
Rindi kembali masuk ke dalam ruang kerja masih dengan tatapan yang belum berubah, masih sinis dan menyudutkan. Bahkan Kamil hanya melirik saat dirinya masuk, enggan menatap atau bahkan menegur.
Mereka belum mengetahui kebenaran itu.
Ya sudahlah, biarkan saja!
Rindi hanya ingin bekerja lalu pulang.
Linggar masuk tanpa ekspresi langsung menghempaskan diri di kursinya. Mulai melonggarkan ikatan dasi dan
mengeluarkannya melalui kepala, menyimpan di handle laci tanpa membuka simpulnya agar jika diperlukan mudah untuk memakainya kembali.
Menghembuskan napas secara keras berharap mampu mengangkat beban di pundaknya.
“Bagaimana?” Mbak Tia.
“Mutasi.” Ucapnya singkat, namun terlihat lebih berat.
“Kok bisa?”
“Apa benar kalian....?” Ucapan mbak Tia seolah sengaja menggantung karena berikutnya pandangannya ke arah
Linggar dan berganti ke arah Rindi, untuk beberapa kali.
Linggar mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam sebuah dos yang baru saja ia ambil di bawah meja.
"Mutasi kemana?"
"Ke lantai atas."
Hembusan keras terdengar, "Mulai kapan(mutasinya)?"
"Sekarang juga."
Pembicaraan hanya terjadi antara Linggar dengan yang Mbak Tia, sementara Kamil dan Ayu hanya mampu menatap atasannya yang mulai sibuk mengepakkan barang. Sementara Rindi masih setia menatap layar komputer meskipun konsentrasi terbang melayang, berharap Linggar tak membahas hubungan mereka.
“Kalian tau sendirikan kalau dia janda?” Linggar dengan tatapan sinis ke arah Rindi.
“Coba tanya nama mantan suaminya siapa?” Masih dengan kegiatannya memasukkan barangnya satu persatu.
“Memangnya nama mantan suami kamu siapa?” Mbak Tia. Sekarang seluruh pandangan mengarah pada RIndi.
“Rindi,...” Kamil yang juga turut memandang Linggar dan Rindi secara bergantian.
“Jawab!” Linggar dengan lantangnya, membuat ruangan seketika hening setelah tersentak dengan serempak.
“Li...., Ling....,Linggar Attalah,” Dengan terbata ucap Rindi sambil menutup matanya erat, dengan kepala tertunduk. Yang ia takutkanpun terjadi, terbongkarnya status mereka.
“Jadi kalian mantan suami istri?” Mbak Tia yang masih mampu menggerakkan bibir meskipun sedikit terkejut akan
informasi yang baru saja ia ketahui.
__ADS_1
“Kok bisa cerai?” Kamil.
“Tuh ditanya kenapa cerai?” Masih setia dengan aktifitasnya, karena Linggar akan pindah sekarang juga.
Ingatannya kembali dimasa-masa Rindi menghianatinya, mengacuhkannya bahkan memutus komunikasi secara sepihak. Padahal dirinya sedang tersiksa karena rindu.
“Kenapa?” Ucapnya kembali membentak keras sambil menendang kaki kursi Rindi membuat sang penghuni terhentak dari duduknya.
“Bilang kalau kamu selingkuh. Selingkuh sama cowok lain saat aku gak ada!” Ucapnya dengan lantang. Amarah telah menguasai.
Mendapatkan teguran dan Surat Peringatan hingga mutasi saat ini juga membuatnya menerima dengan rasa kesal tertampung semakin banyak.
“Aku gak selingkuh.” Rindi yang tak kalah lantangnya, kini mata membulat menunjukkan iapun tengah dalam keadaan marah. Kini sepasang mantan suami istri itu saling berdiri berhadapan dan tatapan yang saling menghunus.
Dengan Linggar yang kini telah menggendong dos berisikan barang-barangnya. Pria itu telah siap untuk pindah.
“Iya, itu karena dia tau kalau kamu ada aku. Kalau dia gak tau aku? Kamu udah ngapa-ngapain sama dia.” Masih dengan suara keras, tanpa memperdulikan semua tatapan mata yang berada di dalam dan luar ruangan.
Sedikit melenceng tapi benar. Hanya ingin menggiring opini mereka serta menutup aib yang memang harus
ditutupi.
“Sudah-sudah, kamu boleh naik sekarang!” Mbak Tia yang lebih memilih mendorong tubuh Linggar ke arah pintu
berharap perdebatan cepat berakhir.
Biar bagaimanapun tak baik membahas masalah pribadi di kantor, terlebih lagi mereka ternyata memiliki hubungan keluarga. Dimana perusahaan telah menetapkan peraturan tentang larangan adanya hubungan keluarga dalam satu devisi.
Mantan suami istri justru dianggap lebih rentan, karena adanya perasaan kecewa, marah dan lain-lain. Dan mereka ternyata telah merahasiakan hubungan mereka
Tak lupa hentakan daun pintu yang membuat orang terhentak dari tempatnya.
