Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Terlalu Memikirkan


__ADS_3

"Udah baikan?" Mbak Tia mulai kembali bersuara saat mendengar tangisan Rindi kian melemah dan berhenti. Beberapa titik pakaiannya terasa basah karena air mata Rindi.


"Mbak antra ke bawah." Ucapnya kembali membantu Rindi bangkit, beruntung gadis itu pun mulai mengangkat diri.


"Kamu naik taksi aja yah!" Bujuknya pada RIndi. "Kamu gak mungkin bawa motor dalam keadaan seperti ini."


Rindi hanya mengangguk. Merasakan tubuhnya semakin lemah, memang tak mungkin ia bisa mengendarai motor matic kesayangannya itu sekarang. Matanya terasa semakin panas setelah menangis dan ingin terpejam saja.


Mbak Tia kembali menghampirinya setelah tadi memesankan taksi untuknya. Sikap wanita itu sekarang menjadi perhatian setelah mengetahui kebenaran itu. Apalagi saat melihat Rindi seperti tak berdaya sekarang ini.


Rindi memang pendiam cenderung tertutup, dan dari sifatnya itu Mbak Tia sedikit mengerti dengan Rindi yang tidak membuka statusnya pada mereka. Rela menanggung semuanya, tak harus menjelaskan.


Wanita itu terus membopong tubuh Rindi hingga masuk ke dalam taksi. Ada rasa tak tegapun melihat kondisi kawannya itu seperti sekarang ini.


Hembusan napas terdengar saat mobil yang ditumpangi Rindi telah melaju menjauh dari pandangan wanita itu.


Di dalam mobil Rindi memilih menutup mata, bersandar di jok mobil.


Napasnya terasa sedikit hangat, mata masihpun terasa berat.


Entah berapa lama ia menutup mata, hingga terdengar suara dari kursi depan, "Neng, udah masuk kompleksnya, rumahnya di mana neng?"


Mengangkat kepala, mata terbuka sedikit menyipit. Menelisik kawasan di mana ia berada sekarang.


"Lorong ke dua belok kanan pak. Rumah saya rumah yang ketiga sebelah kanan jalan." Kembali merebahkan kepala di jok.


"Sudah sampai neng."


Saat membuka mata, benar mobil mendarat tepat di depan pagar rumahnya.


"Assalamualaikum," Ucapnya saat membuka pintu rumah.


Ibu yang melihatnya pulang sebelum jam kerja, mengerutkan keningnya.


Wajah putrinya terlihat sendu, sembab dan kusut.


"Kamu kenapa?" Tanya ibu khawatir.


"Gak pa-pa bu," dengan menggeleng pelan, berlalu masuk ke kamar setelah membuka sepatunya.


Langsung berbaring ke kasur yang sedari tadi ada di angannya. Tak perlu menunggu lama, ia telah melayang ke dunia mimpi.


Ibu yang datang dari luar menghampirinya yang tengah tertidur miring memeluk bantal guling. Satu gaya tidur Rindi yang kemungkinan bisa bertahan hingga terbangun nanti.


"Demam?" Tanyanya pada diri sendiri saat meraba kening sang putri yang terasa sedikit hangat.


"Pasti kecapean." Sambil mengurut-urut pelan bahu hingga ke lengan bawah.


\======

__ADS_1


Perlahan-lahan Rindi mulai membuka mata. Samar-samar sekali ia mendengar pintu kamarnya baru saja ditutup.  Mengintip ke arah pintu yang telah rapat kembali.


"Bu, sudah telpon dokter?"


"Katanya gak pa-pa. Mungkin cuma terlalu capek aja." Suara ibu.


"Ayahnya Ara juga pernah demam, ditanya jawabnya kayak gitu juga, "gak pa-pa." Waktu diperiksa, dokter bilang gejala tipes."


Reno tersenyum manja ke arah sang istri. Mulai mendekatkan wajah, hingga pucuk hidung saling bertemu.


"Apasih?" Pekikan wanita itu sambil mendorong pelan tubuh sang suami, saat gelengan kepala Reno yang membuat hidung mereka saling bergesekan.


"Sayang kita nginap yah?"


"Anakmu yah."


"Iya, anakku di rumah, bukan anakmu?" Suara tawa Reno menggema, sang istri hanya mencibir.


"Telpon papa, minta sopir sama mbak Tina bawa Ara ke sini, jangan lupa perlengkapannya juga!" Titahnya pada sang istri.


"Ya udah, aku telpon ke rumah dulu. Sekalian telpon dokter juga buat Dira." Suara istri Reno.


Pembicaraan itu terdengar hingga ke dalam kamar Rindi. Kakaknya yang baru saja menutup pintu kamaranya itu.


Perhatian dan risaunya keluarga saat dirinya terbaring lemah membuat hatinya menghangat.


Melirik ke arah jam dinding yang tertempel di dinding kamar.


