
Di sini.
Di sofa ini.
Ia dan Rindi duduk berdekatan, sangat rapat. Sambil menonton tv yang sebenarnya tidak ia nikmati. Bahkan ia lupa film apa yang pernah mereka nonton. Ia hanya ingat, menggenggam tangan dengan jari-jari chubby Rindi yang seperti jari tangan bayi hanya saja versi besar.
Sesekali membawa tangan Rindi ke depan bibirnya, dengan Rindi yang hanya diam menikmati semua perlakuannya. Ternyata waktu itu terasa sangat indah.
Perlahan namun pasti ingatannya seolah membawanya dalam kesedihan.
Ah, ia tak boleh larut dalam kesedihan. Ia tak boleh tenggelam dalam rasa yang salah.
Kini kata talak telah terucap. Semua rasa yang pernah ada untuk Rindi kini menjadi salah. Semakin salah karena
ternyata rasa itu tak terbalaskan.
Ia bangkit dari sofa meraih kunci mobil dan segera meninggalkan rumah. Mobilnya terus berjalan menuju ke sebuah
cafe. Mungkin berada di tengah keramaian bisa membuah hatinyapun menjadi ramai.
Padahal hanya ada beberapa orang di sana. Peduduk yang lain masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Memesan segelas minuman dan seporsi mie goreng seafood. Menikmati bolosnya seorang diri.
Sesuap demi sesuap telah ia nikmati. Ada berbagai macam sefood yang mengisi mie ini. Mulai dari udang, kerang, baso ikan dihiasi dengan telur dadar sebagai topping, ternyata enak.
Mungkin karena ini juga Rindi menyukai makanan ini, ia lupa jika Rindi beberapa kali memesan makanan yang ia
bilang dulu gampang dibuat sendiri di rumah.
Ah, Rindi lagi! Rindi lagi.
Perjalanannya bersama Rindi memang bukan sebentar, membuat hari-harinya penuh dengan kenangan. Hampir tiga tahun mereka berpacaran sebelum menikah yang justru hanya berjalan seumur.
Tak sebanding rasanya.
Tak ingin kembali mengingat Rindi, ia memutuskan menjauhkan piring yang masih tersisa setengah porsi.
Seperti ada sesuatu dalam makanan itu, hingga ia terus memandangi dengan lekat.
Tapi Ia masih sangat lapar.
Dan jika tak dihabiskan akan dibuang nanti oleh pihah cafe, mubazir kan? Terlebih lagi ekor udang itu seolah
menari-nari di matanya dengan mengejek.
Seperti sang udang sedang menertawakannya. Menertawakan dirinya yang telah mengeluarkan uang untuk
membayar makanan itu namun justru tak ia nikmati. Dan lagi seolah berkata makanan ini adalah makanan kesukaan Rindi.
Udang itu kesukaan Rindi.
Dan sang udang seperti kembali meliriknya sinis, heh apa lo? Mungkin seperti itu.
__ADS_1
Udang itu harus diberi pelajaran!
Ia kembali menarik piringnya mendekat. Tatapan tertuju pada udang. Di tusuknya menggunakan garpu lalu
masukkannya ke dalam mulut, dikoyak, dikunyah hingga hancur lalu ditelan.
Rasakan kau udang. Kini tak bisa lagi berbuat apa-apa di dalam perutnya.
Ia tersenyum membayangkan pikirannya yang sedikit dramatis hanya karena lapar.
Kini ia berpikir apalagi yang akan ia lakukan untuk bisa mengusir kejenuhannya.
Mengumpulkan teman-temannya lagi.
Mulai dari Arman, Erlangga dan yang lainnya telah ia telpon satu persatu.
Hari masih sedikit cerah saat teman-temannya datang satu persatu. Dan pertanyaan pertama dari Arman yang ia
dengar adalah, “Istri kamu mana?”
“Lagi temani kak Rima, bentar lagi mau brojol.” Ucapnya asal, hanya sekedar memberi alasan.
Tapi, entah ia memiliki insting yang baik karena memang Rindi sedang mengurus perlengkapan Rima untuk melahirkan.
“Biasa kamu masuk ke kamar sambil telponan sampai tidur.”
“Gak diangkat, orangnya lagi sibuk.” Ucapnya berbohong. Sejak tadi memang tak pernah melelpon Rindi, bahkan
cenderung menepis bayang-bayang Rindi.
waktu sesingkat ini.
Arman mungkin akan menertawakannya.
Sementara sang bunda yang sempat mencuri dengar percakapan itu hanya tersenyum. Melihat anaknya ternyata tak sampai tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut setelah berpisah dengan wanita yang sangat dicintai.
