
Sempat tertidur di mobil dalam perjalanan menuju ke kantor, membuat Rindi sedikit lebih segar.
Namun jam 10.00 pagi, saat semua orang telah tenggelam dengan kesibukannya masing-masing, rasa ngantuk kembali menyerang Rindu, dan kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Kening serasa di elus-elus dengan sangat lembut. Kelopak mata bagai mendapatkan lem terlekat.
Kepala Tengah mengangguk-ngangguk, bukan sedang mengerti, tapi menahan agak tetap tegak.
Padahal pekerjaan masih menumpuk di sisi meja.
Rasanya ingin marah, tapi tak tahu kepada siapa.
Secangkir Kopi instan tak mampu mengusir kantuknya. bahkan tanpa kasur pun, Ia rela, asalkan bisa diberi waktu beristirahat untuk tidur sejenak.
"Pengantin barunya ngantuk bos," Celetuk Kamil yang masih ia dengar, membuat kembali membuka mata lebar-lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala mengusir kantuk.
"Hemmm,... " Pak Farid mengangguk, bahkan semua orang mengerti kemana arah pembicaraan itu.
"Sebagai mantan pengantin baru, aku juga ngerti perasaan kalian berdua. Tapi ingat kamu juga punya tanggung jawab yang harus kamu laksanakan di kantor ini."
"Si bos bahasanya ribet amat, pake mantan pengantin baru, hihihi, " Kamil dengan terkikik, "Bilang aja pengantin lama!"
"Ck, kamu itu jago banget kalo ngeles," Kesal. Kini tatapan Farid yang tadinya ke arah Kamil kembali ke Rindi.
"Bilang sama suamimu, jangan ambil jatah kalau pagi. Gini kan hasilnya?"
"Kamu tahu obat tidur yang paling mujarab?"
" Hubungan suami istri," Lanjutnya.
Mendengar pembicaraan itu Rindi tahu, ia sedang di marahi, meski atasannya itu tak menggunkan kata dengan nada tinggi.
Kembali memaksa mata agar bisa terbuka, namun sia-sia.
Sesekali merasakan kepala hampir terjatuh. Ah kini hanya mampu berpasrah diri, jika harus mendapatkan surat peringatan atau apalah.
" Bos ini Bos tersangka utamanya," Kamil segera meraih lengan Linggar membawanya ke arah Pak Farid. Mereka baru saja meninggalkan ruangan saat ishoma.
" Kenapa sih?" Linggar dengan kening berkerut bingung. Niatnya menjemput Rindi, tapi tak melihat istrinya itu di antara teman-teman satu di devisinya.
" Itu si Rindi ngantuk banget dia." Fandi, kepala menengok sedikit ke belakang. Pertanda Rindi masih berada di ruangan.
"Kamu kalau mau ngambil jatah lihat Sikon dulu! Ngambil catat pagi-pagi sebelum berangkat kerja, ya tepar lah istrimu itu."
" Kasihan juga sih, dia lemes gitu harus masuk kerja. Kenapa gak ambil cuti lebih lama sih?"
"Kan bisa berduaan sampai puas kamu tanpa nyiksa istri seperti itu!"
__ADS_1
Ocehan Farid, Linggar tinggalkan begitu saja.
Linggar duduk di samping sang istri yang kini meletakkan kepala di atas meja, menutup wajah dengan lembaran kertas. Mungkin wanita itu tak menyadari kehadirannya kini.
Meminta seorang OB memesan makanan untuk mereka berdua.
Benar ia harus menahan diri untuk tidak menyentuh Rindi di pagi hari.
Hingga hari yang telah ia tunggu telah tiba.
Ijin cuti telah ia layangkan jauh sebelumnya. Tiket penerbangan, kamar hotel dan beberapa tiket pertandingan telah siap di tangan.
Kini mereka telah duduk menikmati pertandingan sepak bola antara pipin-pipin dengan Audit. Duduk hanya sebentar, kebanyakan berdirinya, lebih seru. Ya jelas saja mereka akan mendukung Audit, toh mereka sekampung.
Berteriak di tribun penonton tanpa ada yang menegur sebab semua turut melakukan hal yang sama. Sesekali Melompat-lompat. Kadang rasa gemas melanda, seperti hendak berlari masuk ke lapangan saja.
Dua botol Air mineral yang telah disiapkan bahkan telah ludes.
