
“Kamu punya masalah sama Rindi?” Linggar yang telah duduk depan seseorang yang sedang menikmati seporsi mie ayam.
“Apa?” Gadis itu menghentikan aktiftas suapannya. Matanya membulat penuh.
Antara gugup dan takut berbaur jadi satu.
“Masalah kalian apa? Ada yang bisa aku bantu?”
“Masalah apa?” Ucapnya seolah tak tahu masalah, atau menghindar mungkin.
“Lalu kenapa kamu sampai gituin Rindi?” Linggar masih tenang. Harus tenang jika tak ingin memancing perhatian yang lain.
“Gituin apa maksudnya?” Gadis itu membalas dengan judes. Harus sedikit keras, agar kesalahannya tertutupi.
“Kamu apain Rindi sampai dia luka-luka?”
“Dia Ngadu? Memangnya dia bilang apa?” Semakin jutek dengan mata melirik sinis.
“Dia gak ngadu. Dia gak pernah bilang apa-apa? Bahkan dia bilang gak kenal orangnya. Rindi baikkan? Mau menyembunyikan busuknya kamu?”
“Kalau Rindi gak bilang apa-apa terus kenapa kamu bilang aku dorongin dia?” Tanpa sadar mengucapkan kesalahannya sendiri. “Dasar tukang ngadu.” Ketus.
“Kan kamu yang ngomong sendiri barusan. Jadi kamu dorong dia? Kenapa? Masalah apa? Karena aku?” Keyakinkan diri sendiri jika wanita yang di depannya ini menyukai dirinya.’
“Sekedar info, biar kamu gak menuduh Rindi tukang ngadu. Ada saksi yang bilang ke aku kalau kamu merundung Rindi di kamar mandi. Dan juga siapa-siapa yang berkomplotan sama kamu.” Sambil memandang gadis yang duduk di samping Sinta.
Sementara Intan yang berada di samping Sinta hanya mampu menunduk lemah. Rasa sesal mendatangi, mengapa harus mengikuti Sinta saat merundung Rindi.
Tak usah ragu lagi, pasti dirinya juga masuk sebagai pelaku perundungan. Karena dirinya tak mencoba menjauhkan Sinta dari Rindi waktu itu. Hanya menjadi penonton saja.
“Kali ini kamu dan teman-teman kamu aku bebaskan. Tapi kalau kamu masih mencoba menyakiti Rindi, ya kita liat
saja apa yang aku lakukan ke kamu.” Setelah mengucapkan ancaman itu Linggar langsung berdiri meninggalkan tempat itu.
Tak ingin tersulut emosi karena berbicara dengan Sinta yang telah membuat Rindi terluka namun urung untuk meminta maaf.
“Tuh kan aku bilang apa. Linggar marah. Aku gak mau lagi ah, ikut kamu. Linggar temannya banyak. Bahkan ada yang berandal juga. Kalau Linggar mengerahkan teman-temannya hanya untuk membalas kita gimana dong. Gak ah aku gak mau lagi.” Intan yang lasung mengomel sepeninggalan Linggar.
Dengan kepala yang terus bergerak ke kiri dan ke kanan. Menepis semua bayang-bayang aneh yang langsung menyerang otaknya.
Gadis itu lebih memilih menghapus pertemanan dengan Sinta dari pada harus berhadapan dengan kemarahan Linggar.
Mungkin bukan Linggar yang akan menghukum mereka, karena ia tahu Linggar takkan tega. Tapi bagaimana dengan teman-teman Linggar yang memiliki kriteria bermacam-macam?
Ia lebih memilih mencari Rindi untuk meminta maaf.
------
Dua setengah tahun mereka lalui dengan gaya pacaran yang katanya datar itu. Tapi tetap selalu berkesan bagi mereka. Pernah sekali Linggar meletakkan tangannya ke pundak Rindi hanya untuk merangkul, namun justru ditepis oleh Rindi.
Linggar yang hampir selalu mengikuti keinginan Rindi. Dan Rindi yang seolah semakin terbuka dalam menerima Linggar.
Kini tiba saatnya mereka berpisah? Mengapa?
Linggar menatap Lilis yang baru saja keluar dari ruangan.
__ADS_1
“Rindi mana?” Tanyanya semangat.
“Masih ada di dalam.”
“Rin, bolos dulu yah?” Saat melihat Rindi yang baru saja keluar dari ruang kelas.
“Kemana?” Mata sedikit membola. Tak biasanya Linggar mengajaknya meninggalkan kampus.
“Jalan.” Linggar yang kini telah menarik pelan Rindi, namun terhenti karena gadis itu menghentikan langkahnya.
“Kak, aku masih ada kuliah.”
“Bolos dulu, bisakan?”
“Gak bisa, ini juga baru selesai mata kuliah pertama, masih ada tiga mata kuliah. Rugi dong akunya.”
