Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Perawat Cantik 1


__ADS_3

"Mau aku bantu?" Linggar menyeret tiang infus mendekati Rindi yang duduk di lantai bersandaran dengan sofa.


"Kakak kenapa turun?" Mengulurkan tangan membantu Linggar mendekat padanya.


"Kamu kenapa duduk di bawah? Emang gak dingin duduk di lantai?"


"Lebih leluasa tangannya gerak." Kembali melanjutkan tarian jemarinya di atas keyboard.


"Aku bantuin?"


"Gak usah."


"Ya udah aku temanin." Linggar mulai merebahkan badan bersandar ke sofa. Saat ini tubuh tak bisa berlama-lama untuk terjaga. Letih lebih cepat bertamu. Rasa kantukpun menyerang. Tapi ia ingin tetap ada untuk Rindi yang telah sudi menemani dan merawatnya.


Memaksakan mata untuk tetap terbuka.


"Ugggghhh,....." Leguhan keluar dari bibir Rindi, berikut gerakan badan, mengendurkan otot-otot yang tegang.


Wanita itu hanya beristrihat saat makan siang dan sholat dhuhur saja.


Linggar sudah sejak tadi kembali ke ranjang karena tak tahan untuk tak membaringkan tubuh.


"Capek?"


Rindi mengangguk.


"Sini istirahat dulu!" Linggar menepuk pelan sisi di sampingnya. Seolah mengisyaratkan Rindi untuk berada di sisinya.


"Di sini aja!" Naik ke atas sofa, menyandarkan. Kali ini kepala yang di gerakkan ke samping.


"Ya udah aku aja yang ke sana temani kamu." Ucap Linggar bersiap untuk turun kembali dari ranjang.


"Kakak mau ngapain?"


"Mau temani kamu di situ!"


"Gak usah deh!" Menatap tajam ke arah Linggar, pria itu terlihat keras kepala sekarang.


"Makanya kamu sini!" Kening berkerut dalam, raut wajah terlihat lebih sangar. "Aku udah ngantuk banget."


Rindipun mendekat, mengikuti permintaan Linggar dari pada urusannya panjang.


"Naik sini!" Lagi Rindi mengikuti, perintah itu seolah tak terbantahkan.


Naik ke atas pembaring, di dekat Linggar. Memang dirinya


butuh tempat untuk berbaring, sekaligus butuh tempat bersandar.


Jika Linggar sedang sakit, maka Rindi merasa tubuhnya sangat lelah dengan pekerjaa yang menumpuk di kirim oleh Kamil dan Mbak Tia.


Bersyukur ia masih di beri kepercayaan untuk menyelesaikan tugas, meskipun tak berada di kantor.

__ADS_1


Linggar mengulurkan selimut untuk menutup tubuh Rindi, memberikan kenyamanan pada sang kekasih hati.


Menepuk lengannya sendiri berharap Rindi mau menjadikan itu sebagai bantal.


“Jangan kakak lagi sakit, nanti tambah sakit lagi.” Rindi menyusutkan diri sedikit ke bawah.


Linggar kembali menarik tangan Rindi untuk di lingkarkan ke perutnya. Namun lagi-lagi Rindi menepis tangannya.


“Pelan-pelan! Pc.” Rindi saat melihat pergerakan tangan Linggar yang masih terhiasi jarum infus sangat aktif bergerak hanya untuk memberikan kenyamanan pada dirinya.


Linggar justru tak pernah berhenti menggerakkan tangan. "Tindis sini Rin," Saat meraih tangannya, menekan sisi tengah perut, di bawah dada.


"Sakit?" Rindi mengikuti perintah Linggar.


"Sakit, tapi enak juga." SAmbil memejamkan mata, terus menggerakkan tangan di atas perutnya.


\=========


"Kak, besok aku masuk kantor yah!" Rindi yang baru saja masuk ke dalam ruangan perawatannya dengan wajah yang ditekuk, wanita itu terlihat menahan kesal.


Kemarin, kekasihnya itu baru saja pulang setelah magrib.


"Kenapa?" Linggar. "Masih pagi, mukanya kok cemberut kayak gitu?"


"Masih pagi Pak Tono udah ada depan rumah, katanya jemput aku. Ibu gak berhenti gedor pintu kamarku sampai aku keluar." Keluhnya mengeluarkan sesuatu yang menggondok.


Linggar hanya tersenyum menanggapi, "Kamu bawa apa?" Hanya bisa mengalihkan pembicaraan, moga RIndi bisa mengubah ekspersi kesal dengan senyuman sedikit saja.


"Ibu ngirim ini buat kakak, sop buntut, kemarin masak banyak. Tau kakak masuk Rumah sakit, langsung dipanasin trus masukin ke rantang, bilang buat kakak." Rindi mulai mengeluarkan beberapa kotak bekal dari dalam


"Kok bisa?" Rindi masih dengan kesibukan yang sama, hanya berbalik sebentar saja menatap Linggar.


