
“Pak Linggar suka teh hangat yang manis,” Ucap Ayu memberi tahu Rindi yang ditugaskan untuk membuat teh untuk sang bos.
Ini teh pertama yang dibuat Rindi untuk sang bos selama bekerja di sini.
Ia pernah membuatkan teh untuk Linggar tapi itu dulu, dulu sekali saat mereka masih tinggal di rumah Kak Rima sebagai pasangan suami istri.
Itupun atas perintah Rima, yang menginginkan agar Rindi tetap melayani suaminya meskipun hubungan mereka sedang tak baik.
“Iya, terima kasih!” Jangan sampai membuat yang lain curiga karena ia mengetahui selera sang bos yang ternyata adalah mantan suaminya.
Diantara ke empat karyawan yang tadi meninggalkan ruangan secara bersamaan, Rindilah yang terlebih dahulu kembali.
“Tehnya pak!” Sambil meletakkan secangkir teh di meja Linggar.
“Duduk!” Perintah Linggar dan menghentikan ketikannya di keyboar laptop. Duduk dengan menyilangkan tangan di atas meja.
“Bagaimana kabarmu?” Linggar lembut, mungkin kali ini ia ingin keluar dari ruang lingkup pekerjaan barang sejenak.
“Baik pak.” Rindi dengan kepala yang masih tertunduk. Lebih memilih untuk tak menatap pria yang kemarin menghinanya. Rasanya masih sakit hati saja.
“Bapak ibu, bagaimana?” Linggar masih menghormati mantan mertuanya. Mertua yang tergolong baik dalam memperlakukannya meskipun ia telah melakukan kesalahan besar pada sang anak.
“Alhamdulillah baik pak, terima kasih! Bapak apa kabar?” Meskipun telah mengucapkan beberapa kata, namun Rindi belum mampu membalas tatapan Linggar.
Ini terlalu canggung baginya, berdua dalam ruangan ini seperti dirinya berada di sebuah ruang sempit yang menyisakan hanya sedikit oksigen.
“Baik, you see!” Sambil merentangkan ke dua tangannya ke samping, punggung di daratkan di sandaran kursi seolah berkata, “Lihat aku sekarang, aku berdiri lebih tinggi darimu.”
Menunjukkan jabatannya yang hanya
seorang kepala unit yang memilik empat orang bawahan termasuk Rindi.
Rindi hanya mampu tersenyum dan terus menundukkan kepalanya. Bahkan dalam keadaan tertunduk sekalipun ia tahu jika lelaki ini adalah atasannya, yang bisa memberikan perintah apa saja padanya.
Dari sudut matanya mampu menangkap singgungan senyum dari pria yang duduk di hadapannya.
“Silahkan kembali ke tempatmu!” Linggar memajukan badan, tangan kembali di letakkan di atas keyboard bersiap kembali bekerja.
Mungkin terlalu lama di posisi itu bisa menimbulkan pertanyaan pada karyawan lainnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
“Citra,” Teriak Kamil saat mereka sedang berjalan menuju ke kantin.
Citra yang berada lebih jauh dari mereka berbalik tak lupa melambaikan tangan. Terlihat lebih semangat dan ceria jika dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya.
“Citra, kenalin ini Rindi! Anggota baru kita, kamu jangan marah loh!”
“Tuh kan Pak Linggar, memang mau depak aku.” Ucapnya sambil menatap Rindi. Sementara Rindi hanya tersenyum kaku mengatahui dirinya sebagai alasan gadis ini di pindahkan.
“Bukan pak Linggar, kamu sudah coba tanya personalia?” Mbak Tia.
“Iya udah, katanya Riswan suruh tanya sama Pak Mirza. Boro-boro masak iya, aku menghadap ke pak Mirza, cuma mau tanya alasan aku dimutasi, cari mati banget!” Citra dengan mencebikkan bibir.
Rasa kesalnya tak mungkin lagi di sembunyikan, tapi dia bisa apa?
