
Melihat keadaan semalam, Tak urung membuat Bunda tidur dengan tenang.
Rasa gelisah memikirkan Bagaimana keadaan rumah tangga yang dijalani Putra bungsunya.
Bahagiakah atau hanya topeng Semata?
Bahkan untuk memejamkan mata saja terasa sulit.
Kediaman Linggar dan Rindi saat itu itu semakin menambah pertanyaan dalam hati Bunda.
Bunda harus tahu yang sebenarnya terjadi. Dan orang yang pertama kali menjadi narasumber Bunda adalah Lirna, kakak Linggar.
"Ada apa?" Tanya bunda secara terang-terangan. Tak ingin terlalu bertele-tele, beliau hanya ingin cepat mengetahui keadaan yang sesungguhnya.
Sepagi itu menyambangi rumah Lirna. Saat semua sedang sibuk bekerja, mereka justru duduk berdua berhadapan dengan suguhan teh hijau hangat.
"Apanya bun?" Justru Lirna yang membuat cerita semakin samar.
" Adikmu dan istrinya. Bagaimana keadaan mereka? Pernikahan mereka." Bunda berikut dengan nada penekanan.
" Baik-baik aja Bunda nggak ada yang kenapa-kenapa kok." Berbicara dengan sewajarnya. Berharap rumah tangga Linggar memang berjalan dengan sewajarnya dan baik-baik saja.
"Nggak mungkin." Bunda dengan keyakinan yang besar.
"Enggak mungkin semua baik-baik saja. Mereka terlihat sangat bahagia sebelum kakak ipar Linggar menjemput Rindi. Dan dia hanya ingin membawa adiknya saja. Nggak mau sampai Linggar ikut. Nawarin Linggar aja nggak." Ucapan Bunda panjang lebar.
" Bahkan Rindi pengen nangis. Keliatan banget langsung murung, nunduk terus gak mau tatap bunda sama ayah waktu salim."
"Linggar juga, cuma diaaaaaam aja. Nggak nyaut-nyaut, sampai Rindi sama kakaknya itu pergi.
"Bunda udah tanyain Linggar, tapi adikmu itu bilang ,gak usaha khawatir bun, aku baik-baik aja. Padahal sama aja sama RIndi pengen nangis juga mukanya."
Suasana hening setelah bunda melepaskan semua yang mengganjal di otaknya.
"Hati Bunda akan jauh lebih sakit kalau mengetahui putra-putri Bunda berbohong. Meskipun itu demi menjaga perasaan Bunda." Lirih Bunda, yakin jika ada sesuatu yang Lirna sembunyikan.
Saat mendapatkan Lirna lebih memilih diam dibandingkan harus menceritakan semua yang ia ketahui.
Matanya terus memandang Lirna, mengamati setiap perubahan mimik wajah yang tanpa sadar di tunjukkan putrinya itu.
Lirna lebih memilih menundukkan kepala, memandang lantai keramik ruang keluarganya. Tak tega memberi tahukan semuanya.
Benar, Bundanya akan lebih sakit lagi saat mengetahui keadaan dari orang lain. Dan mungkin saja dengan sedikit drama yang di tambah hanya untuk menggiring opini bunda ke lain arah.
Membuat semuanya semakin runyam dan sulit, bisa saja.
“Bunda,” Mengangkat wajah yang mulai dipenuhi dengan air mata.
__ADS_1
“Kenapa? Cerita saja! Bunda dengar.” Ketegaran bunda mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin memunculkan efek keterkejutan, sedih atau mungkin amarah.
“Bunda.” Lirna lagi yang seolah tak mampu mengatakan semuanya.
“Lirna, bilang Lir. Cerita! Biar bunda juga tau, siapa tahu bisa kasi solusi.”
“Pc, belum apa-apa kamu sudah mau nangis aja.” Bunda lebih memilih menghempaskan punggunya di sandaran sofa.
Tangan bersedekap di depan dada, meskipun diri semakin merasa penasaran.
“Linggar bawa Rindi ke hotel sebelum mereka menikah dulu.” Dengan tangan berada di depan bibir, seolah ingin menyamarkan kata-kata yang baru saja ia paksakan untuk menyebut.
Detik kemudian bunda hanya mampu memejamkan mata, mengeratkan genggaman tangan. Mengatur napas, menahan air mata yang seketika ingin meluncur turun.
“Lalu!” Menguatkan hati dan diri meskipun benar ini merupakan sebuah kejutan yang menyakitkan. Masih berharap Linggar tak melakukan kesalahan.
“Dia marah karena Rindi selingkuh bun. Terus menghindari Linggar terus katanya.”
