
Cerita ini hanya fiksi belaka.
Cerita ini berdasarkan hasil pemikiran dan ide-ide author.
Ambil baiknya dan buang buruknya.
Konflik yang diciptakan hanya untuk menambah daya tarik pembaca. Dan tidak untuk di tiru.
Dosa dan hukuman pembaca tanggung sendiri.
Halusinasi, imajinasi dan segala bentuk yang bersifat hayalan dan mimpi di perkenankan.
Dan mohon maaf, jika konflik yang tercipta hampir mirip dengan beberapa kisah nyata di luar.
Selamat membaca!
Dan jangan lupa oleh-olehnya.
\=========
Rindi berusaha bangkit meski harus memaksakan diri. Ia harus segera meninggalkan tempa luck nut ini. Berlama-lama di sini, bisa membuat dirinya kembali diterkam oleh singa kelaparan.
Pelan-pelan melangkahkan kakinya meninggalkan kasur yang telah terhiasi warna merah miliknya.
Ah... perih! Sakit!
Menggengam erat bathrobe yang melekat di tubuhnya. Selangkah demi selangkah entah mengapa perihnya semakin terasa.
Tak butuh waktu lama akhirnya ia luruh ke bawah seiring genangan air yang kini tak bisa lagi dibendung. Setetes
demi setetes seolah berlomba membasahi pipinya. Kepala tak mampu lagi terangkat.
Tertunduk, tertunduk dan mungkin akan semakin tertunduk.
Berikut tubuh yang telah mendarat dilantai. Ia masih mencengkram erat bathrobe di bagian depannya, bahkan semakin erat seolah ini akan mampu menghilangkan segala perih yang ia rasakan.
Namun tidak semudah yang dibayangkan.
Mendapati diri dengan keadaan seperti ini, justru lebih sakit dari pada sakit fisik yang ia rasakan.
Aduhai, Sungguh malang nasibnya kini.
Rupanya ia telah kehilangan mahkotanya.
Bagai madu yang telah ia simpan rapat ternyata telah dihisap lebah liar membuat satu persatu kelopaknya terjatuh,
menyisakan tangkai tanpa bunga.
Tapi ini bukan salahnya. Ia hanya ingin mencari yang terbaik dari yang terbaik.
Dirinyalah yang salah! Ia yang salah! Batin yang terus saja menyalahkan diri sendiri.
Tak mendengar saran Lilis untuk tak bermain dengan perasaan. Menambahkan satu nama di sisi lain hatinya.
Mengidahkan peringatan Linggar, untuk kembali seperti sebelum Linggar pergi.
Seandainya, ia tak bertemu dan melangkah bersama Iqram!
Seandainya, ia mendengar setiap saran Lilis!
Seandainya, Linggar tak usah pulang dulu!
Seandainya, waktu bisa diulang kembali!
Banyak hal yang bisa terjadi hanya dengan kata seandainya.
Apapun akan ia dapatkan hanya dengan kata Seandainya.
Namun seandainya adalah hanya sebuah kata tanpa wujud.
Iya, baiklah!
Ia akan kembali bersama Linggar, menjalani hari seperti semula. Pergi dan pulang ke kampus bersama, hanya itukan? Tidak terlalu sulit.
Tapi bisakah dirinya kembali seperti semula juga?
Andaikan ...........
Bolehkan semua kembali seperti semula?
Terlambat!
__ADS_1
Dunianya telah hancur.
Dirinya kini tak lagi suci.
Mahkotanya telah hilang.
Menyesal kini tiada berarti.
Kata-kata itu sungguh hanya sebatas kata tak lebih.
Apakah dirinya tiada berharga?
Ingin berlari sekencang-kencangnya namun apa daya untuk berjalan beberapa langkah saja kini semakin sulit. Mungkin tidak sulit, toh dirinya bukan satu-satunya wanita yang mengalami hal seperti ini.
Masih berusaha menguatkan diri sendiri.
Namun jika tidak ada bayang penyesalan itu sungguh sangat memberatkan punggungnya. Apa yang harus ia
salahkan?
Ia hanya mampu menepuk keras dadanya seolah ini mampu menepis semua rasa sakit yang ia rasakan. Sakit yang
menerjang tubuhnya, dan sakit saat mengingat keadaannya saat ini.
Ini sungguh sangat menyakitkan.
Air mata seolah semakin tak terbendung. Turun secara beriringan, dari satu titik di sambung titik-titik yang lainnya.
Linggar tahu Rindi pasti akan sakit karena ia telah melewati batasannya. Namun ia melakukan semua ini karena
Rindi.
Menghampiri Rindi dan mulai memeluk tubuh lemahnya sendiri. Menahan tangan yang sedari tadi memukul diri
sendiri. Sementara gadis itu tak menolak, tubuhnya tak kuasa untuk melakukan hal apapun lagi.
Termasuk untuk hidup. Rindi tak memiliki semangat.
Inipun sama menyakitkan Linggar. Namun apa yang harus ia lakukan untuk mempertahankan kekasihnya?
“Rin, jangan seperti ini! Aku mohon! Aku akan tanggung jawab.”
“Komohon jangan seperti ini! Aku sayang kamu Rin. Kita jalani sama-sama. Aku gak akan meninggalkan kamu!” Ucap Linggar yang masih merengkuh erat gadis yang baru saja ia hancurkan masa depannya.
mampu lagi.
