
“Aku tanggung jawab! Aku tanggung jawab!” Ucapan Linggar mampu meredam suara-suara gaduh yang sejak tadi terdengar meski hanya seper sekian detik lamanya.
Duarrrrr!
Duarrrrr!
Berbagai jenis pemikiran yang beterbangan bagai serpihan kini telah tersusun rapi hanya dengan kata-kata itu.
Apalagi kalau bukan?
Kemudian,...
Bugh.
Kembali suara pukulan diiringi tubuh Linggar yang kembali menghantam dinding.
Rindi ingin menghentikan kakaknya. Ada perasaan tak tega dalam dirinya ketika melihat Linggar dengan penampilan berantakan seperti itu. Biar bagaimanapun pria itu masih mengisi hidup dan hatinya.
Namun iapun merasa Linggar memang patut mendapatkan penghakiman seperti itu.
Biarkan sajalah! Tapi kasihan.
Antara tetap membiarkan Kakaknya terus memukul Linggar, anggap saja sebagai balasan rasa sakit yang telah pria itu torehkan.
Tapi juga ingin maju, menghentikan kakakknya. Bagaimana jika terjadi apa-apa pada Linggar?
Bagaimana pula keadaannya nanti tanpa Linggar?
Lalu bagaimana jika kejadian kemarin memang membuatnya hamil? Tanpa Linggar apakah ia sanggup?
Dengan keadaannya yang seperti ini, ia tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun hanya untuk melerai Kak Reno.
Yang dilakukan saat ini, hanyalah menangis dan menangis.
“Kamu tahu bapakku masih sakit?” Suara teriakan dari Reno semakin membuat Rindi mengeratkan pelukannya pada Rima, berikut air mata yang semakin deras mengalir dengan bahu yang terguncang.
Sekeras ia menahan isakan tangisnya agar tak terdengar, justru semakin sakit terasa di dalam dadanya.
Iya, memang benar bapaknya masih sakit. Bagaimana kesehatan bapak nanti jika tahu keadaannya saat ini. Lalu apa yang harus ia lakukan?
Tangisan Rindi semakin menjadi.
Meskipun Rima telah mengeratkan pelukannya serta mengelus lembut punggunggnya namun tak membuat air mata itu surut justru semakin deras mengalir membasahi pipinya dan seolah banjir mengirim membasahi jas putih Rima.
“Tunggu!” Tepukan Rima di punggungnya membuat Rindi penasaran.
Rima melepaskan pelukannya. Berbalik dan berjalan anggun mendekati Reno yang kembali meraih kerah baju Linggar.
Puk!Puk!
Tepukan ringan Rima di punggung Reno membuat pria itu menoleh, dan.
PLAK!
“Rima!” Ucapnya bingung sesaat setelah Rima melayangkan cap lima jari ke pipinya.
Sakit memang.
Bahkan mampu menembus sakit hati dan jantungnya.
“Aku lagi menenangkan Dira, kamu justru bikin tambah gaduh! Bukannya dia bilang mau tanggung jawab?” Sambil
menunjuk ke arah Linggar yang masih terpojok.
“Ya udah nikahin mereka aja, sebelum perut Dira semakin membesar!”
__ADS_1
Kalimat terakhir kembali membungkam seluruh penghuni ruangan.
Apa?
Perut membesar?
Dira hamil?
“Arrrggggg!” Reno membuang diri secara keras ke lantai. Berikut tangan yang mencengkram kuat rambutnya sendiri. Semoga ini bisa mengurangi pusing yang tiba-tiba ia rasakan.
Frustasi dirinya kini, mendapatkan gadis manja yang dulu pernah ia jaga kini tak utuh.
Bahkan dulu gadis kecilnya berkata, “Aku tak butuh pacar seperti teman-temanku yang lain, asalkan kakak selalu sayang sama aku!” Sambil menyandarkan kepala ke pundaknya.
Apakah ia harus menyalahkan nasibnya dalam mendapatkan jodoh.
Ia terlalu jauh melangkah meninggalkan Dira yang harusnya masih dalam perhatiannya.
Menatap wanita hamil yang kembali merengkuh adik kesayangannya. Wanita itu bukan siapa-siapa Dira, tapi justru
memberikan adiknya kasih sayang yang seolah tak terhingga.
Jauh berbeda dengan wanita yang saat ini menjadi pendamping hidupnya. Yang justru membawa dirinya semakin
menjauh dengan Dira, adik semata wayangnya.
Lalu haruskah ia menyesali semua ini?
“Aku siap tanggung jawab. Aku akan menikahi Rindi.” Ucapan Linggar kembali membuatnya mengalihkan pandangan.
“Aku gak sudi punya adik ipar bejat seperti kamu!” Reno dengan tatapan sinisnya pada Linggar.
“Kakak mau anak Rindi lahir tanpa ayah?” Bukankah api tetap harus terus di sirami dengan bensin agar tak padam?
Linggar yang masih duduk, belum ada niat sama sekali untuk berdiri dan membenahi diri yang kini tampil dengan
Dan penuturan yang baru saja terdengar itu seolah menegaskan keadaan Rindi saat ini. hingga membuat Reno
yang sedari tadi berada dalam lubang penyesalan kembali tersulut emosi.
Ia mulai bangkit dan bersiap kembali menghajar, beruntung Dihyan segera meraih pundaknya membawa pria itu
duduk di sofa agar bisa meredam emosinya.
“Secepatnya aku akan nikahi Rindi, sebelum perutnya benar-benar terlihat!”
"Kami sepasang kekasih yang saling mencintai, maaf jika kami khilaf."
