Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Sisa Semalam


__ADS_3

“Kamu pulang aja dulu! Udah malam juga, besokkan harus kuliah.” Suami Rindi yang keluar hanya untuk menemui Rindi.


“Kak Rima bagaimana mas?” Rindi baru saja mengurus administrasi Rima.


“Udah pembukaan tujuh. Mungkin subuh atau pagi.” Pria itu mencoba untuk tetap tenang, meskipun di dalam hati rasa khawatir rasanya memenuhi dada.


“Aku tungguin aja ya mas?” Pinta Rindi.


“Gak usah. Besok pagi datang aja kalau mau.” Kali ini mencoba tersenyum ramah ke arah RIndi.


Gadis itu terlihat sangat antusias menunggui Rima hingga melupakan dirinya sendiri yang juga harus beristirahat.


“Gak usah bilang ke siapa-siapa dulu yah. Ini udah malam, takutnya yang lain panik. Besok pagi aja, telpon kakak kamu.” Lanjutnya.


“Iya.” Rindi mengangguk paham, tak lama iapun meletakkan tangan di depan mulutnya, dan sedikit menahan untuk tidak menguap hingga matanya sedikit berair seperti hendak menangis.


“Emm, kalau besok mau ke sini tolong bawakan baju ganti yah, boleh gak!” Lanjut pria itu.


“Boleh kok, terus apa lagi mas? Perlengkapan mandinya juga sekalian mau di bawakan?” RIndi kembali menggangguk.


“Iya boleh, buat jaga-jaga aja. Kamu minta tolong sama bi Sumi buat carikan bajuku.”


“Baik mas, aku pulang dulu yah.” Seraya membalikkan badan dan mulai melangkahkan kaki.


“Iya. Eh tolong cek Aska juga yah!” Suami Rima sedikit menaikkan nada suaranya, memandang Rindi yang beberapa langkah di depan sedikit lebih jauh.


“Ok.” Sejenak Rindi membalikkan badan kembali memandangi pria itu, dengan telunjuk dan ibu bertemu membentuk sebuah lingkaran kecil.


Setelah sibuk mengurus persiapan dan perlengkapan Rima yang akan melahirkan, membuat Rindi lupa dengan rasa sakit semalam setelah mendengarkan kata talak dari Linggar.


Rasa lelah membuatnya langsung terlelap saat telah sampai ke kamarnya dan bertemu dengan bantalnya.


Rindi kembali ke RS saat pagi hari dengan tangan yang penuh dengan tentengan. Ada kotak bekal dan pakaian ganti lengkap dengan perlengkapan mandi untuk suami Rima.


Sesuai dari info yang ia dapat, Rima sedang berada di ruang persalinan. Berjuang diantara hidup dan mati,


melahirkan seorang umat.


Ia memutuskan untuk menunggu Rima melahirkan dengan duduk di kursi tunggu.


Tak lama berselang ia duduk, telah terdengar suara tangisan bayi dari balik pintu. Mungkin Rima memang telah


lama berjuang sebelum dirinya sampai di tempat itu.


Ia langsung berdiri dari duduknya dengan meletakkan semua perkakas yang dibawanya. Sangat antusias saat mendengar tangisan pertama bayi itu.


“Gimana?” Tanyanya saat melihat suami Rima keluar dengan senyum lebar di wajahnya.


“Cewek Dir.” Pria dengan senyum yang sangat merekah.


“Alhamdulillah." Mengusap kedua tangan ke wajah sebagai bentuk rasa sukur dan leganya. " Aduuuuuh, jadi gak sabaran liat baby baru.” Kali ini ia mulai berjingkat-jingkat.

__ADS_1


Membayangkan bayi mungil itu akan ia dandani nantinya. Baju princes mini yang melekat di tubuh mungil itu dilengkapi dengan bando kupu-kupu atau pita. Iiiiih pasti lucu.


“Kak Rima gimana?” Tanya lagi.


“Baik. Tunggu aja, bentar lagi diantar ke ruang perawatan.” Sambil berjalan ke kursi tunggu.


“Itu baju sama perlengkapan yang mas minta. Ada sarapan juga dari bik Sumi.”


“Oh ya, terima kasih. Sudah hubungi kakakmu?”


“Sudah mas, mungkin sebentar lagi mereka sampai.”


“Thanks.” Sebenarnya ingin menanyakan kondisi Rindi pasca perceraian namun melihat senyuman di wajah gadis itu juga sangat merekah, ia jadi tak tega menghilangkan senyuman itu hanya karena rasa penasarannya.


Biarlah sebentar  saja wanita itu turut larut dalam kebahagiannya.


Mereka berjalan mengiringi brankar Rima menuju ke ruang perawatan. Senyuman kebahagian membalut setiap wajah yang ada di sana.


“Kak, dede bayinya mana?” Sesampainya di ruang perawatan.


“Bentar Dir,” Jawaban dari suami Rima.


“Kamu gak kuliah Dir?” Tanya pria itu saat telah berada di dekat Rindi. Kini mereka berdua telah berada tepat di samping pembaringan RIma.


“Bentaran lagi mas, kan belum ketemu dengan bidadarinya.”


