
Ayah ikut bergabung hanya untuk memberi kekuatan pada anak istrinya.
Mengerti jika keadaan rumah tangga anaknya itu tak semulus jalan tol, namun tak pernah menduga jika akhirnya perceraian terlaksana.
Hingga acara menangis sedikit meredam, dengan Linggar yang masih tetap betah bertengger di paha bunda.
Ayah mulai berdiri dan melangkah mendekati kedua orang yang masih terisak dengan sisa-sisa tangis.
“Kamu masuk kamar, istirahat dulu!” Sambil mengelus pundak anak bungsunya itu, “ Dah malam.”
Linggar berdiri mengikuti istruksi dari ayah masuk ke kamar dengan pandangan nanar bunda yang masih mengikutinya.
“Bunda juga istirahat.” Ayah yang menatap bunda, kini tangannya yang tadi mengusap pundak Linggar beralih ke kepala bunda.
“Aku mau tidur di kamar Linggar yah!” Pandangannya seolah mengiba meminta persetujuan.
“Bunda punya kamar, kenapa mesti tidur di kamar Linggar?” Ayah yang mengerutkan kening. Berupa menetralkan wajah, meskipun kesedihan turut menghiasi hati.
“Aku cuma mau temani Linggar yah. dia pasti kesepian.” Bunda menyeka wajahnya kembali, air matanya ternyata memiliki anak yang banyak. Yang masih keluar satu persatu, membasahi pipi.
“Gak usah bun. Linggar hanya butuh waktu.” Kali ini tangan ayah telah menggenggam pergelangan tangan bunda. Bisa saja, istrinya itu ngeyel langsung masuk ke kamar anaknya tanpa mengidahkan larangan ayah.
“Yah, Linggar pasti sedih yah.”
“Iya, ayah tau Linggar sedih, tapi bunda masuk ke kamar Linggar mau ngapain?” Kini satu tangan terangkat naik, menyapu wajah bunda.
“Cuma mau menenangkan anak bunda biar gak terlalu sedih dan kesepian.”
“Gah usah besok aja. Linggar pasti baik-baik saja.” Sedikit tarikan di tangan bunda hingga mampu mengangkat
tubuh dari duduk. Ayah harus menggunakan sedikit tenaganya, membiarkan bunda terlalu lama bergelut dengan keinginannya mungkin tak terlalu baik.
Bunda ingin menemani dan menenangkan Linggar?
Dalam keadaan seperti ini, antara bunda dan Linggar siapa yang akan menguatkan siapa?
Yang ada Linggar akan semakin terpuruk melihat bundanya yang terus menangisi pernikahannya.
Meskipun sedih ternyata Linggar masih bisa tidur dengan tenang. Mungkin benar jika menangis membutuhkan banyak tenaga hingga membuatnya kelelahan sendiri.
Bunda masuk ke kamar Linggar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mendapati anak lelakinya itu masih terlelap dengan selimut yang sudah tak berbentuk sempurnya.
Menghampiri, lalu mengelus pelan rambut Linggar. Tak lupa sebuah kecupan singkat di kening.
Pandangannya tak beralih, hanya fokus pada wajah anaknya yang menurutnya kurang beruntung dalam berumah tangga. Entah berapa lama bunda betah dengan keadaan seperti itu.
__ADS_1
Linggar mengerjapkan mata dan menggosok pelan dengan jari-jarinya, menatap bunda yang duduk di samping tubuhnya yang masih terlentang.
“Bunda, kapan masuk?” Tanya Linggar, mata telah terbuka meskipun masih menyipit.
“Tidur jam berapa semalam?” Tanyanya khawatir.
“Semalam langsung tidur.” Linggar jujur. Bahkan sampai pagi ini, baju yang melekat di tubuhnya masih baju yang semalam.
Senyum bunda mengembang.
Membayangkan jika Linggar tak bisa tidur semalaman justu tak terbukti.
Sebaliknya bunda yang justu tak bisa tidur, meskipun elusan tangan ayah di kepala tak mampu membuatnya terlena.
Lingga telah bangun dari tidurnya dan mendudukan diri berhadapan dengan bunda. Meskipun begitu, kepalanya masiih terus menunduk. Rasa pening serasa menghampiri, mungkin karena terlalu banyak menangis semalam.
"Minum dulu!" Perintah bunda berikut segelas air putih diangsurkannya ke hadapan Linggar.
