Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Nilai Sebuah Kesetiaan


__ADS_3

Cerita ini hanya fiksi belaka.


Cerita ini berdasarkan hasil pemikiran dan ide-ide author.


Ambil baiknya dan buang buruknya.


Konflik yang diciptakan hanya untuk menambah daya tarik pembaca. Dan tidak untuk di tiru.


Dosa dan hukuman pembaca tanggung sendiri.


Halusinasi, imajinasi dan segala bentuk yang bersifat hayalan dan mimpi di perkenankan.


Dan mohon maaf, jika konflik yang tercipta hampir mirip dengan beberapa kisah nyata di luar.


Selamat membaca!


Dan jangan lupa oleh-olehnya.


\==========


“Ke mana?”


“Ke dalam. Ayo ah, biar cepat pulang!”


Mendengar kata pulang entah mengapa memberikan semangat tersendiri bagi Rindi. Mungkin ia telah rindu dengan kamar dan bantalnya.


Atau mungkin saja bersama dengan Linggar kini menjadi sebuah kebiasaan yang tak seindah dulu.


Berjalan menyusuri lorong dan memasuki lift, Rindi hanya mengikuti langkah Linggar.


Hingga mereka sampai ke sebuah pintu yang mungkin ada Arman di baliknya.


Tapi entah mengapa Linggar tak mengetuk pintu itu, justru membukanya dengan sebuah kartu yang sedari tadi


berada di gengaman tangannya.


“Ayo, masuk!” Kali ini, terasa Linggar mendorong tubuh Rindi masuk ke ruangan itu sedikit jauh dari kata lembut.


RIndi sempat terkejut mendapat dorongan di punggungnya. Linggar tak selembut biasanya.


“Arman mana?” Rindi yang telah mengedarkan pandangannya hampir ke seluruh ruangan namun tak mendapati orang yang ingin mereka temui. Sampai di sini perasaannya sudah terasa tak enak. Seperti ada yang mengganjal dalam otaknya.


Mau apa mereka dalam sebuah kamar terkunci, hanya berdua?


Tak bisa dipungkiri ada rasa panik yang kini mulai mengetuk hatinya.


Rindi membalikkan tubuhnya, menangkap sosok Linggar yang telah meletakkan ransel di sebuah meja.


Perasaannya kini semakin tak menentu hanya melihat tatapan aneh dari Linggar.


“Aku sudah bilangkan, aku bisa melakukan hal lebih jika kamu juga bertingkah lebih?” Peringatan untuk yang kesekian kali dari Linggar. Tapi kali ini nadanya sungguh tak enak di dengar, berikut lirikan mata yang seolah menusuk menembus dada.


“Aku berusaha untuk tetap mengendalikan diri, tapi kamu justru semakin menjadi.” Lanjutnya.


“Kamu mau apa?” Rindi yang melihat Linggar terus maju mendekatinya dengan gaya yang sangat-sangat aneh.


Sangat aneh. Bahkan pancaran matanyapun juga aneh.


“Kamu kira aku gak sakit hati kamu buat kayak gini?” Dengan kedua tangan berada di pundak Rindi dan menekannya sedikit lebih keras, hingga membuat gadis itu meringis. Entah karena tekanan di pundak atau karena merasa ketakutan.


“Ini hati Rindi, bukan tempat permainan.” Sambil menekan telunjuknya di arah dada. Tatapan Linggar sungguh jauh dari kesan teduh.


“Kamu mau apa?” Tanyanya lagi karena Linggar terus melangkahkan kaki maju sementara ia sendiri harus mudur ke belakang.


Dengan satu tangan Linggar yang bergerak membuka kancing kemejanya satu persatu.

__ADS_1


“Mau ngasi kamu pelajaran.” Ucapnya ketus sedikit sinis.


“Pelajaran tentang bagaimana menjaga hati untuk tetap setia dengan satu orang dalam hidup kamu.”


Meskipun tak dipungkiri jika saat ini tubuh Linggar sedikit gemetar. Otak dan hatinya seperti sedang menimbang


apakah ini berada dalam timbangan degan dua sisi yang berbeda.


Antara melanjutkan atau berhenti.


Namun hanya ini satu-satunya cara untuk mempertahankan kekasihnya itu agar tetap berada di sisinya.


Hingga langkah kaki mereka terhenti di dekat tempat tidur. Sangat mudah bagi Linggar untuk mengukung Rindi


dengan postur tubuh yang sangat jauh berbeda. Dengan kancing baju yang telah terlepas sepenuhnya.


Linggar dengan postur tinggi proporsional sementara Rindi dengan postur tubuh mini yang hanya setinggi dada Linggar.


Dan tubuh yang sedikit lebih g3muk atau bahen0l. Menjadikan pendaratan yang sangat empuk bagi Linggar saat


merebahkannya tepat di bawahnya.


“Kak, jangan macam-macam!” Dengan nada yang telah bergetar menahan bobot tubuh Linggar yang telah berada di atasnya.


Nyatanya Arman tak pernah meminta Linggar untuk menemuinya di hotel.


pembicaraan antara dirinya dengan Arman telah terhenti jauh sebelum ia meletakkan ponselnya. Semua hanya


akal-akalan Linggar.


Dan saat Linggar bertanya pada gadis yang ternyata resepsionis, itu adalah saat pria itu telah melakukan check in untuh satu buah kamar hotel.


