Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Dijemput


__ADS_3

Rindi kembali mengenakan piyama satin yang tadinya hanya terpasang beberapa menit di tubuhnya.


“Rin, naik sini Rin!” Sampil menepuk pundaknya.


“Gak ah. Aku  bisa jalan sendiri.” Mulai melangkahkan kaki namun terhenti karena Linggar langsung meraih pinggangnya dan menempatkan di atas kasur dengan posisi berdiri.


"Aaaaa,..." Histeris karena kaget saat Linggar mengangkat tubuhnya. Pc rasanya ingin mengeluh saja, tubuhnya terlalu mudah untuk Linggar kendalikan.


“Naik Rin, aku pengen gendong kamu.”Linggar.


“Kamu capek kan? Nah naik biar gak capek jalannya.” Kembali berbalik sambil menepuk punggungnya.


“Nah, gitu dong sayang.” Saat Rindi mulai menaiki punggungnya.


“Tutup pintu Rin.” Menggerakkan kaki Rindi ke arah gagang pintu. Dan sedikit menghentak membetulkan posisi Rindi.


“Rin, kena Rin.” Ucapnya saat merasakan sesuatu di punggungnya.


PLAK


Sebuah tepukan yang terasa panas di bahunya.


“Rin, kena semua Rin.” Disertai dengan kekehan.


PLAK


Di area yang sama.


“Rin, empuk Rin.”


PLAK


"Kakak ish, udah turunin. Aku gak mau digendong kalo gitu." Kesal rasanya karena Linggar terus saja menggodanya. Namun tak bisa dipungkiri iapun senang dengan posisi ini. Bisa memeluk Linggar dengan leluasa tanpa harus ketahuan jika sedang menikmati situasi mesra dengan suaminya.


Kembali sebuah tepukan masih di tempat yang sama. Linggar hanya terkikih senang menggoda istrinya.


“Jangan banyak gerak Rin, kita di tangga ini.”


“Makanya jangan banyak ngomong. Jalannya cepat-cepat. Lapar banget kak. Udah lewat waktu makan.” Bisa dipastikan jika sekerang bibirnya maju ke depan, lalu kembali tersenyum tertahan.


Kembali menghentakkan diri untuk membetulkan posisi Rindi. Kepalanya sedikit berbalik ingin melihat ekspresi istrinya, “Empuk.”

__ADS_1


PLAK


Namun di tanggapi dengan tawa yang menggelegar mengisi seluruh rumah. Ayah yang sedang menonton tv terlihat berbalik menatap Linggar seolah mencari tahu tentang apa yang membuat anaknya terlihat begitu senang,  sementara sang menantu terlihat kesal.


Meskipun tak mendapatkan sesuatu yang lucu di sana namun ayah ikut memamerkan giginya. Beliau tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga anak dan menantunya. Walau yang terlihat hanya sampul dengan isi yang tersembunyi.


“Dasar pengantin baru. Makan aja dipending.” Ucap ayah sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Ayah sudah makan?” Linggar yang masih menggendong Rindi di punggungnya.


“Liatin tuh jam berapa sekarang!” Ayah menunjukkan jam yang tertempel di dinding dengan wajahnya lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan.


“Turunin.” Ucap yang dibelakang dengan sedikit lirih nan manja.


Tak bisa dipungkiri ada rasa bahagia saat Linggar selalu memperlakukannya seperti ini. Ingin terus bermanja jika boleh. Namun rasa risih juga ada. Bermesraan di depan mertua, ya pasti malu lah.


Setidaknyakan Linggar bisa menahan atau menunggu saat ayah dan bunda tak berada disekitar mereka.


“Bentaran, nanti di sana. Ayo ah, lapar.”


“Ampun deh nih pengantin baru. Kerjaannya ngamar terus, gak kasian apa kamu sama istri?” Sapaan dari bunda yang membuat mereka mematung seketika bagaikan telah tertangkap basah sedang melakukan kesalahan.


Bukan sosok bunda atau kalimat yang menyakitkan hati. Namun sosok yang di belakang yang mengikuti bunda, Kak Reno.


Terlebih posisi Linggar dan Rindi termasuk sesuatu yang terlarang bagi Reno.


