
"Rin," Suara itu terdengar pilu dengan tatapan sendu cenderung putus asa. Saat ia menghampiri Rindi yang telah duduk bersantai dengan teman-temannya di taman kampus.
Rindi mendongak memandang wajah tampan tapi lesu itu berdiri tepat dihadapannya.
Linggar, suaminya.
Pria yang beberapa hari ini ia rindukan. hanya 3 hari tak bertemu, rupanya Rindu sudah sehebat ini.
" Abaaaaaang," Ucapnya manja, lalu memeluk erat perut Linggar, dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Kangennnnn." Lanjutnya.
Mengidahkan semua pandangan mata yang tertuju pada mereka.
Linggar tersenyum dan ikut memeluk kepala Rindi. Tak lupa elusan ringan pada kepala istrinya.
Rupanya istrinya itu sama merindu nya dengan dirinya.
"Abang nginep di mana?" Rindy mendongakkan kepalanya namun tak melepas tangan yang melingkar di perut Linggar.
Yang ditanya hanya tersenyum memandangnya, masih dengan elusan ringan di kepala.
Apa tadi Rindi memanggilnya?
Abang?
Hahaha, bahkan usus dua belas jarinya pun terasa geli mendengar panggilan itu. Tawanya tertahan berganti dengan senyum merekah.
Jangan sampai keromantisan ini berakhir dengan Rindi yang merajuk.
"Lebay," Kata sinis dari ujung kursi membuat kepala Rindi menoleh. Menatap sang pemilik suara yang ternyata adalah Andini.
" Biarin, weee!" Rindi dengan nada yang juga sinis dilengkapi dengan uluran lidah kepada Andini.
Linggar hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya. Rindi Tak Lagi Bisa digolongkan sebagai wanita polos dan lugu.
Mana ada gadis polos bertingkah seperti itu?
Rindi kembali menengadahkan kepala memandang Linggar. pria belum menjawab pertanyaannya.
" Nginep di mana?" Tanyanya ulang.
"Di rumah lah." Masih setia mengelus rambut istrinya dengan lembut. " Rumah Bunda. Kamu?"
Sesekali tangannya berpindah ke pipi mengelus kulit lembut dan chubby.
"Di rumah juga. Rumah ibu, hihihi." Rindi yang dilanjutkan dengan kekehannya.
Melihat istrinya terkikik membuat Linggar tersenyum semakin lebar. Istrinya semakin mengemaskan di matanya.
Terlebih sikap yang ditunjukkan Rindi yang begitu perhatian padanya membuat dirinya melayang.
Seingatnya, Rindi belum pernah bersikap manja seperti ini padanya.
__ADS_1
Mungkin karena kerinduan yang mendalam menjadi salah satu unsur perubahan sikap Rindi.
Serasa ingin tak peduli, namun otaknya tetap memikirkan hal itu.
Ah Persetan dengan apapun, kali ini ia ingin menikmati perasaan hangat saat cintanya terbalaskan.
" Eh, kalau mau mesra-mesraan itu liat sikon and tempat. Masa iya kalian peluk-pelukan di sini. Ini tuh kampus om-tante. Tempatnya belajar. Dan ingat masih banyak teman-teman yang belum pasangan halalnya."
"Pc, ngerusak pemandangan sama mood belajar aja. Sana pergi!" Pengusiran itu dilakukan oleh Tantri.
" Ya udah kita pergi!" Rindi bangkit dari duduknya, menarik Linggar menjauh dari sana. Melingkarkan sebelah tangannya di belakang tubuh Linggar.
Kali ini ia terlihat lebih posesif dibandingkan Linggar.
Ini suaminya. Orang yang sangat ia rindukan saat ini.
Meskipun sempat kaget dengan sikap Rindi yang mau memeluknya terlebu dahulu memeluknya, Linggar segera membalas perlakuan istrinya. Turut melingkarkan sebelah tangannya di belakang pundak Rindi.
Berjalan bersisian meninggalkan kawan-kawannya.
"Bolos yuk!"
Linggar membelalakan Matanya penuh, mendengar ajakan Rindi yang aneh bin ajaib.