Berselang beberapa menit lamanya, yang ditunggu-tunggupun telah memasuki ruangan. Seorang dokter masuk diikuti seorang perawat wanita dibelakangnya dengan menggendong seorang bidadari kecil ditangannya.


“Jangan Rin, kamu belum berpengalaman.” Pria itu langsung mencegah tanganya yang mulai meraih bayi yang masih memerah itu.


“Pc, pengalaman gak akan ada sebelum ada pertama kali.”


“Memang kamu tahu cara gendong bayi?” Likir Dihyan dengan sinis.


“Ya, tahu lah. Gitu aja gak tahu!” Bibirnya maju ke depan menandakan bahwa wanita ini tengah merajuk karena tak dibolehkan dalam menggendong bayi.


“Iiiiih cantiknya, mirip ibunya yang cantik. Pantes aja kakak klepek-klepek?” Rindi hanya mampu menggenggam


kedua tangannya di samping pipi tanda gemas.


Berhadapan dengan mahluk mini yang bernama bayi memang sangatlah menyenangkan. Namun apa daya, ia tak mampu menggendongnya karena larangan dari orang tua sang bayi. Menurutnya kedua orang tua itu terlalu lebay karena baginya, tak mungkinkan ia menjatuhkan mahluk lucu itu.


Setelah acara perkenalan bayi dengan sumber pangannya, bayi mungil itu kembali di bawa oleh sang perawat


menuju ke ruangan bayi.


“Mas, sarapan dulu.” Rindi sambil berjalan ke arah sofa mengeluarkan kotak bekal yang tadi diterima dari Bik Sumi.


“Sayang, mau sarapan bareng? Ada nasi goreng sama ayam kriuk, mau?” Pria itu turut menawari istrinya untuk sarapan, mengangkat bekalnya ke arah sang istri.


“Boleh, tapi aku ngantuk.” Rima dengan wajah lemah lengkap dengan sorot sayup mengantuk.

__ADS_1


“Iya, makanya makannya cepat biar bisa istirahat.” Ucapnnya sambil melangkah mendekati pembaringan sang istri


dengan membawa bekal yang dibawakan Rindi. Ingin segera melewatkan sarapan pagi ini lalu tidur disamping sang istri.


Begadang mendampingi sang istri melahirkan menyita banyak tenaga dan waktu istrirahat mereka. Rasa lelah dan kantuk tak bisa di tutupi meski dengan kebahagiaan seperti ini. Ingin istirtahat sejenak sebelum keluarga yang lain berdatangan melihat bayi yang baru saja lahir itu.


“Aduh, kayaknya kita butuh tissu basah biar lebih efisin yah?”


“Bentar aku telpon Andra, katanya udah mau ke sini.”


“Biar aku aja kak. Tadi liat minimarket di lantai bawah.” Rindi sambil beranjak dari sofa. “Butuh apa lagi kak? Sekalian aku belikan?”


“Beli camilan dan minuman ringan aja Dir!” Suami Rima mengulurkan beberapa uang kepada Rindi.


Lumayan banyak untuk membeli keperluan-keperluan ringan, apalagi hanya untuk camilan dan minuman ringan. Ia


bisa memastikan lebih dari uang itu pasti banyak lebihnya, dan setelah itu masuk ke kantongnya. Iiih jiwa mahasiswa kerenya kembali timbul.


Dengan senyuman indah terukir di wajahnya teruntuk sepasang suami istri yang masih menatapnya dengan tangan


masih memegang uang.


“Pc, ambil aja!”


“Yeaaa, terima kasih mas. Tau aja kebutuhan anak mahasiswa.” Berlonjak kegirangan seperti anak kecil. Sejenak ia tengah melupakan bahwa dirinya pernah menjadi seorang istri.


Dengan dua kantong yang menggantung di tangannya Rindi kembali ke ruang rawat Rima. Sebelum masuk ke


dalam, ia menyempatkan diri untuk mengintip dari kaca pintu.


Terlihat Rima dan suaminya sedang berada di atas pembaringan pasien, saling berhimpitan. Rima yang sedang


asik merasakan belaian halus dari tangan suaminya tengah menutup mata. Kemudian kembali terbuka setelah suaminya mengucapkan beberapa kata entah apa.


Pasangan suami istri itu terlihat sangat bahagia, dengan senyuman bahkan dengan tawa. Ya, mereka sedang tertawa dengan mulut terbuka. Mungkin saja kak Rima sedang menerima rayuan atau gombalan dari sang suami.


Suami istri itu sedang bermesraan di ranjang perwatan. Ia tak boleh menggangu.


Namun entah mengapa pandangan tadi justru mengganggu otak dan hatinya. Memilih berbalik, bersandar di pintu.


Ingatannya seolah melayang saat ia dilarikan ke RS karena mengiris pergelangan tang@nnya. Rindi yang sedang di rawat dan Linggar yang selalu menemaninya.


Pc, setelah seharian ingatan itu kini kembali menghampirinya.


Kesal rasanya karena ingatan itu mampu membuat air matanya kembali meleleh, turun membasahi pipi.


To Be Continued!


Sory yah gini aja dulu!


Jangan lupa dukungannya yah!

__ADS_1


__ADS_2