“APA?” Teriakan Linggar kembali menggema, ditujukan pada beberapa karyawan yang berada di depan pintu ruangan sedang mendengar perselisihan mereka. Seketika itu pula para penonton segera membubarkan diri.
“Aku gak nyangka kalau kalian mantan suami istri.”
“Tapi aku salut sama kalian bisa menyembunyikan status ini selama enam bulan. Padahal aku kira Linggar yang
naksir kamu. eh ternyata sama.” Mbak Tia.
“Jadi, itu sebabnya dulu kamu nangis waktu anaknya pak Adit datang minta duit sama pak Linggar? Kamu cemburukan?” Kamil.
“Kasihan Citra.” Sang suara emas, Ayu. Seketika itu pula sorot mata tertuju padanya, kecuali Rindi yang masih
terduduk dengan kepala menunduk di topang oleh kedua tangannya.
“Aku gak papa kok kalau dia sama Citra.” Rindi yang masih menundukkan kepalanya.
Ia harus meredam amarahnya jika ingin kembali fokus melanjutkan pekerjaannya. Tak lupa menyampingkan perasaan malu karena telah bertengkar dengan mantan suaminya di depan teman-teman lain.
Ia lupa sekarang harus menyiapkan diri sebelum mendapat peringatan dari perusahaan karena telah menyembunyikan hubungan mereka.
__ADS_1
Dan diantara rasa itu mengapa lebih ingin menangis saat ini juga.
“Citra udah lama naksir sama pak Linggar, tapi ya gitu-gitu doang. Gak ada respon.” Kamil yang tadinya berada di kubu Citra kini lebih memilih netral saja. Toh Rindi juga salah karena menutupi hubungan mereka.
“Itu karena Linggar memang tak memiliki perasaan lebih pada Citra.” Mbak Tia.
“Rin, maaf ya. Waktu itu kita liat kamu lagi sama pak Linggar. Aku sama Citra, sejak itu dia marah bangetsama kamu,” Kamil tak ingin mengemukakan tentang apa yang dilihatnya. Namun sangat berharap jika Rindi mengerti arah pembicaraannya.
Tak mungkinkan ia mengatakan melihat mereka saat saling berpelukan di depan semua orang. Bisa-bisa
dia yang justru akan di sidang selanjutnya.
Ya iyalah marah, ditikung sama makcoblang sendiri. Bilang gak yah, kalau mereka lagi pelukan?
Semakin membuat Rindi tertunduk dengan rasa bersalah yang kini semakin melengkapinya. Kini kepalanya terasa sangat berat.
Suasana kembali hening, beberapa kali terdengar suara hembusan napas kasar masih mengatur kondisi emosi masing-masing.
"Kamu terlihat kacau. Kamu boleh pulang cepat." Ucap Mbak Tia saat melihat Rindi terlalu lama menunduk seperti enggan untuk mengangkat kepalanya. Sadar jika wanita itu tak kan mungkin berkonsentrasi.
Mendengar kalimat itu, Rindi mengangguk. Mungkin itu yang ditunggunya sedari tadi.
Mulai membenahi barangnya. Mengumpulkan segenap tenaga hanya untuk berdiri. Tenaganya seperti terkuras banyak hari ini. Bahkan untuk menarik tas yang tak seberat beban hidupnya terasa sulitpun.
Mulai mendorong kursi kebelakang bersiap untuk melangkah dengan sisa-sisa tenaganya, belumpun ia lepas dari meja kerja tubuh telah luruh membentur lantai.
"Rindi." Pekik Mbak Tia sembari menghampiri rubuh yang telah terduduk di lantai.
"Kamu kenapa?" Hendak membopong tubuh Rindi, namun tak mampu. Pun sang pemilik tubuh sepertinya enggan untuk beranjak.
Perlahan-lahan suara isak tangis mulai terdengar dari mulut Rindi. Tanpa menutup wajah dengan tangan ia mulai menangis, membiarkan air mata yang sedari tadi ditahan ikut luruh.
Tak berniat menutupi wajahnya yang mulai basah, atau memang berniat memamerkan rasa sedihnya kepada teman-temannya.Seolah ingin berkata, "Aku juga sakit dengan keadaan ini, bukan hanya Citra saja."
Bahkan telah lama menanggung dengan segala perhatian yang Citra berikan pada mantan suaminya. Semantara sang mantan justru memberikan perhatian pada dirinya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
"Rindi." Mbak Tia ikut terduduk dekat Rindi. Merengkuhnya sembari menepuk-nepuk lengan atasnya, lalu mengusap pelan. Membiarkan untuk sementara waktu menangis dalam dekapannya.
Sementar Kamil hanya mampu menatap pilu. Iapun ikut andil dalam menyakiti Rindi dengan terus mencercanya dan menuduhnya sebagai penghianat dan nikung teman sendiri. Tapi enggan untuk berucap maaf.
\======
Aku temukan secangkir kopi dan seikat bunga di meja.
Terima kasih ya!
Kalo bisa lagi dong!
Emang ya, manusia gak ada puas-puasnya, hahahaha.
Selalu mau minta dukungan.
__ADS_1
Iya dong! Cuma modal jempol doang dan beberapa koin, ternyata mampu membangkitkan semangatku.