
Terdengar salam di arah pintu yang baru saja bergeser terbuka.
Menampilkan Linggar yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tatapannya menyapu ke seluruh ruangan. Dan terhenti di arah Rindi yang semakin menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya.
Sayup-sayup tadi ia mendengarkan tentang pertengkaran Citra dan Rindi. Tak terlalu tahu kronologisnya karena ia segera berlari ke ruangan ingin mengetahui keadaan RIndi.
Saat ia masuk ke ruangan kerja tak mendapatkan Rindi di tempat. Dan Kamil memberikan info dengan wajah yang di tekuk dan masam.
Inginnya Linggar bertanya pada mantan istrinya itu, "Apakah kamu baik-baik saja?"
Namun situasi dan penghuni ruang tak memungkin kan.
Terlebih lagi, ia masih memikirkan keadaan Citra saat ini.
Semua masalah inipun berawal darinya yang tak pernah tegas dan cenderung memberi harapan pada gadis yang tadi siang di dengarnya menyerang Rindi.
Citra yang merasa telah memiliki Linggar. Hanya karena Linggar selalu menerima semua pemberiannya.
Ditambah lagi dengan pujian yang selalu saja tersangkut di dalam hatinya. Membuatnya selalu melayang dan memastikan diri jika semua yang dikatakan Linggar terhadapnya bukan hanya sekedar ucapan semata, namun ada hati yang ikut beserta.
Selangkah demi selangkah pria itu mulai melangkah, mendekat.
Menarik napas, menenangkan jantung yang masih berdetak kencang setelah berlari ditambah dengan perasaan yang tak tenang saat tak melihat Rindi.
Kepala ditundukkan mengarah ke lantai, udara kembali di tarik keras guna mengisi rongga pernapasan. Kembali mencoba menenangkan diri sendiri. Sepertinya ada hal yang penting yang ingin disampaikan pria itu.
"Citra maaf." Ucapnya masih dengan kepala yang menunduk.
Gadis yang disebut namanya hanya mampu memejamkan mata.
Kata maaf yang diucapkan Linggar seperti sebagai penolakan dari pria itu.
Terlebih lagi setelah melihat Linggar dan Rindi dalam keadaan berpelukan, hal yang tak pernah terlintas di benaknya.
Semakin yakinlah bahwa Linggar lebih memilih Rindi dibandingkan dirinya.
Semakin panjang pula goresan luka yang teriris di dalam hatinya.
"Rindi adalah mantan istriku."
Kalimat itu bukan hanya bagai petir di tengah hari.
Menyambar, menggelegar seluruh sukma.
Mata yang terpejam sedari tadi, semakin di eratkan. Gengaman tanganpun semakin kuat.
Hati semakin sakit.
Ternyata ia memang sedari dulu terkalahkan oleh anak baru itu.
Wajarlah jika Linggar lebih memilih Rindi dari pada dirinya.
Tapi kenapa Rindi tak pernah mengatakan hal itu padanya. Ia semakin merasa sebagai permainan diantara kedua mantan suami-istri itu.
__ADS_1
Merasa terhina dengan semua ini.
Dinding-dinding ruang terasa seperti bergerak semakin mendekat, menjadikan ruang gerak semakin sempit dan udara semakin sedikit.
Perasaan yang hampir sama dirasakan oleh pria yang sedari tadi duduk di samping Bu Kaila.
Secercah cinta telah timbul setelah sekian lama memendam perasaan kagum pada sosok Rindi.
Cantik, manis, tenang cenderung diam. Menjadikan wanita itu untuk patut mendapatkan perhatian lebih dari para pria.
Riswan tahu jika Rindi adalah seorang janda, tapi cinta itu buta kini berlaku padanya saat bertemu dengan Rindi.
Tak pernah menyangka sebelumnya jika Rindi adalah mantan istri dari Linggar.
Salah satu orang yang ia kagumi dalam hal kepemimpinan.
Jika memang Linggar betul mantan suami Rindi, maka semakin jauhlah mimpinya untuk bisa menggapai wanita itu.
"Gila kamu!" Di sertai hentakan di atas meja, sepertinya karena pukulan dari Bu Kaila.
Sementara yang lain hanya mampu menundukkan kepala dengan pemikiran masing-masing, termasuk Linggar.
"Kamu tahukan peraturan perusahaan?" Suara gertakan dari wanita itu semakin membuat ruang terasa semakin sesak.
"TIDAK BOLEH ADA HUBUNGAN DI DALAM SATU DEVISI." Ucapan yang penuh dengan penekanan dan beberapa ketukan semakin menegaskan kalimat itu.
"Termasuk mantan pasangan suami istri?" Suara Bu Kaila masih mendominasi di tengah mereka yang diam membisu masih menunduk.
"Kamu tahu kenapa?" Tatapan tajam ditujukan pada Linggar.
"Termasuk mantan suami, bahkan itu lebih rawan lagi. Dan kamu lihat apa yang terjadi sekarang kan?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Citra dan Rindi meninggalkan Linggar yang masih harus di sidang dalam ruang rapat.
Entah apa yang akan di terima pria itu terima nantinya.
Mereka harus bersyukur hanya mendapatkan surat peringatan.
Saling menghindar satu sama lain.
Sama-sama merasa kalah dan bersalah.
Citra lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan Rindi berlalu terlebih dahulu.
Ditambah lagi ia masih harus mengendalikan diri dari segala pukulan yang seolah menghantamnya membabi buta.
Cinta di tolak.
Penghianatan.
Dipermainkan.
Bahkan disingkirkan.
__ADS_1
Lengkaplah sudah.
Apakah paras wajah mempengaruhi kehidupan seseorang?
Ia akui jika Rindi jauh lebih cantik, dengan senyuman manis yang membuat semua orang betah menatap wajah itu, termasuk Linggar.
Dan dia bukan saingan RIndi.
Ahhhh, kenapa hati ini semakin sesak saja.
Di dalam toilet kecil itu, menutup mulut dengan kedua tangan berharap mampu meredam isakan tangis.
Hembusan napas terdengar pilu.
Hanya mampu menyalahkan diri sendiri.
Ia yang salah.
Mengapa jatuh cinta?
Cintanya mendarat pada sosok yang salah.
Bukan salah, namun ia yang mungkin tak sepadan.
Linggar.
Pria yang hampir sempurna dalam mata dan hatinya.
Harusnya ia bercermin dulu sebelum tirai hati di buka untuk menempatkan Linggar ke dalam hati.
Ia memang tak sebanding dengan Linggar.
Jika sakitnya saja sebesar ini. Lalu bagaimana dengan rasa malunya.
Ia masih harus menekan dada dengan tangan sendiri karena rasa sesak yang terasa semakin mendera.
Dan besok-besok ia harus menebalkan muka sendiri saat status Linggar dan Rindi terbongkar.
Menyiapkan diri saat harus mendapatkan cibiran dan tatapan sinis dari yang lain.
Lagi-lagi Rindi menang terhadapnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak kesayanganku.
Bisa like, komen, hadiah atau vote juga.
Karena jejakmu adalah semangatku.
Salam dari dinda.
Love....Que
Love....Que
__ADS_1
Love....Que