
Linggar
Linggar beberapa kali melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
Penghulu dan calon mertuanya telah mengambil tempat duduk tepat di depannya. Hanya perlu menunggu beberapa menit kemudian, kata yang ia dengar menunggu waktu yang baik saja.
Beberapa kali pula menghembuskan nafas dari mulut secara perlahan.
Ketakutan yang rintik ungkapkan sebelumnya, kini seolah menghantuinya.
Ia menggeleng-geleng pelan, dalam hati masih terus berdoa semoga semua baik-baik saja.
Namun ketidaktenangan justru semakin mencolek Sanubari.
Kalimat wejangan dari Pak penghulu disimaknya dengan baik. Setiap doa yang terucap ya aminkan secara khusyuk dengan kepala yang menunduk dalam.
"Siap?"
Pertanyaan dari Pak Penghulu ya jawab dengan tegasnya, "SIAP!"
Ia tergagap saat Bapak Khairuddin mulai mengulurkan tangan tepat di hadapannya. Menatap bingung pada pria paruh baya calon mertuanya itu.
Ke mana ketegasan yang baru saja ia pertontonkan?
"Katanya sudah siap kok malah bengong?" Itu suara pak penghulu.
Ia kembali memandang sekitarnya. Semua mata tertuju padanya saat ini.
"Pengantin wanitanya diumpetin dulu, nanti habis ini baru dikeluarkan."
Ah, bukan-bukan karena itu.
Meski memang sedari tadi mencari sosok RIndi, tapi ia pun mengerti jika Rindi masih berada dalam peraduannya.
Ia meringis saat mendengar kekehan para tamu undangan di belakang tubuhnya.
Tidak tahukah mereka jika saat ini tangannya bahkan telah basah karena keringat dingin.
Ia turut tersenyum meski kaku. Kembali menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Tenang! Tenang!" Masih suara Pak penghulu. Suara tawa pun masih terdengar samar di telinganya. "Mau minum dulu?"
" Tidak Pak, terima kasih." Ia kembali meringis saat menyadari tenggorokan memang terasa sedikit kering, tapi mengapa justru menolak saat ditawari minum terlebih dahulu.
Ah, harusnya memang minum dulu sebelum kembali mencoba untuk konsentrasi.
"Bisa dimulai?"
"Bisa pak!" Ia mengangguk pasti.
"Tarik napas dulu! Biar lebih rileks!"
Ia kembali mengikuti arahan Pak Penghulu, menarik napas pelan, kembali menghembuskan melalui mulut, setidaknya bisa melonggarkan sedikit rongga dada. Dibelakang masih terdengar suara tertawa yang samar.
__ADS_1
Apakah kegugupannya ini memang terlihat lucu.
Kali ini dengan menutup mata erat harus menarik paksa konsenterasi sebelum jadi bahan tertawaan lagi.
Pc, nasib pengantin.
Masih bisa terlihat dari kedua matanya, jika Pak Khaeruddinpun turut melakukan hal sama seperti dirinya. Dari sorot mata itu, iapun masih bisa menilai jika pria itu sama gugupnya dengan dirinya.
Hanya sekali, ia mampu melafalakan, ijab kabul telah berlangsung secara khidmat.~~~~
Yang berarti tanggung jawab seorang wanita atas nama Rindiandira Ningsih telah ia beralih padanya.
Suara sah berkumandang hampir bersamaan.
Disusul dengan lantunan Hamdalah yang terdengar Lirih pun hampir serempak.
Puffft, lega rasanya.
Rindi, kamu milikku mulai saat ini. Tak ada yang akan memisahkan kita lagi.
Samar-samar di belakangnya bisik-bisik kembali terdengar. Feelingnya kali ini berkata bahwa sang mempelai wanita telah berada dalam ruangan ini.
Ia pun mulai mengangkat kepala, menatap ke arah pintu penghubung antara ruang tengah dengan ruang tamu.
Di sana, Rindi berjalan sangat pelan bak putri keraton. Diapit oleh Rima dan kakak iparnya, istri dari Reno.
Menatap kagum pada wanita yang baru saja ia peristri.
Membuat jantungnya mulai berdetak tak karuan. Gugup berganti.
