membuat tubuhnya semakin gempal.
"Hemmm," Linggar tanpa mengalihkan pandangan pada layar di hadapannya. Namun tangan bergerak memijat pelan lengan atas Rindi yang tutut berisi.
"Kok aku di cuekin sih?" Mulai berakting merajuk.
Dan itu membuat Linggar gemas hingga menenggelamkan wajah di antara lengan dan dada sang istri.
"Aku gemuk yah?" Rindi.
"He em, gendut, empuk, ****!." Kepala dipalingkan ke kiri lalu ke kanan. Menikmati salah satu anggota tubuh sang istri yang tadi ia beri predikat empuk itu.
Rindi, istrinya.
Seorang wanita yang telah meninggalkan karier demi dirinya.
Toh, semua kas Linggar, berada dalam kuasa Rindi.
__ADS_1
Dan pada akhirnya, wacana tentang memiliki rumah atau apartemen hanyalah isapan jempol Semata.
Meninggalkan orang tua mereka setelah sekian lama dibesarkan dan diasuh, dan kini setelah besar lalu meninggalkan orang tua dengan alasan untuk hidup mandiri, mereka tak sanggup.
Berpindah-pindah, memberi jatah pada masing-masing rumah orang tua mereka.
Seminggu di sana, seminggunya lagi di sini, biar adil katanya.
\=============
Dan akhirnya, setelah sekian purnama novel ini saya akhirkan.
Silahkan beri nilai buat karya ini.
Kurang menarik kah?
=> Jika kurang menarik*, beri Like.
Menarikkah?
=> Jika Menarik, *beri Bunga.
Atau sangat menarik?
=> Jika Sangat Menarik,* Beri vote.
Readers : Itu sama aja malak thor!
Dinda : Emang maksudnya kayak gitu.
Hahahaha, ketawa jahat dulu.
Saran, kritik dan komentar, kami terima demi kemajuan produk. eh karya maksudnya.
Namun dianjurkan untuk tetap sopan dalam berkata.
Jika kalian pengen cerita baper lainnya, silahkan go ke :
Ceritanya udah siap, tinggal di up.
sengaja hiatus dulu buat selesaikan cerita Nilai sebuah kesetiaan ini.
__ADS_1