
"Yeeeeee..... gajian." Sorak Kamil seorang sendiri Namun suaranya mampu memenuhi seisi ruang.
Iya baru saja mendapat notifikasi di hp-nya dari bank yang ditunjuk untuk membayar seluruh gaji karyawan.
Bahkan ponsel masih berada di genggaman.
Hari ini tanggal 25, pukul 14.00 waktu setempat, mereka gajian.
Seperti karyawan yang lainnya, hari ini ada hari yang paling di tunggu-tunggu. Merasa sangat berbahagia saat gajian tiba.
Kamil memandang Rindi dengan menggerlingkan mata, lengkap dengan alis yang dimainkan naik-turun.
Senyumannya semakin melengkapi raut wajah kebahagiaan yang sepertinya dua kali lipat dari biasanya.
Rindi hanya tersenyum memandang teman satu devisinya itu.
Memandang mbak Tia yang juga turut memandangnya sambil tersenyum. Lalu pandangannya beralih ke Ayu yang juga menyumbangkan senyum untuknya.
Perasaannya mulai meragu.
Kini beralih ke arah Linggar, bosnya itupun turut memandangnya meski hanya berupa lirikan tanpa ekspresi apapun.
Sepertinya saat ini ia menjadi perhatian di ruangan ini.
Rindi mulai penasaran ada apa dan mengapa. membuka laci meja dan mengambil cermin mini dari dalam. siapa tahu ada yang kurang atau lebih di wajahnya.
mungkin sisa cabai di Gigi setelah makan siang tadi. Atau kotoran di titik-titik wajah tertentu, mata mungkin?
Memandangi dan menelisik wajahnya secara teliti.
Wajahnya terlihat normal begitupun dengan penampilannya. Meskipun raut lelah mulai membayangi.
__ADS_1
Kembali menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya. satu persatu raut wajah tak lolos dari pengintaian nya.
Raut wajah itu masih sama memandangnya dan tersenyum penuh arti. Pun dengan Linggar, yang turut memandangnya meskipun tanpa senyuman.
" Kenapa?" Tanyanya. Tak tahan dengan semua tatapan yang mengarah ke padanya. Mungkin ia telah melakukan kesalahan tanpa ia sadari.
Sementara Kamil semakin melebarkan senyumannya, hanya dengan mendengar pertanyaan itu.
" Kenapa sih?" Tanyanya yang kembali karena tak kunjung menerima jawaban hanya berupa senyuman.
"Rin, kita tuh punya adat istiadat disini Rin." Pria itu beranjak dari duduknya berjalan mulai
mendekati meja kerja Rindi.
Sepertinya hal yang ingin Ia bicarakan ini adalah sesuatu yang serius.
Mulai meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum bercerita," Kita,...." kembali bernafas
Apakah seserius ini? hingga pria itu beberapa kali menarik nafas.
"Gini, gini." kembali mengambil ancang-ancang untuk bercerita.
" Di sini tuh kita punya adat istiadat, untuk Setiap karyawan baru wajib mentraktir kita-kita saat gajian pertama nya."
" Gitu doang?" Tanya Rindi Seraya menggeleng gelengkan kepalanya pelan, tak percaya.
Hanya untuk mengatakan itu (pengen ditraktir), Kamil sampai membawa-bawa adat istiadat.
Mendramatisir sekali pria itu.
Sempat melirik ke arah kearah Linggar yang hanya tersenyum lalu menunduk.
__ADS_1
" Jadi kamu setuju nih? Kita langsung atur waktu aja!" Lihatlah betapa semangatnya pria itu.
" Terserah deh!" Mengibaskan tangan lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena drama Kamil.
" Ih kayaknya nggak ikhlas deh. ih gimana sih!" Kamil merajuk, melanjutkan drama sesi dua.
" Iya Kamil sayang iya." Rindi penuh penekanan.
"Benaran Rin?" Ucapnya masih dengan senyum di wajahnya.
Mata kembali menyapu ruangan. Menatap satu persatu rekan kerjanya yang membalas senyumannya dengan senyum pula. Mungkin itu adalah sebuah dukungan untuknya.
Pandangan Kamil terhenti di sosok Linggar yang sibuk bekerja namun justru menyinggung senyum di bibir.
Pria itu sepertinya sedang beracting saja.
Sejenak Kamil tersentak sendiri saat mengingat sesuatu tentang pria itu.
"Ya ampun, pak Linggar gak bisa ikut Rin,...." Ucapnya penuh sesal.
Kini seluruh pandangan mata tertuju pada pria yang baru saja di sebut namanya, Linggar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf ya cuma dikit.
Untuk beberapa hari ke depan sepertinya gak up dulu, jadi jangan ditungguin yah!
Kita ketemu, tahun baru nanti yah.
See U.
__ADS_1
Selamat MENYANBUT TAHUB BARU 2022