“Rin, aku berangkat besok. Aku ingin mengabiskan waktu sama kamu hari ini. Ya, boleh ya?” Linggar membalikkan tubuh ke arah Rindi sepenuhnya.
“Tiga bulan Rin, tiga bulan!” Seraya mengacungkan tiga jarinya ke arah Rindi.
“Tiga bulan kita gak ketemu. Apa kamu gak takut kalau nanti kangen sama aku?”
“Rin, mau yah?” Pintanya yang semakin memelas.
“Kita kemana?” Rindi.
Yes, berhasil. Jika saja tak banyak mahasiswa yang melihat mereka ia akan melompat sambil memeluk Rindi.
Rindi marah atau tidak, itu masalah belakangan. Tidak mungkinkan mereka selalu marahan saat terpisah jarak yang jauh membentang.
“Lis, tolong absenin yah. Kalau gak bisa ya gak usah, gak papa.” Rindi harus sedikit berteriak karena telah ditarik oleh Linggar.
“Masih terlalu pagi, memangnya udah ada mall yang buka?”
Jam baru saja menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit. Setelah tadi melewati mata kuliah pertama dengan dosen
yang super disiplin. Terlambat sedikit hitungannya udah gak masuk kelas.
“Ke taman?” Linggar yang mulai merangkul pundak Rindi. Membuat gadis itu mengedikkan bahu.
“Rin, tiga bulan Rin. Cuma kayak gini gak papa ya? Please!” Ia kembali memelas hanya untuk merangkul. Tak terbayangkan jika ia ingin mencium Rindi, mungkin ia harus memohon secara ekstra. Entahlah!
Ok, kali ini di kabulkan. Hanya merangkulkan? Gak lebih.
Lokasi pertama yang mereka datangi adalah taman.
Berjalan berdua seraya bergandengan tangan, lalu berhenti di sebuah taman terbuka. Tak terlalu banyak orang, karena memang saat ini adalah jam sibuk. Sebagian orang justru tenggelam dengan aktifitas masing-masing.
“Ngapai ke sini?” Tanya Rindi yang seolah mati kutu karena hanya tinggal duduk dan memandang taman yang sedikit sepi, tanpa berbuat apa-apa.
“Pacaran.” Entengnya jawaban Linggar membuat Rindi memutar bola matanya.
Linggar membalikkan tubuh Rindi, memasukkannya dalam rengkuhannya. Meskipun Rindi telah berusaha melepaskan diri namun pria itu berhasil menahan segala bentuk pergerakan.
“Tiga bulan, Rin. Tiga bulan kita gak ketemu.” Ucap Linggar yang masih memeluk Rindi.
__ADS_1
“Pasti kangen banget nantinya. Aku ingin puas-puasin meluk kamu. kalau di sana aku rindu gimana?”
“Kita juga belum tau keadaan di sana kayak gimana? Gunung Rin.”
“Gak tau sinyalnya bagus apa gak.”
Rindi mulai melemah, menerima pelukan Linggar dan kini mulai membalasnya. Linggar terseyum. Ia ingin mengukir
kenangan indah bersama kekasihnya sebelum nanti mereka berpisah selama tiga bulan.
Terlalu jauh, dan terlalu lama baginya.
Mengukur lekuk tubuh Rindi dengan caranya, mengukir wajah yang akan selalu ia rindukan setelah keluarga dalam
sanubarinya. Ia ingin menghabiskan hari ini bersama Rindi.
Sebelum akhirnya merasakan siksaan rindu yang akan menyerangnya.
Linggar mengendurkan dekapannya, dan kini menatap dalam wajah Rindi. Menatap setiap pahatan yang terlukis di wajah kekasihnya.
Bibir mungil yang seolah tak mau berhenti mengunyah. Pipi chuby yang selalu menantang untuk menampar dengan
bibirnya.
“Cium boleh?”
“Gak.” Ketus Rindi, yang lebih memilih untuk kembali masuk ke dalam rengkuhan pria itu. Dari pada mengorbankan
pipi atau bahkan bibirnya.
“Ya, udah peluk aja gak papa. Buat stok pelepas rindu nantinya.”
Rindi kembali melepaskan pelukannya, menatap Linggar dengan lekat. Ada rasa iba yang seolah mengetuk hati.
Rindu, bagaimana jika rasa itu juga menyerang dirinya saat mereka terpisah jarak?
“Tapi jangan di sini.” Rindi sambil menutup bibirnya dengan tangannya sendiri.
Apanih maksudnya. Boleh?
Ia serasa mendapatkan jackpot, dan tak boleh menyia-nyiakan waktu lagi sebelum Rindi berubah pikiran. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan.
Segera ia melayangkan ciuman ke kening, kedua mata, hidung dan kedua pipi.
Ah, sayang yang satu itu tertutup.
Dasar, dikasi hati minta jantung.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Mumpung masih hari senin, sumbangin votenya dong!
Sekalian sama bunga dan kopinya yah.
__ADS_1
buat teman nulis.
Biar cepat-cepat masuk konfliknya.