Malamnya mereka gunakan untuk memadu kasih. Bersama mengeruk indahnya madu pernikahan.
Tak perlu takut ada gangguan lainnya, karena sebelumnya ponsel telah dimatikan.
Pun tak perlu pusing dengan rasa kantuk yang akan mengukum.
Benar-benar pengalaman bulan madu yang sangat seru.
Seminggu di Negeri Jiran itu rasanya kurang bagi mereka, tapi apa daya hidup harus tetap berjalan. Kini meraka diwajibkan kembali berhadapan dengan komputer dan berkas-berkas, tak melulu harus bersantai.
Linggar bukanlah sosok pria dingin, cool dan tak tersentuh.
Linggar adalah seorang pria yang friendly, aktif dan ceria.
Seperti saat ini, mengajak Rindi bermain di lapangan basket rumahnya menikmati sore ini.
"AAAA,... " Teriakan Rindi menggema saat Linggar mengangkat dan menempatkannya di bahu pria itu.
" Awas Kak nanti aku jatuh," Teriakannya lagi, setelah tadi terkejut dengan mata yang melotot.
"Makanya pengen yang kuat!"
"Pegang di mana? Takut!" Tak sadar wanita itu menggenggam rambut Linggar untuk digunakan sebagai pegangan, sementara tangan yang satunya memeluk bola agar tak jatuh.
"Shoot ke ring!" Linggar sambil berlari pelan mendekat ke arah ring. " Rambutku jangan dijambak, sakit tahu!"
"Makanya jalannya hati-hati. Takut ini, tinggi banget!" Sesekali melirik ke arah lantai.
"Ck, shoot yang bener RIn!" Sedikit kekehan sesaat setelah RIndi baru saja melempar bola yang katanya ke arah ring. Namun jauh mendekati masuk, padahal sudah digendong juga!
__ADS_1
"Takut kak! AAAAAA,.... " Teriakan kembali menggema. Linggar membawanya mengitari lapangan.
"Kak, mau hujan." Sambil menepuk pundak Linggar meminta diri untuk diturunkan.
Hanya berada digendongan saja membuat ia turut ngos-ngosan.
Lumayankan kalau Linggar tersandung dan membuatnya turut terjungkal ke bawah, sakitnya tak bisa dibayangkan.
Titik-titik hujan ringan ia rasakan menyambar tubuh.
Linggar mencekal tangan Rindi yang hendak berlari meninggalkannya di lapangan sendirian hanya karena gerimis.
Cuma airkan?
" Biarin aja kita hujan-hujanan, romantis Rin!" Menarik tangan Rindi, mendekatkan tubuh selalu memeluknya.
" Kak hujan," Rindi saat merasakan Hujan mulai turun secara bergerombol.
" Iya tahu, biarin aja!"
Linggar mulai beraksi, menempatkan kedua tangan Rindi mengalung pada lehernya.
Sementara tangannya sendiri dilingkarkan pada pinggang istrinya. Tanpa aba-aba mulai berputar membuat kaki Rindi tak lagi berpijak pada lantai lapangan.
Semakin lama putaran itu semakin kencang, Rindi kembali berteriak histeris, ketakutan.
Pandangan mata yang tak menentu, membuatnya pening, tapi Linggar belumpun berhenti dengan tingkahnya.
Hingga akhirnya, saling berbagi tawa di tengah rinai hujan yang membasahi.
Mereka masih berpelukan saat Linggar telah menghentikan putarannya.
Kedua saling memandang dengan kening yang saling menempel dan deru napas yang tak teratur, keras dan pendek.
Hingga bibir mulai bersentuhan dan merapat.
Dalam keindahan dan manis yang terasa, ada nafsu yang mengendap.
Basah kuyup, tapi dingin mungkin kini tak terasa. Sebab hal panas dalam tubuh mulai meningkat.
Bibir terlepas, kini mereka saling melempar senyuman.
Linggar memeluk sang istri, merapatkan wajah Rindi pada dadanya.
Merasakan denyut jantung yang lagi-lagi berlomba.
Dengan kendalinya, kini Rindi telah berbaring dengan Linggar yang berada di atas, mengukung tubuhnya.
__ADS_1
Adanya Linggar yang tepat di atasnya, membantu menahan sedikit tetes-tetes air hujan langsung membasahi tubuh dan wajah Rindi.
Plak.