
Tak henti-hentinya thor mengingatkan!
Cerita ini hanya fiksi belaka.
Cerita ini berdasarkan hasil pemikiran dan ide-ide author.
Ambil baiknya dan buang buruknya.
Konflik yang diciptakan hanya untuk menambah daya tarik pembaca. Dan tidak untuk di tiru.
Dosa dan hukuman pembaca tanggung sendiri.
Halusinasi, imajinasi dan segala bentuk yang bersifat hayalan dan mimpi di perkenankan.
Dan mohon maaf, jika konflik yang tercipta hampir mirip dengan beberapa kisah nyata di luar.
Selamat membaca!
Dan jangan lupa oleh-olehnya.
\=======
“Maaf, aku telah menyentuhnya.”
“Apa yang kau lakukan bodoh!” Pekik Lirna saat mendengar penuturan adiknya yang membuat bara api kini telah memercik di hatinya.
“Dia pacarku.” Pekiknya ke arah kakak perempuannya.
“Tapi dia selingkuh selama aku pergi!” Kini nadanya langsung terjun bebas, lirih seolah hal ini adalah aibnya.
“Dan kamu membalasnya dengan seperti ini?” Lirna yang membalas masih dengan sinisnya.
Prank.
Vas bunga mini yang indah telah mendarat cantik di kepala Linggar. Membuat beberapa tangkai bunga mawar yang
masih segar telah tergeletak di sofa dan lantai tanpa dosa. Dengan serpihan kaca yang telah bertebaran di lantai.
“Kamu lupa jika kamu punya seorang kakak perempuan. Kamu lupa jika bundamu juga seorang wanita hah?” Suara yang kini melengking menanjak naik, mengisi gendang telinga hingga penuh.
Prank.
Sekali lagi, kini asbak kaca kembali mengantam kepala Linggar.
Mungkin kali ini asbaklah yang menjadi pemenangnya. Karena asbak itu masih utuh mendarat di lantai meskipun telah menyambar meja tamu berbahan kaca. Membuat meja itu pecah berantakan.
Tak lupa pelipis Linggar yang juga berdarah akibat hantaman asbak.
“Sayang!” Reza. Sedikit terkejut melihat tingkah istrinya yang tidak biasa.
Sudah bisa dipastikan amarah kini telah memuncak. Bahkan bujukan dan sentuhan sang suami tak mampu meredam emosinya. Rasanya belum cukup jika Lirna tidak menghajar adiknya dengan tangannya sendiri.
Lirna berdiri menghampiri Linggar. Melayangkan serangan demi serangan yang ia dapat dari ilmu dadakan.
“Kamu bodoh, kamu tega merusak masa depan seorang wanita hanya karena kamu diselingkuhi?”
Mengeluarkan seluruh tenaganya hanya untuk mengahajar Linggar. Menjambak rambut, memukul kepala dan tubuh pria jakung itu.
Linggar bisa saja meraih tangan itu dan menguncinya hingga tak bisa bergerak. Bahkan dengan postur tubuh mereka yang tidak seimbang, sangat mudah baginya. Namun ia tahu kelakuannya ini pasti menyakiti kakaknya yang juga seorang perempuan. Lalu bagaimana ia akan menghadapi bundanya.
Lalu bagaimana dengan keluarga Rindi? Pasti mereka akan sakit hati mendapati anak perempuannya telah
diperlakukan seperti ini.
Ia hanya pasrah menghadapi kemarahan kakak perempuannya. Toh dirinya memang bersalah, ditambah lagi ia
masih sangat membutuhkan Lirna dalam menghadapi masalah yang akan timbul selanjutnya.
Reza menghampiri ke dua kakak beradik yang sedang bergulat itu. Mengumpulkan tenaga terlebih dahulu sebelum
memeluk perut istrinya itu lalu mengangkatnya menjauhkan dari Linggar.
__ADS_1
Lirna belum mau mengalah, kakinya beberapa kali menendang-nendang dan mengenai tubuh Linggar.
Bahkan Reza harus membanting tubuh Lirna di sofa karena masih terus memberontak ingin menghajar Linggar.
“Gar, cepat ke kamar!” Ucapnya sambil mengukung tubuh istrinya di sofa.
“Linggar cepat pergi!” Ia harus membentak Linggar karena pria itu masih berdiam diri di tempat duduknya sementara ia sendiri sudah kewalahan menghadapi amukan istrinya.
“Arrrrgggg, awas kau anak nakal!” Lirna dengan lantangnya, mengeluarkan tenaga yang seolah masih tersisa banyak khusus buat adik tersayangnya itu.
Memaki!
Menghajar!
Menendang!
Lirna masih sanggup!
Linggar mulai mengambil langkah seribu menuju ke arah kamar yang ditempati Rindi.
Masuk ke dalam kamar sembari mencari keberadaan gadisnya. Ia harus terus mendampingi Rindi, dan terus menguatkan gadis rapuh itu.
Ia tahu Rindi pasti terpuruk.
“Rin, Rindi.” Sedikit memanjangkan lehernya karena tak menemukan sosok yang ia cari.
Kemudian terus berjalan ke arah dalam, kamar ini tak terlalu memilik banyak sekat hingga tak terlalu butuh banyak waktu dan tenaga hanya mencari dengan pandangan mata saja.
