
Plak.
"Awww," Keluh Linggar sambil meringis, saat sesuatu terasa menyambar bokongnya.
Menengok ke kanan kiri, mendapati sandal jepit tak bertuan berada tak jauh dari tubuhnya.
Menegakkan badan, lalu berbalik ke belakang mencari sang pemilik sandal.
"MASUK!"
Teriakan Bunda hampir saja tenggelam oleh suara rintik air yang menyambar dataran.
Namun wajah garang, serta posisi Bunda yang tegak berdiri dengan kedua tangan bertolak di pinggang menandakan jika wanita paruh baya itu disambar emosi.
"NGAPAIN HUJAN-HUJANAN HAH?" Bunda kembali teriak, kini dengan telunjuk yang beberapa kali menuju ke arah mereka.
Linggar terkekeh, menarik tangan Rindi membantunya berdiri. Kemudian berjalan dengan merangkul tubuh istrinya.
"Kamu mau bikin anak orang sakit? Kalau hujan itu masuk ke rumah, berteduh. Bukannya sengaja lari-larian, tidur-tiduran di tengah lapangan!"
"Mau tidur sana noh noh di kamar, lebih enakan. Kalian mau ngapain aja nggak ada yang larang kok!"
Kedatangan Linggar di pintu masuk disambut dengan ocehan Bunda.
Rindi meringis merasa tak enak, sementara Linggar? Santai, tanpa rasa bersalah tetap melangkahkan kaki sambil terus merangkul istrinya.
"Biar lebih romantis Bun, kayak di film-film India itu. Hujan-hujanan sambil nari-nari. Beneran romantis kan? hehehe."
"Bunda pasti juga mau kayak gitu sama ayah kan? Cie... cemburu nieh!"
Dengan mengerikan mata ke arah Bunda lalu terkekeh dan segera berlalu membawa Rindi ke kamarnya.
" Biiii,... minta kain pel yang kering dong. Itu pengantin usang habis basah-basahan."
Lagi lagi Rindi meringis, saat melihat lantai rumah menjadi bahasa karena ulah mereka. Merasa bersalah dan ingin membantu mengepel lantai namun Linggar terus saja membawa tubuhnya berlalu.
" Jangan lupa mandi air hangat!" Teriakan Bunda masih mereka dengar saat telah sampai ke lantai 2.
Linggar terus menuntun Rindi hingga ke dalam kamar mandi. Menutup pintu dan mulai membuka bajunya sendiri. pun dengan Rindu, turut membuka kostum yang melekat di tubuh.
Melangkah mendekati Linggar yang mulai membuka keran shower, mengatur suhu air agar bisa diterima oleh kulit dan tubuh mereka.
Linggar mengulurkan tangan ke tubuh sang istri dengan spon yang telah berlimpah dengan busa.
Mulai menggosok punggung istrinya, dan kedua tangan.
Membalik tubuh sang istri agar menghadapnya karena ingin menggosok bagian depan tubuh istrinya.
Sayangnya dua buah benda yang menonjol dari tubuh istrinya membuat ia semakin tak tertahankan.
"Ck, bentar Rin!"
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rindi saat Linggar justru menyiram tubuhnya padahal acara sabun menyambut belum selesai.
Ini bukanlah pengalaman mandi mereka bersama untuk pertama kali.
"Kita ritual dulu!" Linggar sambil membantu istrinya menggunakan handuk.
"Tanggung nih!" Tanpa aba-aba mulai mengangkat tubuh Rindi keluar dari kamar menuju ke ranjang, tempat ritual akan diadakan.
Bintang masih bersembunyi di balik awan. sisa-sisa hujan di sore tadi, menyisakan Suasana sejuk dengan dingin menyambar ke seluruh tubuh.
Sangat cocok untuk pasangan pengantin.
Meskipun kata Bunda telah usang, tak mengapa asal mereka bersama.
Bergelut bergelut di atas ranjang, menciptakan panas tubuh.
"Kak, Gimana kalau aku nggak bisa memberi Kakak bayi?" kini mereka telah berbaring sambil berpelukan, setelah saling memberikan sentuhan lembut nan indah.
" apa Kakak akan tetap bersamaku?"
" apa Kakak akan mencari wanita lain?"
"Ck, Kamu ngomong apa sih Rin?"
" kita udah nikah 3 bulan, tapi belum ada tanda-tanda aku hamil."Rindi.
" pernikahan pertama juga seperti itu, 3 bulan menikah kita masih saja belum diberi momongan."
Haruskah pernikahan kedua ini terulang, dengan alasan yang sama?
