
" Kenapa kalian nggak ambil kamar satu lagi?" Suara kekesalan Linggar saat melihat kamar pengantin mereka bertambah tiga penghuni.
Istirahat kembali di lanjutkan di kamar hotel tempat resepsi akan diadakan malam harinya.
"Kita nggak nginep kok Kak, habis acara ini kita semua pasti pulang." Andini.
"Anggap aja ini pesta lajang untuk RIndi." Didukung Tantri.
"Ya harusnya memang kalian kumpul sebelum pernikahan, bukan kayak gini." Protes Linggar.
"Pelit banget minjam istrinya bentaran doang, mukanya udah mesem begitu." Andini, kini dengan sorot mata tajam ke arahnya.
Linggar tak menggubris, menatap istrinya yang hanya mampu menampakan senyum kecut.
Sama seperti istrinya, Ia seolah tak bisa berbuat apa-apa pada ketiga gadis itu.
Para gadis yang seolah menguasai kamar pengantin mereka.
Dan saat ia meminta tempatnya, gadis-gadis itu justru lebih dulu melayangkan protes padanya.
Heh, belum jadi emak-emak saja, mereka sudah tak bisa tertandingi.
Awas saja sebentar malam, tak kan memberikan celah pada Rindi.
Memilih memanggil Arman untuk bergabung dengannya, daripada basi sendiri.
"Mukamu jelek banget jadi pengantin." Saat ia menyambut Arman dengan wajah yang ditekuk seribu.
"Tuh," Kode mata yang ia berikan pada keempat wanita yang berkumpul di pembaringan sambil bermain ponsel.
"Ck, biarin aja kali. Bentar malam juga kamu dapat jatah sendiri, spesial lagi."
Memilih sofa depan tv sambil bercerita apa saja.
Namun satu yang ia tangkap dari Arman.
Tatapan mata itu seolah hampir tak lepas dari arah keempat wanita itu.
Entah siapa, yang jelas bukan Rindi, kan?
------------
Kartika datang bersama teman-teman SMA yang lain, tentu saja teman-teman Linggar juga.
Gaun bermotif batik sengaja ia gunakan di malam bersejarah ini. Setidaknya bisa mengingatkan Linggar tentang kisah mereka dulu, meskipun sangat singkat namun berkesan, itu menurutnya.
Mengangkat tangan untuk bisa bersalaman dengan kedua mempelai . terlalu nampak Jika tangan itu sedikit gemetaran.
Sebelah tangan berada di depan mulutnya yang sedang tersenyum ke arah Linggar, dengan mata yang justru terlihat tergenang.
" Selamat ya!" Ucapnya dengan senyum bercampur embun di mata.
Sakit pastinya, memandang pria yang pernah mengetuk hatinya kini bersanding bahagia di pelaminan.
Tapi masih tetap mencoba memberikan senyum kepada sang mempelai. Meyakinkan yang lainnya jika dirinya sedang baik-baik saja, tapi tak bisa.
__ADS_1
Tangan terlihat mengusap pipi dengan cepat, berusaha menghilangkan jejak air mata yang meluncur secara tiba-tiba.
Linggar terkesiap, sejenak doa kepepet ia panjatkan dalam hati. "Semoga RIndi tak mengingat sosok Kartika."
Menggigit bibir pelan.
Ya ampun, hari ini terasa begitu banyak kejutan.
Jantung berdetak kencang, berharap rombongan teman SMA-nya ini segera berlalu.
Ia tak mengundang Kartika secara khusus, setidaknya tak ingin menyakiti wanita lain lagi dan tak ingin bersitegan dengan RIndi tentunya.
Namun undangan digital yang ia sebar di grub pastinya terlihat pada wanita itu.
Kartika mulai melangkah berpindah menyalami Rindi. Memilih menunduk saja, karena tak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya.
Berjalan dengan segera dan tetap menunduk, tak ingin menjadi pusat perhatian tamu yang lain.
Keluar dari gedung.
"Kamu nggak apa-apa?" Seorang teman yang menanyakan keadaannya.
Air mata justru semakin deras.
Memilih memeluk temannya, menyembunyikan kan wajahnya yang telah basah.
" Aku masih sangat mencintainya. Aku pikir bisa menjadi pasangannya yang terakhir."
-------
" Kenapa sih?" Linggar bertanya saat melihat RIndi yang beberapa kali meringis.
