Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Rindu itu Berat Seberat Mencari Signal


__ADS_3

Baru pertama bertemu udah ditawari nikah?


“Coba bunda bilang dari kemarin-kemarin, aku mah siap nikahin dia. Lah ini aku besok udah berangkat, jadi harus nunggu tiga bulan lagi bunda.”


“Kita masih kuliah tante.” Ucapnya.


“Ya udah, bunda cuma ngingatin kalian aja. Tapi kalau memang udah ngebet banget lebih baik kalian nikah, jangan sampai salah jalan!”


“Ingat kalian masih tanggung jawab kami para orang tua, jadi kalau kalian salah langkah otomatis kami dulu yang nantinya diminta pertanggung jawaban baru kalian. Ngertikan?”


Ternyata bunda Linggar seseorang yang sedikit religi. Dan seorang gadis bertamu ke rumah laki-laki bisa jadi


penilaian negatif.


“Ya udah, bunda tinggal dulu. Rindi kayaknya malu sama bunda deh. Iyakan Rin?”


“Gak kok tante, mungkin belum terbiasa saja.”


“Jadi harus dibiasakan dulu nih?” Linggar yang seolah siap untuk membiasakan pertemuan antara kekasihnya dengan bunda.


“Aiisss,” tanpa sadar memberikan tatapan tajamnya pada Linggar.


“Ya, udah kalian ngombrol aja dulu. Bunda mau nyiapin makan buat kalian!”


“Gak usah bunda, kita udah makan tadi di mall.” Jawabnya cepat, ia harus segera meninggalkan tempat itu. Sebelum nilai negatif semakin mengurangi


“Ke mall? Gak ada yang kuliah?” Bunda kini menatap mereka dengan mata terbuka sempurna. Kini nilainya  Semakin berkurang.


“Jadi siapa yang ajakin siapa?”


Kok jadi serem yah?


“Linggar yang ajakin bolos bun!” Jawab Rindi cepat, tak ingin nilainya semakin berkurang.


“Bun, besok aku udah pergi, Cuma mau habisin waktu sama Rindi. Kami gak ngapa-ngapain kok. Beneran.  sumpah!” Mengacungkan simbol dua jari ke arah bunda, dilengkapi dengan wajah yang sedikit memelas. Berharap bunda menegerti dengan perasaannya saat ini.


Perasaan yang seolah enggan berpisah dengan Rindi. Perasaan yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama kekasihnya sebelum rindu datang menyerang.


“Iya, tapi kalian bolos, gak masuk kelas?”


Ternyata wajah imut Linggar tak mampu membuat bunda menjadi luluh.


“Sini kamu!” Tanpa jeda kini telinganya sudah terlilit karena ulah sang bunda.


“Ya, ampun bunda. Sakit bun.”


“Bun udah! Malu tuh diliatin Rindi.” Sambil menepuk pipinya sendiri, mungkin sedang mengalihkan rasa sakit karena hukuman bunda kini tidak main-main di telinganya.


“Kamu, bukannya ngajakin yang bener eh malah ngajakin bolos kelas.” Bunda dengan tangannya yang masih betah


bersarang di telinga Linggar, membuat pria itu terus memohon ampun.


“Awas, lain kali ngajakin anak orang bolos lagi!”


“Iya bun, ini yang terakhir. Aduh, sumpah bun, panas ini!” Ucapnya masih mengelus pipinya dan terus menjauh


dari sang bunda yang baru saja melepaskan tangan dari telingannya.


“Bunda masuk dulu!”

__ADS_1


“Duh, bunda sadis banget! Gak kasihan sama anaknya apa?” Celotehnya sambil memandangi sosok bunda yang berjalan menjauh dari mereka.


“Rin, mau jalan-jalan ke samping? Liat tempat ngumpulku sama anak-anak?” Tanyanya, namun seolah tak ingin menunggu jawaban dari Rindi karena ia telah berdiri dengan tangan yang terulur ke arah Rindi.


Dan saat ini mereka telah berada di teras samping rumah Linggar. Duduk berdampingan di sebuah kursi malas, dengan dua gelas minuman berwarna serta sepiring irisan brownies.


“Lapangan ini kita loh yang buat.” Sambil melirik ke arah Rindi lalu beralih menatap lapangan basket yang berada di depan mereka. Ada rasa banggas saat memperlihatkan salah satu karyanya bersama dengan teman-teman.


“Aku, Arman sama teman-teman yang lain. Eh, sama mantan kamu juga! Ayah yang siapin bahannya.”


“Mantan? Siapa? Fery?” Rindi menoleh ke arah Linggar yang berada di sampingnya.


Fery? Apakah Linggar dan Fery sangat dekat?


“Bukan, Erlangga.”


“Aku gak pernah pacaran sama dia kok!” Mengalihkan pandangan kembali ke arah lapangan basket yang masih sedikit menyilaukan, membuat mata harus sedikit menyipit.


“Iya, belum sempat. Keburu pacaran sama Fery kan?”


Ternyata pria ini tahu hampir seluruh hidupnya.


\========


Dari pada ikut bergabung dengan teman-teman yang telah siap di dekat bus masing-masing, Linggar lebih memilih berdua dengan Rindi. Menghabiskan waktu sebelum ia benar-benar pergi.


Jika bisa ia ingin mengikut sertakan Rindi bersamanya. Menyembunyikan gadis itu di dalam ranselnya. Jangan lupa sebuah dos berisikan ikan asin bekal dari bunda yang telah naik ke bus terlebih dahulu.