Linggar kembali terhentak saat tiba-tiba Rindi terhenti pada langkahnya.
Ada apa lagi ini?
Mengamati dengan baik, saat wanita itu berbisik di samping Rima.
Ternyata sugesti rindu tentang ketakutan akan kandasnya pernikahan mereka, turut merekat padanya.
Dan saat wanita itu kembali mendekat, entah mengapa ia justru menjadi seorang pria yang cengeng.
Cepat-cepat menunduk sambil mengusap pelan sudut matanya, saat organ itu terasa penuh, sebelum merasakan pipinya sempat basah.
Ia bahkan masih menunduk dengan menggigit bibir bawah saat Rindi telah sampai di sisinya.
Kembali berdesis pelan guna menenangkan situasi hati yang kini sedang melow.
"Tanda tangan di sini dulu!" Suara yang mampu mengangkat kepalanya.
Menjulurkan tangan pada orang yang baru saja menghancurkan tisu ke hadapannya.
"Ceritanya kan hari bahagia kok malah nangis." Kali ini mampu membuatnya tersenyum malu.
Selesai berurusan dengan segala berkas-berkas pernikahan, kini tiba ia memasangkan cincin pernikahan di jari manis Rindi.
__ADS_1
Rindi yang yang mencium tangannya, begitu mendalam hingga mampu mencapai ke jantung hatinya. Berganti Kecupan dalam di persembahkannya di kening kekasih halalnya kini. Menutup mata merasakan khidmat dari pernikahan manis ini.
Acara sungkeman kini ia lalui dengan diam.
Melirik Pak Khaeruddin yang menangis saat merengkuh putrinya. Pun dengan Rindi yang menangis dengan kepala diletakkan di pangkuan sang ayah.
Linggar tak menangis lagi, mungkin air matanya telah susut di hari bahagianya ini.
"Aku titipkan adikku padamu. Jangan sakiti dia, karena jika itu terjadi tak akan ada kesempatan ketiga lagi."
Bisikan tepat di telingannya saat ia telah sampai di depan Reno.
Terang saja, ia takkan pernah menyakiti Rindi, wanita yang sangat ia cintai itu meski pria itu tak mengancamnya.
Tak peduli jika Reno kini telah memberinya restu atau tidak. Sama saja, ia akan tetap mempertahankan dan membahagiakan RIndi dengan caranya.
Pengantin itu kini digiring ke pelaminan, menanti satu persatu tamu undangan yang lebih di dominasi oleh keluarga dan para tetangga.
"Kamu cantik," Ucapnya berbisik tepat di samping Rindi di sela-sela menanti tamu yang akan menyalami.
Rindi tersenyum, menunduk menyembunyikan rona merah wajahnya.
"Kakak juga tampan." Rindi yang turut berbisik pelan, kembali menunduk setelahnya.
"Iya dong, kan suami kamu. Istri cantik jadi suaminya pasti tampan." Balasnya, membuat Rindi kembali menunduk malu.
\=========
Linggar menghembuskan nafas kerasnya.
Diberikan waktu beristirahat sejenak, pikirannya sempat melayang berharap semoga bisa mencuri waktu sedikit saja berdua dengan Rindu. Berdua dengan artian pengantin baru yang saling colek-mencolek.
Nyatanya siang itu, ia harus kecewa. Saat melihat 4 tubuh manusia tergeletak di atas ranjang secara berhimpitan. Dan salah satunya adalah istrinya, Rindi.
"Kenapa Gar?" Ibu menghampiri saat melihat menantunya itu terdiam di depan pintu.
" Ya ampun, kamar istrimu dikuasai sama mereka dari tadi pagi. Kamu istirahat di kamar Ibu aja."
"Nggak usah Bu," Ucapnya segan.
Pun demikian Ibu telah menarik tangannya guna membawanya ke kamar samping untuk beristirahat.
\=========
Pengennya rajin Up biar ceritanya cepat kelar.
Apa daya kesehatan sedikit tergangu, maka jadilah mandet beberapa hari.
Mohon doa dan hadiahnya teman-teman.
R : Heleh, Authornya cuma mau malak doang!
A : Ya ga pa-palah buat semangat!
__ADS_1