Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Menenangkan Diri


__ADS_3

" Maaf," Kata itu yang  terdengar saat mobil telah terparkir di depan rumah Rindi.


" Kenapa tadi nggak bilang sama tante kalau kamu nggak mau pesta?"Linggar.


"Aku nggak tega, mereka kayaknya semangat banget ngatur Pesta kita." Rindi menjawab dengan kepala yang menunduk, tangan sibuk memainkan tas kerja yang berada di pangkuannya.


"Sampai malam lagi." Lanjutnya, melirik ke arah Linggar yang kini telah mengganti pakaian menjadi lebih santai setelah mandi tadi, harum sabun dan shampo masih melekat. Berbeda dengan dirinya yang masih mengenakan pakaian kerja yang sedari tadi pagi melekat di tubuh.


" Jadi sekarang kamu tahu kan alasan kenapa aku nggak bisa nolak saat Bunda bilang mau adakan pesta besar untuk kita." Linggar kembali berbicara. Kedua tangan masih berada pada kemudi.


"Asal kamu tahu, tante Mira nyumbang gedung sama dekorasi buat kita."


Mata Rindu terbelalak saat mendengarkan penuturan tersebut.


Gedung beserta dekorasi pesta bukanlah hal yang murah. Tapi mereka justru mendapatkan itu secara gratis. Bahkan mereka masih diizinkan untuk menentukan tema dan konsep pesta sesuai keinginan.


" Ada lagi yang mau kamu minta?" Linggar. "Kalau masih ada bilang aja, biar gondoknya dikeluarin, Jangan dijadikan penyakit."


Sesaat kemudian tangis RIndi pecah. Tangis yang telah beberapa hari ia tahan, dan itu entah karena apa.


"Kenapa?" Linggar yang membiarkan Rindi menangis, mungkin setelah ini bisa lega. Belum tersentuh untuk menenangkan calon istrinya itu. Hanya memandang wanita itu menangis.


"Aku takut."


"Takut kenapa?" Linggar.


"Takut kalau-kalau pernikahan kita Kandas lagi." Sesekali tangan terangkat menyeka wajah.


"Bunda kayaknya belum ngasih Restunya."


"Kak Reno juga, Sampai sekarang aku belum ngomong sama dia. Cuma ibu yang bilang, jangan sampai pernikahan kita gagal, Kak Reno mau dipecat jadi anaknya." Dengan terisak Rindi menceritakan beban yang mengganjal di hatinya selama ini.


Sejenak Linggar berpikir jika ketakutan Rindi memang berdasar.


Pernah berumah tangga sebelumnya dengan orang yang sama, namun berakhir dengan perpisahan.


Saat itu meraka masih muda.

__ADS_1


Belum terlalu mengerti kehidupan itu seperti apa, hingga begitu mudahnya dirongrong dan dikendalikan oleh orang lain.


Tapi kini.


Umur menjadikan mereka dewasa.


Pengalaman akan menjadi sebuah pelajaran hidup ke depan.


APa lagi yang ditakutkan.


Dan kini Linggar tak lagi mampu menahan diri untuk membawa Rindi dalam dekapannya.


"Kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Makanya kamu kayak stress." Mencoba menenangkan.


"Maaf juga, kemarin sempat menambah beban pemikiranmu."


"Harusnya semuanya kamu bicarakan, jangan selalu memendam sendirian. Sebentar lagi kita menikah, kita akan menjadi pasangan hidup. Artinya apa?"


"Semuanya akan kita lalui bersama. Baik itu susah dan senang. Aku maunya, kamu tetap akan ada di sampingku, bagaimanapun nanti keadaanku. Dan seperti itu juga aku, akan tetap mendampingimu Apapun Yang Terjadi."


Usapan tangan Linggar yang lembut pada kepala RIndi seolah membuat hati semakin tentram saja.


Linggar sedikit menunduk, mengintip wajah Rindi.


Dalam hati merasa bersukur saat ini ia tak lagi memakai pakaian kerja dengan dasi yang terjuntai turun. Bisa-bisa dasinya yang jadi korban tangisan Rindi. Tapi sekarang semakin khawatir jika baju kaos putih yang ia kenakan justru dijadikan lap air mata dan,....


"Kamu butuh sedikit ketenangan." Perlahan melepaskan dekapan pada RIndi.


" Apakah kamu butuh healing-healing juga?"


"Ck," Lagi-lagi cebikan bibir dari Rindi menjawab pertanyaannya.


\==============


"AAAAAAAAAA,...." Suara nyaring terdengar hampir bersamaan melengking di udara, seolah hendak merobek atmosfer di sekitarnya.


Saat kereta meluncur menukik tajam dengan kencangnya entah dari ketinggian berapa meter pada rell dengan sudut hampir sembilan puluh derajat.

__ADS_1


Di akhir pekan ini Linggar membawa Rindi healing-healing. Hendak melepaskan semua yang mengganjal dalam hati Rindi.


Dan yang ada di otak Linggar, adalah membawa Rindi ke tempat theme park.


Berteriak semaunya, sekencang-kencangnya, tanpa ada yang menahan pun tanpa harus menahan malu.


Berharap setelah ini, mereka bisa menghadapi segala macam masalah dengan hati yang lebih lapang dan otak yang dingin,


Terlebih dalam menghadapi kesibukan yang berkaitan dengan acara pernikahan mereka.


" Udah, pusing." Rindi yang mulai lemas saat mereka baru saja turun dari Arena Roller coaster. Permainan kedua yang telah mereka nikmati.


" Belum Rin masih ada!" Linggar yang kini memapah Rindi. Berjalan keluar dari Arena.


" Nggak kuat Kak," Tangannya memeluk erat pinggang Linggar. Dunianya seolah berputar, oleng.


" Kali ini nggak extreme, kita slow aja. Kamu pasti suka." Linggar terus menuntun wanita yang memang hanya mampu berjalan dengan bantuan orang itu. Memberikan dua buah karcis pada penjaga arena yang akan mereka nikmati kali ini.


"Rin, lihat Rin! kita udah di atas!" Masih memeluk Rindi, yang turut menyandarkan kepala di dadanya. Keranjang  yang mereka tempati telah hampir mencapai puncak.


Rindi mengintip, masih sedikit pening tapi Linggar tak memberikan kesempatan untuknya beristirahat sejenak.


Dari sini mereka dapat melihat pemandangan di bawah sana. Beberapa arena permainan yang tertata rapi, dan padat pengunjung yang terlihat kecil dari atas sini.


" Cantik kan?"


Rindi mengangguk, sesaat setelahnya merasakan sesuatu yang empuk mengenal di keningnya. Linggar baru saja mengecup di sana.


\=========


Maaf yah, Upnya lama.


Kemarin sempat jadi Kuli percetakan, banyak nikahan banyak orderan.


Linggar sama RIndi juga minta tolong dibuatkan undangan pernikahan, tapi belum ngasi DP.


Siapa tahu ada yang mau bantu sumbangin koinnya, hihihihi. (Dindanya modus minta sumbangan )

__ADS_1


__ADS_2