"maksudku, ibu bilang apa waktu tau aku di rawat?" Memperjelas pertanyaannya.


"Ya itu, bilang kok bisa?" Rindipun turut mengulang jawaban.


Linggar menganggukkan kepala, mulai paham jika mantan mertuanya itu mungkin tak menyangka jika dirinya juga bisa sakit.


Selesai mengurus semua keperluar Linggar, Rindi kembali duduk di lantai, di depan laptop yang diletakkan di atas meja. Beberapa berkas yang baru dihantar ke sana, spesial sekali.


"Rin, sini." Kembali menepuk sebelah, Rindi terlihat kelelah.


Lagi, Rindi naik ke pembaringan Linggar.


Yakin jika tak ada yang terjadi meski fisik sangatlah dekat. Kemarinpun aman-aman saja.


"Pc, rusuh banget sih kak!" Keluh Rindi saat pria itu sibuk mengatur posisi dan letak selimut mereka.


“Makanya hadap sini.” Linggar sambil menarik pelan tangan Rindi, “Peluk!” Ucapnya lagi.


Rindi mengukuti intruksi Linggar, melingkarkan tangan di pinggang pria itu.

__ADS_1


“Tidurlah!” Linggar sambil mengelus lembut rambut Rindi. Mendaratkan kecupan singkat namun sering di sana.


“Sudah, gak usah di elus. Ini juga udah mau tidur, ngantuk banget kak.” Mengambil tangan Linggar yang sedari tadi betah mengelus rambutnya.


“Aku sayang kamu, Rin,” Linggar lirih. Kini tangan itu telah menetap bersandar di bahu Rindi melingkar ke belakang.


Rindi hanya mengeratkan pelukannya pada Linggar saat mendengar pernyataan pria itu. Sudah beberapa ribu kali ia mendengarkan kata-kata itu.


Namun kali ini kalimat itu menghantarkannya pada sebuah rasa sakit yang menelungkup dalam hatinya.


Sakit, karena tahu jika mereka tak dijinkan untuk bersama.


“Rin, jika aku mati, kamu,...”


Linggar tak mampu meneruskan kata-katanya karena Rindi menutup mulutnya dengan tangan.


Rindi yang langsung mendongakkan kepala hanya untuk mematapnya.


Tingkah spontan dari Rindi membuatnya terdiam, lucu juga melihat Rindi terkejut seperti itu.


“Ngomong apasih?” Rindi dengan nada ketus, padahal Linggar ingin suasana yang sedikit romantis dan melow.


“Aku Cuma mau bilang, kalau aku mati besok,....” Rindi kembali menutup mulutnya hingga tak bisa membuatnya kembali bungkam.


Linggar meraih tangan yang sudah dua kali menutup mulutnya, tersenyum pada pemilik tangan. Dalam hati Linggar merasa bahagia, setidaknya Rindi takut jika kehilangan dirinya.


“Aku sayang kamu,” Ucapnya lirih sambil menatap manik hitam sang pemilik hati.


Meraih rahang wanitanya, memberi sedikit elusan di pipi dengan ibu jarinya. Membungkukkan diri, Rindi terlalu jauh menurutnya.


Sedikit bersusah payah hanya untuk merapatkan bibir yang selalu ia rindukan.


Rindi harus sedikit meringsut naik, dan membenarkan posisi. Membalas perlakuan Linggar saat pertemua bibir mereka.


Sentuhan ringan nan lembut ternyata mampu menghantar naluri yang sekian lama tersimpam. Terpendam sejak dua tahun terakhir.


Hembusan napas yang semakin terdengar berat dari keduanya, menandakan bukan hanya hasrat yang bekerja saat itu, tapi juga nafsu.


Segera Linggar melepaskan bibir yang tadinya terpaut saling membalas, takut jika terlalu lama maka jatuhnya merekapun akan semakin dalam.


Tak terbayangkan jika kesalahan dulu kembali terulang di sini dan saat ini juga.


Lebih memilih menarik tubuh Rindi ke dalam pelukannya. Setidaknya ia tak melihat wajah yang selalu saja mengundang naluri itu.


Betapa sangat ia menyayangi wanita ini, meskipun perasaan itu beberapa kali menghantantarkannya dalam sebuah kesakitan yang luar biasa. Rindi selalu memberikannya kesejukan tersendiri dalam hatinya.


Disepanjang keruh langkah kehidupannya, hanya Rindi yang selalu menjadikan hidupnya penuh arti. Hanya Rindi yang selalu hadir dalam setiap hela nafasnya.


Meskipun nalarnya seperti tak sanggup untuk berpikir jika wanita yang ia cintai ini pun selalu mengahadirkan luka pada dirinya.


Ia hanya ingin Rindi selalu bertahta dalam kalbunya. Jika diijinkan, wanita ini adalah tempatnya berlabuh.

__ADS_1


Meski dalam kenyataan terlalu banyak halangan dan rintangan untuk mereka bersatu.


To Be Continued!


__ADS_2