Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Bingkisan Untuk Rindi


__ADS_3

"Kita jengukin Rindi abis ini. Tapi sepertinya kita harus tinggal sampai jam enam-an. Pekerjaan banyak bangeeetttt. Kalian kompak banget buat kita kelabakan begini." Ocehan Mbak Tia mampu menghentikan langkah Linggar yang saat itu hendak meninggalkan ruangan.


Rasanya kesal pada Kamil, padahal pria itu tak terlalu berbicara, namun ia tahu ke mana arah dan tujuannya. Tapi mendengar kalimat panjang Mbak Tia, membuatnya kembali semangat.


"Ah, kamu gak usah ikut!" Pandangan Mbak Tia ke arah Linggar.


"Kenapa?" Linggar yang kini berada di tengah-tengah ruang.


"Karena kamu yang bawa masalah buat RIndi. Kamu tau? Dia sampai duduk di lantai abis kamu marahain, nangis-nangis. Kesal pasti sama kamu." Mbak Tia menghentikan gerakan jari-jarinya, fokus menatap ke arah Linggar.


"Aku mbak?" Kamil dengan wajah memelas. Sejak kemarin ia mencoba menghubungi nomor telpon Rindi, tapi tak ada respon. Entah gadis itu sedang beristirahat, atau memang sengaja mengacuhkannya.


"Kamu juga gak usah. Aku aja sama Ayu, kita yang paling netral kali ini." Sambil memandang Ayu yang menganggukkan kepala.


"Ya, udah kamu mau titip apa buat Rindi. Bikin surat permohonan maaf kek!" Kembali melanjutkan pekerjaannya setelah melirik ke arah Linggar sekali.


"Tunggu yah! Tunggu! Tunggu!" Hanya mendengar kata itu, ia segera berlari. Di kepalanya seperti ada bola lampu yang sedang bersinar, secerah idenya.


"Aduh!" Hanya mampu meringis, menahan ngilu saat pinggul menabrak sudut meja kerja Rindi. Sakit sih, tapi saat ini ia harus cepat, dengan menahan malu,....


Keluar ruangan dengan sangat tergesa-gesa. Waktu sedikit sempit.


"Bang! Bang!"  Masih dalam keadaan berlari kecil, mendekati seseorang.


Pria yang dipanggilnya itu berbalik, "Kenapa?"


"Bang, eh pak!" Sesaat Ia lupa ini masih jam kerja. "Minta nomor toko bunga sama toko buah langganan dong!" (Langganan kantor).


"Kenapa?" Tak urung pria itu merogoh kocek, mengeluarkan ponselnya. "Proposalnya udah selesai?"


"Iya, ini juga lagi nyari tandatangan direktur keuangan." Sambil menerima nomor kontak yang telah terkirim di ponselnya.


Dahi pria di hadapannya berkerut, berpikir apakah Linggar harus turun langsung untuk pekerjaan seperti itu? Seharusnnya dengan jawabatan sekarang, Linggar harusnya tetap berada di tempat kerjanya. Untuk urusan laporan tinggal telpon dan meminta bantuan yang bersangkutan untuk membawa ke tempatnya.


Padahal itu hanya alasan yang bisa ia pakai untuk bisa ke ruangan Rindi.


"Mbak, aku titip ini yah?" Membawa bingkisan yang tadi ia pesan dengan penantian yang bagai setahun lamanya.


"Hemmmm, taruh aja!" Mbak Tia tanpa memandang Linggar yang penuh dengan bawaan di tangan. Pekerjaan benar-benar sedang memburunya, dan ia pun harus berlari untuk menyelesaikannya.


Jam enam yang dijanjikan untuk pulang, ternyata tak bisa kesampaiaan. Namun, hanya karena alasan menjenguk kawan kerja mereka, akhirnya pekerjaan kembali ditangguhkan.


Pukul 18.30, Tia dan Ayu mulai bergegas ke rumah Rindi. Dengan menggunakan mobil Mbak Tia yang disopiri langsung oleh sang suami.


Dengan bantuan dan tuntunan dari Linggar, mereka sampai di depan pagar rumah Rindi.

__ADS_1


Dari luar saja, rumah itu terdengar sangat ramai. Apa ada acara keluarga?


Tombol  di depan rumah ditekan, menandakan ada orang yang hendak bertandang.


Pintu terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya, bapak.


"Assalamualaikum, om. Maaf mengganggu malam-malam. soalnya baru pulang kerja om hehehe." Ucapan pembuka dari Tia, mewakili mereka bertiga. "Kami teman-temannya Rindi om, mau jengukin, boleh?"


"Oooh, temannya Dira?" Bapak mulai memundurkan langkah, melebarkan pintu, "mari masuk bu, eh neng. Panggil apa yah? Hehehe,...." Sambil berjalan masuk.


