
Mungkin gadis itu berpikir jika Linggar memberikannya uang untuk meraup keuntungan lain darinya. Apakah Rindi berpikir jika dirinya menganggapnya seperti gadis bayar@n?
“Benar-benar nih cewek.” Ucapnya sambil menutup mata dengan gelengan kepala. “Man, bantu aku!”
“Siap. Bantu apaan?”
“Nyul!k Rindi.” Enteng.
“What?” Pekikan Arman.
“Sory bro, kalau itu aku gak ikutan, bisa-bisa aku yang digebukin sama nyokap. Bagus kalau masih pake tangan kosong, lah kalau dapat sapu? Atau ditimpuk sepatu? Sory-sory, aku masih ingin hidup.” Tangannya terlurur membentuk simbol sepuluh jari.
“Aku cuma mau ngomong sama tuh cewek.”
“Ok, aku bantu. Tapi beneran aman kan?” Arman memastikan sebelum dirinya benar-benar mendapatkan timpukan sandal dari ibunya.
“Aman!” Linggar mengangguk seolah membenarkan perkataannya.
Di sinilah mereka berada, setelah mengamati tempat penyimpanan motor Rindi dan memilih tempat persembunyian yang tak terlalu jauh dari motor Rindi.
Rindi telah nampak berjalan dari arah sana, tentu saja tak sendiri. Bahkan ada teman pria yang terlihat beberapa kali bersama dengan mereka.
Rindi
Tak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya, memiliki kekasih salah satu bintang kampus. Meskipun bukan ketua Team, namun penampilannya di lapangan cukup menyita perhatian banyak mata termasuk lawan jenis.
Bantuan yang ia utarakan pada pria itu ternyata berlangsung lama. Niatnya hanya untuk memanas-manasi Fery saat mengetahui kekasihnya telah jalan dengan salah satu temannya.
Namun sang pemeran pria memutuskan untuk tetap melanjutkan perannya dan menyeretnya ikut dalam permainan pacar-pacaran yang ia cetuskan.
Ini terlalu jauh dari mimpinya. Sempat ia berpikir jika pria itu hanya ingin bermain-main dengannya. Dan tak bisa langsung mempercayai ucapan pria itu saat menyebut kata sayang dan ditujukan untuknya.
Namun iapun tak bisa menampik semua perhatian yang diberikan oleh Linggar. Terlebih lagi pria itu seolah tak ragu membuka dompet untuknya.
Dirinya yang selalu mendapat sindiran karena dianggap sangat tidak pantas berdampingan seorang Linggar.
Bahkan sayup-sayup pernah mendengar jika mereka jalan beriringan bukan romantis tapi justru tampak terlihat lucu.
Linggar dengan postur tubuh tinggi dan tegap bagai angka s@tu, sementara dirinya yang bul@t dan mini ibarat angka n0l. Hingga saat di pasangkan mereka akan membentuk angka sepuluh.
Nilai sempurna namun bukan untuk dibanggakan jika julukan itu harus melekat pada mereka.
Ia sempat mengamati dirinya sendiri, apa yang bisa ia andalkan untuk tetap berada dekat dan sejajar dengan Linggar yang memilik banyak fans di kampus.
Prestasi, wajah dan penampilan yang biasa membuatnya tak bisa bermimpi lebih jauh. Akankah ia tetap berada di sisi Linggar lebih lama?
__ADS_1
Ia tak tahu harus berbuat apa saat Linggar menciumnya dan itu terlalu intim baginya. Apakah ini bentuk bahwa Linggar benar-benar serius dengannya, atau justru salah satu peramainan yang dilakoninya.
Atau apakah ini sebuah bayaran dari akumulasi pemberian Linggar. Linggar memang telah berkorban banyak untuknya, tapi untuk menggantikan dengan tubuhnya, no way. Ia lebih baik mundur.
Ia langsung menghindari Linggar, dan semua yang ia lakukan ini juga atas saran dari sang sahabat. Tak lupa mengganti semua snack dan minuman yang telah dinominasikan. Apakah ini terlihat keterlaluan?
Entahlah, ia hanya ingin mengambil langkah aman. Menjauh, menjauh dan menjauh.
Rindi sempat memberontak saat tubuhnya di tarik paksa ke arah belakang. Mengapit lehernya oleh tangan sang pria. Alangkah kesalnya ketika mendapati sosok Arman di sana dengan lambaian tangan dan senyuman mengejek ke arahnya.
Dan sudah bisa dipastikan orang yang kini menariknya dari belakang adalah Linggar, sahabat dari Arman.
