
" Aku udah ada di depan." Pesan yang baru saja Linggar kirim untuk Rindi.
Saat ini ini mobil yang dikendarai pak Bur telah terparkir rapi di depan kantornya, menunggu Rindi pulang kerja.
2 hari yang lalu Iya pulang dari rumah Rindi dengan wajah yang berseri. dan kemarin menjanjikan untuk bersama mencari cincin tunangan.
Pintu penumpang bagian belakang terbuka.
"Ehhhh,...."Pekik Rindi yang baru saja duduk tepat disamping Linggar. Pria itu langsung mendaratkan kepalanya di paha Rindi.
Mungkin memang telah direncanakan dari kemarin saat melihat celana m!n! yang Rindi dikenakan.
Emmmm, benar-benar empuk seperti pemikirannya kemarin.
" Bangun ih," Yang turut disertai dengan dorongan pada kepala Linggar.
" Aku masih dalam proses penyembuhan Rin, perlu banyak istirahat."
Ck, alasan saja. Namun tak bisa mencegah, membiarkan Linggar tidur di pangkuannya. Dan kini semakin betah saat elusan tangan dipersembahkan Rindi.
Membiarkan Rindi memilih sendiri model yang diinginkan, terserah. Asal tertulis nama Linggar dan Rindi pada tiap-tiap cincin yang akan mereka tukarkan nanti.
Setelah memilih sepasang cincin tunangan, memutuskan makan malam berdua.
Pak Bur mengambil langkah untuk tak mendekat pada dua insan yang tengah berbahagia itu. daripada dijadikan obat nyamuk.
Kembali ke rumah dengan wajah yang semakin bersinar.
Mereka telah memilih cincin tunangan.
Hari belum usai, masih ada malam yang seolah semakin panjang saja untuk di lalui.
Denting jarum jam serasa lambat berputar.
Masih ada 5 kali yang diperlukan bumi untuk berotasi pada porosnya sendiri, hingga hari bahagia itu tiba.
Ah lama sekali menunggu akhir pekan tiba.
\==========
Reno turun dari mobil dengan kening berkerut saat memandang tenda putih berhias bunga dan dekorasi indah di halaman rumah orang tuanya.
Mobil-mobil telah berjajar hingga memenuhi lorong komplek.
Ada acara apa gerangan?
Mengapa orang tuanya tak memberitahu tentang semua ini.
Perlahan mulai melangkahkan kaki masuk dengan tas jinjing perlengkapan anak di tangan. Diikuti istri yang menggandeng tangan Putri semata wayang mereka.
Melangkah diantara kursi-kursi berselimut kain putih gading yang berjajar dan telah dihuni oleh para tamu. Sebagian atau adalah keluarganya.
Mata kembali menyapu ke segala penjuru. Di sana ya melihat Rima beserta keluarga kecilnya turut duduk sambil berbincang.
Dan yang lebih mencengangkan lagi kedua mertua yang katanya memiliki acara dengan relasi turut hadir di sana.
Hah, relasi yang dimaksud ternyata adalah orang tuanya. Relasi apa?
"Ini anak pertama saya," Reno terhentak kaget, saat suara ibunya sangat dekat.
Semakin tercengang, saat ibu yang terlihat tampil dengan paripurna langsung menyambar lengannya, sedikit lebih kuat dari biasanya, memperkenalkannya entah pada siapa.
"Namanya Reno dan ini menantu saya sama anaknya." Beralih memperkenalkan istrinya tanpa melepas tangannya.
"Ayo masuk! Ibu butuh bantuanmu." Ibu terus tersenyum dan menarik tangannya dengan bertenaga.
Hingga ke belakang, pintu samping Ibu telah mengambil alih tas yang sedari tadi ia jinjing.
Kemudian meraih sebuah gunting rumput dan memberikannya pada Remo.
__ADS_1
"Tolong bantuin bersihkan kebun Bapak ya."
WATH?
Saat semuanya tampil dengan maksimal, Ibu justru menyuruhnya menjadi tukang kebun.
"Yah! yah! yah!" Pinta ibu dengan wajah terlihat begitu penuh pengharapan.
Pengharapan bahwa dirinya tak ada ada acara itu.
"Kalau kamu nggak mau di sini, ke kamar aja bawa arah juga." Kali ini Ini pinta Ibu pada istrinya.
"Di depan ada acara apa bu?" Tanyanya pada ibu yang seketika itu pula menatapnya setelah memberikan senyuman pada cucu berikut elusan ringan di kepala.
Ibu memejamkan mata sambil menarik napas dalam, seolah menikmati saat oksigen mengalir lewat sistem pernapasannya.
Lebih baik jujur, toh Reno juga telah berada di sini.
"Jangan ganggu acara ibu!"
"Ibu mohon!"
Mata Reno melotot dengan kedua kening dinaikkan, bingung.
Apakah dirinya dianggap pembuat onar?
Duduk tepekur di sisi teras di temani sang istri. Sementar anaknya tengah asik bermain di bawah pohon rambutan yang tak berbuah, bukan musimnya.
Matanya membulat seketika saat mendengarkan suara MC dari pengeras suara yang tengah membuka acara tersebut.