"Kakiku lecet Kak." Ucap Rindi sambil menengok di balik ekor gaunnya.
Alhamdulillah, sukur Linggar dalam hati. Setidaknya wanita yang tadinya menangis di atas pelaminan tak menjadi bahasan mereka.
Turut menundukkan mengikuti arah pandangan RIndi.
Linggar menggelengkan kepala serasa tak percaya.
Mengapa wanita itu rempongnya minta ampun. Rela bersakit-sakit ria demi terlihat cantik.
Saat melihat Rindi beberapa kali meringis, ia memilih berjongkok menengok apa yang terjadi di kaki sang istri.
"Kalian boleh istirahat, makan dulu baru balik kamar."
Kalimat yang serasa ingin membuatnya bersorak riang.
But No, hari ini mereka berdua sebagai raja dan ratu sehari, wajib menunjukkan sosok yang selow, dan berkharisma.
"Kamu tunggu di sini!" Ucapnya pada Rindi.
Segera berlalu menuju ke meja hidang, mengambil dua piring nasi untuknya dan untuk RIndi sendiri.
Lilis masih Setia mengikuti pengantin wanita, di tangan kanannya menenteng heels 10 cm yang sedari tadi digunakan Rindu selama pesta berlangsung. Dan tangan kiri bertugas membimbing tubuh Rindi yang katanya sudah kelelahan.
__ADS_1
Sementara Linggar membantu mengangkat ekor gaun yang menyapu lantai. Hari ini Rindi tampil seperti putri Elsa.
Sampai di depan kamar hotel, Linggar segera menarik tangan Lilis ke belakang.
" Thank's," Ucapnya langsung menutup pintu kamar. Rasanya sudah cukup ia memberikan waktu pada teman-teman Rindi untuk menguasai istrinya itu, Sekarang gilirannya.
Sementara Lilis hanya mampu diam terkejut di depan pintu hotel. Memberenggut dengan kesalnya, Linggar menutup pintu tepat di depan hidungnya.
Rindi mengacuhkan sikap Linggar, memang tubuh sudah sangat lelah setelah seharian lebih berdiri, tersenyum dan menyambut uluran tangan para tamu yang memberikan doa dan restu/
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu yang baru saja tertutup itu kembali di ketuk dari luar.
"Ck, apa lagi sih, Lis?" Linggar dengan penuh nada dongkol saat membuka pintu sosok Lilis kembali nampak di sana.
Jangan bilang kalau dia juga mau ikutan nginap di malam ini?
" Aku cuma mau kasih ini kak, pelit banget sih!" Lilis yang juga menampakkan raut kesalnya.
"Kenapa Lis?"
Eh, lihat, istrinya itu terlihat semangat hanya dengan mendengar suara Lilis saja. Padahal jelas ia melihat tadi Rindu telah duduk manis di tepi tempat tidur. Dan kini wajah wanita itu telah menyembur dari belakang tubuhnya, lincah sekali.
"Ck, nggak ada apa-apa. Cuma mau balikin ini." Lilis mengulurkan sepatu ke arah RIndi.
Yang justru Linggar raih dengan sedikit hempasan.
Dengan telunjuk tangan kanannya, Linggar mendorong pelan kening istrinya. Segera menutup pintu sebelum Rindi bertemu kembali dengan Lilis, bisa lama lagi ceritanya.
Tak peduli, saat istrinya menampakkan raut memberenggut itu.
Justru semakin memberenggut saat Linggar dengan tanpa entengnya menghempaskan sepatu pernikahan itu ke sudut kamar.
"Kak," Protes Rindi.
Sepatu yang ia beli untuk hari spesial itu lumayan merogoh koceknya. Dan kini Linggar memperlakukan benda itu dengan tanpa perasaan.
Sayang, protesnya itu tak bermakna.
Linggar justru menarik tangannya hingga tubuh itu membentuk ke pintu kamar, segera mengunci pergerakan Rindi dengan tubuhnya.
"Aku mau balas dendam sama kamu!" Ucap Linggar dengan elusan lembut di pipi.
Terang saja membuat Rindi merinding.
Balas dendam apa? Yang mana?
\============
TBC.
__ADS_1
Cerita ini sebentar lagi usai, jadi gak ada konflik lagi ya kak.
Cerita selanjutnya hanya sekedar pemanis sebelum kita tutup.