Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Tak Bisa Romantis


__ADS_3

"Cantik kan Rin?" Linggar yang baru saja datang dengan nampan makan siang bersama Mirza, duduk di samping Rindi.


Pandangannya masih terpaku pada jari manis Rindi yang dihiasi dengan cincin indah dengan sebuah permata kecil. Cincin itu pemberiannya, sebagai pengikat bahwa Rindi adalah miliknya. Sangat manis dan indah di matanya.


Dengan senyum terkembang di wajah.


"Kakak gak romantis banget." Kalimat ketus dari Rindi seketika menyurutkan senyum manis itu.


"Kenapa?" Tanyanya bingung.


Cincin telah terpasang, bunga telah dikirimkan. Lalu apalagi yang kurang? Semua permintaan rindi kemarin telah Ia penuhi.


"Kita udah ada bos baru." Pernyataan Kamil membuat kening Linggar berkerut.


"Trus kenapaaaaa?" Tanyanya sedikit kesal. Bukan itu yang ingin ia bahas sekarang. Yang penting sekarang adalah alasan Rindi merajuk setelah semua pemberiaannya telah diterima.


"Pak Farid tuh udah punya istri, anak dua." Lanjutnya dengan kesal. Rasanya Rindi harus tahu mengenai status atasan barunya itu. Jangan sampai bermain hati dengan orang yang kini menempati meja kerjanya dulu. Di sana ia pernah mencuri cium dari RIndi.


"Iya, tau kok pak. Katanya Pak Linggar disuruh belajar sama pak Fandi untuk urusan menaklukkan hati cewek." Jelas Kamil sambil menahan senyum. Bahagia rasanya menlihat mantan atasannya itu KO dalam urusan percintaan.


Linggar semakin melipat wajah sambil menatap Kamil.


"Kan kamu sendiri yang minta cincin sama bunga. Udah ada kan?" Mungkin masih belum menemukan letak kesalahannya dimana hingga Rindi menampilkan wajah kesal di hadapannya.


" Iyaaaa, tapi nggak gini juga kali." Wajah Rindi masih nampak kesal. "Masa iya, semua dititip sama orang?" Masih dengan nada kesalnya. "Pake kantong kresek lagi."


"Pak Farid bilang, cewek tuh sukanya yang manis-manis." Kamil seoalah perperan sebagai kompor diantara mereka.


"Hemmm, ajak makan malam kek." Rindi turut menimpali, sambil mengangguk setuju..


"Kenapa gak bilang dari kemarin kalau kamu mau makan malam bareng?"


Errrrrgggg....... Entah apalagi yang harus mereka sampaikan agar Linggar menegerti jika Rindy ingin mendapatkan sesuatu yang romantis juga.


"Ayo," Linggar sambil mengulurkan tangan setelah makan siang mereka telah sama-sama ludes.


Senyumnya tertahan, saat wanita yang memberenggut itu, masih berkenan menyambut uluran tangannya dan menggenggamnya.


Setidaknya ia yakin jika Rindipun mencintai dirinya tanpa paksaan. Ingat tak ada lagi paksaan untuk bersama seperti waktu dulu.


Berjalan bersisian meski belum sekata.

__ADS_1


" Rin, pulang bareng yuk!" Ajaknya dalam intonasi normal.


Rindi mengeleng pelan, "Aku bawa mot,...." Kalimatnya terpotong saat ingatan melayang pada saat insiden bocornya ban motor.


"Kakak jangan macam-macam deh?" Kaki melangkah ke samping, sedikit menjauh dari Linggar, memicingkan mata.


"Loh kenapa?"Linggar menghentak sedikit agar tubuh mereka kembali saling mendekat.


"Awas aja, kalo motorku jadi korban lagi!" Mengancam dengan telunjuk menghadap ke arah Linggar.


"Khenapaaah?" Diiringi dengan kekehan Linggar saat melihat ekspresi kesal untuk kedua kali dari sang kekasih.


"Aku bawa motor kak." Dengan sedikit penekanan, hari ini moodnya down banget. Dan itu semua karena pria yang masih menggenggam tangannya ini.