Kali ini perkataan Lirna membuat bunda menggigit kuat bibir bawahnya, “Lalu?” Ucapnya memaksakan diri. Pun dengan suara yang mulai serak, masih berusaha menahan kucuran air mata yang kini telah bersiap di ambang pintu.
“Rindi terus menghindari Linggar, nomornya juga diblokir. Linggar marah. Dia sentuh Rindi di hotel.” Kali ini di lengkapi dengan isakan tangis yang telah pecah. Tangan kini menutup wajah sedikit menghapus air mata. Tak tega rasanya jika bunda harus mengetahui semua keburukan ini.
Aib adiknya yang mencoreng nama baik keluarga.
Kini isak tangispun mulai terdengar dari arah bunda. Ternyata beliau tak cukup tegar mendengarkan cerita anaknya.
“Rindi sempat mau bunuh diri.”
“Di sini bun, di rumah Lirna.”
“Aku sama mas Reza yang bawa ke rumah sakit.”
“Keluarga Rindi gak terima.”
“Hari itu mereka mukulin Linggar sampai babak belur.”
Setiap kalimat Lirna ucapkan dengan terbata-bata. Sesekali menghapus lelehan dari hidungnya.
Ingatan bunda mengarah pada saat Rindi dirawat di rumah sakit. Saat itu, Lirna dan suaminya tengah menghasutnya untuk segera melamar Rindi.
Hah, ternyata meskipun sedikit berumur tak membuat beliau mengerti dengan permainan dunia.
Kepala bunda semakin tertunduk. Air mata telah jatuh membasahi pipi tetes demi tetes.
Menggeleng-gelengkan kepala, serasa tak bisa dipercaya dengan semua yang baru saja ia dengar.
Linggar, putra yang ia banggakan tega melakukan hal kotor semacam itu. Apakah ia yang salah dalam mendidik anak?
__ADS_1
Dan Rindi, gadis yang ia ketahui memiliki pribadi yang pendiam dan tenang ternyata menyandang kata selingkuh.
Mengingat betapa antusiasnya Linggar saat baru saja pulang. Orang yang ingin pria itu temui setelah orang tuanya adalah Rindi. Gadis yang selalu saja membuat anaknya itu uring-uribgan dan seperti orang hilang haluan.
Ternyata gadis itu tak mencintai putranya dengan tulus. Menggoreskan luka saat hati masih sedang sangat merindu.
Mengerti, jika siapapun akan marah saat mendapati kekasih hatinya bermain di belakang saat diri justru dalam kesusahan. Tapi tak perlu sampai merenggut kesucian wanita hanya karena amarah.
Yang merusak gadis itu adalah putranya.
Pikiran yang semakin membuat butiran air mata seolah saling berlomba.
Kini ia harus menyalahkan siapa?
“Bunda,....” Lirna beranjak dari duduknya. Menghampiri Bunda yang tengah menangis tersedu.
“Bunda yang salah.” Ucap bunda lirih di tengan isak tangisnya. “Bunda salah mendidik anak.”
“Bukan! Bukan bunda yang salah.” Lirna mulai mengangkat kedua tangan, merengkuh bunda yang seolah tak memiliki tenaga seketika itu masuk ke dalam dekapan.
Lemas.
Mungkin akan terjatuh saja andaikan mereka berbicara dalam keadaan berdiri.
“Maaf,...” Ucap Lirna lagi.
“Maafin Linggar bun. Dia terlalu mencintai Rindi.”
Iya, bundapun tahu. Jika sejak dulu Linggar sangat mencintai Rindi dengan segenap hati. Tapi apakah wanita itu pantas untuk putranya? Atau putranya yang memang tak pantas untuk seorang Rindi.
Masih merengkuh tubuh bunda, seolah ingin memberi kekuatan. Meskipun dirinya sendiripun butuh sebuah pasokan tenaga lebih hanya untuk menguatkan diri.
Ada bunda yang begitu ia cintai sedang terluka karena sikap mereka semua. Rasa bersalah karena terlalu memanjakan adiknya itu. Terkesan cuek dengan kehidupan Linggar, karena rasa percaya yang ia tanamkan pada adiknya itu.
Ternyata, kepercayaannya itu telah dilanggar oleh adiknya. Menimbulkan kekecewaan yang mendalam pada semua orang yang bersangkutan.
“Maafin Lirna juga sama mas Reza juga bunda. Kita gak tahu kalau sampai kejadiaannya kayak gitu.”
\=\=\=\=\=
To Be Continued!
Alhamdulillah, masih bisa double up.
Kasi semangat dong.
Like and komennya!
__ADS_1