“Weits santai bro, biarkan mereka menyelesaikan masalah berdua. Dijamin aman,ok!” Arman, berusaha menahan Faris dan Iqbal saat hendak berusaha menolong teman mereka dari tangan Linggar.
Mereka bisa saja, bereaksi lebih tapi mendengar kalimat Arman tentang menyelesaikan masalah mereka akhirnya diam saja, sambil menatap ke arah Rindi dan Linggar yang semakin menjauh dan memasuki sebuah mobil.
“Kak,” pekikan Rindi saat dirinya telah memasuki mobil Linggar lengkap dengan seatbelt yang terpasang.
Dan kini Linggar telah duduk disampingnya siap dengan kemudi ditangan.
Klik, pintu terkunci.
Ingin protes tapi percuma. Dan pikirannya kini melayang pada motor kesayangan yang harus ia tinggalkan diparkiran.
“Kak, motorku.”
Hup, shoot yang tiba-tiba namun diterima baik oleh Arman. Benar-benar team basket profesional yang kompak.
Jika saja ia yang menjadi pelempar dan Lilis yang menerima bisa dipastikan setelah itu temannya akan mendapatkan tambahan di kepala.
“Kak, kita mau kemana?” tanyanya pada Linggar.
Tak bisa dipungkiri kini jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan takut yang lebih mendominasi saat melihat wajah dingin Linggar. Otaknya penuh dengan kejadian-kejadian horor dan kejam.
Terlebih mereka hanya berdua di dalam mobil. Linggar bisa saja menerkamnya, dan dia mungkin tak bisa berbuat apa-apa.
“Pulang.” Linggar yang masih dingin dengan tatapan ke depan. Setelah itu tak ada lagi percakapan hingga mobil terhenti di sebuah minimarket. Dan mereka masih tenggelam dalam keheningan.
“Mau ngomong sesuatu?” Linggar yang kini menatap lekat pada Rindi. Sementara yang ditatap lebih memelih mengarahkan pandangan ke luar mobil.
Mau ngomong apa? Bukannya situ yang mau ngomong? Aku gak.
“Rin, liat aku Rindi.” Linggar kini dengan nada tegas.
“Maksud kamu ngirim ini ke aku apa?” Tenang namun sedikit dingin. Tak lupa menyodorkan amplop yang telah ia terima dari Arman.
__ADS_1
“Ini apa sih?” Meskipun ia tahu maksud dari semua ini. ia hanya ingin mendengar secara pasti dan langsung dari Rindi.
“Rin, aku cuma mau tanya ini apa?” Ia harus tetap menekan emosinya, dengan perlahan berusaha menurunkan nada suaranya.
“Itu uang kakak.” Rindi dengan lirih.
“Uang apa?” Seolah semakin memojokan Rindi.
“Uang yang pernah kakak kasi.”
“Tapi aku gak pernah ngasih sebanyak ini deh?”
“Sama jajan yang pernah kakak belikan?” Lirih dengan kepala tertunduk. Takut pastinya.
“What? Kamu menghitung semuanya?”
Ya, mungkin ini sedikit tabu. Menghitung semua pemberian dan merubahnya dalam hitungan rupiah. Pemikiran yang baru ia dapatkan dari seorang gadis yang benar-benar sering menyiksanya akhir-akhir ini.
“Aku ngasi itu, ikhlas. Gak mengharapkan imbalan apa-apa?” Benar-benar ujian yang berat bagi seorang Linggar. Jika diperbolehkan saat ini ia ingin berteriak tepat di depan wajah Rindi. Namun ia masih harus tetap menahan, atau Rindi akan semakin takut padanya dan kemudian kembali menghindar.
Linggarpun sadar jika tak semua hal bisa dibeli dengan uang. Hanya sebuah kesalah pahaman yang tak terkatakan. ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang ia sayangi. Meskipun caranya di anggap salah oleh Rindi.
“Kalau karena ciuman itu kamu marah aku minta maaf, janji gak lagi! Tapi mohon jangan kayak gini!”
“Harusnya kamu itu bilang kalau gak mau di cium! Jadi aku bisa tau juga.”
“Kalau aku ingkar janji, kamu boleh deh marah sama aku. Kalau mau nampar juga silahkan!”
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Rindi, seolah mempersiapkan diri untuk mendapat tamparan.
“Tampar aja, aku gak bakalan marah kok!”
“Nih!” Kali ini menarik tangan Rindi dan meletakkan di pipinya sendiri.
To Be Continued!
Jangan lupa jempolnya kesayangan.
Maksudnya tuh, pencet like, komen n hadiahnya! Sekalian yang simbol hati itu yah!
AKu tunggu!
Emmmuah!
Emmmuah!
__ADS_1
Emmmuah!
Emmmuah!