Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Konferensi Keluarga


__ADS_3

Rindi hanya mampu terpaku, berdiri di depan pintu kamar inap Linggar. menatap sendu pria yang tertidur tak berdaya melalui jendela kaca yang ada di pintu.


Mereka sangat dekat, namun tak dapat berbuat apa-apa.


Restu membuat mereka berjarak menjauh.


Tanpa disadari, orang yang tak memberinya restu itu kini tengah berdiri beberapa langkah di belakangnya.


Rindi menangis, terlihat dari caranya bernafas dan beberapa kali tangan bergerak mengusap pelan pipinya.


Tersentak kaget, saat seseorang menerobos dari belakang dengan tangan yang langsung menekan handle pintu.


Sejenak ia hanya mampu menahan nafas, saat melihat Bunda masuk keruangan perawatan Linggar dan langsung menutup pintu tanpa menatapnya.


Mungkin ia memang tak layak untuk Linggar, tak berwenang untuk berada di sini.


Hanya mampu tertunduk, sambil mengatur nafas yang tadi sempat melonjak.


Linggar pun tak perlu tahu, Jika ia beberapa kali datang mengunjungi kekasih hatinya itu.


Belum pun ia selesai dengan berbagai pemikiran di otaknya sepasang sepatu pantofel pria. Mengangkat pandangannya demi melihat sosok sang pemilik sepatu hitam mengkilap itu.


"Om," ucapnya.


Pria dewasa itu terlihat mengerutkan keningnya, bingung.


" Apakah kita sejauh itu?" Ucapan ayah kepada mantan menantunya.


Mereka mungkin tak terlalu dekat untuk dikatakan akrab. Namun posisi Rindi yang pernah menjadi menantunya dirasa tak sesuai dengan panggilan yang Rindi ucapan tadi. Mantan menantunya itu seolah menjaga jarak padanya.


"Maaf, Ayah!" Tak ingin terlalu berlarut, Rindi memilih meninggalkan tempat itu.


Ayah tak mampu menghalangi langkah Rindi yang semakin menjauh dengan terus menundukkan pandangan.


Mengerti mengapa sikap wanita muda seperti itu, jawabannya adalah istrinya.


"Sampai kapan kamu menghukum mereka?" Ucap ayah saat berada di ruang perawatan Linggar.


Di sana, putra mereka masih terbaring lemah dengan menutup mata.


Bunda tak menjawab.


Semua yang ia lakukan hanya untuk kepentingan dan kebahagian semua orang. Termasuk Linggar dan Rindi.


\=========


"Kamu sudah bangun?" Bunda mendekat ke arah tempat pembaringan Linggar saat pria itu baru saja membuka mata.


"Makan dulu yah!" Lanjut bunda dengan senyum teduh.


Sayang, putranya itu seperti enggan menatap sang bunda. Memilih memalingkan wajah ke arah lain, lebih memilih menikmati pemandangan tembok berwarna putih di sebelah sana.


Bunda belum putus asa, masih mempersembahkan senyum tulus untuk sang buah hati yang telah besar namun belum dewasa itu.


Ya Linggar belum belum dewasa menurutnya.


Masih labil.


Masih sering mencari kesenangan semata, tanpa memikirkan sebab dan akibat yang akan terjadi dikemudian hari.

__ADS_1


"Sayang makan dulu yah! Ngambek dilanjut nanti lagi."


"Aku gak lapar," Linggar masih betah menghadap ke sana, tanpa menoleh sedikitpun pada sang bunda.


"Kata dokter, perut kamu gak boleh kosong, dikit aja yah!" Bujukan bunda seolah tak terdengar oleh Linggar.


"Aku ingin Rindi." Ucap Linggar seolah tak ingin dibantah.


"Masih banyak wanita di luar sana, kenapa harus Rindi lagi?" Bunda harus menekan hati yang seolah ingin meledak setiap kali Linggar menyebut nama wanita itu.


"Aku mencintainya." Linggar berbicara, namun masih enggan menatap bunda.


"Hatiku yang memilihnya."


" Itu bukan cinta, kalian hanya terbiasa bersama."


"Bunnnn!" Teguran ayah yang memperingati istrinya.


Padahal bunda baru saja menarik napas, sepertinya masih siap melanjutkan perkataannya.


Saat ini kesembuhan Linggar lebih penting dari pada perdebatan mengenai piliha hati.


"Sudah!"


"Linggar harus makan, bukannya berdebat!"


"Biar aku aja bun," Lirna turut menghampiri dengan mengelus perut.


Kini ia datang sebagai penengah. Bisa-bisa Linggar tak sembuh-sembuh jika terus di dekat bunda yang masih penuh semangat dengan keputusannya.


"Aduh," Gerutunya saat hendak naik ke pembaringan Linggar namun terhalang oleh perut buncitnya. "Bantuin dek!" Pintanya pada Linggar.