“Bacot lo, bisa diam gak sih?” Dihyan kini sudah tak mampu lagi menahan amarahnya.
Anak muda itu sepertinya kurang berterima kasih. Saat semua orang berusaha meredakan nyala api yang membara, pria muda itu justru terus mengipas agar api tak padam.
Atau memang sengaja untuk menyulut emosi orang-orang?
ATau anak muda ini ingin pamer? Dasar.
Sedari tadi ia mencoba menahan dan bahkan mencoba menahan Reno pula. Namun kini ia sendiri yang maju dan
bersiap untuk menghajar bocah yang seolah terus saja mencari masalah.
Tangannya mulai di genggam siap untuk menerjang, sementara sebelah lagi kini telah berada di kerah baju Linggar.
Genggaman itu telah melayang, dan hampir saja mendarat ke wajah tampan Linggar. Andai saja suara seseorang tak menghentikan pergerakannya.
“Aaaaa. Stop! Stop!” Lirna yang baru saja masuk terlihat histeris ketika melihat adiknya dengan penampilan sangat berantakan. Sangat jelas jika lelaki itu baru saja mendapatkan penghakiman secara sepihak.
__ADS_1
Entah mengapa rasanya tak rela saat mengetahui adiknya telah mendapatkan pelajaran dari orang lain. Ia sungguh
tak terima.
Padahal sedari tadi saja, ia adalah orang yang pertama memberikan Linggar buah tangan saat mengetahui perbuatan adiknya itu.
“Kita bisa bicarakan baik-baik!” Ucapnya sambil menempatkan diri dihadapan Linggar. Menghalangi pria yang telah
siap dengan genggaman tangannya.
“kekerasan tak bisa menyelesaikan masalah!” Tambahnya.
“Bisa kita duduk di sana?” Lirna, meskipun tak bisa dipungkiri dadanya turut berdetak kencang karena melihat gengaman dari pria di depannya itu masih sangat erat.
Jika saja tangan itu melayang maka bisa dipastikan dirinya yang akan menanggung hantaman itu.
Pasti sakit. Bisa jadi ia akan langsung pingsan di tempat.
Membayangkannya saja mampu membuatnya bergidik ngeri.
Reza turut menghampiri istri dan adik iparnya, membantu untuk bangkit dari keterpurukan. Membawa dua tubuh itu turut ke sofa.
“Kami minta maaf karena perbuatan adik kami yang mungkin saja menyakiti adik beserta keluarga anda.” Reza memulai membuka percakapan.
“Bukan mungkin, tapi memang telah menyakiti kami semua.” Reno dengan emosi yang memang masih belum reda.
“Sekali lagi, kami mohon maaf untuk itu.” Sedikit membukkan kepala, biar bagaimanapun kesalahan tersebesar dilakukan dari pihak mereka.
“Dan sekarang kami ingin membicarakan bagi mana baiknya, selanjutnya kami hanya bisa memohon kerjasama dari keluarga anda.”
“Kami pastikan adik kami akan tetap bertanggung jawab atas perbuatannya. Mohon di beri jalan!” Tambahnya.
Dihyan menepuk pundak Reno yang sedari tadi hanya memalingkan wajah seolah tak ingin memandang ketiga orang itu.
“Kami akan menyegerakan untuk mengunjungi keluarga anda untuk membicarakan pernikahan mereka. Sekali lagi mohon berikan kesempatan adik kami untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.”
“Ren,” Sekali lagi Dihyan harus mengingatkan Reno yang masih saja betah menutup mulutnya.
“Baiklah, kami akan menunggu kehadiran anda sekalian.” Jawaban dari wanita buncit yang masih berada di dekat ranjang.
“Secepatnya!” Tambahnya lagi dengan tangan masih betah mengelus punggung Rindi.
“Kapan kamu siap?” Reza sambil menatap Linggar.
“Bulan depan mungkin?” Jawaban yang lebih ke arah pertanyaan. Karena jujur iapun masih bingung harus mempersiapkan apa saja.
“Lebih cepat lebih baik. Ijab kabul saja dulu. Untuk masalah pesta bisa kita bicarakan selanjutnya.” Itu masih pernyataan sang wanita hamil.
“Baiklah minggu depan.” Linggar mantap, sebelum keputusan beralih memberatkan dirinya, ia harus mengambil
kesempatan emas ini.
Terlebih lagi ia ingin segera melangkah maju, tentunya bersama kekasih hatinya, Rindi.
“Baiklah, jika memang bisa minggu depan ijab kabulnya. Sekarang kita bisa membicarakan hal-hal yang akan kita butuhkan untuk acara minggu depan.”
“Sayang. Bukankah ini terlalu terburu-buru?” Pria yang protes pada istrinya karena sedari tadi mengambil keputusan sendiri.
“Karyawan suamiku akan mengurus semuanya.” Ucap lagi tanpa menghiraukan protes dari suaminya.
Hembusan keras terdengar dari Dihyan dan Reno. Mereka seolah tak bisa berbuat apa-apa lagi saat melihat wanita itu mengambil keputusan sendiri.
Lihatlah betapa pesona wanita buncit nan cantik itu sangat berpengaruh hingga mampu membungkam ke dua pria itu.
To Be Continued
__ADS_1
Hai teman-teman ! Terima kasih sudah mampir di novelku. Mohon dukungannya dengan cara like, komen dan vote.
Author menerima segala kritik dan saran namun di mohon agar tetap menjaga bahasa agar tetap sopan dan santun. Karena Author juga punya Hati, hati yang lembut!