Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Masih, Kegiatan Pagi Hari


__ADS_3

“Gak ikhlas ya gak usah!” Ibu yang sedang menambahkan beberapa bumbu nasi goreng yang tadinya telah ia haluskan. Wajah sedikit dibuat cemberut.


“Bukan gitu bu, biar sekalian aja. jadi gak bolak-balik lagi. Jadi bisa bantuin ibu sama bapak.”


“Itu juga termasuk bantuin Dira!” Ibu dengan sedikit penekanan.


“Iya—iya.” Kembali melangkah ke luar kebun untuk yang kesekian kalinya. "Sekalian nanti Dira ambilin sama tanahnya!"


“Ga usah bawa tanahnya!" Ibu masih mendengar ucapan Rindi.


"Sekalian di siram tanamannya Dir!” Ibu yang sedikit teriak. Mendapati putrinya merajuk entah mengapa rasa iseng timbul di hati untuk menjahili.


“Gak usah!” jawaban dari bapak. “ Entar aja, biar bapak aja!” Bapak yang kembali mengulek setelah mengiris tomat


kecil-kecil dan memasukkan ke dalam lesung.


Rindi masuk dengan seledri yang penuh dalam gengamannya.


“Ya ampun banyak banget!” Pekik ibu saat melihat hasil petikan Rindi.


“Kan, tadi bilangnya yang buaaanyak!” Dengan kedua tangan direntangkan dari atas turun ke bawah,


membentuk sebuah lingkaran besar.


“Ya, gak gitu juga kali Dir.” Ibu dengan mencebikkan wajah. Mengerjai anaknya ternyata berbalik membuatnya jengkel.


“Kamu yang numis Dir!”Bapak yang menunjuk kearah lantai. “Sssttt.”


Beberapa kali terdengar desisan dari arah bapak. Beberapa kali menyapu ke arah hidung dan mulut dengan lengan


baju, mungkin kepedisan.


Di sana ada sebuah wadah kecil berisikan hasil sambal ulekan bapak. Di tambah sambal yang masih berada di dalam lesung, membuat Rindi meringis.


Mau apa bapak membuat banyak sambal? Seperti orang yang sedang memberi makan sekampung. Atau orang yang sedang balas dendam karena kemarin tak mendapatkan sambal andalannya dalam beberapa kali sesi makan.


Sementara bapak mulai beranjak meninggalkan kedua wanita itu yang masih berkutat dengan dapur.


"Bu, banyak bangeeeeet sambalnya!" Rindi sambil memperlihatkan hasil ulekan bapak.


"Takut gak kebagian lagi katanya." Ibu bergeser sedikit memberikan ruang untuk Dira yang siap menumis sambalnya.


Acara memasakpun di lanjutkan hanya dengan dua personil wanita. Setelah beberapa waktu, hidangan hasil karya mereka telah tersedia di meja makan.


“Dir, bangunkan suamimu!” Ibu yang memandang ke arah Rindi.


“Iya bu.” Mulai beranjak menjauh dari dari ke arah kamarnya. Dalam langkahnya, otaknya di buat bekerja tentang bagaimana cara membangunkan suaminya itu.

__ADS_1


Kata apa yang akan ia ucapkan pertama kali untuk menyingkirkan kecanggungan setelah kejadian semalam.


Apa yang ada di pikiran Linggar saat ini?


pikirannya terbang melayang kembali ke malam tadi.


Pembicaraannya dengan kakaknya menyisakan sesak di dada.


Andaikan tak ada permintaan dari seorang Reno untuk rumah tangganya, mungkin semua akan baik-baik saja.


Ia dan Linggar akan menghadapi kehidupan pengantin baru yang sewajaranya. Atau mungkin saat ini, ia lebih


memilih berbaring di dekat suaminya sambil bercanda dan tertawa dari pada masuk ke dapur membantu ibu menyiapkan sarapan pagi.


Banyaknya pikiran tak sebanding dengan langkah yang harus di tempuh dari dapur ke kamarnya.


Ia masih harus mencari solusi dari semua masalah yang dilimpahkan kakaknya.


Diam terpaku di depan pintu kamar dengan pandangan ke arah kakinya berpijak. Bahkan untuk masuk ke kamarnya sendiripun terasa meragu dalam hati.


Menarik napas dalam-dalam, berhenti sejenak berharap bisa mengisi otak dengan sedikit oksigen. Hembuskan secara perlahan, semoga mampu melapangkan dada yang sedikit terasa sesak.