Astaga, setengah enam petang, Ia belum menunaikan shalat ashar. Pantas saja rumah terasa lebih ramai, karena jam kantor telah usai.


Apa kabar teman-temannya yang di kantor?


Shalat ashar sudah, meskipun di penghujung waktu.


Membersihkan diri meskipun hanya dengan sedikit membasuh tubuh, berganti baju dengan piyama. Kembali ke tempat tidur, membaringkan diri kembali.


Kepala masih sedikit pusing, napas masih terasa hangat, pun mata masih terasa berat. Ingin tertidur tapi tanggung, sebentar lagi magribpun tiba. Kepala mungkin saja semakin pening saja.


Di mana ponselnya?


Ah, untuk sementara rasanya ingin dulu terbebas dari berita miring yang mungkin tersebar di kantor.


Tak lama kemudian hendle pintu kamarnya kembali berbunyi di iringi dengan bunyi pintu yang bergeser.


"Sudah bangun?" Suara Reno saat pandangan mereka bertemu. Berikut dengan senyuman di wajah sang kakak.


"Persaannya gimana? Apa yang sakit?" Serentetan tanya pria itu mengiringi langkahnya mendekat ke arah ranjang Rindi.


"Pusing." Jawaban singkat diiringi senyum memaksa yang dipersembahkan pada kakaknya.

__ADS_1


"Masih bisa bangun kan? Shalat dulu, trus makan. Abis magrib mungkin akan ada dokter yang akan periksa kamu." Tangan di letakkan di kening sang adik.


"Bisa kok," Jawaban Rindi sambil bergerak hendak bangun di bantu sang kakak.


"Bisa wudhu kan?" Reno sambil memperbaiki letak bantal untuk sandaran sang adik.


"Masih ada wudhunya kak. Baru abis shalat ashar, baru bangun," Senyuman keki terbentuk di wajah cantik nan pucatnya.


"Gak pa-pa tapi jangan keseringan!"


Setelah shalat magrib Rindi lebih memilih ke luar kamar, bergabung dengan yang lain di ruang keluarga. Sambil menunggu makan malam dihidangkan. Apalagi saat mendengar suara keponakannya yang baru saja di antar oleh sopir dan pengasuhnya.


Berbaring di sofa panjang depan tv berbantalkan paha sang kakak sang setia memija-mijat kepalanya dengan perlahan. Sang keponakan tengah berjalan ke sana kemari dengan kakeknya meraih apa saja yang menarik di matanya.


Alhamdulillah, ia masih di beri sakit. Setidaknya masih di beri kesempatan untuk bernapas, dan menikmati kehangatan berada di sebuah keluarga yang hangat.


Lebih Alhamdulillah lagi, karena sakitnya datang di saat waktu yang tepat.


Saat ia ingin menghindar dari teman-teman kantornya.


"Makan malam udah siap. Makan yuk!" Kakak iparnya yang baru saja datang dari dapur membantu ibu dan bibi.


Rindi mengangkat kepala dari pangkuan sang kakak. Kembali bersyukur dalam hati, iparnya itu tak lagi cemburu padanya saat dekat dengan kakaknya.


"Kok dokternya belum datang?" Reno pada sang istri.


"Sabar sayang, nanggung pasti. Kita telpon tadi pas magrib, mungkin makan malam dulu." Iparnya yang tadi mengajak untuk makan, justru ikut duduk di samping Rindi.


"Makan! Makan! Makan!" Suara bapak heboh sendiri dengan menggendong Ara- sang cucu- .


Sesekali di ayun-ayunkan membuat gadis kecil itu terkikik senang.


"Kamu mau makan di sini?" Istri kak Reno pada Rindi.


"Di meja makan aja kak." Inginnya ia berkumpul dengan keluarga yang lainnya. Saat ini tampilan masih kusut dan pucat.


"Kamu makan di sini aja! Kan ceritanya lagi sakit. Kamu sekarang jadi ratu, semua-semuanya di layani, nikmati aja dulu!"


Rindi memajukan bibir, apa maksud kakaknya itu? Masak iya, ada orang yang mau menikmati sakitnya?


Melihat Rindi cemberut, Reno justru tertawa sambil mengacak rambutnya.


"Sambal!" Mata Rindi mengarahkan sambal yang berada di tepi piring. Nasi, sayur asem, nila goreng semuanya berada dalam satu piring, lengkap dengan sambal terasi khas buatan bapak. Pulang dari toko bapak tak pernah lupa untuk membuat sambal andalannya itu.


Rindi sedang merealisasikan ucapan Reno, menjadi putri di rumah dengan alasan sakitnya.


Seperti saat ini, ia sedang disuapi oleh kakaknya itu di depan tv, sama persis yang dilakukan oleh iparnya yang tengah menyuapi anaknya di ruangan yang sama.


Sesekali menyandarkan kepalanya di sofa karena masih sedikit berat.

__ADS_1


__ADS_2