Dan Linggar harus merogoh dalam dompetnya hanya untuk membawa Rindi yang katanya akan ia beri pelajaran tentang kata setia.


“Kak, jangan seperti ini? Ini salah!” Ucapnya sambil mencoba menahan pergerakan tangan Linggar pada pakaiannya. Linggar yang mencoba ingin membuka kancing kemeja Rindi.


"Kamu yang salah." Tangan masih bergerak.


"Sejak awal kamu yang salah!"


“Jangan banyak gerak, nanti baju kamu rusak.” Karena Rindi terus melakukan perlawanan.


Ah, lupakan itu! Yang ia perlukan hanya daerah bawah bukan, untuk menyemai bibit.


Dengan segera kembali bangkit, karena Rindi tak sigap hingga mudah baginya untuk membuka pertahanan bawah. Membuat Rindi terlonjak kaget karena gerak cepat dari Linggar.


Tidak! Dia harus bangun!


Rindi segera mendudukan diri berusaha agar bisa melarikan diri dari sosok Linggar yang kini sudah mulai kehilangan akal.


Merasakan dorongan yang sangat keras di pundaknya, membuat tubuhnya kembali terbaring secara paksa.


Dengan Linggar yang kembali menempatkan diri diatasnya.


Linggar siap!


Ia yang tak bisa mengukur seberapa dalam perasaan Rindi padanya. Ia yang telah menyerahkan cinta tulus sepenuh hati, bagaimana dengan Rindi.


Apakah semua ini hanya buaian belaka


Tiga bulan bukan waktu yang singkat untuk mereka berpisah. Terombang-ambing dalam gelombang kerinduan.


Kadang ia hanya mampu menertawakan diri jika kembali mengingat saat-saat ia memanjat pohon hingga hampir mencapai cabang kuat teratas, hanya untuk mengirim vidio untuk Rindi sebagai pelepas rindunya.


Dan kini ia telah kembali, namun apa yang ia dapatkan?

__ADS_1


Bukan sambutan hangat yang ia terima dari sang kekasih. Tapi penghianatan cinta lengkap dengan kelakuan dingin.


Dan jangan lupakan, Rindi yang lebih memilih menghindar dan memblokir nomornya dari pada harus menyelesaikan masalah ini bersamanya.


Apakah ini adil baginya?


Tidak, bahkan ini bagai kutukan cinta yang bersemayam di kalbu.


Ia salah apa? Ia bukanlah seorang Casanofa yang senang berganti-ganti pasangan dan  mempermainkan cinta banyak gadis.


Ia pria yang setia. Bahkan sangat setia.


Selama duduk di bangku kuliah hanya nama Rindi yang mampu tertancap dalam di hatinya. Saking dalamnya, kini mampu merusak organ hatinya yang kini menggelap hanya karena ambisi untuk memiliki gadis ini seorang diri.


Ia juga buka pria pembual yang sering mengobral janji agar mendapatkan kepercayan dari para gadis.


Bahkan Linggar yang telah membawa gadis itu untuk bertemu dengan sang bunda, sebagai tanda keseriusannya.


Tidakkah Rindi melihat keseluruhan cinta dan pengorbanan yang telah ia lakukan?


Linggar tak pernah berpikir seperti ini.


Ini bukan dirinya.


Bahkan sampai detik ini ia tak bisa menangani kegundahannya. Serta tak mampu  menyembunyikan seluruh tubuh yang gemetar.


Saat rudal siap meluncur, Rindi menggapai rahang yang masih mengeras itu.


Linggar hanya mampu menatap balik kecantikan sempurna yang terlukiskan di hadapannya. Merasa tercengang dengan aksi Rindi.


Apakah RIndi akan menyambut perlakuannya?


“Aku yakin kakak orang baik.” Rindi yang masih berusaha menata hati dan mengatur kata demi kata agar Linggar mau berhenti dengan aksinya.


“Kak, kakak gak akan berbuat ini kan? Bunda bisa kecewa kalau tau kita kayak gini. Dan bunda akan membenci aku nanti. Karena aku, kakak jadi kayak gini.” Berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Masih ada sedikit harapan baginya, bukan waktunya untuk menangis.


Kini nasibnya berada di ujung tanduk. Ia harus tetap tenang membujuk singa yang sedang kelaparan di atasnya.


Jika tidak maka tamatlah riwayatnya.


Ya, Linggar membenarkan seluruh kalimat Rindi. Yang menyebut dirinya sebagai pria baik.


Linggar adalah pria yang selalu menghargai wanita. Tak pernah berbuat tak senonoh atau bahkan melecehkan meskipun beberapa gadis yang pernah mendekat padanya sedikit agresif menurutnya.


Mungkin saja. Ini semua memang karena Rindi, hingga pria itu mengambil jalan salah.


Berhasil!


Linggar melemah. Memilih merebahkan diri di sampingnya dengan hembusan kasar terdengar dari pria itu.


Kedua tangan berada di wajah kemudian menyapu ke kepala. Dan kembali beberapa kali terdengar menghembuskan napas kasar hanya untuk mengendalikan diri kembali.


Namun Rindi tak boleh lengah, ia harus benar-benar memastikan keadaan aman. Dengan posisi seperti ini, Linggar masih bisa menyantapnya.


To Be Continued!


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Mumpung masih awal pekan, sumbangin votenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya buat camilan saat nulis.

__ADS_1


__ADS_2