Terlebih lagi tangan Rindi dibelakang Linggar terasa sangat erat. Seolah ingin menampakan keposesifan nya terhadap sang suami.
" Mau ke mana?" Jika dulu pertanyaan itu selalu diucapkan oleh Rindi, maka kali ini diucapkan oleh Linggar.
Ia akan mengikuti kemana kaki Rindi melangkah. Hanya untuk melepas kerinduannya kepada sang istri.
Linggar kembali membuka bola matanya penuh.
Apakah ia salah dengar? Atau Rindi yang ucap?
Baru saja ia mendengar kata hotel dari mulut Rindi.
Menajamkan indera penglihatannya. Barangkali ada sesuatu yang ia lihat dari tubuh Rindi yang bisa menjadi penanda bahwa wanita yang di sampingnya ini bukan istrinya.
Lengkap, sosok itu adalah Rindi, sang istri.
Namun sikap yang ditunjukkan kali ini sangat berbeda. Bukan Rindi yang pemalu, pendiam dan tenang.
Apakah ada kesalahan yang tak ia ketahui.
Rindi sakit mungkin?
Namun fisik itu terlihat baik-baik saja.
"Ke hotel? Ngapain?" Tanyanya memperjelas. Mungkin memang dia yang salah dengar.
" Ya udah nggak usah," Rindi mencebikkan bibir.
Susah payah Ia menahan malu hanya untuk mengajak Linggar ke hotel agar bisa melepaskan Rindu mereka.
__ADS_1
"Iya-iya, maaf-maaf!" Linggar tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
" Nggak usah! MAHAL. Lagian ngapain ke sana?"
Oh astaga, Rindi merajuk.
" Aku yang bayar, Anggap saja kita bulan madu." Ia Pun turut mempererat tangannya dipundak Rindi.
"Mbak, kita mau pesan kamar satu untuk semalam." mereka berdua telah berada tepat dihadapan gadis cantik sang resepsionis hotel.
" Boleh, mau tipe apa?" Ucap sang resepsionis disertai senyum ramah sambil memandang Linggar dan Rindy
secara bergantian.
"Tapi jangan digrebek ya mbak!" Setelah menentukan tipe kamar yang ia ambil sesuai dengan budgetnya.
"Kita berdua udah nikah, nih buktinya!" Linggar sambil menyodorkan kartu nikah dihadapan sang resepsionis.
"Iya deh percaya nggak bakalan digrebek kok!" Masih menampilkan senyum ramahnya.
" Ini apaan?" Rindy yang meraih sebuah kartu dari tangan Liggar.
" Ini namanya kartu nikah."
" Kakak kok ada aku nggak ada?"
" ada," Linggar mengeluarkan satu kartu lagi dalam dompetnya. " Nih, belum sempat aku kasih."
" Ih lucu,..."
Linggar mengerutkan keningnya. Hanya sebuah kartu segiempat Mini. Banyak kartu dengan model yang sama. Di mana letak lucunya?
Mereka mulai berjalan meninggalkan resepsionis. Berjalan dan memasuki sebuah lift.
Rindy masih memperhatikan kartu nikah yang bertuliskan biodatanya saat lift berhenti pada tingkat gedung yang
mereka tuju.
Keluar dari dalam lift berjalan menelusuri lorong sambil mencari nomor kamar yang telah disebutkan oleh resepsionis tadi.
Rindi baru saja tersadar tentang arti melepas Rindu pada sepasang suami istri.
Kembali membaca dan membolak-balikkan kartu nikahnya. menelisik nama dan identitasnya, barangkali ada yang salah ketikan disana.
Hanya untuk mengalihkan perasaannya yang kini seperti sedang gundah.
Sekarang mereka berada di sebuah hotel dengan Linggar yang berjalan memperhatikan satu persatu Nomor kamar yang tertera di pintu.
Dan itu atas permintaannya sendiri.
Oh astaga, Rindi Kenapa kamu jadi seperti seorang wanita penggod@.
Tapi tak apakan menggod@ suami sendiri?
__ADS_1
To Be Continued!