Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Kerja Keluar Kantor


__ADS_3

BUG.


Ayah segera berbalik saat mendengar suara gaduh dari arah belakangnya.


Mata melebar penuh ketika melihat tubuh bunda tengah tergolek di lantai tanpa alas. Padahal baru saja wanita itu membantu menyimpul dasinya.


"Bund, bunda bangun bund!" Ucapnya penuh rasa khawatir sambil menepuk-nepuk pelan pipi sang istri.


Tiga hari menemani Linggar di Rumah Sakit dengan intensitas jam istirahat yang sedikit amburadul, mampu membuat kesehatan bunda drop.


Belum lagi memikirkan tentang nasib putranya yang masih menunggu keputusan bunda.


Tubuh, hati dan pikirannya jauh dari kata tenang.


Demi menunggu sang istri siuman, pria itu mengurungkan niatnya ke kantor hari ini.


Lebih memilih menemani bunda sambil menunggu dokter yang akan datang memeriksa.


Beberapa kali hembusan napas, ayah yang masih tenang sambil menggenggam erat tangan sang istri.


Sekeras kepala apapun wanita ini, hingga mengorbankan semuanya.


Ayahpun bisa apa, saat wanita yang ia cintai itu mengambil keputusan sendiri.


Wanita itu baru pulang tadi pagi, hanya sekedar membersihkan diri dan mengambil makanan untuk di bawa kembali guna menemani sang putra.


"Bunda kenapa yah?" Putri sulungnya yang baru saja datang saat dokter telah selesai memeriksa bunda.


"Cuma kecapean." Ayah menjawab, tak lupa memberikan senyum menenangkan untuk putrinya. Kemeja dan dasi masih melekat di badan. "Gak pa-pa kok."


"Gak pa-pa gimana, diinfus kayak gitu bilangnya gak pa-pa."


Ayah tetap menyumbangkan senyum di wajah meski sang putri sedikit panik.


"Cuma butuh istirahat sedikit, kemarin-kemarinkan susah tidur di RS."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rindi tak pernah tahu alasan apa yang dibutuhkan untuk keluar kantor bersama Pak Mirza.


Dirinya hanyalah seorang staff biasa, pun dengan ranah kerjanya yang tak ada sangkut pautnya dengan luar kantor.


Mengabaikan telpon yang baru saja ia terima langung dari asisten bos besar yang menyuruhnya untuk bersiap sebentar lagi. Lebih memilih melanjutkan pekerjaan yang bertumpuk di hadapannya.


“Sudah siap?” Suara itu membuatnya terhentak kaget.


“Kita mau ke mana pak?” Tanyanya dengan tubuh yang tegak seketika.


“Saya tunggu di lobi lima menit lagi!” Lanjut Mirza sedikit kesal saat mendapati Rindi justru tenggelam pada pekerjaannya, lamban gerutunya dalam hati.


Segera meninggalkan ruangan itu dengan para penghuni yang saling melempar pandangan.


“Kemana Rin?” Kamil.


“Gak tau, Cuma tadi bilangnya di suruh temani pak Mirza keluar.” Dengan tangan yang bergerak gesit mengatur barang-barang pribadi guna memasukkan dalam tas. Jangan lupa buku agenda dan ballpoint! Ia tak tahu hari ini keluar kantor dalam rangka apa.


Mngkin sebagian dari mereka mungkin berpikir jika RIndi telah disiapkan untuk posisi yang lebih tinggi lagi.


“Kita mau ke mana pak?” Pertanyaan yang sama, yang entah keberapa kalinya Rindi lontarkan saat mereka dalam perjalanan.


Dan, “Sebentar lagi sampai.” Jawaban yang telah beberapa kali pula ia dengar dari pria yang ia anggap sebagai partner kerja Linggar ini.


Perjalanan terasa sangat panjang, bersama pria yang super duper cuek seperti pria ini. Tak ada seru-serunya. Pantas saja sebagian orang akan terlihat sedikit lebih tua dibandingkan usia yang seharusnya. Mungkin salah satu faktor adalah lingkungan kerja dan orang-orang sekitarnya.

__ADS_1


Dan ini yang terjadi pada Rindi saat bersama Mirza, suntuk rasanya.


Dan mungkin saja, kerutan di wajah bertambah berkali-kali lipat hanya dengan hari ini.


Tak ingin bertanya lagi, toh percuma saja, ia tak kan menemukan jawabannya.


Terus berjalan di koridor Rumah sakit. Semakin ke sini, hati justru semakin penasaran.


Mirza membuka pintu ruang perawatan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Tidak sopan, lagi-lagi Rindi hanya bisa menggerutu dalam hati.


Memilih tetap berada di ambang pintu meskipun Mirza telah beranjak masuk. Ia tahu ini ruang perawatan siapa, Linggar.


Ah, mungkin saja Pak Mirza ingin menjenguk Linggar terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.


“Hai bro, udah baikan?” Suara Mirza, pun terlihat mereka saling menubrukkan tangan yang dikepalkan.


“Baik.” Jawaban singkat dari Linggar.


Baik apanya? Kembali ia menggerutu. Sempat mencuri pandang ke arah dalam, kantong infus terlihat menggantung di sisi tempat tidur.