Sedikit bangga terselip di hati bunda.
Linggar pria kuat.
Cukup semalam menangis ternyata mampu menarik semangat Linggar lagi.
Tak perlu merasakan sakit hati hanya karena cinta.
Harusnya Rindi yang bersedih telah kehilangan pria yang begitu mencintainya seperti Linggar.
Dengan semangat menyiapkan minuman beserta camilan untuk teman-teman Linggar. Berharap besok mereka akan datang lagi, menemani Linggar. Hingga putranya itu benar-benar melupakan mantan istrinya.
Sementara di sana, di rumah Rima sedang heboh.
Rindi yang sedang berada di kamar Rima tengah sibuk memasukkan beberapa barang yang telah ditentukan oleh Rima.
“Bedongan bayi berapa lembar kak?” Rindi sambil menatap Rima menunggu jawaban. Di tangannya ada setumpuk
__ADS_1
selimut mini yang siap di masukkan dalam tas.
“Setegah aja. kayaknya di situ cuma selusin deh.” Rima yang duduk di kasur dengan ditemani sang suami yang
setia mengelus perutnya.
Kali ini wajahnya terlihat stabil karena perutnya sedang istirahat dari kontraksi. Berbeda dengan wajah sang suami yang terlihat khawatir. Tentu saja mengakhawatirkan keadaan sang istri dan juga bayi yang sebentar lagi mengintip ke dunia.
“Abis ini kita ke RS ya sayang.” Suami Rima yang terus membujuk istrinya.
Wanita itu sepertinya enteng-enteng saja, di tengah kecemasannya.
“Bentar lagi yah. Sampai di RS juga paling di suruh jalan-jalan dulu.” Rima berusaha tersenyum untuk menghibur hati suaminya. Namun hanya sebentar, kemudian kembali meringis saat merasakan kontraksi pada rahimnya.
"Tuh kan sakit lagi yah!" Dengan sedikit memohon.
"Huuuufff," Hembusan perlahan keluar dari mulut Rima. "Gak papa, bentaran lagi." Rima pernah menghadapi ini sebelumnya, setidaknya dia bisa mengambil pelajaran dari kelahiran yang pertama.
“Aku khawatir loh. Kalau ada apa-apa di RS kan tinggal panggil dokternya. Kalau di sinikan, takutnya aku panik lagi.” Masi memohon, kembali meraih tangan istrinya, setelah tadi dilepas hanya untuk mengusap perut istrinya.
“Bentaran lagi yah, tungguin Dira selesai.” Wajah Rima kembali tenang, kontraksi kembali hilang.
“Abis ini apalagi kak?” Rindi yang masih berada di tengah mereka.
“Emmm, popokku kayaknya belum ada. Nanti aja deh di RS juga biasanya di siapin.” Kembali menggenggam erat
tangan sang suami. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan melalui mulut, setidaknya bisa sedikit meringannkan rasa sakit yang mendera sekaligus membantu mendorong bayi menuju ke jalan lahir.
“Sayang.” Sang suami yang serasa ikut merasakan sakitnya hanya mampu meniup-niup perut buncit Rima meskipun itu tak membawa pengaruh yang mampu mengurangi sakit. Setidaknya melalui itu ia seolah berkata, ada aku di sampingmu.”
Sementara Rindi ikut meringis melihat perubahan wajah Rima yang tadinya terlihat tenang kini menahan sakit.
“Kita ke RS yah?”
Tak ada jawaban karena saat ini Rima masih berusaha menahan rasa sakit di sekitar perut dan panggulnya.
Hampir tengah malam Rima dan suaminya ke RS, dengan Rindi yang duduk di samping pak Eko yang sedang membawa mobil dengan tas di pangkuannya, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan keadaan Rima.
“Kamu pulang aja dulu! Udah malam juga, besokkan harus kuliah.” Suami Rindi yang keluar hanya untuk menemui
Rindi.
“Kak Rima bagaimana mas?” Rindi baru saja mengurus administrasi Rima.
“Udah pembukaan tujuh. Mungkin subuh atau pagi.”
“Aku tungguin aja ya mas?” Pintanya. Kesibukan hari ini setidaknya mampu mengalihkan hatinya dari rasa sakit yang sempat mengendap karena perceraian semalam.
Ah, sejenak ia lupa dengan dirinya yang kemarin menangis pontang-panting karena ucapan keramat yang terucap dari bibir sang suami.
Pc, mantan suami maksudnya.
Masih adakah satu alasan untuk mereka rujuk?
__ADS_1
To Be Continued!
Minta semangatnya dong.