“Selamat malam om. Waah, ada pengantin baru yang sedang bermesraan nih!” Kalimat itu terdengar sedang menggoda, namun tidak bagi Linggar dan Rindi. Kalimat itu, terasa bagaikan sebuah gertakan dengan emosi tersembunyi.


Sangat mengerti akan maksud kakaknya, Rindi meluruhkan diri turun dari punggung yang tadinya terasa hangat dan menentramkan. Dan Linggar tak mampu lagi menahan tubuh Rindi untuk tak menjauh darinya.


“Eh, ada kakaknya Rindi. Masuk Ren,” Ayah berbalik melihat sosok Reno yang masih berdiri di gawang pintu.


Dengan senyuman palsu tersumbang buat kedua orang tua Linggar. Reno turut bergabung dengan semua orang yang telah berada di ruang tengah itu. Kumpul keluar pikirnya.


“Malam om, apa kabar?” Tangan terulur untuk menyalami.


“Baik-baik. Kamu, gimana kerjaannya? Baik juga.”


“Iya om, ini masih sibuk. Maaf jarang berkunjung. Apalagi istri saya sedang hamil jadi butuh dampingan ekstra juga.” Sedikit basa-basi agar terlihat akrab.


“Iya, om juga sibuk. Kadang malam baru ada di rumah, bagus juga kalau gak keluar kota.” Ayah sedikit terpancing dengan pembicaraan Reno.

__ADS_1


Sementara kedua orang dibelakang masih berdiri mematung tanpa kata satupun yang terucap. Lebih memilih menundukkan pandangan dan mempersiapkan hati. Apa lagi yang akan mereka hadapi setelah ini.


“Oh, ini om. Kedatangan saya ke sini untuk menjemput Rindi. Bapak sedang ada kerjaan di luar kota, dan ibu sendiri minta di temani. Sementara saya juga kasihan buat bawa istri saya malam-malam dalam keadaan hamil besar.” Reno sedikit membukkan badan, menunjukkan rasa hormatnya.


Apa tadi dia bilang? Bapak ada kejaan keluar kota? Siapapun yang mengenal merekapun tahu, kalau ayah sudah pensiun dan lebih memilih membuka toko dan mengurus kebun di belakang rumah.


Konyol!


Memang tidak ada alasan lain apa?


“Yaaah, merekakan baru saja datang. Itu juga ngamar melulu.” Bunda yang sedang menggoda Linggar dan Rindi, berikut tawa dengan tangan yang berada di depan mulut.


Ngamar?


Satu kata yang seolah menjadi bom bagi Reno, Linggar dan Rindi.


Satu kata yang amat sangat terlarang untuk Linggar dan Rindi yang telah dicangkan oleh Reno.


Apa yang mereka perbuat di dalam kamar? Hanya berdua dan tanpa gangguan?


Main petak umpet?


Iya, petak umpet. Sesuatu yang ada di tubuh Linggar disembunyikan dalam diri Rindi.


“Yah, maklum lah pengantin baru. Sekalinya liat kamar yah gitu. Kayak orang yang gak pernah liat kamar berbulan-bulan.” Ikut tersenyum namun tatapannya begitu tajam ke arah Linggar.


“Emm, Linggar tetap di sini gak papa kok tante, pasti juga rindu sama keluarganya. Saya cuma butuh Rindi buat temanin ibu.” Ucapnya lagi.


Apa maksudnya itu? Lagi-lagi ingin memisahkan mereka. Lalu mereka bisa apa?


Seketika itu pula senyum bunda seolah luntur, berganti muram. Kini bunda telah menangkap maksud pembicaraan dari Reno.


Beliau tahu, jika keluarga Rindi belum menerima Linggar dengan baik. Tapi melihat kebahagian antara Linggar dan Rindi, apakah mereka masih ingin memisahkan sepasang kekasih ini.


Bunda menatap Linggar dan Rindi secara bergantian. Tadi keduanya nampak sangat bahagia, bercanda dan tertawa.


Namun semuanya telah berganti. Kesedihan terlalu nampak di mata mereka. Kini mereka hanya menunduk mendengarkan penuturan Reno.


Pasti sakit rasanya saat dipisahkan dengan orang yang di sayangi.


“Rin, boleh cepat gak. Kasihan istri kakak yang lagi hamil nungguin.” Dengan membawa wanita hamil, siapapun pasti akan luluh.

__ADS_1


To Be Continued!


Mohon like dan komennya.


__ADS_2