Setelah meneguk air pemberian bunda, Linggar kembali menunduk. Berhadapan dengan bunda dalam keadaan seperti ini membuatnya malu.
Malu karena tak bisa mempertahankan rumah tanganya.
Malu karena rumah tangganya hanya seumur jagung.
Bunda tersenyum menatapnya sambil terus mengusap pundak putranya. Seperti yang ayah bilang semalam di tempat tidur. Bunda harus bisa jadi sandaran Linggar saat ini, jika saatnya bunda lelah giliran ayah yang akan menjadi tempat bersandar. Itulah salah satu gunanya keluarga.
“Kamu pria harus tetap kuat. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Di luar sana terlalu banyak cinta yang bertebaran di muka bumi, kamu hanya butuh satu dari ribuan cinta itu. Bunda yakin kamu bisa menemukannya. Hanya butuh teriraksi lebih banyak dengan dunia luar.”
“Kamu bisa menjemput kebahagianmu sendiri. Bunda selalu ada untukmu.”
Meskipun saat mengatakan itu air matanya seakan ingin menetes, namun sebisa mungkin beliau tahan. Beliau tak boleh lemah dihadapan Linggar. Biarlah sebentar gilirannya kembali menangis di hadapan ayah.
Linggar membutuhkannya.
“Makasih bun.” Senyum mengembang, seolah mengatakan bahwa ia telah sembuh. Meski keadaannya hatinya masih terluka dengan sangat lebar dan sakit.
Terlalu kentara bahwa senyuman itu adalah senyuman terpaksa. Tapi tak apa, sekarang mereka hanya saling menguatkan meskipun hanya acting. Karena saat mereka berbalik, maka air mata kembali menetes.
“Mandi dulu baru turun. Bunda tunggu di bawah, sarapan. Gak usah kuliah dulu, mata kamu bengkak!” Masih tersenyum saat berdiri dan berbalik.
Tepat setelah pintu bunda tutup, air mata kembali mengalir tanpa permisi dari kedua pemeran.
Seharian Linggar hanya berada di rumah sesuai dengan saran bunda. Sebisa mungkin ia tak menempati kamarnya.
Karena jika masuk ke kamar dan menyendiri ia akan kembali teringat dengan Rindi lalu menangis.
__ADS_1
Benar kata bunda, ia pria. Harus kuat.
Tak boleh cengeng.
Diluar sana banyak cinta yang bertebaran dan ia hanya butuh satu dari ribuan cinta itu.
Tersenyum mengingat petuah bunda.
Jogging di sekitaran komples, lalu bermain basket di lapangan, menonton tv di ruang tengah sambil menikmati teh hangat.
Sejenak ia bingung, apa lagi yang harus dilakukannya di rumah sendirian.
Ah bukan sendiri, ada bunda.
Meskipun bunda terlihat lebih sibuk dari biasanya. Mulai dari menyiram tanaman, membersihkan rumah, lalu memasak.
Padahal sebelumnya, bunda tak terlalu sibuk seperti hari ini.
Linggar memutuskan untuk berbaring di sofa yang berada di ruang tegah itu, berharap bisa tidur siang di sana saja jadi tak perlu masuk ke kamar.
Sejenak pikirannya melayang ke beberapa bulan yang lalu. Ia mengajak Rindi ke rumahnya hanya untuk melepas rindu setelah beberapa bulan terpisah.
Mereka tertangkap basah sedang berpelukan di teras samping, hingga memutuskan untuk ke ruangan ini.
Di sini.
Di sofa ini.
Ia dan Rindi duduk berdekatan, sangat rapat. Sambil menonton tv yang sebenarnya tidak ia nikmati. Bahkan ia lupa film apa yang pernah mereka nonton. Ia hanya ingat, menggenggam tangan dengan jari-jari chubby Rindi yang seperti jari tangan bayi hanya saja versi besar.
Sesekali membawa tangan Rindi ke depan bibirnya, dengan Rindi yang hanya diam menikmati semua perlakuannya.
Ternyata waktu itu terasa sangat indah.
Perlahan namun pasti ingatannya seolah membawanya dalam kesedihan.
Ia kembali menangis.
Susah sekali untuk langsung move on.
To Be Continued!
Jangan lupa jempolnya.
Bunga sama kopinya juga yah!
__ADS_1