
" Rin maaf!" Ucap Linggar di balik tubuh sang istri yang kini tengah merajuk.
Hanya mampu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Rindi memunggunginya, bahkan beberapa kali menepis tangannya.
Lingkar yang beberapa kali menyentuh, dan menanam diri. Walau Rindi telah beberapa kali meminta untuk istirahat terlebih dahulu, pria itu seperti menulikan telinga.
"Sayang maaf, namanya juga kangen." Bujuknya.
"KA-A-NGEN. Kangen. Tau nggak sih itu kangen?" Ucapnya kesal pada Rindi.
"Ck, ejaan macam apaan itu? Emang waktu sekolah bahasa Indonesianya dapat berapa?" Melirik sedikit ke belakang.
" Yang jelas nggak dapet 100." Linggar sambil menahan tubuh Rindi yang sempat berbalik ke arahnya.
" Udah ah, ayo bangun makan dulu baru lanjutin tidur lagi."
"Sore baru kita jalan-jalan, terus makan malam di luar biar kamu tahu perbedaan antara siang dan malam."
"Tahu kok perbedaan antara siang dan malam, termasuk matahari dan bulan kan?"
Linggar menarik kedua tangan Rindu, membangunkan wanitanya secara paksa dengan kekehan. Perdebatan no fungsi antara mereka terasa sangat lucu baginya.
Rindi pun tak bisa menolak, meski dengan wajah yang ditekuk. Rencananya masih ingin merajuk, namun perut yang kini sudah menjerit tak bisa diajak kompromi.
Setelah menyelesaikan seluruh ritual untuk siang ini, kembali tidur setelah melayani suami untuk yang kesekian.
Setelahnya mereka menikmati malam panjang berdua.
Benar-benar indah, Linggar memperlakukannya seperti seorang Ratu.
Jalan bergandengan tangan, duduk bersisian menikmati pemandangan malam Minggu di sebuah taman sambil menikmati aneka kuliner ringan.
Cilok, siomay, pentolan dan minuman dingin yang diblender oleh sang pedagang menjadikan kencan mereka seperti kencan anak sekolahan. Lucu, indah dan halal.
Siangnya Ia dibopong oleh suaminya menuju ke PMI alias pondok mertua indah.
Menjadi seorang wanita karir, membuat Rindi jarang menginjakkan kakinya ke dapur.
Tak bisa memasak? Tidak juga.
Ia bisa, meski hanya sekedar menanak nasi, menggoreng ikan, dan beberapa tumisan dengan bumbu bawang merah bawang putih dan penyedap rasa.
__ADS_1
Dulu sebelum menikah, ia akan keluar kamar ketika telah rapi dengan pakaian kerjanya.
Namun sekarang, suasana telah berbeda.
Dan pagi ini, Rindi harus memaksakan diri untuk membangunkan raga dengan sedikit kepayahan, bergabung dengan Bunda dan Bibi di dapur. Menyampingkan rasa lelah, karena Linggar tak henti menyentuhnya semalam.
" Kamu ngapain Rin?" Bunda saat berada tepat di samping Rindi.
"Hehehe, mau ikut bantuin Bunda sama bibi menyiapkan sarapan pagi." Jawabnya sambil nyengir.
"Muka kamu pucat banget," Bunda kembali mengalihkan pandangannya dari Rindi. Tak ingin terlalu terlihat seperti sedang mengintimidasi menantunya itu. Bisa menebak jika rindu kurang tidur karena ulah anak kandungnya sendiri.
"Balik ke kamar aja, istirahat! Nanti kalau udah siap, kita panggilin deh!" Lanjut Bunda.
" Nggak pa-pa kok bun. Cuma bantu kupas bawang sama siapin bahan."
"Udah balik ke kamar aja! Ini perintah Bunda. Sana!" Kini diiringi dengan dorongan di pundak Rindi.
Mengalah dengan senang hati, karena memang rasa kantuk Belumlah pergi. Berjalan lunglai menaiki tangga, yang katanya tempat kekuasaan Linggar dan dirinya, begitu kata ayah.
"Katanya mau bantuin Bunda?" Linggar yang melihat istrinya kembali ke kamar dan langsung ke pembaringan tepat di sisinya.
"Disuruh balik sama Bunda katanya mau aku pucat!" Bertemu dengan bantal semakin memberatkan kelopak matanya untuk tetap terbuka.