Berhadapan dengan Pak Mirza yang
notebenenya asisten pribadi sang bos besar? Hah.
Lalu apa yang harus ia katakan?
Protes?
Jadi gadis ini adalah salah satu dari sekian banyak penggemar Linggar.
“Gak papa kali, kalau kamu rindu bisa masuk ke ruangan kita. Pintu selalu terbuka untukmu!” Ucap Kamil yang seolah menjadi pendukung Citra.
“Iya tau, tapi tetap aja gak sama. Gak bisa tiap waktu cuci mata, ihhhhh...." Menunjukkan wajah kesalnya.
"Besok aku mau buat kue buat pak Linggar biar punya alasan masuk ke sana!” Ucap Citra berbinar.
“Kenapa tunggu besok? Hari ini aja, tuh kan di depan ada toko kue, bisa tuh!” Saran dari Kamil seolah diterima baik oleh Citra karena gadis ini tak henti mengangguk diiringi senyum yang berkembang di wajah.
“Iya-iya, tapi temenin aku yah!” Pintanya pada sang pencetus ide.
“Jangan aku, sama Rindi saja biar kalian juga bisa akrab.” Kamil yang tiba-tiba menarik tangan Rindi mendekat ke arah Citra, membuatnya melototkan matanya. Sok akrab banget.
“Ya udah, abis makan kita ke depan yah?” Ucap Citra pada Rindi.
Rindi hanya tersenyum dan menggangguk patuh.
Ya mau bagaimana lagi, sebagai orang baru ia harus bisa mengikuti arus pertemanan yang tercipta di sekelilingnya jika tidak maka ia akan tenggelam, tak terlihat, dan tak dianggap.
__ADS_1
Toh hanya ke depan membelikan kue untuk Pak Linggar.
Ya, pak Linggar, mantan suaminya.
Dan setelah makan siang Citra benar-benar menarik tangannya bersama dengan Ayu menuju ke toko depan. Apalagi kalau bukan memilih kue buat Linggar.
Sebesar itukah rasa kagum yang gadis ini miliki untuk Linggar? Apakah benar hanya kagum, dan bukan eeemmmmm, cinta mungkin?
Sedikit lucu, seorang wanita memilihkan kue untuk wanita lain yang justru akan ia persembahkan buat mantan suaminya.
Rindi dan Ayu hanya mampu mengikuti sang pengagum rahasia dengan saling melemparkan senyum. Terlalu akrab bagi mereka yang baru kenal dalam sehari.
Mereka bertiga masuk ke ruangan
sebelum jam istirahat selesai. Dan untung saja ada ruangan kecil yang biasa digunakan oleh karyawan lain untuk shalat hingga tak perlu lagi kembali ke lantai bawah dimana musholah utama.
Dan ternyata di sana telah ada sang bos yang juga menjadi topik utama pembicaraan selama jam istirahat tadi.
“Pak, aku ada bawa camilan buat teman kerja.” Citra yang langsung masuk dan melanggeng ke meja Linggar.
“Apa nih?” Linggar menatap kotak kue di atas mejanya.
“Emmm, tiramisu.”
“Waaah, jadi nyesel kenapa harus melepaskan kamu. you is the best.” Pujinya dengan wajah berbinar.
Meskipun melontarkan kata-kata bohong setidaknya harus meyakinkan orang yang mendengar terutama sang korban.
Ya, Citra adalah korbannya.
Korban ke-egoisannya yang ingin menempatkan Rindi di bawah naungannya.
Hingga membuat gadis yang menjadi pengagumnya sejak dulu itu harus berpindah kerja ke ruangan sebelah.
Yang dipuji tersipu malu.
Meskipun di depak, ternyata mendapatkan senyum dari Linggar mampu membuat hatinya melayang, melambung ke awang-awang.
Padahal hanya senyumkan?
Berpikir jika mutasinya tak ada sangkut pautnya dengan atasan yang sedang menempati ruang hatinya kini.
__ADS_1