Acara lamaran sang adik yang terlaksana tanpa kehadirannya.
Yang lebih mengesalkan lagi adalah calon pendamping adiknya adalah pria yang selama ini ia benci.
Pria yang dengan sengaja pernah merenggut kehormatan adik kesayangannya itu.
Menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan mata yang terpejam erat.
Bagaimana bisa Rindi memilih pria b3jat seperti itu?
---
"Rindiandira Ningsih Khaeruddin, semenjak engkau meraih tanganku dan menggenggamnya, semenjak itu pula aku berniat tak ingin melepaskannya."
Suara Linggar menggema melalui pengeras suara. Tangan sedikit bergetar memegang microphone.
Ia pernah menikah tapi lamaran seperti ini tak sempat berlangsung.
Semua tersenyum, tersipu malu tersipu malu.
Kecuali Reino yang di belakang sana, mendengus dan melempar gunting rumput yang sedari tadi berada di tangan tapi tak ia pergunakan. "Sok romantis."
"Sabar sayang," Elusan ringan Ia dapatkan kan dari sang istri.
" Mungkin ini yang dikatakan dengan cinta pada genggaman pertama."
" Banyak hal yang telah kita lewati bersama untuk sampai di posisi ini."
Linggar terdiam, mengingat jatuh bangun hubungan mereka berdua.
Pernah bersama kemudian terpisah, dan dari perpisahan itu menimbulkan luka yang cukup dalam untuknya.
Bahkan pernah merasa, Jika hubungan ini akan selesai begitu saja.
tapi Tuhan berkata lain, kembali mempertemukan mereka hingga bersama pada acara ini.
Tak ingin menyalahkan siapapun akan hal itu, mungkin ini takdir yang harus mereka jalani.
Sempat mengusap kedua pipi dengan telapak tangan terlebih dahulu.
__ADS_1
Kemudian kembali menarik nafas dalam demi melanjutkan kata.
" Aku pernah memilihmu, sekarang kembali memilihmu, dan untuk selanjutnya aku akan terus memilihmu berulang-ulang tanpa jeda tanpa ragu untuk terus bersama."
" Terima aku, dan mulai hari ini kamu tidak akan berjalan sendirian Hatiku akan menjadi rumahmu dan tubuhku akan menjadi tempat berlindung mu."
Menganggukkan kepala pada akhir kalimat pertanda pintanya telah di ungkapkan dengan mantap.
Hati berdebar menanti jawaban Rindi.
Rindi tak mungkin menolaknya kan? Yakinnya dalam hati.
" Dear mantan."
Tawa kecil terdengar dari tamu undangan.
Ck, Linggar berdecak kesal Kenapa Rini harus menggunakan kata itu?
" Pegang tanganku kembali, dan aku akan mengikuti kemana langkahmu membawaku."
" Dan kita akan bersama, bukan hanya hati raga tapi juga hidup."
Rindi lengkap dengan senyum merona.
Linggar di dampingi bunda dan ayah berdiri saat seorang dari team event organizer mengarahkan mereka untuk berdiri.
Maju ke depan menghampiri Rindi yang turut berdiri di dampingi ibu dan bapaknya.
Mengulurkan sebuah buket bunga indah, dan di sambut dengan senyuman sipu sang pujaan hati.
Rindi meraih, menjemput bunga pemberian Linggar, pertanda pun ia menerima lamaran Linggar untuk melangkah bersama dalam hidup.
Selanjutnya saling bertukar cincin sebagai pengikat.
Entah sadar atau tidak, Rindi mendekatkan buket bunga itu ke arah hidungnya, menghirup wangi bunga yang turut menentramkan hati.
Menempatkan bunga tepat di hadapan wajah, hanya ingin menutupi mata yang langsung saja berair, entah kenapa.
Mungkin ini akhir kisah cinta mereka, bahagia.
Mungkinkah?
Semoga saja?
Sekarang pintanya, semoga Tuhan memberikannya umur yang panjang, tubuh yang sehat dan semua berjalan dengan baik hingga hari pernikahan tiba.
Pun dengan Linggar.
Di balik senyumnya, terlihat ia beberapa kali mengusap wajah dengan telapak tangannya.
Memikirkan acara yang baru saja ia lewati hingga tak bisa tidur beberapa malam sebelumnya, akhirnya selesai juga dengan binar bahagia dan keharuan.
\========
Alhamdulillah bisa UP.
Beberapa hari kemarin gak bisa guys.
Cuaca mempengaruhi Coneksi, hingga menjadi salah satu alasannya.
Beberapa hari kemarin petir menggelegar membuatku dilarang pegang ponsel apalagi menghidupkan laptop.
Buka lagi eh coneksi belum bersahat ternyata.
Bayangin aja, naskah udah siap eh dianya malah muter-muter gak tau kemana.
Esmosihpun menghampiri.
Sebelum amarah mendekam di jiwa, lebih baik off baru bobo.
__ADS_1
Tapi sekarang udah up lagi, minta dukungan n doanya juga yah! moga bisa lanjut lagi acara hingga ke pernikahan.
Eh jadi nikah gak sih?