Jika saja masih dibolehkan ia masih ingin tertidur dalam buaian mimpi. Dan berharap semua ini memang hanya
bunga tidur. Namun nyatanya, kini matanya telah terbangun bahkan tubuhnya telah meninggalkan kasur empuk yang menjadi saksi kehancurannya.
Semua kenyataan pahit ini memang terjadi pada dirinya.
\======
“Rumah siapa?” Rindi yang bertanya ke arah Linggar karena pria itu tak membawanya pulang ke rumahnya.
“Rumah kakakku! Kamu istirahat di sini dulu, baru pulang! Apa kamu mau keluargamu melihat keadaanmu seperti ini?” Terus mengelus kepala Rindi.
“Maafkan aku membuatmu seperti ini!” Elusan lembut kini beralih ke pipi.
“Aku sayang kamu Rindi.” Ucapnya semakin lirih.
Entah berapa ribukali lagi harus terucap kata-kata itu hingga membuat Rindi percaya bahwa pria ini begitu mengaguminya hingga membuat semua terasa harus didapatkan.
“Kak,” Sapanya di depan pintu pada seorang wanita yang telah berdiri menyambut mereka.
“Ada apa?” Tanyanya saat melihat Linggar datang bersama dengan seorang gadis.
Melihat raut wajah dari keduanya, sudah bisa dipastikan ini ada yang tidak beres dari mereka.
“Kak, bisa kita ke dalam dulu?” Linggar.
“Ya sudah, ayo masuk?”
“Siapa?” Lirna pada Linggar seraya menunjukkan pandangannya pada Rindi.
“Pacarku.” Linggar terus merangkul pundak Rindi.
“Kamu sakit?” Tanyanya pada Rindi, saat melihat gadis itu dengan raut wajah pucat. Jalan sedikit terseok-seok meskipun seolah memaksa diri namun itu masih terlihat.
Entah mengapa sejak datang hingga sekarang awan hitam nan kelam seolah menggantung di atas langit-langit
__ADS_1
rumahnya.
Hanya gelengan kepala tanpa ucapan, berikutnya hanya air mata yang mengalir di mata Rindi.
“Ini ada apa sih?” Ucapnya mulai terlihat kebingungan sendiri.
“Kak, maaf!” Linggar yang tertunduk seperti gadis yang sedang malu-malu, dengan Rindi yang memilih memalingkan wajah ke samping dan menarik tangan dari genggaman Linggar.
“Kak, aku minta tolong jaga dia untuk sementara waktu!”
“Ya, udah kamu bawa ke kamar tamu dulu! Biar dia istirahat di sana dulu!”Lirna yang masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi, namun melihat kondisi sang gadis yang katanya kekasih dari Linggar itu membuatnya tak tega untuk bertanya terlalu lama.
Linggar dan gadis itu mulai berdiri. Dengan Linggar yang terus merekatkan tangannya di belakang tubuh gadis
itu.
“Ada apa?” Pria berkacamata yang merupakan suami dari Lirna, ketika ikut bergabung dengan kedua bersaudara itu. Rindi telah beristirahan di kamar tamu.
Linggar masih terdiam dan menunduk. Masih memikirkan rangkaian kata demi kata yang akan ia ucapkan agar kemarahan kakaknya tak meledak.
Bisa dipastikan dirinya akan mendapatkan amukan dari kakaknya itu. Tapi setidaknya bisa diredam sedikitlah.
Lirna hanya mengangkat kedua bahunya.
“Ada apa?” Lirna yang masih belum mendapatkan jawaban dari kediaman Linggar.
“Maaf. Kak tolong kami!”
Serasa ingin mengucek-ngucek adiknya sendiri karena hanya memberikan pernyataan-pernyataan yang seolah
mengajaknya sedang bermain teka-teki.
“Aku ingin menikahinya.” Ucapnya masih menunduk. Sudah bisa di tebak apa yang telah terjadi, Namun sebisa mungkin menyingkirkan hal-hal negatif yang sedang mengetuk otak Lirna.
Linggar pria baik.
Adiknya itu adalah pemuda yang baik. Memaksakan diri untuk tidak berprasangka buruk.
“Apa yang kamu lakukan pada gadis itu?” Lirna yang mulai memicingkan mata. Dan semoga saja itu hanyalah sebuah firasat tanpa arti apa-apa.
“Maaf!” Linggar seraya tertunduk.
“Bicara yang jelas bohdoh!” Emosi Lirna yang seolah mulai beranjak naik ke ubun-ubu.
“Apa kalian,...?” Tak mampu melanjutkan perkataannya. Berharap semoga yang ia pikirkan tidaklah benar.
“Sayang! Kita bicarakan baik-baik!” Reza yang mencoba menenangkan istrinya.
“Mau bicara baik-baik bagaimana lagi? Bilangnya Cuma maaf--maaf!”
“Maaf, aku telah menyentuhnya.” Linggar dengan tertunduk menggunakan nada yang paling rendah.
“Apa yang kau lakukan bohdoh!” Pekik Lirna saat mendengar penuturan adiknya yang membuat bara api kini telah
memercik di hatinya. Ternyata apa yang sedari tadi ia pikirkan benar adanya.
“Dia pacarku.” Pekik Linggar ke arah kakak perempuannya. Tak menerima dikatakan bohdoh oleh kakanya sendiri.
Apanya yang salah ketika ia ingin melindungi miliknya, meskipun dengan cara yang salah.
“Tapi dia selingkuh selama aku pergi!” Kini nadanya lirih seolah hal ini adalah aibnya.
Memang aib.
“Dan kamu membalasnya dengan seperti ini?”
Prank.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
__ADS_1
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.