Kata bunda, “ Buat bekal, kita tidak tau kondisi di sana bagaimana.”


Baru beranjak dan melepas tangan Rindi saat panggilan terakhir untuk naik ke bus masing-masing. Tak lupa pelukan hangat yang katanya terakhir itu, dan mungkin ini memang akan menjadi yang terakhir kalinya.


“Rin, sekali-kali kamu ke rumah dong ketemu bunda!” Pintanya.


“Ya udah, tunggu aku pulang aja baru kita ke rumah lagi.”


“Jangan lupa telpon. Jangan nakal yah! Awas!” Ancaman yang disertai dengan senyuman.


\======


Di sebuah desa yang terletak di daerah pegunungan, jauh dari hiruk-pikuk kota, dengan udara yang bersih jauh dari polusi cocok untuk pembersihan saluran pernapasan.


Perjalan yang begitu sangat--sangat terasa panjang dan amat melelahkan.


Bagaimana tidak, ternyata naik bus saja tidaklah cukup untuk perjalanan mereka.


Sebuah sungai harus mereka lintasi terlebih dahulu, sebelum akhirnya kembali menyusuri jalan berbatu hanya dengan bantuan sepatu yang melekat di kaki mereka.


Jangan lupakan Linggar yang membawa sebuah dos berupa bekal dari sang bunda.


Beruntungnya teman-teman yang lain mau mengerti hingga secara bergantian membawa dos itu.


Toh, nantinya akan mereka nikmati juga!


Suasana tenang dan udara yang sejuk dan bersih.


Sangat pas untuk melepaskan kepenatan setelah beraktifitas yang sangat melelahkan, namun untuk bertahan selama tiga bulan? Masih butuh pemikiran hingga beratus-ratus kali, apalagi jika di tambah dengan rindu yang  semakin hari semakin memberatkan hati.


Tak butuh waktu lama untuk mereka merasakan rindu. Bahkan semalam saja, seolah telah mengabiskan waktu seperti setengah abad. Apalagi tempat yang Linggar datangi ternyata tak memberikan kesempatan yang baik untuk berkomunikasi.

__ADS_1


Linggar bukanlah manusia satu-satunya yang merasakan rindu yang kian memberat. Teman-teman yang lain juga.


Rindu pada keadaan rumah yang ramai dengan rancauan sanak keluarga.


Rindu dengan masakan mama yang selalu membuat lupa diri hingga menambah porsi berkali-kali. Dan rindu pada


kekasih hati pastinya.


Dan mereka saling bahu membahu, tolong menolong selama mereka berada jauh dari tempat tinggal.


Termasuk dalam mencari sinyal hanya untuk memberi kabar pada orang-orang kesayangan.


Butuh perjuangan ekstra bagi mereka hanya untuk mendapat satu dari di ujung kanan atas layar ponsel mereka.


Berlari ke sana-ke mari dengan tangan terangkat tinggi-tinggi sambil menggenggam ponsel atau memanjat pohon.


Kesulitan komunikasi itu membuat perlahan-lahan menghilangkan kebiasaan Linggar dan Rindi saling menyapa lewat layar ponsel.


“Hai sayang, apa kabar?” Sambil melambaikan tangan ke kamera.


“Aku gak bisa selalu hubungi kamu, di sini sinyalnya kurang baik.”


“Ini cuma bisa bikin vidio terus kirim buat kamu, jadi kalau kamu rindu aku, buka vidio ini saja.”


“Rin, peluk!” Ucapnya sambil bertingkah manja.“Di sini dingin, kalau malam tuh, beuh dingin banget.”


“Gimana kuliahnya? Baikkan? Di sana gimana? Gak bandel kan?”


“Salam ya sama Lilis, bilang sama Lilis, sama teman-teman kamu juga buat jagain cewekku yang di sana!”


“Bilangin sama Lilis buat marahain kalau cewekku lagi macam-macam!”


“Rin, kangen tau!”


“Rin, kirim vidio juga yah! Buat obat kangen juga.”


“Udah dulu yah! aku mau kirim vidio ini dulu. Abis bikin vidio ini, aku harus panjat pohon buat ngirim ini vidio.”


“Di situ tuh! Pohon yang sana!” Sambil mengarahkan kameranya ke sebuah pohon mangga dengan beberapa ranting besar tempatnya berpijak jika berada atas.


Ternyata ada satu teman yang baru saja turun dari tempat yang baru saja ia tunjukkan. Mungkin melakukan hal yang sama dengannya, merekam lalu mengirimkan vidio, atau mungkin melakukan panggilan saat berada di atas pohon?


“Tuh, lihat kan. Bayangin perjuangan aku hanya untuk memberi kabar buat kamu. makanya kamu kirim vidio juga yah. Aku cuma mau liat muka kamu saja.”


“Eh, jangan lupa kirim vidionya. Kangen tau Rin.”


“Ya udah dulu, aku sayang kamu. Awas jangan nakal! Gak usah lirik-lirik cowok lain. Sebentar lagi aku pulang!”


Mematikan kamera yang sejak tadi merekam seluruh aktivitasnya. Berdiri sejenak sambil memandang ke arah pohon yang menjulang tinggi menjadi tujuannya.


Ternyata bukan hanya rindu yang berat. Tapi mencari juga sinyal juga berat.


To Be Continued!


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Mumpung masih awal pekan, sumbangin votenya dong!


Duh ngantuk.

__ADS_1


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya buat camilan saat nulis.


__ADS_2