Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Aku Sama Siapa?


__ADS_3

" Ayo turun!" kini Linggar telah berada di samping pintu tempat Rindi duduk terdiam. wanita itu belum ada tanda-tanda untuk turun, diam di tempat.


Hehhh, masih merajuk saja. padahal tadi sudah dibicarakan dan jelas semuanya.


Kembali dengan terpaksa Linggar mengangkat dan mengotong Rindi keluar dari mobil.


Pintu tak dikunci, mengucap salam langsung masuk ke ruang tamu.


Menempatkan Rindy duduk di sofa.


"Ada yang sakit?" Ucapnya ketika berjongkok di depan Rindi. Linggar masih harus membujuk Rindi yang masih betah dalam diam dengan wajah ditekuk.


Tak mengapa, pikir Linggar. Toh wanita itu telah mengungkapkan perasaan yang membuat hatinya berbunga dan berseri.


" Kamu? Linggarkan?" Ibu yang baru saja dari dalam, berhenti sejenak demi memperhatikan pria yang sedang berjongkok di depan putrinya.


Bukannya lupa, tapi melihat kebersamaan pria itu dengan anaknya dengan kedekatan seperti itu sedikit membuat beliau tak percaya. Seingatnya Rindi tak pernah bercerita tentang Linggar. Ah putrinya itu memang sedikit tertutup.


Melihat kedua insan itu justru seperti melihat sepasang kekasih itu yang sedang mojok.


Kekasih? Bukankah mereka baru saja mengutarakan rasa cinta yang sama?


Linggar bangkit dan duduk disamping Rindi dengan sedikit berjarak.


Malu juga sebenarnya tadi kepergok sama ibu.


"Kalian ketemu dimana? Bukannya tadi Perginya bareng Lilis?" Ibu turut mendudukkan diri di sofa berhadapan dengan mereka berdua.


"Tadi enggak sengaja ketemu di cafe Bu." Siap tidak siap gini ya, harus siap dengan segala jenis pertanyaan yang Ibu lontarkan padanya.


Linggar bangkit dari duduknya mengulurkan tangan ke arah ibu melakukan taksim, tadi lupa.


" Terus kenapa jadi cengeng kayak gitu?" Ibu menunjuk dengan wajahnya ke arah Rindi. Wanita itu masiiiiih saja cemberut.


"Tadi keserempet motor Bu. Tapi alhamdulillah Enggak apa-apa kok cuma terus tergores sedikit, hehehehe." Senyum canggung di sumbangkannya.


Otak ikut berpikir bagaimana selanjutnya?


Bagaiman jika ibu bertanya tentang kronologisnya?


Apa yang harus ia jawab? Belumpun sempat menyamakan kata dengan Rindi.


" Udah jangan nangis lagi!" Linggar kembali mencoba menenangkan Rindi. mengusap pelan kepala Rindi dan beralih ke punggung. Mungkin ini salah satu caranya mengalihkan pembicaraan.


" Kak Linggar selingkuh bu. Tadi jalan sama cewek lain. Huaaaaa."


Loh kok?


Mata Linggar seketika membulat penuh. Tak percaya dengan apa yang baru saja rindu ucapkan. Apa lagi maksudnya ini?


"Kan udah dibilangin gak ada apa-apa Rin." Linggar dengan suara pelan dan tertahan. Tak berniat untuk berdebat di depan ibu, malu.

__ADS_1


" Iya tapi kalau aku nggak datang kan jadinya sudah ada apa-apa."


Linggar melirik kesal. Rindi seolah ingin mengadukannya pada ibu. Dibalas dengan lirik kan kesal pula.


Heh, rasain kamu!


"Kan kamu yang duluan. jalan sama cowok lain." Tak ingin menjadi kambing hitam sendiri. Padahal kan memang Rindi yang menjadi biang kerok semua kekacauan ini.


"Udah dibilangin juga, aku sama kak Riswan nggak ada apa-apa." Rindi masih tak mau mengalah.


"Iya kan setidaknya ngomong dulu sama aku, bukannya bohong, bukannya bilang ada deh." Lengkap dengan bibir yang mencibir, dan kedua tangan terbuka menengadah.


Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sebenarnya pusing, tapi tak diberi kesempatan untuk berbicara meski hanya sekedar bertanya.


"Kaliannnn,.... Baikan?" Dan pertanyaan itu mampu membuat perdebatan berhenti seketika.


"Sejak kapan?"


"Ketemunya sejak kapan? Dekatnya Sejak kapan?"


"Kita se kantor Bu, aku pernah jadi atasannya sebelum dipindahkan." Linggar.


Heeeehhh.


Hembusan keras kini terdengar dari ibu. Entahlah!


Mungkin masih banyak yang mengganjal di hatinya.


" Minum dulu! nangis juga butuh tenaga!" Ibu meletakkan nampan di atas meja.