Entah mengapa hanya untuk menekan hendel pintupun terasa berat.


Menyembulkan kepala berniat untuk mengintip terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Suara pintu yang di timbulkan ternyata cukup untuk menyadarkan seseorang dari imajinasi yang sempat melayang.


Linggar telah bangun dari tidurnya. Bahkan telah duduk bersandar di headbed menatap ke arahnya.


“Kak di panggil sarapan sama ibu.” Ia tak lagi mampu menyembunyikan diri.


“Hemm,” Perasaan jengkelnya masih ada pada Rindi. Memalingkan wajah agar tak menatap istrinya itu.


Namun tak bisa. Pesona Rindi terus saja mengusiknya.


Hingga ia kembali menatap Rindi yang masih menatapnya di ambang pintu. Mata mereka kembali bertemu, membuat sang wanita merasa salah tingkah memilih tersenyum menyamarkan kegugupan.


Linggar tak membalas hanya tatapan yang masih betah ke arah istrinya, rasa kesal itu masih ada.


“Aku tunggu di meja makan yah!” Tak perlu menunggu balasan, karena pintu segera ia tutup dan berlalu.


Meninggalkan Linggar yang kembali mencebik.


Mulai bangkit dari ranjang, membersihkan sisa-sisa kantuk yang masih merajalela. Andaikan ini rumahnya,


bisa dipastikan ia masih bergulung di bawah selimut.


Semalas apapun ia harus tetap bangkit dari sana.Di rumah ini ia terasa masih sangat asing. Terlebih lagi masih banyak keluarga yang siap menilai sikap dan perilakunya.

__ADS_1


Ikut bergabung dengan beberapa keluarga di meja makan. Di beberapa tempat masih tampak beberap pria yang masih berada di alam mimpi.


Ada yang tidur di sofa, ada yang tidur hanya beralaskan selimut di depan tv. Mereka adalah orang-orang yang sempat ia temani berbincang sebelum akhirnya ia masuk ke kamar Rindi.


Hemm, rupanya benar mereka mungkin begadang hingga fajar.


Duduk di salah satu kursi yang berada tepat di samping istrinya. Di sana, masih didominasi oleh kaum perempuan, karena kaum prianya masih tertidur, ya itu tadi.


Pc, andaikan saja ia boleh memilih, mungkin ia juga ingin kembali ke kamar dan merebahkan diri.


"Pengantin barunya lesu banget!" Ucapan dari sebelah meja sana.


Wanita yang mungkin seusia kakaknya sedang menyuapkan makanan ke arah seorang balita laki-laki yang duduk di samping, emm mungkin ibunya itu.


Eh, tidak lagi. Karena balita itu sudah beranjak dan berlari mengikuti seorang balita lainnya yang sedang memainkan pesawat.


"Semalam masuk kamar jam berapa?" Seorang wanita yang hampir seusia bundanya. Ia ingat wanita ini yang semalam mengantarkan kopi pada pria yang tengah berkumpul di ruang tamu termasuk dirinya.


Ia belum terlalu hapal dengan nama-nama keluarga Rindi. Tapi salut dengan semangat semua keluarga ini dalam menghandiri pernikahan dadakannya bersama RIndi.


"Jam dua belasan lewat tante." Sambil senyum di wajahnya.


"Kamu ikut begadang?"


Nah, yang ini ia tahu. Bapak mertuanya.


"Gak capek?"


"Capek sih om, tapi seru jadi lupa waktu."Bukan kantuknya yang jadi masalah, tapi ingin bersama RIndi yang terus ia pikirkan saat sedang bersama dengan yang lainnya.


Apesnya, ia malah ditolak sama istrinya saat masuk kamar, heh.


"Ckckckc, dasar anak muda." Bapak mulai acara makannnya, tentunya tak melupakan sambal terasi yang tadi ia racik sendiri.


"Abis makan, kamu tiduran lagi."


"Iya om, makasih." Mengukuti jejak mertuanya.


"Kamu panggil om sama mertua kamu?" Wanita yang tadi.


"Hehehe, lupa tante. Belum terbiasa juga."


"Kalau anak-anaknya tuh, manggilnya bapak. Jadi kamu harus ikut panggil bapak." Masih dari wanita tadi.


"Hehehe, iya tante."


"Ba-pak," Ucapnya sedikit ragu.

__ADS_1


To Be Continued!


Maaf, belum bisa suguhkan double up episode!


__ADS_2