Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Penegasan Bunda


__ADS_3

Hari berganti, mereka masih bersama, meski dengan intensitas yang rendah. Hanya sebatas makan siang Semata.


Linggar tiba dengan kantong kresek di tangan berisikan roti sobek isi selai coklat dan srikaya sebagai modal sarapan paginya.


Tak lupa kopi kemasan sachet, menjadikan hari pahit berubah  menjadi manis.


Jam pulang kantor biasanya menyempatkan diri berdiri di depan jendela kaca tempat dirinya dan Rindi pernah membuat kesepakatan.


Kesepakatan tentang berpisah secara perlahan.


Menunggu Rindi yang keluar dari area kantor dengan motor kesayangannya. Meski kadang mata tak bisa menangkap sosok itu.


pulang ke rumah pukul 8 sampai 9 malam, belum siap bertemu dengan Bunda. Mungkin ini masih bentuk protesnya.


Telah hampir seminggu ini ia tak mencicipi makanan rumahnya.


Rindi melangkah sendiri di sebuah lorong kantor lantai atas.


Langkah kakinya yang pelan tak seimbang dengan denyut jantungnya yang sangat cepat.


Otaknya kini tengah diperas, memikirkan kesalahan apalagi yang ia perbuat hingga dipanggil untuk bertemu secara langusung dengan atasan tertinggi perusahaan.


Tepat di hadapan sebuah meja kerja, Rindi meneloh. Meja kerja itu nampak kosong dari sang penghuni.


Tersenyum saat mengingat tempat itu adalah area kerja sang kekasih.


Eh calon mantan kekasih maksudnya.


Kemana Linggar?


Mungkin ada tugas luar, atau sedang berkeliaran ke devisi lain. Mengingat pria itu beberapa kali ia temui di lantai ruang kerjanya.


Mengetuk pintu ruang pak bos dengan pelan berharap tak kedengaran, atau sang penghuni ruang tak ada di tempat hingga ia bisa kembali ke ruang kerjanya.


Sayang, jawaban dari dalam membuat jantung semakin terasa hampir melompat.


Suara berat yang munking baru saja ia dengar selama bekerja di perusahaan ini, mengijinkannya untuk masuk.


Haruskah ia bertepuk tangan bangga dengan itu, mengingat tak semua orang diberi kesempatan untuk memdengar dan berhadapan langsung dengan pria tersebut.


" Selamat siang Pak? Bapak memanggil saya?" Berusaha untuk tenang, harus belajar se-pofesional mungkin sejak kini.


"Siang juga, kamuuuuuu, Rindi? Rindiandira kan?" Pak Adit yang merupakan Direktur Utama Perusahaan itu, sekaligus menjadi atasan langsung Linggar.

__ADS_1


Ah apakah ini masih ada hubungannya dengan Linggar?


"I-iya pak?" Jawabnya sambil mengangguk pelan.


"Maaf, Kamu dipanggil kesini bukan masalah pekerjaan, tapi masalah pribadi. Dan yang panggil juga bukan saya, tapi seseorang yang sangat Kamu kenal."


" Maafkan saya. terlebih dahulu Saya ingin menyampaikan jika saya tidak ada sangkut-pautnya dengan masalahmu sekarang." Pak Adit berbicara panjang lebar setelah melakukan sesi perkenalan singkat.


Masalah apa yang dimaksud Pak Adit?


Beliau mengulurkan tangan guna menunjukkan keberadaan seseorang yang tengah duduk di sofa di dalam ruangannya. Rindi berbalik, menatap arah yang dituju sang pemimpin.


Di sana ada Bunda, membuat Rindi membulatkan matanya penuh. Sampai disini Rindi baru menyadari Apa tujuan Ia dipanggil ke sini.


Menundukkan kembali pandangan, dengan otak dan jantung yang kini tengah bekerja dengan kerasnya. 


"Bun-bunda." ucapnya dengan terbatas, menunjukkan ada rasa takut yang menghampiri.


Sekujur tubuh langsung terasa dingin, Rindi belum siap berhadapan dengan Bunda, apalagi jika harus menghadapi beliau sendiri, tanpa Linggar.


