Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Antara Sahabat


__ADS_3

 “Cit, kita masuk yah?” Kamil, memilih menarik lengan baju Citra. Berjalan bersama, Kamil seperti membawa mayat hidup di sampingnya. Hingga tepat di depan pintu ruangan Citra.


“Cit, kamu masuk yah. Aku juga mau ke ruangan.” Ucapnya, memandang Citra yang masih betah dengan diamnya.


“Cit, kamu yang sabar yah!” Ucapnya lagi. Kini mendapat respon berupa anggukan dari sang gadis.


Berjalan meninggalkan gadis itu. Pikirannya melayang ke dalam ruangannya. Apakah Linggar dan Rindi masih melanjutkan kegiatan mereka. Bagaimana caranya untuk masuk.


“Cit, aku kerja dulu yah!” Teriaknya, sebagai kode untuk Linggar-Rindi jika dirinya ingin masuk ke ruangan.


Membuka pintu seperti biasa meskipun dadanya masih berdetak kencang. Bagaimana jika kedua orang itu belum juga menghentikan aksi?


Apakah dirinya masih akan disuguhkan pemandangan sama seperti tadi?


Masuk ke dalam ruangan itu, ternyata hanya mendapatkan Rindi seorang diri yang sedang konsentrasi di meja kerjanya. Ataukah ini hanya acting belaka.


Lalu dimana Pak Linggar?


Kamil berdiri tepat di hadapan meja Rindi, memandang gadis itu dengan begitu dalam.


Wajah polos, tenang dan sedikit pendiam ternyata tak menjadi jaminan jika orang itu adalah orang baik.


Kenal selama beberapa bulan ini, ternyata belum cukup rasanya untuk mengenali seseorang hanya dengan mengenal luarnya saja.


Memang Pak Linggar tak pernah membalas segala perhatian yang diberikan oleh Citra. Menerima semua pemberian Citra hanyalah bentuk pe


Tapi kenapa harus Rindi?


Rindi teman Citra, teman mereka.


Rindi yang lebih dipercaya mampu


menyampaikan pesan pada Pak Linggar dibandingkan dengan teman-teman yang


lainnya.


Rindi yang Citra percayai mampu menjadi


jembatan hubungan dengan Pak Linggar. Justru mendorong dirinya sendiri dan


menyingkirkan Citra.


Rindi yang berkhianat pada Citra.


Terlalu jahat menurutnya.

__ADS_1


Memang cinta tak dapat dipaksakan. Jika memang Pak Linggar lebih memilih Rindi itu juga terserah Pak Linggar saja.


Tapi,... Tak bisakah Rindi menolak perasaan Pak Linggar hanya untuk beberapa saat lamanya. Sebentar saja, hingga Citra menyerah dan mundur dengan usahanya dalam menggapai hati Pak Linggar.


Bukan sekarang, saat Citra merasa sangat yakin jika perasaannya akan terbalaskan.


Dan pemandangan tadi membuat Citra jatuh sejatuh-jatuhnya.


Ditolak.


Ditikung.


Dikhianati oleh teman bahkan sudah dianggap sahabat sendiri.


Ah, bukan-bukan.


Arrggghhh.... lalu dimana dirinya harus berpihak?


Keduanya adalah temannya.


Memilih diam mungkin jauh lebih baik.


Tapi jika diam saja, mungkin Citra akan menganggapnya telah mengetahui hubungan Linggar-Rindi. Dan Citra pasti menggapnya sebagai penghianat.


“Kenapa?” Tanya Rindi yang mulai terusik dengan Kamil yang sedari tadi menatapnya.


“Oh.... gak! Gak pa-pa.” Ucapnya sedikit terbata.


“Kamu lagi sibuk yah? Mau aku bantu?” Ucapnya menawarkan diri.


Rindi hanya tersenyum memperlihatkan gigi ginsulnya. Manis memang.


Senyuman gadis itu terlihat tak pernah membosankan. Wajar saja jika Pak Linggar lebih memilih Rindi dari pada Citra. Tapi,...?


Ah, sudahlah ia tak punya daya dan peran untuk berada diantara ketiga orang itu.


“Kerjain sendiri! Aku juga punya kerjaan.” Kamil lebih memilih berlalu menuju ke mejanya sendiri. Meskipun rasa hati terus saja mengusik.


Ingin bertanya takut menyinggung.


Ingin memulai, tak tahu dari mana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sang mentari telah berada di puncak tertingginya. Memberikan cahaya dan kehangatan pada setiap insan di muka bumi.

__ADS_1


Sebagian orang merasa bersyukur saat mendapatkan cahaya yang berlimpah, saatnya menghemat listrik karena tak perlu menyalakan lampu lagi.


Namun tak sedikit yang menggerutu karena panas menyengat.


Citra yang datang terlambat dengan


membawa nampan berisikan santapan yang baru saja ia pesan dari pelayan kantin.


dan langsung menggabungkan diri dengan teman-teman bagiannya yang lama.


Entah alam semesta sedang berpihak padanya atau sedang mengujinya, hanya satu tempat yang kosong yaitu tepat di depan Rindi, orang yang telah ia anggap sebagai sahabat namun menusuknya dari belakang.


“Kok telat?” Kamil yang menyambutnya sebelum sesendok makanan masuk ke mulut.


Citra hanya tersenyum tak menjawab dengan kata.


Menatap Rindi yang baru saja menundukkan kepala setelah menyuguhkan senyum selamat datang padanya. Namun baginya senyum itu seperti sedang menertawakan dirinya.


Mengamati Rindi yang masih setia


menikmati santapannya dengan pelan nan anggun. Wanita yang sedang makan di depannya ini adalah wanita yang sangat cantik.


Tak terlalu sulit baginya untuk mendapatkan pria tampan lainnya, tapi kenapa harus Pak Linggar?


Pria yang selama ini Citra kejar, dan menjadikan Rindi sebagai jembatan penghubung antara dirinya dengan Pak Linggar.


Jikapun memang Rindi juga mencintai Pak Linggar sama seperti dirinya, kenapa harus berbohong dan menyembunyikan semuanya seperti ini. Hingga Citra mengetahui hubungan itu dengan cara melihat langsung dan dengan mata kepala sendiri tanpa pengantara.


Mulai mengangkat tangan yang sedang memegang sendok berisikan nasi dan kuah soto.


Enak pastinya. Tapi bagi Citra, rasanya seperti biji buah kedondong, sakit dan berduri. Ia bahkan harus menambah sedikit tenaga hanya untuk kata menelan makanan.


Sementara wanita yang berada di depannya itu makan dengan tenangnya, berbanding terbalik dengan dirinya.


Tak adakah rasa bersalah di benak wanita itu?


“Enak yah Rin?” Ucapnya yang tak mampu ia tahan.


“Hemm,” gumaman sambil menganggukkan kepala karena mulutnya yang sedang terisi penuh.


“Enak banget?” Tanyanya mulai sewot.


Rindi hanya tersenyum menanggapi, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


“Rin habis ini temani aku ke depan yah, belikan kue buat pak Linggar.”

__ADS_1


Rindi terhenti dengan tangan yang memegang sendok berisi tepat berada di depan mulutnya yang menganga.


Nah loh, mulai tersinggung kan?


__ADS_2