"Kamu juga Gar, minum dulu. Menenangkan orang nangis juga butuh tenaga."


"Sekarang Jelaskan ini kenapa?" Mendengarkan dengan baik, meskipun dari dua versi yang berbeda karena mereka saling menyela satu sama lain. Seperti tak ada yang ingin mengalah.


"Kak Linggar ceweknya banyak bu."


"Loh, kok aku sih? Kapan aku punya cewek lain semenjak jalan sama kamu?"


"Malah kamu yang duluan selingkuh. Sama siapasih tuh dulu mantan kamu, Iqram? Aqram? Imran? Tau deh siapa?" Linggar menyela dengan cepat dan keras.


"AKu gak selingkuh?" RIndi.


"Bukan enggak, tapi hampir. Aku bahkan gak pernah lirik cewek lain selama jalan sama kamu. Kamu aja yang bandelnya bukan main."


"Kita pisah juga dulu kamu nggak pernah terlihat sedih, malahan bahagia banget senyum-senyum sama teman!" Linggar dengan ketus, membayangkan hal itu semakin menambah tingkat kekesalannya saja. Berbeda dengan dirinya yang harus menunda wisuda karena tesis tersendat.


Ibu hanya mampu menundukkan kepala sembari memijat pelan keningnya yang sedikit terasa lebih berat.


Kalau seperti ini, beliaupun tak bisa membantu banyak. Dua-duanya merasa benar dan tak ada yang mau mengalah.


Namun sedikit yang beliau tangkap jika RIndi pernah menyeleweng dari Linggar, entah bagaimana bentuk dan kapan tepatnya iapun tak tahu. Mungkin ini pula yang menjadi sebab musabab terjadinya perceraian itu.

__ADS_1


Sementara dari yang beliau tangkap lagi, Linggar begitu berani dan penuh percaya diri menyanggah semua tuduhan Rindi.


"Jadi itu yang membuat kalian berpisah dulu?"


Pedebatan itu kembali terhenti.


Hening untuk sejenak.


"Sekarang Dengarkan ibu!"


"Buat Rindi, Kalau memang kamu gak bisa setia sama Linggar,...."


Kening Rindi berkerut menunggu ibu yang sengaja menjeda ucapannya sendiri. Sepertinya sedikit sulit untuk diucapkan. Atau memang ibu yang berniat untuk mendramatisir keadaan.


Secara inikan ibu. Ucapannya harus dituruti jika tak ingin disulap jadi batu seperti malin kundang.


"Lepaskan Linggar." Ibu kemudian setelah beberapa lama terdiam. Dengan menutup mata seolah ini memang berat namun terpaksa harus diucapkan.


"Biarkan Linggar melanjutkan hidupnya. Memilih wanita yang lebih setia dan bisa membahagiakannya."


"Kok ibu kayak gitu sih?" Terkejut pastinya. Tak menyangka jika ibu mengulur waktu hanya untuk mengatakan hal yang seperti itu. Terlebih ibu tak membelanya.


"Kalau Kak linggar sama cewek lain terus aku sama siapa?" Kali ini ia mencoba memasang wajah sedihnya.


Linggar dan ibu saling menatap.


"Gar, kamu urus dia!" Perintah ibu sebelum beranjak dari sana. Kepala terasa berdenyut menghadapi kedua anak muda ini.


Tinggallah Rindi dan Linggar hanya berdua di ruang tamu. Saling melirik terlebih dahulu.


Rindi mendekat, Linggar membuka tangan memberikan jalan pada wanita itu untuk masuk ke dalam rengkuhannya. meskipun wajah yang terpasang di sana masih jutek, namun Rasa Bahagia


Rindi menunduk, ternyata ingin tidur di pangkuan nya. Dengan senang hati Linggar akan menerimanya.


"Adedededede,....." Keluh Linggar saat merasakan sakit di paha yang Rindi ditinggali.


Wanita itu menggigitnya dengan keras.


"Sakit Rinnnnn."


"Dasar kanibal betina." Ucapnya kesal sambil menggosok-gosokkan tangan pada pahanya, berharap bisa mengurangi rasa sakit.


Sesayang-sayangnya Ia pada Rindi, tak mampu menghilangkan rasa sakit Akibat gigitan Rindi. bahkan sakitnya seolah menjalar di seluruh kaki.


"Jangan main gigit dong! Gigi kamu itu lebih, jadi lebih sakit kalau gigit."


"Pasti biru ini." Keluh Linggar masih mengusap-usap pahanya. Gigi taring Rindi mampu menembus ketebalan celana jeansnya. Dalam hati Linggar ingin membalasnya.


Wanita cantik dan pendiam itu berubah menjadi manusia tengik jika berada di daerah kekuasaannya.


" Biarin." Rindi terlihat lebih lepas dari sebelumnya. Namun bukan begini juga. Inisih bisa dikategorikan KDRT.

__ADS_1


To Be Continued!


__ADS_2