"Tante dong. Kan udah bukan mertua lagi." Balas Bunda.


Rindi menggigit bibir bawah, baru saja menyapa, ucapannya telah salah.


Tak seperti yang biasa Rindi lihat, yang hanya menggunakan dress terusan rumahan.


" Silakan duduk, pembicaraan kita sedikit berat mungkin kamu tidak akan bisa Bertahan untuk terus berdiri di sana." Lanjut beliau. Kepala sedikit miring, melirik ke arah Rindi dengan senyum yang sedikit sinis.


Kali ini, Bunda seperti pemeran antagonis di sebuah sinetron.


Tak ada lagi kehangatan, dari bunda yang pernah Rindi temukan.


"Terima kasih," Ucap Rindi, namun masih enggan untuk duduk. Biarlah dia berdiri saja, siapa tahu langkah cepat mungkin akan berlaku.


Sementara Pak Adit, hanya menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar pernyataan itu. Memilih melanjutkan pekerjaan, Ia tak ingin terlalu terbawa dalam masalah ini.


"Ya udah kalau gak mau duduk juga gak masalah." Mungkin bunda akan memulia pembicaraan pada intinya, ya Rindipun telah siap.


"Kamu sudah bisa menebak Kenapa kamu dipanggil ke sini?" Bunda mendominasi percakapan.


Rindi hanya mampu menggeleng, lidah rasanya kelu, bibir terasa kaku tak mampu ya buka. menunduk, menatap lantai yang ia pijaki.


"Pasti tahu dong, tidak mungkin tidak." Kepala Bunda semakin dimiringkan, dengan lirikan mata yang semakin terlihat jelas. Entah mengapa Senyum itu terasa sangat kejam

__ADS_1


" Ya udah kita langsung saja." Menarik nafas, menghembuskannya dengan perlahan.


Seluruh nada Bunda diucapkan dengan kan begitu tenang, namun entah mengapa, rasa takut tetap saja menyelinap ke dalam dada.


" Kan bunda udah pernah bilang, JAUHI ANAK TANTE! JAUHI LINGGAR." Masih terdengar dengan nada rendah.


Namun diucapkan dengan perlahan agar terdengar jelas dan mudah dimengerti. Berikut dengan penekanan yang terasa turut menekan dalam dada.


"Saya bisa loh meminta Bos kalian untuk memisahkan tempat kerja kalian. Linggar dimana, Kamu dimana."


" Saya bisa, tapi belum. Tahu kenapa?"


" Karena tante masih memberikan kamu kesempatan, untuk MENJAUHI LINGGAR." Kembali penekanan di akhir kalimat, yang berarti hal itu sangat beliau harapkan.


"BUkan melanjutkan hubungan gelap seperti ini."


"Kamu seperti gak ngerti aja sih? Kan simple, tinggal putus doang, apa susahnya sih?"


"Bisa kan? Pasti bisa dong! Kamukan Rindi. Saya tahu kamu tak mungkin mengecewakan saya untuk yang kesekian kalinya lagi."


Ternyata nasihat ayah untuk berbicara pada anak-anaknya tak diindahkan bunda.


Mengambil keputusan seorang diri dan tetap menjalankan keinginannya dengan tegas.


"Apa perlu saya berlutut di kakimu sekarang juga?"


"Demi kebahagiaan Linggar, seorang ibu akan rela melakukan apasaja."


Rindi hanya mampu tertunduk, menatap kosong lantai yang ia pijaki.


Se-begitu besar-kah rasa kecewa bunda padanya, hingga rela melakukan apasaja?


Berlutut?


Bunda berlutut padanya hanya demi meninggalkan Linggar?


Hah, yang benar saja.


Ia bukanlah wanita yang tak tahu diri, hatinya tak sekejam itu untuk membiarkan bunda memohon seperti itu.


"Iya bun, Rindi akan putus dengan Linggar. Permisi." Tak banyak kata yang mampu ia ucapkan.


Bahkan kata maaf sekalipun, mulai melangkahkan kaki tanpa pamit pada kedua penghuni ruang.

__ADS_1


__ADS_2