"Aku suaipin yah!" Ucapnya kemudian setelah berhasil duduk manis di samping tubuh Linggar, "Aku lagi ngidam pengen suapin kamu."


Ia tahu itu hanya alasan kakaknya saja untuk membuatnya makan.


"Kamu marah sama bunda?" Percakap dimulai sesaat setelah suapan pertama berhasil masuk ke mulut Linggar.


"Ngak." Ucap singkat.


"Pc, anak SD saja tau kalau kamu lagi demo besar-besaran pada bunda."


"Kok demonya sampai segini amat sih? Nyiksa banget, sampai sakit juga."


"Apa kamu gak rindu sama gulai ayam buatan bunda? Enak banget tau dek!" Lirna masih terus menyuapi Linggar, meskipun sedikit lebih lama dengan tingkat kesabaran yang luar biasa.


Linggar harus menelan bubur yang hampir tak berasa dari rumah sakit itu dengan sedikit terpaksa. Meskipun ucapan kakaknya sempat merasuk ke dalam otaknya, Gulai ayam buatan bunda sempat melayang dalam benaknya.


Andaikan saja, kakaknya tahu sejak awal perihal demo yang ia lakukan, mungkin ia akan luluh dan menikmati gulai nikmat buatan sang bunda.


"Bunda jahat banget!" Ucapan ketus Linggar membuat tangan Lirna menggantung dengan sendok berisikan bubur.


"Mirip ibu tiri- ibu tiri di film-film. Gak akan mengerti kebahagian anaknya."


Pembicaraan antara kakak beradik itu masih jelas terdengar pada mereka yang sedang duduk dalam jarak hanya beberapa langkah dari sana.


"Emang kamu pernah merasakan siksaan ibu tiri?" Mata Lirna melirik Linggar dengan senyuman di bibir.


"Ayaaaah, katanya adek mau mengarasain punya ibu tiri." Teriakannya membuat tiga orang itu mendengus kesal hampir bersamaan.

__ADS_1


Permasalahnya apa? Pembahasannya apa?


Gak nyambung.


"Kamu itu bukannya membujuk malah buat masalah baru. Kalau bundamu marah, kamu mau bujuk bunda?" Hardikan dari ayah seolah tak berarti.


"Sekarang aku jadi tukang bujuk-bujuk, hahahaha," Tawanya seorang diri menggelengar terdengar keseluh ruang.


"Aduhuuuh, aduuuuuh!" Keluhnya sambil menempelkan tangan di perut.


"Kenapa?" Paniknya Linggar turut mengelus perut kakaknya.


"Keram deeeek!" Berusaha mengatur napas demi mengurangi rasa keram.


"Kamu terlalu semangat kalau ganguin orang." Ucapan dari pria berkacamata sang pemilik hati membuat Lirna kembali tersenyum hangat.


"Udah?" Tanya Reza yang ikut mengelus perut, menenangkan janin yang mungkin tengah berontak di dalam perut istrinya. "Kita pulang, istirahat dulu! Hampir seharian kamu kayaknya sibuk banget."


"Dikit lagi," Sambil menyodorkan mangkuk yang hampir setengah isinya telah berpindah ke lambung Linggar.


\=========


" Bunda gak mau sedikit mengalah demi Linggar?"Lirna.


Saat ini mereka tengah berjalan dikoridor Rumah sakit. Lirna yang meminta bunda untuk mengantarkannya hingga ke parkiran.


Hanya sekedar alasan semata, karena yang sebenarnya ia hanya ingin berbicara tentang Linggar dan Rindi.


Hanya hembusan napas yang terdengar dari samping kiri tubuhnya, tepatnya bunda.


Bunda yang enggan menjawab, hanya terus melangkah dengan tatapan lurus ke depan.


Apa lagi yang mampu Lirna lakukan?


Ia hanya menggelengkan kepala dan menunduk, kembali menatap bunda yang membisu tiap kali mereka hendak membahas ini.


Dinilainya bunda egois.


Bahkan sudah sejauh ini, bunda masih tetap pada pendiriannya sendiri.


Apa bunda tak kasihan pada anak sendiri?


Reza hanya menjadi pendengar diantara kedua wanita ini. Ini masalah keluarga, rasanya ia belum cukup andil untuk masuk dan ikut dalam masalah ini. Jikapun nanti, otak atau tenaganya dibutuhkan, mungkin saat itu pula ia akan siap.


\======


To Be Continued!


Maaf yah, dikit.


Doain besok bisa double up lagi.


Terus,......


Minta oleh-olehnya dong buat kalian yang abis pulang kampung.


Apa aja!


Bisa jempol sama cuap-cuap di kolom komentar.

__ADS_1


Atau bunga sama kopi juga gak masalah, hihihihi.


Ya pasti gak masalah lah, malah jadi senang.


__ADS_2