" kalau pernyataan mu itu di balik? kalau aku yang Justru tak bisa memberimu anak, apa kamu akan meninggalkan aku?"Linggar.
Rindi menggeleng.
" kita masih muda, pernikahan kita juga masih baru, Nikmati aja dulu. kita pacaran dulu, nanti kalau kamu terus punya anak, pergerakan kita pasti akan terbatas."
" malam minggu nanti, Pacaran yuk!"
" naik motor keliling kota, cari sate kambing. biar romantis."Linggar
Rindi mengangguk setuju, lalu mencibir, suaminya itu selalu ingin mengajaknya yang romantis-romantis.
" tapi sebelum itu, kita ritual dulu ya." Linggar mulai menjalankan aksinya.
menyentuh, mengelus dengan sangat pelan dan lembut.
" Rin bangun!" Linggar mulai mengguncang tubuh istrinya yang terbalut di bawah selimut.
"Sayang udah subuh!"
Suasana subuh ini, semakin terasa dingin saja. Mungkin di luar masih langit masih mendung meskipun takkan kentara.
__ADS_1
RIndi semakin meringkuk, membungkus tubuh hingga ke leher.
"Eh hangat." Meletakkan telapak tangannya di kening Rindi, kemudian beralih ke keningnya. Mencari perbedaan antara suhu tubuh tinggi dengan tubuhnya sendiri.
" Rin Kamu demam Rin?" Tanyanya setelah memastikan tubuh Rindi sedikit lebih hangat.
"Sayang, kamu sakit?" Ucapnya sendu.
Rasa bersalah kini mulai mengetuk hatinya.
Dimulai saat sore kemarin, saat ia mengajak istrinya hujan-hujanan di lapangan basket. Kemudian malamnya, Ia yang tak hentinya mengeruk keindahan dan kenikmatan surga dunia dari Rindi.
Dan semua itu, seolah menjadi alasan yang tepat istrinya kini demam.
"Rin, kamu mandi dulu yah! Kita abis jima' semalam." Linggar mendekatkan diri, memeluk erat, memberikan kehangatan sambil berbisik ke telinga Rindi.
Melayani sang istri dengan sepenuh hati. Memandikan, membantu memakai baju, hingga mengantarkan sarapan pagi ke kamar.
" Ya ampun Linggar, katanya istrinya demam ini kenapa malah disuruh mandi. Pakai siram rambut lagi?" Suara Bunda lagi-lagi seolah menggema di seluruh kamar.
Bunda mengekor di belakang Sang putra yang mengantarkan sarapan pagi ke kamar untuk istrinya. Sempat merasa khawatir saat mendengar bahwa Rindi sedang demam.
Mendapati Rindi yang duduk bersandar di headboar ranjang. Kepala yang terbungkus dengan handuk, menandakan rambutnya masih basah.
Dan lagi-lagi Rindi hanya meringis.
Setiap Bunda memarahi Linggar, Entah mengapa justru dirinya yang tersinggung.
Apakah begini perasaan setiap menantu yang tinggal bersama mertuanya. Atau hanya Rindi saja yang terlalu baper.
" Linggar! Linggar! Istrimu sakit, ya tahan diri sedikit kenapa sih?" Bunda melirik Linggar dengan sinis.
Sementara yang dilirik hanya mampu menyumbangkan senyum kakunya. Berharap bunda tak melanjutkan omelannya. Malukan kalau ia mengatakan jika mereka beberapa kali bersatu sejak kemarin sore.
" Sudah telepon dokter?" Pertanyaan yang membuat sepasang suami istri itu saling memandang.
Rindi menggeleng, merasa tak perlu karena hanya demam biasa. Bisa sembuh walau hanya sekedar minum obat.
"Nggak pa-pa Ya Rin, diperiksa bentar yah! Aku tungguin deh!" Linggar yang masih menggunakan baju rumahan, memutuskan untuk tidak bekerja hari ini guna menemani sang istri.
Mendekat, mulai menggenggam tangan sang istri.
" Kamu nggak kerja?" Tahu maksud Sang putra yang berniat bolos.
"Kan Rini sakit Bun, kasihan ditinggal sendiri." Linggar penuh harap agar bunda mau mengerti.
Sayangnya ia bukanlah pemilik perusahaan yang bisa semaunya untuk datang ke kantor. Bisa kerja atau memantau perusahaan dari rumah.
Ia hanyalah seorang karyawan. Tidak masuk kantor berarti tidak masuk kerja.
"Makanya panggilin dokter, biar tahu sakitnya apa. setidaknya bisa kasih obat yang cocok."
__ADS_1