Tia dan Ayu saling lirik dengan mbak Tia yang seakan berbisik "Dira" namun tak terdengar.


"Silahkan duduk, saya panggilkan Dira dulu! Eh biasa teman-teman kuliahnya panggilnya Rindi, di kantor juga mungkin yah?"


"Iya om, hehehehe. Kita panggilnya Rindi. Gak pa-pa ya om?"


"Ya gak pa-pa. Masih nyambung dengan namanya." Bapak mulai berjalan masuk.


"Rame yah? Mungkin acara keluarga?"  Mbak Tia yang berbisi ke arah Ayu yang hanya mengangukkan kepalanya.


Padahal di rumah itu hanya ada keluarga inti saja, termasuk Reno dan keluarga kecilnya.


Yang bikin heboh hanya suara anak kecil yang sedang bermain dengan seluruh keluarga yang jadi pemantaunya.


Tak butuh waktu lama, Rindi tampil dengan mengenakan pakaian tidurnya. Mungkin bersiap untuk tidur, atau memang seharian sudah tidur. Tapi dari raut wajahnya tak nampak seperti orang yang baru tidur.


Apakah dia hanya menghindar saja, hingga mengirim Surat Keterangan dari Dokter sebagai alasan?


"Eh, Mbak Tia,mas, Ayu." Mengabsen satu persatu tamunya dulu lalu ikut duduk di sofa tunggal.


Kecanggungan seketika melanda.


Untuk beberapa lama, suasana ruang tamu menjadi hening. Suami Tiapun, telah beberapa kali putaran melirik satu persatu ketiga wanita itu.


"Ehem hem, kamu apa kabar?"


"Baik mas. Mas apa kabar?"


"Alhamdulillah baik."


Pembicaraan pertama antara Rindi dan suami Tia hanya untuk mengusir kediaman yang berlaku.


"Rindi, emmm maafin kita yah!" Tia dengan senyum malu-malunya.


"Loh kenapa mbak?" Dengan kekehan yang sangat terpaksa. Padahal jelas-jelas tahu maksuda dari pembicaraan itu kemana.

__ADS_1


"Yaaah, semua-semuanya deh." Tak ingin terlalu berlarutpun, yang penting semuanya kembali seperti sedia kala. Meskipun harus menunggu beberapa lama. Karena kecewa pasti ada.


"Oh iya." Meraih buket bunga besar yang tadi di bawa-bawa oleh suaminya, menyerahkannya pada Rindi.


"Ini dari pak bos." Suara ditekan sekecil mungkin. Berpikir jika Linggar pernah menjadi menantu di rumah ini. Entah menjadi mantan menantu mungkin memberi kesan yang baik atau tidak, iapun tak tahu. Hanya saja tak ingin kembali mendapat masalah baru lagi.


"Itu ada pesannya." Masih dengan suara rendah-serendah-rendahnya. Sambil melirik pada secarik kertas yang terselip di sana.


"Sama ini juga." Kembali meraih keranjang buah yang isinya juga lumayan.


"Dan ini dari kami, sama Kamil juga." Kali ini menyodorkan kantong kresek berisi kaleng biskuit dan aneka camilan.


"Salam juga dari Kamil. Katanya Maaf."


"Hehehe," masih dengan kekehan yang kaku, diikuti gelengan kepalanya.


Reno ikut bergabung di ruang tamu, hampir bersamaan dengan bibi yang menyuguhkan teh hangat pada tamu.


Hari telah malam, dan dingin telah mengetuk tubuh. Menyuguhkan minuman dingin sepertinya kurang cocok.


"Teman kantornya Rindi yah?" Setelah duduk di sebelah sofa Rindi. Pandangan pada satu-satunya pria yang menjadi tamu Rindi. Mungkin menaruh curiga.


"Teman kantor istri mas. Kalo saya kantornya lain." Tangan terulur pada Reno.


Sang tuan rumahpun menyambut uluran tangan. Senyum kini terpancar, saat tadi beranggapan jika pria itu teman dekat Rindi, ternyata salah.


"Kemarin dia ngadu?" Reno sambil menunjuk ke arah Rima.


\=======


Ya ampun gak terasa yah, seminggu lebih gak setor.


Sibuk coy.


Kemarin juga sempat berduka jadi liburnya sambung menyambung sampe waktu tak terasa.


Nih kita kasi double up lagi yah!


N Jangan lupa dukungannya dinda tunggu.


Like n komen.


Sama hadiahnya juga yah.


Sama votenya sekalian.

__ADS_1


Ya ampun Otor banyak maunya yah!


Ya iyalah, biar dinda semangat gak absen lagi.


__ADS_2