Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Waktu Bersama


__ADS_3

Linggar menguhubungi suami Rima melalui ponselnya.


Meminta ijin untuk tidak pulang dulu, sekaligus meminta satu pertolongan lagi. Semoga saja pria itu tetap berada di kubunya, membantunya dalam menggapai Rindi dan keluarga istrinya itu, tepatnya Reno sang kakak.


"Kak, emmm,...." Ucapnya ragu saat telpon telah diangkat.


" Kenapa?" Ucap pria di seberang sana.


"Aku sama Rindi." Ucapnya ragu plus malu.


"Lah terus kenapa?" Bingung, karena setahunya Linggar sedang berada di kampus memang bersama Rindi.


"Malam ini kami mohon izin enggak pulang ke rumah kakak."


"Balik ke rumah, ya udah salam sama orang tuamu." 


"Nggak mas eh kak." Ucapnya terbata-bata dan kaku hingga dalam panggilan terhadap pria itupun terdengar sangat kaku. Membuat seseorang yang di seberang sana mengerti tentang sesuatu hal yang disembunyikan.


"Kalian kenapa? Lagi di mana?" Ucap pria itu berusaha menggali sendiri.


" Emmm, kami di hotel." Ucap Linggar semakin menahan malu.


Menimbulkan seringai tipis di bibir manusia yang di seberang sana.


Tak ingin membahas lebih jauh lagi, karena ia tahu Linggar dan Rindi sedang menahan malu mengucapkan hal itu.


"Ya udah, berapa malam?" Tanyanya lagi.


"Besok kita balik."


"Oh ok!" Hanya itu, tak ingin membahas lebih. Ia juga mengerti tentang apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri saat di hotel. Bahkan hotel tersebut masih berada dalam lingkungan kota yang sama.


Hah, dasar pemikiran mereka yang belum dewasa.


Atau andaikan saja mereka terlebih dahulu meminta ijin sebelum melakukan cek in hotel ia mungkin akan menyarankan agar mereka ke luar kota saja. Berlibur, dan sedikit menghilangkan penat dan sesak yang selalu saja mengintai kebersamaan mereka.


"Emmm, Kak." Linggar ternyata belum mau mengakhiri panggilan nya.


"Apa lagiiiii," Ucapnya sedikit Ketus namun bibir terukir senyum.


"Emm, Kak Reno." Sedikit lirih, takut jika Rindi sedikit tersenggol dengan satu keinginannya.


"Oh, ok-ok." Ucap pria itu lagi tanpa diperjelas pun ia tahu apa yang Linggar khawatirkan.


Heh, lagi-lagi pemikiran tentang keluar kota itu kembali semakin mengusik pria itu. Jika memang yang ditakutkan adalah Reno, maka butuh waktu lebih jika saja pria itu hendak menyusul dan menjemput adik kesayangannya. Setidaknya setelah mereka selesai dengan segala urusan di sana.


Linggar menghembuskan nafas lega saat panggilan berakhir.


Ia kembali duduk di samping Rindi, yang masih mengunyah ayam crispy. Santapan yang tadi telah ia pesan melalui aplikasi online. Sempat meninggalkan RIndi sejenak untuk turun mengambil makanannya yang hanya bisa sampai di lobi hotel.

__ADS_1


Meskipun sedang menikmati santapan, nyatanya Gadis itu masih mendengarkan pembicaraan Linggar ditelepon.


Merasa cukup untuk hari ini. Menganggap Rindunya pada Linggar telah terpenuhi. Jika kakaknya itu memanggilnya untuk pulang ia akan pulang.


Linggar turut menikmati santapan ayam crispy seperti Rindi.


Meskipun ia berharap jika bisa Menghabiskan malam di sini bersama istrinya.


Namun ia bisa menebak, jika Reno tahu keberadaan mereka berdua sekarang ini sedang berada di hotel. Bisa dipastikan pria itu akan murka semurka murkanya.


Dan dengan segera menjemput Rindi untuk pulang.


Ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.


Pesan dari sang pendukung pun segera ia baca. Senyumnya terukir jelas memancarkan satu kebahagiaan tersendiri.


" Rin, Kak Reno sedang menemani mertuanya keluar kota." Tentu saja ia mengatakan itu dengan sumringah.


Satu penghalang telah disingkirkan.


Euforia dihatinya menghasilkan satu tarikan manja di tangan istrinya.


Menempatkan Rindi di atas pangkuan dan saling berhadapan.