"Besok aja deh, jemput tapi. Kasian motorku sering ditinggal di kantor gak ada temannya."  Rindi mencoba bernegosiasi dengan Linggar. Hanya demi menyelamatkan motor yang telah berjasa selama bertahun-tahun dari serangan jahil tangan Linggar.


"Ok." Dengan acungan jempol dan senyum yang kini melebar.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Rindi segera berlari menuju mobil Linggar yang baru saja terparkir di depan halaman rumahnya.


Di sana ada ibu yang turut mengiringi putrinya memulai hari dengan senyuman.


"Kak Linggar gak bisa rapi dikit?" Tangannya terulur merapikan lengan kemeja yang digulung hampir ke sikut.


Mengurai gulungan lengan baju, lalu mengancing tepat di pergelangan tangan.


"Gerah Rin." Ucap Linggar namun tak berniat menghentikan ulah Rindi.


" Dasinya mana?"


"Ada." Linggar merogoh kocek mengambil gulungan dasinya, persneling mobil belumpun di gerakkan.


"Ya ampuuuun,.... Bisa kusut ini kak." Kemudian merentangkan dasi hendak memasangkannya di leher Linggar.


"Eh, entar dulu! Diliat ibu tuh." Linggar terkekeh menghalau pergerakan tangan Rindi dihadapannya. Memasukkan persneling, mobilpun mulai melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan Rindi.


"Nanti kalau kita nikah, kamu harus memastikan tampilan suami kamu ini biar tetap perfect di depan orang-orang." Linggar yang sesekali menatap ke samping tempat Rindi duduk.


"Tapi kalau aku kegantengan, kamu gak takut aku di rayu ciwik-ciwik centil?"

__ADS_1


Rindi hanya mencibir. Mendengar kata suami membuatnya menyembunyikan senyumannya. Getar bahagia dan rasa deg-deg-an kini mengetuk hati.


Merapikan duduknya, menghadap ke depan memandang jalanan. Bahkan untuk melirikpun ia menahan diri, takut ketahuan jika hatinya tengah berbunga.


Pun dengan Linggar. Membayangkan kembali hidup berdua seperti sepasang suami-istri normal lainnya.


Iapun tahu jika Rindi saat ini sedang malu karena ucapannya. Terbukti jika lirikan yang tak pernah sampai padanya beberapa kali ia tangkap dari mata Rindi.


Mobil melaju dengan keheningan orang yang berada di dalamnya hingga sampai ke pelataran kantor.


"Eh tunggu dulu!" Linggar menahan pergelangan tangan RIndi yang siap beranjak saat mobil terparkir sempurna.


"Apa?" Tanya wanitanya.


"Ini belum." Ucap Linggar yang menyodorkan dasi yang belum sempat Rindi pasang.


Rindi meraih dasi dan mulai memasangkan di kerah kemeja Linggar. Kesempatan untuk Linggar mengamati Rindi yang tepat berada di hadapannya dengan sangat dekat.


"Kamu cantik." Menelisik wajah Rindi. Menatap mata Rindi secara bergantian, kiri dan kanan.


"Selalu cantik dari dulu."


Yakinlah saat Rindi tengah malu dan grogi tingkat kabupaten.


Fokus? Pasti tidak.


Tangan Rindi berhenti bekerja dengan hasil yang telah selesai dengan sempurna.


Sejenak mereka saling menatap, menata hati yang sama berdegup kencang. Saling bertukar pandang yang semakin lama terasa semakin mendalam.


"Boleh cium gak?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To Be Continued!


Awassss, mikir apa hayo?


Maaf baru nongol lagi. Abis pulang kampung gak bawa bekal jadinya ya gini, upnya lama.


Sorry yah man-temannnnn yang baik hati tidak sombong dan rajin menyumbang.

__ADS_1


Nyumbang bunga sama kopi maksudnya, hihihihihi, ngarep niehhhh.


Doain Dinda biar bisa up besok lagi yah.


__ADS_2