
Brakkk.
Pintu kamar Linggar terbuka secara paksa dan tiba-tiba.
Ternyata Arman lah pelakunya. Pria itu baru saja tiba dari luar kota, bukannya pulang ke rumah justru langsung menemui Linggar di rumahnya akhir pekan itu.
"Ooooiiii, Ketuk pintu dong, masuk ke kamar orang main seruduk aja." Linggar setengah berteriak, dengan sebelah kaki yang belum masuk ke celana jeansnya. Onderdil terpampang nyata.
Kaki melayang ke arah Arman. Tak kena, pria itu berhasil menghindari tendangannya. "Heleeeeh biasa juga langsung masuk."
"Ngapain pagi-pagi bertamu ke rumah orang?" Linggar melanjutkan aktivitasnya mengenakan pakaian, bersiap ke kampus.
"Kamu balik sama Rindi?" Arman mulai menginterogasinya.
Linggar menghembuskan napas pelan. Lagi-lagi pembahasan tentang Rindi.
"Apa tak ada wanita lain di muka bumi ini sampai kamu rela menjatuhkan harga dirimu pada satu wanita?"
Kening Linggar berkerut, ia tak pernah merasa menjatuhkan harga dirinya demi Rindi. Jikapun pernah, itu adalah kejadian dua tahun silam. saat ia merenggut kesucian wanita itu.
Untuk masa kini, tidak.
Bahkan pernah berniat melepas Rindi, jika wanita itu mau. Tapi yang ada, wanita itu tetap ingin berada di sampingnya dengan sukarela.
Dan kini, meraka telah saling memaafkan dan saling menerima semua dampak dari kejadian itu.
"Kamu dapat info dari mana?" Sedari tadi Linggar membiarkan sahabatnya itu berceloteh, namun terusik jua oleh ungkapan itu.
"Tika." Arman menepi, mendudukkan diri di tepi ranjang. Sepertinya obral itu sedikit lebih panjang dan serius.
"Dia telpon aku. Katanya kamu balik sama mantan, karena Rindi mau bunuh diri?"
"Hahahaha," Tawa Linggar pecah. Dalam otaknya tak pernah mengingat jika Rindi pernah melakukan upaya bunuh diri. Bodoh sekali. Tanpa mengancampun Linggar dengan senang hati akan merengkuh Rindi.
__ADS_1
"Masih ngarap banget sama kamu." Melanjutkan ocehannya meski kening kini tengah melengkung karena bingung, Linggar tertawa karena apa?
"Lagian kenapa lebih memilih Rindi daripada Kartika sih?"
"Manis sama cantik aja gak cukup untuk menjadi seorang istri yang baik. salah satunya butuh kesetiaan dan cinta juga, itu yang terpenting."
"Orang telah berselingkuh, tak menutup kemungkinan akan kembali selingkuh."
"Kamu hitung aja, berapa kali cewek itu selingkuhin kamu! Berapa kali dia nyakitin kamu? Dan kamu masih setia mengorbankan segalanya untuk cewek macam dia?" Di akhir katanya penuh penekanan dan ejekan.
"Apasih yang kurang dari seorang Kartika?"
Ternyata pembacaan tuntutan belum jua selesai. Tak ingin menyinggung tentang aksi bunuh diri lagi, takut jika info yang ia dapat ternyata salah.
Entah bagaimana caranya Linggar menepis semua prasangka buruk Arman tentang Rindi.
Semuanya telah berubah seiring pergantian waktu. Membuat mereka dewasa dan saling mengenal satu sama lain. pun dengan dirinya dan Rindi.
Bagaimana meyakinkan Arman tentang Rindi yang kini telah menerimanya dengan tangan yang terbuka tanpa adanya paksaan seperti dulu kala.
"Aku ada kuliah," Bukannya menjawab Linggar justru bersiap untuk berangkat. Tas ransel telah bertengget di pundak.
Lebih baik diam, dari pada membantah. Tak ingin kesalah pahaman terjadi antara dirinya dengan sahabat baiknya itu.
Arman selalu ada untuknya. pun saat ia dulu terperosok karena Rindi, Armanlah yang membantunya bangkit. menarik tangannya agar kembali berdiri tegak. Arman adalah sahabat terbaiknya, dan ia tak ingin ada perselisihan antara mereka berdua.
Linggar tak ingin kehilangan siapapun lagi, termasuk Arman dan juga Rindi.
Tak mungkin ia bersama Kartika sementara hatinya telah penuh dengan Rindi.
Tak pernah terbayangkan betapa sulitnya memendam rasa sendiri. Itu yang ia rasakan selama dua tahun ini.
Apalagi setelah mendapatkan pengakuan cinta dari Rindi, ia benar-benar bisa. Tak bisa lagi tanpa Rindi.
__ADS_1
Hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Masih mau tinggal?" Ucapnya berbalik ke arah Arman sebelum menekan hendle pintu kamar.
"Aku belum selesai ngomonggggg." Arman sedikit menahan geramnya. Kantuk menyerang, tapi sang tersangka ingin melarikan diri.
"Aku ada jam kuliah, dosennya killer bro." Linggar masih terlihat santai meski otak sedang berpikir. Ingin semuanya tetap terkendali dan aman, pun dengan hatinya.
"Buka mata kamu Gaaaar, buka!" Sambung Arman penuh penekanan.
"Kita nikah berharap sekali seumur hidup. Bukan berkali-kali." Rasa kesal semakin nyata. Tahu jika Linggar mencoba menghindari topik.
"Aku pergi yah!" Linggar pamit.
"Haaaah." Arman Sambil membanting tubuh sendiri di atas kasur. "Aku ngantuk."
"Jauh-jauh ke sini biar bisa bikin kamu sadar dari santet nyi pelet tapi gak berhasil."
"Tidur aja! Udah dapat cuan banyak, tinggal nyari pengatur keuangan sekaligus teman tidur."
"Enak loh bro." Lanjutnya dengan kerlingan mata menggoda.
"B@ng s@t."
Linggar buru-buru menutup pintu, menghindari sepatu melayang milik Arman.
Di balik pintu, tawanya pecah seketika.
Bayangan rindi yang tertidur lemas di bawah selimut justru berhasil melintas.
"Arrrghhh, si@l," geramnya sendiri. padahal hanya bermaksud menggoda Arman, justru berbalik padanya.
\===============
__ADS_1
To Be Continued!
Buat reader yang tercantum dalam karya, jangan marah yah!!!!!