Rindi masih mengunyah, menelan kasar makanan yang harusnya masih Ia kunyah. Kembali satu tarikan Linggar persembahkan kan pada bathrobe penutup tubuh istrinya.


" Kak,isshh."


Linggar hanya tersenyum menyeringai, menatap kulit putih mulus istrinya.


"Nih biar adil." Ucapnya sambil menarik ikatan pada bathroobnya sendiri.


Memperlihatkan penampilan yang hampir sama dengan istrinya.


Lagi-lagi Rindi mencebikkan bibir. Ia masih terlalu lelah.


Namun kini tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengikuti arahan suaminya.


Lingkar membenarkan posisi istrinya yang sedikit bergeser.


"Rin, sini sayang!" Dengan suara yang mulai terdengar serak dan nafas yang yang telah memberat.


H@sr@t sudah tak bisa lagi dikendalikan.


Bahkan diri telah tertanam ke liang istrinya.


Mengarahkan Rindi untuk bergerak berirama. Menimbulkan sensasi yang berbeda dari sebelumnya.


Merapatkan bibir dengan bibir istrinya hanya untuk meminimalisir suara nafas berat yang keluar langsung dari tenggorokan.

__ADS_1


Ia meringis untuk kesekian kalinya saat merasakan seluruh tubuh Rindi mencengkram kuat tubuhnya.


Tersenyum dan memeluk, saat Rindi merebahkan kepala di pundaknya sambil Bunda cepat.


"Cepat yah?" Ucap Linggar berusaha memandang wajah istrinya yang memilih menyembunyikan wajah merah meronanya karena malu di dekapan sang suami.


\========


Linggar kembali membawa tubuh Rindi yang telah ditutupi dengan bathrobe keranjang. Setelah tadi memaksa dan menggendong tubuh polos Rindi masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.


" Rin ini lepas Rin," sambil menarik pelan bathrobe dari tumbuh Rindi.


" Baju aku mana?" Rindi dengan mata yang mengitari seluruh kamar untuk mencari selembar kain.


"Aku laundry, biar besok siap dipakai untuk pulang."


"Nah terus kita pakai apa sekarang?" Rasanya hari ini ia telah beberapa kali memprotes tingkah Linggar.


" Polos dulu nggak papa kan? lagian kan enggak ada orang lain."


" Ya udah aku pakai ini aja," Rindi yang mulai mempertahankan bathrobe di tubuhnya." Masa iya dia harus polos sampai besok. Apa nggak masuk angin nih?


"Jangan ini udah lembab tadi habis pakai mandi." Linggar yang juga mempertahankan dirinya untuk merebut dari tubuh Rindi.


"Kamu bisa masuk angin kalau pakai ini." Masih berusaha merebut bathrobe dari tubuh Rindi. Sementara Rindi pun masih berusaha mempertahankan.


Acara tarik-menarikpun masih terjadi.


"Rin, nanti kamu sakit." Ucapnya penuh penekanan. Merasa Rindi begitu keras kepala.


"Aku gak bisa rawat kamu. bisa-bisa Kak Reno bawa kamu pulang ke rumah ibu. Trus aku gimana nanti?"


"Pc," Hanya mendengarkan ucapan Linggar mampu membuatnya luluh Antara iba dan tak berdaya. Membayangkan jika dirinya sakit dan mungkin Linggar betul-betul tak bisa mendampingi dan merawatnya meskipun pria itu sangat ingin.


Kak Reno pasti akan mencari jalan lain untuk memisahkan mereka. Dengan terpaksa ia membiarkan Linggar menarik selembar kain yang sedari tadi menjadi rebutan itu.


Tidur dalam keadaan polos sambil memeluk erat wanita tercintanya, pun dengan keadaan yang sama, polos.


Menjadi salah satu mimpi terbesar Linggar, dan mimpi itu terwujud sekarang.


Jangan berharap mereka hanya tertidur tanpa melakukan apa-apa.


Bahkan Rindi sempat merajuk saat Linggar meminta jatah untuk kesekian kalinya.


Tubuhnya terasa benar-benar remuk. Ingin sekali beristirahat dengan sepenuh jiwa, namun apa daya Linggar tak melepaskannya sedikit saja. Minimal tangan dan kaki suaminya itu akan memberatkan tubuhnya.


To Be Continued!


Kita lanjut beberapa menit ke depan.

__ADS_1


__ADS_2