“Aku bawain bidadarimu, moga bisa bantu dalam proses penyembuhan,” Suara Mirza yang diiringi dengan kekehan. “Masuk!” Perintah pria itu lagi.


Siapa yang pak Mirza maksud dengan bidadari itu?


Dirinya kah?


Perlahan menapaki kaki melewati gawang pintu dengan semburat merah yang berupaya ia sembunyikan.


Pun demikian dengan pria yang setengah berbaring di ranjang pasien itu.


Keriduan yang sekian lama bersemayam serasa terobati hanya melalui pandangan mata yang seolah enggan untuk saling mengakhiri.


"Thank's." Teriakan Linggar menggema. Entah ucapan itu terdengar oleh pria yang kini sudah tak terlihat wujudnya lagi atau tidak. Ia terlalu terpana dengan kehadiran RIndi hingga lupa mengucapkan kata itu tepat waktu.


Dalam hati, iapun mengucapkan terima kasih pada om yang berlaku sebagai atasan langsung di kantornya. Sebab semua ini pasti perintah dari pria itu.


"Pa kabar?" Ucap Rindi mulai mendekatkan diri dengan ranjang pembaringan Linggar.


"Kan udah liat sendiri." Linggar dengan mengulurkan tangan sambil mengibas-ibaskan jemari. Meminta Rindi sudi menyambut tangannya.


"Kok bisa sih?"


Pertanyaan Rindi hanya mampu Linggar jawab dengan hembusan napas keras. Sungguh ia tak ingin membahas masalah ini dengan wanitanya itu.


"Kamu gak kerja?"


"Astaga, aku lupa. Tunggu yah!" Rindi merogoh tas mencari ponsel.


"Kak, ada nomornya pak Mirza kan?" Tanyanya setelah sekian lama mengotak atik ponselnya.


"Kenapa?"


"Tanyaain kerjaanu hari ini apa?"


"Tadi dia bilang mau ditemani keluar kantor, kok sampe sini sih?" Gerutunya.


Rindu yang tadi sempat menyerang, untuk sementara di tangguhkan dulu saat mengingat pekerjaan kantor yang  bertumpuk segudang.


"Halo, bro. Rindi nanya, dia hari ini kerja apaan?" Pertanyaan yang langsung Linggar lontarkan saat sambungan ponselnya terjawab.


"Dia kerja jagain kamu. Bilang hari ini tetap di hitung kerja seperti biasanya."

__ADS_1


Pernyataan yang langsung membuat kening Linggar berkerut.


Apa Rindi percaya?


"Coba ulangi yang kencang biar dia denger!"


Menekan tombol spekear di ponselnya.


"Bilang sama Rindi, hari ini tetap di hitung kerja seperti biasanya. Kerjanya bantuin jagain kamu."


Kedua kembali saling pandang.


Enak sekali nasib Rindi, jagain pacar gaji tetap jalan.


"Tunggu yah!" Ucapnya pada Linggar.


"Mil, aku ijin yah!" Sambungan tersambung dengan ponsel milik Kamil.


Rasanya tak terima jika hari ini gajinya tetap jalan tanpa bekerja.


"Kenapa? Aduuuuuhhhh Rin,.... Kamu ke mana sih? Pekerjaan banyak banget tau."


"Kamu lupa hari ini tutup buku. Aku gak bisa hendle semuanya. Bisa-bisa aku pulang selesai kunti ronda."


Belum apa-apa KAmil sudah mengeluh duluan.


"Aku lagi di rumah sakit, temani kak Linggar."


"Aduuuuh Rin,....kamu tinggalin kita dengan kerjaan banyak hanya buat pacaran doang?" Dengan nada yang terdengar kesal pastinya.


"Gini deh, aku kirim kerjaan ke email kamu yah. Kamu kan cuma jagain doang. Pasti bisa dong!"


"Aduuuuh Rin,.... Mana kamu gak bawa laptop lagi." Gerutu Kamil seolah tak henti*.*


Sementara Linggar dengan tenang memainkan rambut kuncir kuda sang kekasih.


Sebentar kemudian tangan mulai berpindah ke pipi, mengelus.


"Kak, apaan sih?" Ucap Rindi yang sedikit risih dengan tingkah Linggar.


"Aduuuh, Rin...... Pulang dong! Banyak kerjaan ini."


"Pc, gak penting banget kamu. Pacaran di saat seperti ini."


"Gini aja, kamu minta sopir kantot suruh kirim laptop sama berkas-berkas ke sini. "


"Kita bantu dari sini, gimana?"


Rupanya pria yang dianggap abai dan cuek itu menyimak semua pembicaraan Kami dan Rindi.


"Emmm, wangi banget." Ucapnya kembali mengendus tepat di samping Rindi.


"Heh,"


Keduanya tersentak saat seseorang membuka pintu secara tiba-tiba tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Linggar yang tadinya duduk sedikit bersandar di pundak Rindi, langsung membuang punggung menjadi berbaring.


Sementara Rindi yang tadinya duduk dipembaringan Linggat, sontak melompat turun begitu saja.


Bunda!


To Be Continued!

__ADS_1


__ADS_2