
"PAGI," Semangat Linggar memulai hari.
Menghampiri meja makan yang telah dihuni terlebih dahulu oleh kedua orang tuanya.
Penampilan masih seperti biasa. Dua kancing kemeja atas tak terpaut dengan lubangnya. Lengan baju tergulung hingga siku. Meski ujung baju berada dalam celana, dengan memamerkan ikat pinggang hitamnya.
Begitu saja dulu, biar sebentar Rindi yang merapikan penampilan penampilannya lagi. Bisa menatap wajah cantik sang kekasih dari dekat.
Linggar mencibir sendiri lalu tersenyum samar saat mengingat Rindi menolak saat ia meminta ijin untuk mencium. Dasar, sok jual mahal. Padahal lebih dari ciumpun udah sering.
"Pagi juga." Balasan yang sama dari kedua orangtuanya. Membuat Linggar menyumbangkan senyum manis lebih merekah pada keduanya.
"Ada apa bun?" Tanyanya sambil mengelilingi meja makan. Tangan bertengger di bahu bunda, merangkul.
"Bubur kacang ijo. Mau?" Bunda yang baru saja menuangkan menu itu di mangkuk ayah, Linggar mengangguk.
Menyuapkan sesendok bubur kacang ijo yang baru saja dituangkan bunda ke dalam mangkok yang berada di hadapannya ke dalam mulutnya.
Rasa manis menyeruak membanjiri setiap rongga mulut. Emmmm, semanis hidupnya kini.
Dengan rasa gurih semakin melengkapi, seperti kesal Rindi yang mampu membuat ia tersenyum.
"Terima kasih untuk sarapannya," Ucapnya dengan gaya manja menirukan gaya ABG. Kedua tangan terbuka tepat di bawah dagunya.
"Aku pergi dulu," Ucapnya mulai melangkah keluar rumah, tak lupa kecupan di pipi bunda kanan dan kiri.
Ayah? Kok ia merasa geli sendiri memberikan kecupan pada salah satu orang tuanya itu.
__ADS_1
"Linggar tunggu bunda?" Bunda berlari kecil mengikuti putranya yang telah berdiri di teras rumah.
"Kenapa bun?" Menengok ke belakang, ayah belum muncul.
"Eh, gak. Gak pa-pa." Bunda berlalu terus melewati Linggar. Kepala sesekali menoleh ke samping kiri-kanan, seperti sedang mencari sesuatu.
Dengan segera bunda keluar pagar, berhenti sejenak, kemudian kembali melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa.
"Eeehhh bu guru," Suara bunda membuat mata Linggar membulat penuh. Bersamaan dengan suara decit pelan karet bundar dari kendaraan roda dua.
Namun mendengar panggilan itu membuat Linggar mengeleng-gelengkan kepala. Pria itu tahu persis siapa yang menjadi lawan bicara bunda saat ini. Yang terdengar justru ucapan salam dengan tutur lemah lembut.
"Pagi juga bu."
"Jangan panggi ibu dong. BUN-DA. Panggil bunda saja, biar lebih akrab." Suara bunda yang terdengar sedikit riang setelah bertemu sang gadis pujaan.
Menghela napas pelan, siap menghadapi cekatan bunda di depan sana.
Dan benar saja, saat mobil baru menyembul ke luar gerbang suara bunda terdengar nyaring memanggil namanya.
"Gar, Linggar." Teriakan tertahan bunda membuat ia memelankan laju mobil dan berhenti tepat di hadapan bunda dan sang bu guru yang masih bertengger di atas motor maticnya.
"Kenapa bun?" Tanyanya basa-basi padahal ia tahu sendiri jika bunda akan mempertemukannya lagi dengan sang ibu guru.
"Ini loh, putra bunda,Linggar." Tangan bunda melambai ke arah Linggar seolah memberikan isyarat agar putranya itu turun dari mobil dan mau bertemu dengan bu guru.
"Bun, aku mau ke kantor, takut telat bun." Ucapnya seraya mempersembahkan senyum manis, berharap gadis itu tak tersinggung dengan penolakannya.
__ADS_1
"Bu guru juga bisa telat kalau bunda tahan buat ngombrol." Ucapnya seraya menatap sang gadis.
Namun gadis itu justru tertunduk, seperti enggan untuk menatap Linggar.
"Ya udah, kalian bisa ketemu lain waktu kok. Tetanggaan juga, tapi kok susah ya ketemunya?" Bunda terlihat heboh sendiri.
Sementara bu guru, masih betah tertunduk sesekali menggukkan kepala meski bibir tersenyum. Mungkin itu hanya bentuk penghormatan buat bunda.
"Bun aku pamit yah!"
"Ya udah, hati-hati di jalan kamu!" Tangan bunda kembali melambai ke arah Linggar.
Menghembuskan napas pelan. Rongga dada sedikit lapang, bisa lepas sekarang.
Melirik pergelangan tangan kirinya, menatap jam. Rindi pasti telah menunggu.
Tak ingin kesalah pahaman dengan bu guru bergulir semakin lama. Sang otak masih berpikir, siapa yang terlebih dulu akan diberi pegertian. Namun tetap ingin membuat siapapun tersinggung. Entah itu bunda atau sang gadis.
Mobil Linggar mulai melaju.
Barulah Adiba mengangkat kepala menatap mobil yang perlahan menjauh dari posisinya, memandang ke arah sana.
Pandangan mereka bertemu dalam pantulan kaca spion mobil Linggar.
Tak ada ekspresi diantara keduanya, pun dengan seberkas senyum.
Entahlah untuk sang hati. Bukankah hati tak mudah ditebak?
__ADS_1