“RINDI.” Teriaknya ketika mendapatkan tubuh Rindi terbaring di dekat tempat tidur yang sedari tadi menghalangi pandangannya dengan berlumuran darah di pergelangan tangan kirinya.
“Arrrrkkkkk,” Geramnya frustasi ketika mendapatkan sebuah pisau cutter di sebelah tangan Rindi.
Dimana pula Rindi mendapatkan barang luck nut ini. melempar jauh-jauh barang yang telah dipakai kekasihnya untuk mengiris tangan sendiri.
“Kak.” Teriaknya.
“Mas, tolong!”
kakaknya namun telah dihadapkan dengan peristiwa seperti ini.
Tak bisakah Rindi bertahan sebentar saja? Menunggu dirinya.
Sesakit itukah yang di alami Rindi hingga memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Bahkan saat Linggar telah berjanji untuk bertanggung jawab dan menikahinya. Apakah semua hanya permainan di depan Rindi?
Linggar yang hanya ingin memiliki dirinya bukan bermaksud melecehkan atau membuatnya terjatuh.
Tak bisakah Rindi mengerti tentang perasaan Linggar yang begitu dalam memendam semuanya?
Cintanya, rindunya bahkan obsesinya yang hanya untuk Rindi seorang.
Hanya Rindi.
“Rindi, bangun Rin! Kenapa kamu seperti ini?” Ucapnya semakin frustasi, sambil mengguncang tubuh Rindi yang ada dipelukannya.
Berharap Rindi terbangun dan menatap dirinya yang kini telah berlinangan air mata.
“Kak, Mas. Tolong!” Ia kembali teriak karena dua sosok itu tak kunjung muncul untuk membantunya.
“Kenapa Gar?” Mas Reza muncul diikuti Lirna dibelakangnya.
“Kak, mas tolong!” Ucapnya semakin lirih, bagai seorang yang telah kehilangan arah. Putus asa.
“Rindi, bangun Rin!” Ucapnya lagi sambil menepuk pelan pipi Rindi.
“Dia kenapa?” Mas Reza perlahan berjalan mendeketi.
“Astaghfirullah!” Pekik Lirna sambil menutup mulut dengan tangannya ketika telah melihat keadaan Rindi yang bersimbah darah.
“Kamu apain dia lagi Linggar.” Pekiknya sebelum kembali melayangkan hentakan kakinya ke bahu Linggar membuat pria itu tanpa sengaja melepaskan tubuh lemah Rindi.
“Kamu bisa membunuh gadis itu kalau tak membiarkan Linggar membawanya.” Lagi-lagi Reza maju sebagai pahlawan diantara Linggar dan Lirna.
__ADS_1
“Tutup lukanya!” Reza harus selalu waspada dan tetap tenang mengingat kedua bersaudara itu kini jauh dari kata stabil.
Yang satunya tengah patah hati hingga rela melakukan apa saja demi mendapatkan kembali kekasihnya.
Yang satunya sedang emosi membelah lautan karena mendapatkan kelakuan adiknya yang telah merusak masa
depan seorang gadis.
Sambil mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengikat untuk bagian tangan yang terluka. Entah kain apa yang ia
dapatkan saat ini, yang jelas mungkin cukup untuk menahan pendarahan.
“Cepat! Kita bawa ke rumah sakit!” Reza masih mendominasi peran.
Linggar seolah blank hingga melupakan rumah sakit yang lebih memilih mendiamkan Rindi dengan pelukannya.
“Cepat! Aku ambil mobil!” Reza dengan sedikit membentak, saat melihat Linggar yang masih bersimpug diri memeluk Rindi dan menangis. Kemudian berlari turun menyambar kunci mobilnya.
Di susul Linggar yang telah membawa Rindi dengan tetesan warna merah disetiap langkah. Dengan langkah
terburu-buru, seperti air matanya yang juga ikut berpacu dengan waktu.
“Rindi, bangun Rin.” Rancaunya sambil mendekap tubuh Rindi. Membuat Reza hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan adik iparnya.
Entah sebesar apa cinta yang dimiliki pria itu terhadap gadis ini.
Lalu mengapa gadis ini tega menghianati cinta yang sebesar itu?
“Pak, tolong pak!” Reza yang teriak ke arah petugas rumah sakit yang berada di depan pintu masuk. Mengharapkan
Linggar membawa gadis itu, bagai menunggu laut kering.
Pria itu hanya mengikuti brankar yang berisikan tubuh Rindi dengan terisak. Mengucap kata maaf beribu-ribu kali
dan memanggil nama Rindi hingga berjuta-juta kali.
“Bagaimana?” Lagi-lagi Reza yang harus siap berperan sebagai apa saja. Menjadi pelipur lara, penasehat, pendamping dan penopang.
“Keadaannya sudah stabil. Lukanya juga tidak terlalu dalam. Hanya kelelahan dan stres.”
“Boleh kami jenguk?” Menganggukkan kepala, setidaknya sekarang ia bisa sedikit bernapas.
“Ya silahkan! Tapi mohon biarkan dia istirahat dulu!”
“Terima kasih dok!”
“Kapan?” Lirna dengan sinisnya saat mereka bertiga berada di sofa sudut kamar perawatan yang Reza ambil untuk
Rindi.
“Apa?”
“Pura-pura be go lagi?” Masih dengan raut sinis dan ketus.
To Be Continued!
Awal pekan, minta votenya dong shantik!!!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.
__ADS_1