Pagi ini mungkin Rindi selamat dari sentuhan hangat dan liar dari Linggar . Tapi tidak untuk Keesokan paginya.
Hari keempat pernikahan mereka, kedua pengantin baru itu kembali pada aktivitas semula.
Dan sebagai obat rindu, seharian tak bisa menyentuh Rindi secara totalitas, maka Linggar mengambil jatah di pagi ini. Katanya, ya sebagai penyemangat menyambut hari.
Tapi tidak dengan RIndi, setelah memberikan Linggar nafkah batin, wanita itu justru terlihat lesu. Dalam otaknya lebih memikirkan tempat tidur yang empuk. Tapi apa daya, libur pengantinnya telah habis.
" Kalian benar tidak mau bulan madu dulu?" Tanya bunda saat mereka tengah berada di meja makan. Menikmati sarapan di pagi hari sebelum kembali beraktivitas.
" Nanti aja Bun,ada waktunya. Kita berdua udah punya rencana kok?" Mendengar perkataan Linggar, senyum RIndi merekah.
Mengingat pembicaraan semalam saat ia bertanya, "mengapa tak dibolehkan mengambil cuti panjang saat ini?"
Dan jawabannya adalah, Linggar telah mengurus kepergian mereka ke negara tetangga untuk menonton pertandingan antara negara se-Asia Tenggara. Katanya, ingin menjadikan bulan madu mereka lebih seru.
Melupakan rasa kantuk yang melanda sedari tadi. Matanya kini berbinar terang, membayangkan semuanya.
"Kamu mau nonton apa?" Linggar mengarahkan pandangan ke samping tempat Rindi duduk.
__ADS_1
"Bola." Dengan mengerlingkan mata Rindi terlihat sangat bahagia, " Sama badminton," Lanjutnya.
"Sama renang juga yah?" Tambah Linggar.
"Gak boleh," Rindi langsung bergerak mendekat menyapu wajah Linggar dengan tangannya. Tak setuju dengan usul suaminya. "Mau liat apa?"
"Kan mau nonton pertandingan RInnnn,... " Salahnya di mana?
"Ya udah aku juga mau liat lomba renang tapi yang cowok!" Rindi sambil melirik tajam suaminya. Namun jika diijinkanpun tak mengapa.
"Ga boleh," Kini Linggar yang justru yang melirik secara tajam.
Sekarang ia mulai mengerti mengapa Rindi melarangnya menikmati acara itu. Mungkin belum siap, jika pikiran kotor sempat menyenggol pasangan saat menonton pertandingan itu. Siapa yang berani menjamin?
"Kalian kenapa sih?" Memutuskan pandangan sengit antar pengantin baru.
"Kita mau nonton Sea Games bun." Rindi.
"Kita mau ke malaysia." Linggar.
Hampir bersamaan.
"Loh kok, gak ngajak bunda?" Dengan memekik tak percaya. Putranya itu mengambil keputusan sendiri.
"Ceritanya Kitakan mau bulan madu bun, masa bunda mau ikut. Ganggu dong!" Linggar.
Pandangan memelas kini bunda arahkan pada Rindi, berharap menantu barunya itu terpikat dan iba hingga bersedia mengajaknya turut serta.
Sayangnya Rindi memilih menundukkan kepala, tak berani memandang ke arah bunda. Dan kini pandangan bunda berubah tajam, merasa di abaikan.
"Rin, makannya cepat!" Bisikan dari Linggar tepat di telinganya.
Linggar segera menyambar tangan tangan istrinya saat wanita itu baru saja meneguk air putih, "Cepetan sebelum perang dimulai." Linggar kembali berbisik.
"Bunda kayaknya marah sama aku deh kak?" Rindi turut berbisik saat baru saja keluar dari ruang makan.
"Bukan kamu, tapi kita. Biar aja itu urusan ayah." Linggar menenangkan.
"Ayaaaaah," Suara mendayu bunda menghentikan langkah mereka. Saling memandang menunggu kata selanjutnya.
"Bunda mau ikutannn,.... " Kata demi kata terdengar mendayu di telinga mereka, membuat keduanya kini terkekeh tertahan.
"Tuh kan aku bilang juga apa? Hihihihihi," Linggar berbicara dengan pelan dan dengan menutup mulut, takut jika terdengar oleh ayah dan bunda. " Biarin ayah yang tangani bunda."
__ADS_1
Melihat itu, RIndi ikut terkekeh. Dosa gak sih bahagia di atas penderitaan orang tua?